PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 09


__ADS_3

Egi menjalani hari-harinya seperti biasa. Bekerja dan bekerja. Tidak ada kegiatan lain yang dilakukannya kecuali bekerja.


Hanya, setiap pagi sebelum berangkat bekerja, dirinya selalu menyempatkan diri untuk berolah raga. Supaya tubuhnya tetap bugar dan sehat.


Sementara Egi menjalani kehidupannya dengan damai, berbeda dengan seorang perempuan yang sekarang sedang pusing memikirkan rencana selanjutnya, yang akan dilakukan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Egi?" tanya sang papa. Karena kebetulan perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan milik Egi.


"Baik." jawab Lily singkat.


Tringg.... terdengar suara sendok berbenturan dengan piring, karena sang empunya sengaja menjatuhkannya.


"Baik. Kamu bilang baik. Papa lihat Egi bahkan tidak pernah menganggapmu." geram Tuan Ardes saat melakukan makan malam.


"Maksud papa?" tanya Lila, sang adik.


"Papa sempat bertemu dengannya beberapa kali. Bahkan dia sama sekali tidak menanyakan tentang kamu." ucap sang papa memandang tajam ke arah Lily.


"Mungkin Egi malu pa." kilah Lily mencari alasan.


"Malu. Yang ada papa curiga sama kamu. Apalagi lelaki sekelas Egi. Pasti akan mudah mendapatkan perempuan yang lebih dari kamu." ucap Tuan Ardes curiga.


"Pa, Lily kan sudah bilang, jika Lily yang menyukai Egi. Sementara Egi,,, Lily nggak tahu."


"Kalau begitu, papa akan lanjutkan acara perjodohan itu. Jangan menjadi perempuan bodoh yang mengejar cinta." ucap Tuan Ardes mengambil keputusan.


"Nggak. Nggak bisa. Lily nggak mau. Titik." Lily langsung beranjak meninggalkan ruang makan.


Sementara sang mama dan Lila hanya diam, tanpa memihak pada siapapun. Karena keduanya sama-sama memiliki watak yang keras.


"Kenapa Lily sangat susah sekali di kendalikan. Bebal." dengus Tuan Ardes, beliau juga meninggalkan meja makan begitu saja. Seakan selera makannya langsung menghilang.


"Keturunan papa." gumam Nyonya Tya.


"Ma." panggil Lila. Memandang sang mama dengan sorot mata meminta penjelasan.

__ADS_1


"Mama juga bingung. Tahu sendiri, bagaimana papamu. Percuma mama memberikan masukan. Pasti tidak akan di anggap." ucap Nyonya Tya, kepalanya terasa pusing melihat anaknya dan suaminya selalu berselisih paham.


"Mama kenal dengan lelaki yang namanya Egi?" tanya Lila penasaran.


Nyonya Tya terdiam, seperti sedang mengingat sesuatu. "Sepertinya mama pernah bertemu, tapi hanya beberapa kali. Itupun sebentar. Saat mama ikut papamu menghadiri pesta rekan kerjanya." jelas Nyonya Tya.


"Ma. Apa mama percaya, jika kakak menyukai lelaki tersebut. Egi?" tanya Lila lirih. Takut terdengar sang papa.


"Mama tidak yakin." ucap sang mama.


Mengingat bagaimana sifat putrinya tersebut. Lily terlalu menutup diri, apalagi untuk orang yang baru dia temui.


Jadi kemungkinan Lily menyukai Egi dalam beberapa kali pertemuan, menurut Nyonya Tya adalah sesuatu yang mustahil.


Di dalam kamar, Lily berjalan seperti setrika. Dengan sesekali menjambak rambutnya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan." gumam Lily merasa tertekan.


"Nggak, aku nggak mau papa melanjutkan kembali perjodohannya." kekeh Lily.


Padahal Lily belum pernah melihat seperti apa lelaki yang di jodohkan oleh sang papa. Tapi entah kenapa, Lily merasa tidak akan cocok dengan lelaki tersebut.


"Egi, bagaimana aku harus menemuinya. Nomor ponselnya saja tidak punya." keluh Lily menghempaskan tubuhnya ke kasur.


Dengan memakai kemeja lengan panjang dengan celana jeans hitam, serta topi di kepalanya, Lily pergi ke perusahaan Egi.


Sebelumnya, Lily pergi ke ruang kerja sang papa. Mencari alamat perusahaan Egi. "Beraksi." ucap Lily setelah mendapatkan alamat perusahaan Egi.


Di perusahaan, Egi dikejutkan dengan keberadaan Ditya. "Apa benar yang kamu katakan?" tanya Egi, memastikan kebenarannya pada sang asisten.


"Benar Tuan." ucap Beni.


Beni memberitahu Egi jika saat ini Ditya tengah berada di negara yang sama dengan Ella. Ditya mendirikan perusahaan di sana. Padahal baru kemarin mereka bertemu dan berbincang.


"Ditya." geram Egi.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka. Kenapa Tuan memintaku untuk terus mengawasi pergerakan Tuan Ditya dan Nyonya Ella." batin Beni, dirinya juga tidak mengetahui kisah antara Tuannya dan Ella.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu." ucap Beni dalam hati.


"Suruh seseorang untuk mengawasi Ditya di sana. Laporkan padaku setiap ada sesuatu." perintah Egi.


"Baik Tuan. Bagaimana dengan Nyonya Ella?" tanya Beni.


"Nyonya." gumam Egi tersenyum kecut. Dirinya merasa tertampar dengan panggilan yang di berikan asistennya pada perempuan yang pernah dicintanya.


"Ada suaminya." jawab Egi dingin.


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. "Masuk." ucap Egi meninggikan nada suaranya.


"Maaf Tuan, di bawah ada seorang perempuan yang mengaku sebagai kekasih anda." jelas Selly, sekertaris Egi.


Egi dan Beni saling pandang. "Kekasih." gumam Egi. Merasa dirinya tidak mempunyai kekasih.


"Lily." kata Beni.


"Putri Tuan Ardes." jelas Beni melihat Tuannya mengernyitkan dahinya. Egi memainkan pena yang ada di tangannya.


Sementara di lantai dasar, Lily masih berdiri di depan resepsionis. Dirinya di larang bertemu dengan Egi sebelum, Egi sendiri yang mengizinkannya.


Jujur, Lily sangat risih dengan beberapa karyawan yang memandangnya seperti meneliti pakaian Lily.


Mata mereka dengan jelas menyiratkan pertanyaan. "Kekasih Tuan Egi. Apa iya?"


"Bagaimana mbak?" tanya Lily dengan sopan pada resepsionis.


"Maaf, saya sudah menyampaikan pada sekertaris Tuan Egi. Beliau belum menghubungi balik saya." ucap resepsionis dengan sopan.


"Terimakasih." ucap Lily.


"Sekertaris. Jangan-jangan sekertaris Egi sama seperti di novel. Seksi dan cantik. Dan pastinya dia juga menginginkan Egi. Dan dia tidak akan memberitahu Egi jika aku ingin menemuinya. Kenapa juga tadi aku bilang sebagai kekasih Egi." batin Lily menyesal.


Sebenarnya Lily ingin seperti di beberapa sinetron yang pernah dia lihat. Marah-marah di perusahaan Egi jika tidak di izinkan masuk.

__ADS_1


Tapi dirinya berpikir ulang untuk melakukan semua itu. Apalagi papanya dan Egi adalah rekan bisnis. Pasti semuanya akan bertambah kacau jika dia melakukan hal gila.


Dan yang terpenting, amarah dari sang papa.


__ADS_2