PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 34


__ADS_3

"Kak, ada yang ingin Lila tanyakan." ucap Lila, begitu mereka selesai makan malam.


Dan saat ini, kedua saudara kandung tersebut berada di dalam kamar Lily. "Kakak juga. Ada yang ingin kakak tanyakan sama kamu." jelas Lily.


"Ada masalah apa kamu di kampus?" tanya Lily langsung, dengan manik mata menatap lekat ke arah sang adik.


"Mas--masalah apa?" jawab Lila gugup. Mencoba mengelak dari pertanyaan sang kakak.


"Kamu cerita sendiri. Atau kakak yang akan mencari tahu." ucap Lily tegas.


Lila malah mencebik, seperti meremehkan perkataan sang kakak. Padahal itu hanya untuk pengalihan perhatian. "Aissshhh,,,, kakk." ujar Lila.


"Jawab." kata Lily masih memandang lekat ke arah sang adik.


"Ooo,,,, apa kamu lupa sekarang. Siapa orang yang saat ini berada di samping kakakmu." ucap Lily sombong, menaikkan sebelah alisnya.


"Dia bisa berbuat apa saja. Kakak bisa minta tolong padanya." imbuh Lily dengan percaya diri. Namun hatinya merutuki. Kenapa dia harus berkata seperti itu. Kalau Egi mau membantu, kalau tidak. Malu, pasti.


"Mau bukti." ucap Lily, menantang Lila. Tangannya memainkan ponsel miliknya.


Padahal jantung Lily berdetak kencang tidak karuan, karena merasa khawatir. Lily takut jika Egi malah akan berkata macam-macam. Dan terbongkarlah rahasianya.


Lily menyalakan ponselnya. Dengan mata melirik ke arah Lila. "Ayo Lila, bilang jangan. Hentikan kakak." batin Lily, meminta Lila menghentikannya.


Namun Lila tak juga membuka mulutnya. Membuat Lily semakin cemas. Seakan Lily terjebak dalam permainannya sendiri.


"Lila, please. Bilang berhenti. Kenapa malah diam." imbuh Lily dalam hati. Dapat dilihat jelas oleh Lila, jika sang kakak sudah membuka deretan nomor kontak di dalam ponselnya.


"Semoga Egi menjawab panggilan teleponku dengan baik." batin Lily berharap. Karena biasanya, Egi pasti akan menjawab panggilan teleponnya dengan nada acuh dan ketus.


"Ehhh..." seru Lily terkejut. Saat Lila merebut ponselnya dari tangannya.


"Huff." tampak Lily bernafas lega. "Kenapa kak?" tanya Lila, karena sang kakak seperti menghembuskan nafas panjang.


"Kakak senang, kamu akhirnya mau cerita." ucap Lily beralasan. Padahal sudah jelas, bukan itu alasan utama Lily bersikap demikian.


"Katakan." perintah Lily. "Atau kakak akan benar-benar menelpon kak Egi." ucap Lily.


"Ckk,, mentang-mentang pacaran sama orang berkuasa macam kak Egi." ucap Lila kesal.


"Mobil Lila dipinjam sama teman Lila. Terus mobilnya rusak, karena menabrak pohon." cicit Lila.


"Menabrak pohon. Kok bisa?" tanya Lily.


Lila mengangkat kedua bahunya, pertanda dirinya juga tidak tahu. "Dia hanya bilang seperti itu." imbuh Lila.


"Jadi mobil kamu di bengkel?" tanya Lily. Dengan enggan dan malas, Lila mengangguk.


"Terus masalahnya apa. Kamu mau menuntut mereka?" tanya Lily, karena merasa jika Lila belum bercerita secara keseluruhan.


Lila menggeleng pelan. "Lila cuma mau mereka tanggung jawab. Bayar biaya kerusakan mobil Lila." ucap Lila lesu.


Lily mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Lila. "Dan mereka menolak." tebak Lily. Lagi-lagi Lila mengangguk sambil berdecap.


"Biayanya perbaikannya mahal kak." jelas Lila.


"Parah." tanya Lily, mengenai keadaan mobil Lila. Dan lagi, Lila mengangguk sedih.


"Bahkan uang tabungan Lila masih kurang." ucap Lila pelan.


Dirinya hanya takut jika sang papa tahu. Pasti Lila akan dimarahi oleh Tuan Ardes. Bukan karena masalah uang, tapi tanggung jawab.


Tuan Ardes selalu mendidik kedua putrinya untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka perbuat. Tuan Ardes tidak ingin kedua putrinya mengandalkan dirinya.


Meski Tuan Ardes pasti akan menyelesaikan masalah mereka. Meski sebelumnya, kedua putrinya harus mendapat ceramah dari sang papa. Dan juga sang mama.


Tapi bukan berarti masalah yang mereka timbulkan selesai, setelah sang papa menyelesaikannya. Karena sudah di pastikan, Tuan Ardes akan memberi hukuman atas tindakan dan sikap mereka.


"Kenapa tidak lapor ke kampus saja?" tanya Lily.


"Kakak, itu artinya papa akan tahu." jawab Lila lirih.


"Kalian kan bisa patungan." saran Lily.


"Mereka bilang tidak punya uang." ucap Lila sebal.


"Kenapa?" tanya Lily, melihat ada sesuatu yang di tutupi sang adik.


"Ada apa kak?" tanya Lila lagi, saat Lily malah menatapnya dengan intens dan tajam.


"Ini bukan soal kamu ketakutan, papa sampai tahu jika mobil kamu rusakkan?" tanya Lily dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Apa sih kak." Lily mencoba membuang wajah.


"Lila." panggil Lily dengan tegas.


Karena Lila pasti akan memilih melapor dan memberitahu ke sang papa jika mobilnya rusak. Bukan malah merahasiakannya. Apalagi yang merusakkan mobil bukanlah dirinya, melainkan temannya.


"Iya, iya. Lila akan jujur." ucap Lila pasrah. Dari dulu, dirinya tidak bisa membohongi sang kakak. Dan entah kenapa, Lily selalu tahu saat sang adik berkata bohong padanya.


"Mereka mempunyai foto Lila." ucap Lila menunduk dan memejamkan mata.


"Foto." ujar Lily memicingkan sebelah matanya. "Foto apa? Bisa kamu perjelas." tegas Lily, memegang dagu sang adik.


Membuat Lily dan Lila saling bertatapan. "Foto Lila berciuman dengan seorang lelaki." ungkap Lila lirih.


"Lila, astaga. Kamu. Kenapa bisa seceroboh itu." ucap Lily menggeleng tidak percaya.


"Saat itu kita sedang bermain. Dan Lila kalah. Sebagai hukumannya, Lila harus mencium seseorang." jelas Lila.


"Dan kamu melakukannya." kata Lily.


"Iya." sahut Lila. "Lila pikir cuma permainan. Tapi Lila tidak menyangka, malah ada yang memfotonya." ucap Lila.


"Foto seperti apa?" tanya Lily penasaran. Lily melihat dari ekspresi Lila, pasti fotonya lebih dari satu dan sangat panas.


"Maaf. Sebenarnya salah Lila juga. Lila,,, Lila penasaran. Rasanya berciuman seperti apa." cicit Lila.


Tok,, tok,, tok,, "Lily." panggil Tuan Ardes dari luar kamar Lily.


"Papa." ucap Lily dan Lila bersama.


"Kak." kata Lili pucat.


"Diam." bentak Lily lirih.


"Ada apa pa?" tanya Lily setelah membuka pintu.


"Kamu di sini?" tanya Tuan Ardes saat melihat Lila berada di dalam kamar Lily. Tapi Lila hanya mengangguk.


"Ada apa pa?" tanya Lily lagi.


"Apa kamu ikut pembelajaran bela diri?" tanya Tuan Ardes, saat dirinya sudah masuk ke kamar sang putri. Dan ternyata Nyonya Tya, sang mama juga mengikutinya dari belakang.


Lila hanya diam dan menyimak. Dirinya tidak ingin ikut campur. Bisa-bisa dia nanti malah bermasalah.


"Egi yang menyuruh Lily." imbuh Lily. Nyonya Tya hanya tersenyum melihat ekspresi sang suami, saat putrinya berkata jika Egi yang menyuruhnya.


Nyonya Tya tahu, pasti Tuan Ardes sekarang sedang sebal. Karena selama ini, Lily selalu menentang keinginan darinya. Dan ini, Lily selalu menuruti perkataan dari Egi. Padahal mereka baru bertemu.


Nyonya Tya dapat melihat ada rasa cemburu dari sang suami pada Egi. Karena putrinya malah dengan mudah percaya dan merasa nyaman dekat dengan Egi.


Sebenarnya Nyonya Tya tahu, kenapa sang suami bersikap seperti itu. Pasti karena Tuan Ardes takut jika Egi dengan tiba-tiba meninggalkan Lily.


"Kenapa kamu menurut sekali sama Egi." kesal Tuan Ardes.


"Lily nurut sama Egi karena, emmm,,, Egi menyuruh Lily untuk melakukan hal yang baik." ucap Lily beralasan.


"Kalau Egi menyuruh kamu pergi dari rumah ini. Kamu juga pergi." ucap Tuan Ardes dengan kesal.


"Mungkin." jawab Lily asal. Nyonya Tya langsung melotot ke arah sang putri.


"Dasar." geram Tuan Ardes. "Kamu tidak perlu mengikuti hal seperti itu. Papa akan menyuruh seseorang menjaga kamu." jelas Tuan Ardes.


"Baik. Tapi papa sendiri yang bilang sama Egi. Jika tidak mengizinkan Lily ikut les bela diri." ucap Lily.


Karena pasti sang papa tidak akan mungkin membicarakan hal itu pada Egi. Bukan karena Tuan Ardes takut. Tapi Lily yakin, jika sang papa juga mengetahui alasan Egi menyuruh Lily untuk mengikuti les tersebut.


Tuan Ardes memandang tajam ke arah Lily. Segera Lily berdiri dan mendekat ke arah sang papa. Tiba-tiba Lily memeluk Tuan Ardes. "Papa pasti tahu, alasan Egi memasukkan Lily kedalam pelatihan bela diri." ucap Lily lirih.


"Egi hanya khawatir. Dan Lily, tidak perlu bawahan papa untuk menjaga Lily. Karena Lily akan baik-baik saja." ucap Lily lirih.


"Selama ada Egi di samping Lily." batin Lily.


Terdengar hembusan nafas panjang dari Tuan Ardes. Tangan Tuan Ardes terangkat menepuk pelan bahu sang putri.


"Semoga Egi benar-benar menjaga kamu. Dan menganggap kamu, sebagaiman kamu menganggap dia." batin Tuan Ardes.


Nyonya Tya dan Lila saling berpandangan, melihat kedua . Tuan Ardes dan Lily saling berpelukan. Padahal sebelumnya ini tidak pernah terjadi "Amazing." ucap Lila pelan.


"Aaaa....!!:" teriak Lila, segera berlari dan ikut memeluk sang papa.


Membuat Tuan Ardes terkekeh, dan memeluk kedua putrinya. "Mama...!" teriak Lily dan Lila memandang ke arah Nyonya Tya.

__ADS_1


"Ckkk,,, kalian ini." ucap Nyonya Tya, mengikuti mereka berpelukan.


"Kita seperti teletubies ya kak." celetuk Lila. Sontak semuanya tertawa. Hingga Lila lupa, tujuannya datang ke kamar sang kakak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Nanny ingin memanggil Amanda . Karena Revan sudah menunggunya untuk sarapan. Tapi, sebelum sampai di kamar Amanda, mereka sudah berpapasan di tangga.


"Nona, Tuan Revan menunggu anda." ucap Nanny sedikit membungkuk. Nanny melirik, melihat sekitar. Dirasa aman, beliau memberikan sesuatu pada Amanda. Segera Amanda menggenggamnya dan berlalu.


Amanda memasukkan barang pemberian Nanny ke dalam tasnya, setelah duduk di kursi makan. "Kita akan langsung menuju perusahaan Egi." ucap Revan di sela sarapan mereka.


"Aku harus ikut?" tanya Amanda, yang terlihat bodoh di mata Revan.


Revan tidak menjawab pertanyaan Amanda, dirinya hanya menatap ke arah Amanda. "Iya." ucap Amanda, melanjutkan mengigit roti di tangannya.


"Benar-benar kesempatan bagus. Semoga aku bisa berbicara berdua dengan Egi." ucap Amanda dalam hati, berharap.


"Tuan Egi, maaf kami datang terlambat." ucap Revan, karena memang mereka terlambat lima belas menit.


"Sebaiknya kita segera mulai. Saya tidak punya banyak waktu." ucap Egi dengan wajah datar.


"Baik." kata Amanda. Mereka lantas membicarakan proyek yang akan mereka kerjakan bersama.


Selama Revan berbicara dengan Egi, Amanda memberi kode pada Egi. Dan sepertinya Egi mengerti. Dia sedikit mengangguk sambil melihat ke arah Beni.


"Kita bisa memulainya bulan depan." ucap Revan dengan yakin.


Selly masuk ke dalam ruangan. Membawa nampan, di atasnya ada tiga cangkir minuman. Dan...


"Aaaaww.." seru Selly dan Revan bersamaan. Membuat Revan dan Amanda sontak berdiri. Tapi tidak dengan Egi. Dia masih duduk dengan santai dan tenang.


"Maaf pak,, eh Tuan." ucap Selly, saat minumannya tumpah ke baju Revan. Tepatnya di pundak Revan. Hingga sebagian baju bagian belakang, bahkan juga bagian depan.


"Pas sasaran." batin Beni. Selly melirik ke arah Beni. Selly merasa Beni sengaja sedikit menjulurkan kakinya, hingga Selly terhuyung ke depan.


"Singkirkan tanganmu." geram Revan, saat Selly hendak mengusap pundak Revan yang basah.


Segera Selly menghadap ke arah Egi. "Tuan, saya tidak sengaja." ucap Selly, dengan wajah ketakutan. Dirinya takut jika di pecat.


Dan Amanda hanya diam. Dia yakin, ini hanyalah cara Egi untuk mengusir Revan dari ruangannya. Meski hanya sebentar.


Egi menatap ke arah Beni. "Ikut aku keluar." ajak Beni pada Selly.


"Tapi." kata Selly, saat Beni mengajaknya keluar ruangan. "Tuan." ujar Selly, melihat ke arah Egi. Dan Selly merasa, Egi marah. Apalagi Egi menatapnya dengan tajam.


"Keluar, sebelum kamu benar-benar di pecat." bisik Beni, mencekal lengan Selly. Yang akhirnya Selly mengikuti perkataan dari Beni. Meski hatinya masih diliputi rasa takut. Akan dapat surat pemberhentian kerja.


"Kerja yang benar, dan jangan ceroboh." ucap Beni, setelah keduanya berada di depan meja kerja Selly. Yang berada di depan ruangan milik Egi.


"Panggil OB." ucap Beni, sebelum meninggalkan meja kerja Selly.


Selly menatap ke arah Beni yang sedang berjalan masuk kembali ke ruangan atasan mereka. "Gue yakin. Gue tadi kesandung. Dan itu kaki Beni sialan." geram Selly.


"Belikan pakaian untuk Tuan Revan. Segera." perintah Egi.


"Baik Tuan." Beni bergegas keluar lagi dari ruangannya.


"Kerjakan dengan benar, rapi dan bersih." perintah Beni, saat dia berpapasan dengan OB di depan pintu ruangan Egi.


OB tersebut bekerja tanpa memandang ke arah tiga orang yang berasa di sekitanya. Jantungnya rasanya berdegup kencang.


Dirinya membersihkan ruangan, dan langsung dilihat oleh pemilik perusahaan. Dapat di bayangkan, bagaimana rasanya.


"Maaf atas kejadian yang membuat anda merasa tidak nyaman." ucap Egi.


"Tidak apa-apa. Tidak masalah." ujar Revan, tetap menampilkan senyum di bibirnya. Padahal ingin sekali dirinya mengumpat sepuasnya.


"Brengsek. Mana pakaian mahal." batin Revan.


Sekitar tujuh menit, Beni kembali dengan membawa tiga paper bag. "Tuan." ucap Beni sedikit membungkukkan badan.


"Antarkan Tuan Revan untuk mengganti bajunya. Layani dia, senyaman mungkin." ucap Egi.


"Mari Tuan Revan." Beni mempersilahkan Revan untuk keluar daei ruangannya. Membuat Revan mengernyitkan dahinya.


"Tuan Egi tidak suka berbagi kamar mandi. Karena hanya dua orang yang bisa masuk ke dalam ruangan tersebut." jelas Beni, sambil berjalan.


Seolah Beni mengerti apa yang sekarang ada di dalam benak Revan. "Tuan Egi sendiri, dan OB." imbuh Beni.


Revan tersenyum mendengar perkataan Beni. Tapi Revan memakluminya, melihat siapa sosok Egi. "Silahkan. Saya akan menunggu di sini." ucap Beni, dengan sopan. Menyerahkan paper bag tersebut kepada Revan.

__ADS_1


__ADS_2