
Lily terbangun saat tengah malam. Perutnya merasakan perih, karena lapar. Saat ingin menggerakkan tubuhnya, Lily merasa ada sesuatu yang menindih perutnya.
Perlahan, Lily mengumpulkan kesadarannya tanpa bergerak. Posisi Lily yang berada di depan Egi, dengan membelakanginya. Membuat Lily tidak bisa melihat wajah tampan sang kekasih.
Tapi Lily tahu, jika tangan yang saat ini melingkar di perutnya adalah tangan milik Egi. Dengan pelan, Lily membalikkan badan. Karena tak ingin membangunkan sang pemilik apartemen.
Di pandangnya wajah tampan yang sempurna bak pahatan tepat di depan matanya. Lily memanfaatkan momen tersebut untuk memuaskan kedua matanya.
"Berapa banyak lagi, sesuatu yang aku tidak tahu tentang kamu." ucap Lily dalam hati. Kembali teringat saat Egi menghajar Beno dengan kejam dan sadis tanpa ampun.
Ketrampilan Egi dalam bela diri, membuat Lily menelan salivanya. Sungguh hebat. "Aku janji, aku akan berlatih dengan giat." ucap Lily dalam hati.
Tentunya, Lily menginginkan berada di samping Egi dengan mengangkat wajahnya dengan percaya diri. Meski tidak sehebat Egi, setidaknya Lily ingin dirinya bisa melindungi dirinya sendiri. Dan tidak membuat Egi malu di hadapan bawahannya.
"Tapi aku janji, seperti apapun kamu. Aku tidak peduli. Aku akan tetap mencintai kamu. Tidak pernah berkurang secuilpun rasa cintaku. Malah, semakin hari semakin menumpuk." ucap Lily dalam hati, perlahan mengecup bibir seksi milik Egi.
Lily tersenyum, mendapati Egi bahkan tidak terganggu dengan ciuman yang dia berikan. "Pasti sangat lelah." Lily membelai lembut pipi Egi.
"Mengurus perusahaan. Membantu Amanda. Melawan Ebara." Lily kembali menelusupkan wajahnya ke dada bidang milik Egi. Dan malah memeluk Egi kembali.
Rasa lapar yang sempat dia rasakan, hilang, hanya karena memandang wajah sang kekasih. Memang bisa. Lily memang aneh.
Lily menikmati degup jantung Egi, menempelkan telinganya tepat di dada Egi. Lily tersenyum sambil memejamkan mata, seakan dirinya sedang mendengarkan irama musik pengantar tidur.
"Kenapa malah tidur lagi?" tanya Egi dengan suara seraknya, membuat Lily langsung mendongakkan kepalanya. Memandang ke wajah Egi dengan ekspresi imutnya.
"Apa?" tanya Egi menahan tawanya. Padahal sungguh, Egi sangat ingin tertawa melihat ekspresi wajah Lily yang seperti anak kucing yang lucu.
"Kapan bangun?" tanya Lily, dengan bibir cemberut. Lily merasa di tipu oleh Egi. Apalagi dia sempat mencium bibir Egi.
"Baru saja." jawab Egi dengan tangan mengusap pelan bahu Lily.
"Bohong." Lily memukul pelan tubuh Egi. Bukannya sakit, Egi merasa tubuhnya seperti digelitiki saat Lily memukulnya.
"Lapar?" tanya Egi, saat Lily menghentikan pukulannya. Lily langsung mengangguk dengan cepat.
Egi tersenyum sempurna melihat anggukan Lily yang cepat. "Kita pesan saja. Mau makan apa?" tanya Egi, mengecup pipi Lily.
__ADS_1
"Apa saja." ucap Lily.
Egi kembali mencium pipi Lily, dan segera bangun dari tidurnya. "Pergilah ke kamar mandi. Aku akan memesan makan." ujar Egi.
Egi segera mengambil ponselnya, tapi Egi membawa ponselnya keluar dari kamar. Selesai memesan makanan, Egi menghubungi Beni.
"Malam ini aku tidak akan ke sana. Perketat keamanan. Ebara sedang mengerahkan orang-orangnya." perintah Egi.
"Aku akan ke sana besok. Jaga Nando dengan baik." lanjut Egi.
Saat makanan datang, segera Lily dan Egi makan bersama. Tampak Lily makan dengan lahap. "Pelan-pelan. Nanti tersedak." ucap Egi.
"Aku lapar banget." cicit Lily dengan mulut penuh dengan makanan.
Selama menjalin hubungan sebagai kekasih, Egi dan Lily tidak pernah melakukan hubungan intim layaknya pasangan pada umumnya.
Egi memang sering mencium bibir Lily, tapi tidak lebih dari itu. Egi benar-benar menyayangi dan mencintai Lily.
Yang dia ingin lakukan, menjaga Lily dengan baik. Dan akan melakukan hal tersebut jika mereka sudah mempunyai ikatan yang sah di mata hukum dan agama.
Sebenarnya, Egi selalu merasakan sesak di tubuhnya bagian bawah setiap bermesraan dengan Lily. Namun Egi akan meredamkan dengan masuk ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Katakan. Aku tidak mempunyai banyak waktu." ucap Tuan Joshua pada Revan.
Makan malam mereka terganggu karena kedatangan Revan. Membuat mereka menghentikan makannya dan duduk di ruang tamu.
"Tuan, ada yang ingin saya jelaskan." tutur Revan dengan ekspresi memelas.
Amanda tersenyum sinis memandang ke arah Revan. "Mama mau kebelakang dulu." ucap Nyonya Lita, yang muak melihat wajah Revan.
Padahal dulu, Nyonya Lita adalah orang yang sangat antusias menyambut Revan. Saat Revan datang ke rumah.
"Tuan, semuanya tidak seperti yang anda pikirkan. Saya di ancam." ucap Revan, dan tentu saja dia berbohong.
"Pa..!!" seru Amanda dengan nada tertahan.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pulang. Kami sedang makan malam." usir Tuan Joshua.
Revan mengeraskan rahangnya, namun dia menahan emosinya. Apalagi dia yakin, jika dua orang yang berada di samping Amanda saat ini masih berada di rumah Tuan Joshua.
"Baik tuan, jika begitu saya permisi terlebih dahulu." pamit Revan.
Tuan Joshua dan Amanda hanya diam. Dan segera masuk kembali ke dalam. Di ambang pintu, Revan menghentikan langkahnya, membalikkan badan.
"Tunggu saja, aku akan kembali mengambil semuanya dari kalian." gumam Revan, melihat Tuan Joshua dan sang putri berjalan dengan Amanda menggandeng lengan sang papa.
"Pa, Amanda ke atas dulu." ucap Amanda.
"Tidak makan lagi." tanya Tuan Joshua, karena makan malam mereka belum selesai. Tapi kerena kedatangan Revan, mereka menghentikannya.
"Kenyang." ucap Amanda menggeleng.
Di dalam kamarnya, Amanda meneteskan air mata. Amanda mencoba meredam rasa cinta yang dia miliki pada Egi, namun sayang. Bukannya redam, malah semakin menjadi.
"Kamu tidak boleh seperti ini Amanda." gumam Amanda, menghapus air mata yang terus menetes ke pipi.
"Pasti sekarang Egi sedang bersama Lily." tebak Amanda.
Amanda menelungkupkan wajahnya ke bantal. Menangis tanpa suara. "Ini salah. Perasaan ini salah. Tidak boleh. Aku tidak boleh seperti ini." ucap Amanda di sela tangisnya.
Sedangkan di kamar yang lain, Tuan Joshua dan Nyonya Lita sedang terlibat perdebatan kecil.
Nyonya Lita kekeh ingin menjadikan Egi sebagai menantunya. Namun Tuan Joshua menolak mentah-mentah keinginan sang istri.
"Mama belum tahu, siapa Egi. Dia lelaki yang berbahaya." ucap Tuan Joshua.
"Mama dapat melihat, putri kita. Amanda menyukai Egi. Dan mama yakin." kekeh Nyonya Lita.
"Egi sudah mempunyai kekasih. Apa mama lupa?!" tegas Tuan Joshua.
"Sudahlah!" seru Nyonya Lita mengacuhkan ucapan Tuan Joshua. Beliau menarik selimutnya menutupi tubuhnya.
Tuan Joshua menggeleng pelan melihat sikap sang istri yang seperti anak-anak. Bukannya membantu Amanda menghilangkan perasaannya pada Egi. Malah memikirkan sesuatu hal yang gila.
__ADS_1
"Aku harus sering-sering mengingatkan Amanda. Jangan sampai dia salah langkah." ucap Tuan Joshua dalam hati.
Tuan Joshua tahu siapa sosok Egi. Dia akan bersikap baik, pada siapa saja yang tidak menyentuhnya. Tapi, Egi akan bersikap seperti iblis. Pada siapapun yang berani membuat dirinya murka.