
"Ternyata dia belajar bela diri." cibir seorang lelaki yang selalu mengintai Lily.
"Untuk apa dia melakukannya. Mau mengalahkanku. Cih,,, tidak akan sanggup." ucapnya menyeringai jahat dengan nada sombong.
Dia adalah lelaki yang sama. Yang hampir saja membuat nyawa Lily melayang, saat di parkiran apartemen Egi.
Nando Ebara. Seorang lelaki psikopat. Putra dari seorang pengusaha sukses. Dan sangat sulit untuk bisa memasukkannya ke dalam jeruji besi padahal sudah jelas, kejahatan apa yang dia lakukan.
Karena sudah beberapa kali, Nando masuk bui. Dengan hasil yang selalu sama. Bebas bersyarat. Uang dan kekuasaan memang lebih hebat dan kuat dari pada sebuah kebenaran.
Oleh karena itu, Egi mengumpulkan bukti terkait kejahatan yang dilakukan oleh Nando. Bahkan, dari kejahatannya Nando sudah membuat beberapa perempuan meninggal dunia.
"Kamu satu-satunya yang aku inginkan sekarang. Aku menginginkanmu." Nando menatap foto Lily.
"Aku ingin kamu menjadi boneka mainan ku. Manis...!!" desis Nando, mencium foto Lily.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ini pertama kalinya Lily mendengar kata cinta keluar dari mulut Egi. "Ckk,, kamu salah dengar." decak Egi, melepaskan pelukannya pada tubuh Lily.
"Tidak. Ayo ulangi." rengek Lily dengan nada dan ekspresi manja. Membuat Egi sedikit terpana. Karena sebelumnya, Lily belum pernah melakukannya.
"Khemmm...." suara deheman di belakang mereka membuat keduanya menghentikan obrolannya dan menoleh ke sumber suara.
"Papa."
"Tuan Ardes."
Egi dan Lily memanggil beliau dengan kata lain secara bersama. Keduanya lantas segera berdiri dan menghampiri Tuan Ardes.
"Papa.." Lily memeluk sebentar sang papa. Selanjutnya, Egi dan Tuan Ardes saling berjabat tangan.
Ketiganya masuk ke dalam rumah di sertai obrolan ringan. "Apa kamu akan melanjutkan proyek mu yang ada di negera kelahiran mu?" tanya Tuan Ardes.
Karena beliau mengetahui jika Egi mempunyai proyek yang sempat tertunda. Dan terlihat jika Egi hendak melanjutkannya.
Lily berjalan di samping sang papa hanya mendengarkan obrolan keduanya. "Entahlah, lagi pula di sana sudah ada seseorang yang sudah aku percaya. Seandainya proyek akan berlangsung kembali." tukas Egi.
"Terimakasih atas jamuan makan malamnya." ucap Egi seraya berpamitan. Setelah mereka melakukan makan malam bersama.
__ADS_1
"Jangan kapok ke sini lagi." ujar Nyonya Tya.
"Kak, sering main ke sini ya." pinta Lila.
"Hati-hati di jalan." ucap Tuan Ardes.
"Sebentar, Lily antar Egi ke depan." Lily dan Egi berjalan keluar rumah.
"Terimakasih." ucap Lily, memeluk tubuh Egi. Setelah keduanya berada di teras rumah.
Ponsel Egi berdering. Tertera nama AMANDA di layar ponsel milik Egi. "Halo." ucap Egi setelah menggeser layar di ponselnya.
"Bisa kita bertemu?" pinta Amanda.
"Katakan pada Zea atau Zeo. Mereka yang akan mengaturnya." pungkas Egi, mematikan sambungan teleponnya. Tanpa mendengarkan suara dari Amanda.
"Aku pulang dulu." Egi mencium kening Lily dan masuk ke dalam mobil.
Senyum di bibir Lily menghilang dengan menghilangnya mobil Egi dari pandangan mata Lily. "Amanda. Ada apa? Kenapa dia menghubungi Egi?" gumam Lily merasa gusar.
Antara cemburu dan khawatir pada Amanda. Itulah yang Lily rasakan. Dengan langkah lemas, Lily masuk ke dalam rumah.
Lily hanya memandang Lila sekilas tanpa menghiraukan ucapannya. Dan malah menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Tempat ternyaman untuknya dalam suasana apapun.
Nyonya Tya mengikuti sang putri. Beliau tahu jika Lily sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Tumben jam segini sudah tidur." ucap Nyonya Tya, masuk ke dalam kamar sang putri. Dan melihat Lily berbaring dengan posisi miring di dalam kamar.
Karena memang Lily jarang mengunci pintu kamarnya. "Ada apa?" tanya Nyonya Tya duduk di tepi ranjang sang putri.
Lily mengubah posisinya menjadi duduk dan memeluk tubuh sang mama. "Ma...." Lily menceritakan semua keluh kesah di hatinya. Dan pastinya itu mengenai Amanda.
"Kamu harus memberikan kepercayaan pada Egi. Lagi pula, mama lihat dia bukan lelaki yang suka mengumbar janji." saran Nyonya Tya.
"Dan lagi, bukankah Egi sudah mengenalkan kamu dengan Amanda. Berarti, memang Egi ingin kamu tahu. Siapa itu Amanda." tambah Nyonya Tya.
"Lagi pula, kamu juga sudah di kenalkan dengan Amanda. Berarti, kamu meski sedikit bisa mengenal. Bagiamana sosok Amanda di mata kamu." ujar Nyonya Tya.
Lily terdiam, memikirkan semua apa yang di ucapkan oleh sang mama. "Ma, apa penampilan Lily terlihat membosankan." ucap Lily lirih.
Nyonya Tya mengerutkan keningnya. "Siapa yang berkata seperti itu?" tanya Nyonya Tya dengan nada tidak suka akan pertanyaan yang muncul dari bibir sang putri.
__ADS_1
Lily menggeleng pelan. "Tidak ada. Hanya saja, Lily merasa minder jika berada di dekat Egi." ucap Lily jujur.
Nyonya Tya tersenyum. Beliau mengerti kenapa sang putri berbicara dan merasakan hal seperti itu. Karena sosok Egi merupakan lelaki idaman banyak perempuan. "Apa Egi bilang sesuatu pada kamu?" tanya sang mama.
"Egi bilang, jika aku harus berpakaian yang menurutku nyaman. Dan pastinya sopan." cicit Lily, teringat perkataan Egi.
"Itu, Egi saja bilang seperti itu. Lantas di mana rasa tidak percaya diri kamu?" tanya sang mama.
"Ma, seandainya Lily merubah penampilan Lily. Bagaimana?" tanya Lily.
"Terserah. Jawaban mama sama seperti Egi. Asal kamu nyaman dan sopan." tutur Nyonya Tya.
"Tapi memang ada baiknya kamu sedikit merubah penampilan kamu. Maksud mama tidak merubah semuanya. Hanya cara berpakaian kamu." cicit Nyonya Tya.
"Sedikit feminim, pasti akan terlihat cantik." imbuh Nyonya Tya.
"Egi..." panggil Amanda, ketika sosok Egi masuk ke dalam ruang eksklusif sebuah restoran.
Sementara di luar, berjaga Zeo. Dan Zea berada di dalam. Bersama dengan Amanda, menunggu kedatangan Egi.
"Katakan." ucap Egi tanpa basa basi, mendaratkan pantatnya di kursi.
"Aku ingin merombak semua karyawan di perusahaan. Bagaimana?" tanya Amanda, meminta pendapat dari Egi.
"Merombak, atau memecat?" tanya Egi dengan pasti.
"Emm,,,, itu yang sedang aku pikirkan." ujar Amanda. Maka dari itu, Amanda meminta untuk bertemu dengan Egi.
Egi menyandarkan punggungnya di kursi. "Jika merombak, mereka yang berkhianat masih tetap bekerja. Hanya saja, posisi mereka akan berganti." ucap Egi.
"Jika memecat, kamu harus tahu konsekuensinya. Jangan remehkan jumlah mereka yang berada di kubu Revan." imbuh Egi mengingatkan.
Egi dapat memperkirakan berapa banyak karyawan yang berada di pihak Revan. Dan itu artinya, berapa jumlah karyawan yang akan di pecat atau di berhentikan dari pekerjaan mereka.
Amanda menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Dia juga bingung, langkah apa yang akan dia ambil.
Sebenarnya, tadi Amanda sempat bertanya pada si kembar Zea dan Zeo. Mereka kira jika jumlah karyawan yang berkhianat tidak seberapa.
Ternyata tebakan mereka meleset jauh. Yang artinya, mereka tidak bisa mengambil keputusan atau memberi saran pada Amanda terkait perusahaan.
__ADS_1
Itulah kenapa, mereka menyarankan Amanda untuk meminta pendapat dari Egi.