
"Selamat datang." sambut Lily merentangkan kedua tangan, menunggu kedatangan Amanda di teras rumah.
"Terimakasih." balas Amanda, segera memeluk Lily.
Amanda melepas pelukannya pada Lily. "Mereka bawahan Egi. Yang di letakkan di sampingku." jelas Amanda.
Ada sesuatu yang berbeda saat Amanda mengatakannya, yang membuat perasaan Lily menjadi sedikit tersentil. Tapi sebisa mungkin, Lily menutupinya.
Lily tidak ingin membuat situasi menjadi kacau. Terlebih Amanda saat ini adalah tamunya. "Dia Zea, dan dia Zeo." imbuh Amanda memperkenalkan keduanya, sembari mengarahkan pandangannya kepada keduanya.
"Salam kenal. Saya Lily." ucap Lily ramah.
"Dia kekasih Tuan kalian." celetuk Amanda. Lily menyenggol lengan Amanda, merasa tidak enak. "Kenapa?" tanya Amanda dengan wajah polosnya.
"Kalian tunggu saja di luar. Atau kalian ingin pergi kemana, terserah kalian. Karena mungkin aku akan lama berada di sini." jelas Amanda.
Karena pasti keduanya akan merasa jenuh dan bosan jika menunggu Amanda tanpa melakukan apapun. "Kalian ikut masuk saja. Bagaimana?" ajak Lily.
"Terimakasih Nona. Jika begitu, kami akan pergi keluar selama Nona Amanda berada di sini. Nanti, jika Nona Amanda sudah selesai, bisa menghubungi kami kembali." ucap Zea.
"Oke." Amanda menyatukan jempol tangannya dengan jari telunjuknya.
"Jangan meninggalkan rumah ini sendirian. Revan pasti menyuruh anak buahnya mengikuti kemanapun Nona Amanda pergi."
"Jangan sampai kami di salahkan dan akan mendapat hukuman dari Tuan Egi karena melalaikan tugas kami." imbuh Zea.
"Iya. Aku akan memberitahu kalian." jelas Amanda.
Lily merasa jika Egi terlalu mengkhawatirkan Amanda. "Tenang Lily, tenang. Egi adalah kekasihmu. Lagi pula bukankah Egi sudah memperkenalkan kamu pada Amanda. Jangan berpikir negatif, yang nantinya akan membuat kamu rugi sendiri." ucap Lily dalam hati, menasehati dirinya sendiri. Meredam rasa cemburu yang tiba-tiba hadir.
"Lily." gumam Zea, saat dirinya dan Zeo sudah berada di dalam mobil. Hendak pergi ke markas. Di mana biasanya mereka berkumpul dengan rekannya yang lain.
"Cantik. Dan baik." ucap Zea, menilai Lily yang bersikap ramah pada mereka. Zeo hanya menggelengkan kepala dan fokus menyetir.
Zea, memang seorang perempuan. Yang sesuai kodratnya, terkadang menggunakan perasaan saat bertugas. Berbeda dengan Zeo. Dirinya lebih memilih tidak melibatkan atau memperlihatkan perasaan saat mendapatkan tugas dari Egi.
Tapi perasaan manusia tidak bisa di tebak. Siapa tahu, jika dalam melaksanakan tugasnya kali ini, Zeo akan banyak melibatkan perasaan dan juga tindakan.
Ciiiiitttzzzz..... Zeo mengerem mendadak. Membuat tubuh Zea hampir terpelanting ke depan. Beruntung Zea memakai sabuk pengaman. Dan juga, tangan Zea berpegangan erat dengan kursi penumpang.
__ADS_1
Dan yang lebih beruntung. Zeo dengan mudah dapat mengendalikan laju mobil yang dia kendarai. Sehingga tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Brengsek. Cari mati!!" umpat Zea. Melihat dua motor dengan setiap motor di naiki oleh dua orang lelaki, berhenti tepat di depan mobil mereka dengan mendadak.
"Anak buah Revan." tebak Zeo lirih.
"Siapa lagi kalau bukan dia." timpa Zea merasa geram, kerena memang saat ini mereka hanya terlibat dengan seseorang bernama Revan. Itulah yang ada dalam pikiran mereka.
"Habisi. Sisakan satu untuk kita bawa sebagai hadiah tangan datang berkunjung ke markas." pinta Zeo.
"Pasti." Zea dan Zeo turun dengan persiapan menghadapi keempat orang tersebut.
Tidak ada lima menit, keempatnya tumbang. Zea dan Zeo, keduanya sama sekali tidak mengalami luka. Meski hanya memar atau lecet sedikit.
Tubuh keduanya bersih dari cidera. "Maaf, kami adalah suruhan malaikat pencabut nyawa. Untuk membantunya meringankan tugasnya." seringai Zea, dengan kemampuannya membunuh ketiganya dengan mudah.
Dan Zeo, menyeret seorang lelaki yang masih hidup. Dan sekarang dalam keadaan pingsan ke bagasi mobil.
Brakkk... "Tidurlah yamg nyenyak sebelum nanti aku bangunkan." ucap Zea menutup bagasi mobil.
Zeo membantu saudara kembarnya, membuat seolah kejadian yang menimpa ketiga lelaki tersebut adalah sebuah kecelakaan antara dua motor yang menewaskan semua pengemudinya.
Sebelum pergi, mereka memastikan terlebih dahulu, jika kondisi aman saat mereka melakukan hal tersebut.
Lily mengajak Amanda untuk masuk ke dalam. Dan di kenalkan pada sang mama dan juga Lila. "Ma, Lila, kenalkan. Dia Amanda." ucap Lily. Karena memang hari ini adalah akhir pekan.
Sehingga mereka semua berkumpul di rumah. Kecuali Tuan Ardes. Karena beliau sedang berada di negara tetangga untuk melakukan perjalanan bisnisnya.
"Saya mamanya Lily. Panggil tante Tya." ucap Nyonya Tya, memeluk Amanda sebentar.
"Lila, adiknya kak Lily." lanjut Lila, memperkenalkan dirinya.
Keempatnya berbincang ringan di taman belakang yang berada di kediaman Tuan Ardes. Ditemani jus buah dan beberapa camilan.
"Sering datang ke sini. Kami pasti akan senang." ucap Nyonya Tya.
Amanda tersenyum. "Terimakasih tante." ucap Amanda. Senang sekali Amanda rasakan. Karena memang sudah lama dirinya tidak merasakan hal seperti ini.
Sejak kedua orang tuanya meninggal, Amanda nyaris tidak pernah merasakan hal seperti ini. Lantaran memang tempatnya dan kedua orang tua yang jauh.
__ADS_1
Lily menepuk pelan pundak Amanda yang sedang menerawang jauh. Lily dapat merasakan, ada rasa sedih di senyum Amanda.
Amanda segera tersenyum kembali dan menoleh ke arah Lily. Nyonya Tya memilih untuk meninggalkan mereka bertiga, dan kembali ke dalam rumah.
"Kak, kenapa kak Egi tidak datang?" tanya Lila tiba-tiba, karena hari ini pasti Egi juga tidak sedang bekerja.
"Kangen?" goda Lily pada adiknya.
"Ckk,, siapa juga yang kangen kekasih orang. Hari inikan kak Egi pasti libur kerja." tukas Lila.
"Egi masih berada di luar negeri. Nanti sore baru sampai di sini." jelas Lily.
"Ooo,,,,,," Lila maggut-maggut mengerti.
Tak lama kemudian, Lila meninggalkan Lily dengan Amanda, karena dirinya juga kedatangan teman kukiahnya.
"Ada apa?" tanya Lily, melihat Amanda seperti ingin mengatakan sesuatu, atau ingin meminta tolong padanya.
Amanda menggenggam telapak tangan Lily. "Boleh aku minta tolong?" tanya Amanda dengan wajah penuh harap.
"Aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuaku. Meski hanya lewat ponsel. Kamu bisa membantuku. Tolong katakan pada Egi." pinta Amanda dengan mata berkaca-kaca.
Karena memang, Amanda sudah lama tidak berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Meski kedua orang tuanya kini telah berada di bawah pengawasan Egi.
Lily terdiam. Dirinya teringat saat Egi mengatakan sesuatu tentang kondisi kedua orang tua Amanda. Jika keduanya memang keduanya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Bahkan, bukan Egi melarang mereka berkomunikasi. Melainkan semua ini permintaan kedua orang tua Amanda sendiri.
Mereka tidak ingin Amanda bersedih, saat melihat kondisi keduanya. Dan Egi, hanya bisa menuruti keinginan mereka, demi menjaga perasan keduanya.
Lily tersenyum. "Kenapa kamu tidak meminta sendiri saja. Mereka kedua orang tua kamu." ujar Lily beralasan.
"Ckkk,,, Kamu kan kekasihnya Egi. Pasti akan di dengarkan." rajuk Amanda.
"Dulu aku pernah meminta. Tapi Egi bilang jangan dulu." cicit Amanda dengan bibir cemberut.
Perasaan Lily sedikit menghangat mendengar perkataan Amanda. "Aku akan coba. Jika memang aku bisa membuat Egi melakukan apa yang aku inginkan. Sumpah,,," ucap Lily dalam hati sambil tersenyum.
Amanda melihat aneh pada Lily yang tiba-tiba terdiam. Dan malah tersenyum sambil memandang jauh ke depan. "Lily, kamu baik-baik sajakan?" tanya Amanda khawatir.
__ADS_1