PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 103


__ADS_3

"Makan yang banyak sayang. Jangan sampai kamu kurus setelah pulang dari sini." tutur Nyonya Tiwi dengan senyum.


"Iya tante." sahut Lily tersenyum.


"Mama. Panggil mama, jangan tante." pinta Nyonya Tiwi di sela-sela sarapan mereka.


Beberapa pembantu di rumah Nyonya Tiwi pun merasa senang dengan kedatangan Lily. Mereka sudah bisa menebak bagaimana sifat Lily, yang mereka amati dari sikap dan tutur kata yang Lily ucapkan.


Terlebih, Lily selalu menebar senyum pada mereka. Di saat mereka tidak sengaja bertemu atau saat mereka berpapasan, meski Nyonya Tiwi maupun Egi tidak berada di sekitar mereka.


Semua perilaku Lily tak lepas dari didikan sang mama. Nyonya Tya, yang selalu mengajarkan jika sang anak harus bersikap sopan pada siapapun. Tanpa terkecuali.


"Kenapa. Kamu nggak suka?" tanya Nyonya Tiwi, melihat Lily memandang ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.


Begitupun dengan Egi. Dia juga menatap Lily dengan heran. "Ada apa?" Egi memegang telapak tangan Lily dengan lembut.


Lily menggeleng. "Lily senang, Lily akan mempunyai dua mama." cicit Lily tersenyum lebar.


Nyonya Tiwi terharu mendengar perkataan dari Lily. "Semoga kamu bisa menjadi istri Egi. Dan selalu berada di samping Egi. Serta, mama berharap. Kamu mau menyayangi mama seperti mama kandung kamu sendiri." ucap Nyonya Tiwi dalam hati.


Ketiganya melakukan sarapan dengan tenang. Hingga akhirnya, mereka menyelesaikannya.


"Kita kemana?" tanya Lily. Egi duduk di belakang kemudi. Sementara Lily dan Nyonya Tiwi duduk di kursi belakang.


"Nanti kamu juga akan tahu." ucap Egi tersenyum. Egi serasa menjadi sopir. Namun meski begitu, Egi belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini.


Sesekali Egi melihat ke arah kursi belakang melalui kaca mobil yang tergantung di depannya. Melihat keakraban yang terjalin di antara sang kekasih dan sang mama.


Egi tersenyum samar. Berharap jika ke depannya hubungan mereka akan semakin harmonis dan juga semakin saling sayang.


Lantaran Egi mengingat. Jika sedari dulu sang mama sangat mengidamkan seorang menantu. Dengan alasan menginginkan anak perempuan yang akan menemaninya di rumah.


Sepanjang perjalanan, Lily dan Nyonya Tiwi berbincang dengan akrab. Dengan Egi sesekali menyahuti perkataan yang keluar dari mulut keduanya.


"Kamu suka?" tanya Nyonya Tiwi.


Lily mengangguk. "Di sini sangat indah." puji Lily dengan mata memandang ke luar mobil.

__ADS_1


"Kalau sudah menikah, kamu mau tinggal di sini apa di negara kamu?" tanya Nyonya Tiwi.


Lily tidak segera menjawab. Dia melirik ke arah Egi. "Entahlah ma." Lily mengangkat kedua bahunya.


"Sampai sekarang saja belum ada lelaki yang mengajak Lily untuk menikah." cicit Lily menyindir Egi.


"Aduh sayang, nanti mama carikan kamu calon suaminya." kelakar Nyonya Tiwi memandang sang putra yang tengah fokus menyetir.


"Ma,,, coba saja kalau berani." berang Egi, membuat Lily dan Nyonya Tiwi tertawa bersama.


"Sayang, bagaimana? Kamu maukan, jika tinggal di negara mama setelah menikah dengan putra mama?" tanya Nyonya Tiwi berharap.


"Ma, jangan paksa Lily." tegur Egi dengan nada lembut. Egi hanya tidak ingin jika sang kekasih merasa terbebani dengan permintaan sang mama.


"Baiklah. Maaf, mama tidak bermaksud memaksa. Hanya saja, mama merasa sangat bahagia. Akhirnya mama punya menantu." ucap Nyonya Tiwi dengan antusias.


Lily masih terdiam. Pertanyaan calon mertuanya tersebut menggangu pikirannya. Entah apa yang saat ini ada dalam pikiran Lily.


Sepanjang perjalanan, Nyonya Tiwi tak lagi membahas masalah tersebut. Dia lebih banyak membahas mengenai kuliah Lily dan keseharian calon menantunya tersebut.


"Iya ma." jawab Lily seraya mengangguk pelan.


"Wah,,, menantu mama akan menjadi seorang pengacara. Selamat ya..." Nyonya Tiwi memeluk Lily dengan hangat.


"Terimakasih ma." sahut Lily.


Mobil yang membawa mereka berjalan pelan dan mulai berhenti. Ketiganya keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran mewah dan terkenal tersebut.


"Kenapa ke sini." ucap Lily dalam hati, sebab mereka memang sudah sarapan di rumah.


"Ayo sayang." Nyonya Tiwi menggandeng tangan calon menantunya. Dan Egi, berjalan di belakang keduanya. "Gue serasa bodyguard mereka." ucap Egi dalam hati tersenyum.


Lily menghentikan langkahnya, melihat siapa yang dia lihat di salah satu meja. Bahkan Lily mengerjap tidak percaya.


Lily mengalihkan pandangan ke arah Nyonya Tiwi dan Egi yang sekarang berada di sampingnya secara bergantian. "Bagaimana mungkin." ucap Lily tidak percaya.


"Kenapa tidak mungkin, buktinya. Lihat." Nyonya Tiwi menggerakkan tangannya yang tidak bergandengan dengan tangan Lily.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera ke sana dsn bergabung. Kasihan, jika mereka menunggu kita." ucap Nyonya Tiwi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sepinya...." keluh Lila saat sang kakak tidak berada di rumah.


Lila merebahkan badannya di kursi panjang yang terdapat di gazebo belakang rumah. "Aisshhh,,,, semuanya sibuk sendiri." gumam Lila, saat teman-temannya tidak ada yang bisa dia ajak keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Lantaran mereka sudah mempunyai janji dengan kekasih mereka.


"Mana kak Mauren ternyata ada acara keluarga lagi." desah Lila merasa kesepian.


Saat Lila melamun, ponselnya berbunyi. Segera dia melihatnya. Berharap jika salah satu sahabatnya menghubungi dirinya.


Kening Lila mengerut, melihat jika hanya ada nomor saya yang tertera di layar ponselnya. Tanpa ada nama ID penelpon. Menandakan Lila tidak menyimpan atau mengenal si penelpon.


"Siapa ya." gumam Lila, enggan untuk mengangkatnya. "Tapi nanti penting lagi. Ckk..." Lila merasa galau hanya karena ada yang menghubunginya.


"Halo." ucap Lila pertama kali, setelah menggeser gambar berwarna hijau di layar ponselnya dengan tidak semangat.


"Siapa?!" tanya Lila, seolah memastikan. Saat di seberang telepon sudah menyebutkan namanya.


"Oh, maaf Tuan Beni. Saya tidak tahu, jika anda yang menghubungi saya. Ada apa?" tanya Lila dengan sopan, setelah mengetahui identitas si penelpon.


"Benarkah?" tanya Lila, langsung duduk dari posisi berbaringnya.


"Oohh,,, aku sangat bahagia." sahut Lila dengan heboh, entah Beni mengucapkan apa pada dirinya.


Bahkan Lila sampai berdiri dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. "Baiklah, apa yang bisa saya bantu?" tanya Lila dengan semangat.


"Oke. Aku akan segera mencarinya dan mengumpulkannya. Setelah semuanya terkumpul, saya akan membawanya ke sana." tukas Lila, segera mematikan sambungan teleponnya. Tanpa menunggu suara Beni dari seberang sana.


"Aaa...!!! Senangnya." Lila meletakkan ponselnya di depan dada. Seolah dia sedang memeluk ponsel tersebut dengan erat dan bahagia.


Raut wajah bahagia Lila tidak bisa di sembunyikan lagi. Dengan langkah tergesa dam senyum di bibir, Lila melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga.


Bahkan, sebelum menaiki anak tangga. Lila memeluk beberapa pembantu yang berpapasan dengannya. Membuat mereka bingung.


Meski Lila bersikap baik pada mereka setiap hari, namun Lila tidak pernah memeluk mereka. Namun kali ini, Lila tidak sungkan memeluk mereka dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2