
"Tumben ke sini siang. Memangnya tidak sibuk?" tanya Lily melihat kedatangan Egi beserta sang asisten ke rumahnya. Apalagi Egi datang tidak memberitahu Lily terlebih dulu.
Kedatangan Egi membuat Lily sedikit terkejut. Lily segera mempersilahkan Egi dan Beni untuk duduk di ruang tamu. "Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Egi langsung.
"Kak Egi." sapa Lila, memakai dress lengan pendek dengan panjang sampai mata kaki.
Tak lupa tas selempang pendek di bahu kirinya dengan beberapa buku berukuran besar dan tebal di dekap di depan dada. Tampak Lila bersiap akan pergi kuliah.
Beni tersenyum samar menatap ke arah Lila. "Cantik dan imut." ucap Beni dalam hati.
Tapi sedetik kemudian Beni merutuk perkataannya. Bisa-bisanya dia memuji adik dari Lily, meski di dalam hati. "Astaga Beni. Ingat, kamu punya istri di rumah." segera Beni menundukkan kepala. Mengalihkan pandangannya pada Lila.
Meski pernikahan Beni dengan sang istri adalah perjodohan yang dilakukan oleh pihak keluarganya dan juga keluarga sang istri. Namun selama ini Beni menjalankan kewajibannya sebagai suami dengan baik.
Beni melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Memberikan sang istri nafkah lahir maupun batin. Memperlakukan sang istri dengan baik. Meskipun sampai detik ini, rasa cinta belum tumbuh di hati Beni.
Namun, tidak ada niat dari Beni untuk mendua ataupun menceraikan sang istri. Terlebih selama menjadi pasangan suami istri, sang istri selalu menurut dengan patuh setiap perkataannya.
"Lila berangkat dulu kak." pamit Lila, bersalaman dengan Egi dan juga Beni.
Serrrr..... hati Beni berdesir saat Lila mencium punggung telapak tangannya. Padahal Lila juga melakukan hal yang sama kepada Egi.
"Ada apa ini? Kenapa denganku?" ucap Beni terdiam sesaat. Dirinya tidak pernah merasakan hal seperti ini saat sang istri melakukan hal tersebut.
Setiap hari, istri dari Beni selalu bersalaman dengannya. Saat Beni melangkahkan kakinya keluar ataupun masuk ke dalam rumah untuk bekerja.
Sudah normal rasa aneh yang di rasakan oleh Beni, kini Lila dengan senyum menawan di bibirnya terlihat tepat di depan wajah Beni.
Membuat degup jantung Beni seakan berpacu lebih cepat. Tak hanya itu, nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Keningnya juga mulai mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
Suara dari Lily membuyarkan pikiran Beni. "Lila, kamu pilih kasih." cemberut Lily pura-pura. Karena Lila tidak menjabat tangannya. Seperti yang dilakukannya pada Egi dan Beni.
__ADS_1
Wleekk.... Lila menjulurkan lidah pada sang kakak dan malah melenggang pergi. "Dasar." ucap Lily tersenyum.
"Permisi Nona Lily. Mau numpang ke toilet." ucap Beni.
Lily dan Egi spontan menatap ke arah Beni secara serempak. "Kamu sakit?" tanya Lily melihat wajah Beni yang berkeringat dan terlihat sedikit pucat.
"Tidak." jawab Beni dengan cepat. Segera Beni mencari alasan. "Saya kebelet." ucapnya menahan rasa malu.
Lily mengangguk pelan dan menunjukkan arah toiletnya pada Beni. Sepeninggal Beni, datang pelayan untuk mengantarkan air minum untuk Egi dan juga Beni.
"Terimakasih." Lily tersenyum pada pelayan tersebut. Hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan dari Lily. Tapi membuat Egi semakin mengagumi sosok Lily.
Tanpa di sadari oleh Lily, Egi tersenyum samar melihat sikap sopan yang ditunjukkan Lily pada pelayan tersebut. "Silahkan di minum." ujar Lily.
Egi mengambil cangkir berisi kopi, menyeruputnya sedikit. Dan mengembalikan ke atas meja. "Maaf, mama nggak ada. Baru saja keluar. Biasa, menghadiri arisan." jelas Lily.
Egi mengangguk pelan. "Mau membicarakan apa?" tanya Lily. Karena perkataan Egi sempat terpotong karena kehadiran adik tersayangnya.
"Astaga." ucap Beni kaget. Wajahnya di cermin berubah menjadi wajah Lila yang tersenyum manis padanya.
Segera Beni memejamkan mata. Mengingat wajah sang istri. Tapi tetap saja. Wajah manis Lila terlintas di antara wajah sang istri.
Beni mengambil nafas dan mengeluarkan pelan-pelan secara berulang. "Beni. Tenang. Ini salah. Salah besar. Come on Beni. Kamu sudah beristri. Jangan sampai sesuatu yang seharusnya tidak terjadi malah akan terjadi." gumam Beni.
Beni kembali mengembalikan kewarasannya. Setelah dirasa selesai, dia keluar dari kamar mandi. Tapi Beni tidak kembali ke ruang tamu. Bergabung bersama Egi dan juga Lily.
Beni yakin, jika saat ini Egi dan Lily sedang berbicara serius terkait Nandi Ebara. Dan dia tidak ingin menganggu.
Membuat Beni memutuskan untuk pergi ke samping rumah. Duduk di kursi teras samping rumah. Mengeluarkan ponselnya. Dan memainkannya.
Egi menatap Lily dengan lamat-lamat. Membuat Lily merasa risih. "Ada apa?" tanya Lily pelan, mengulum bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Nando Ebara." Egi menyebut nama tersebut tepat di depan Lily. Dan Lily tahu siapa pemilik nama itu.
Tak ada reaksi ataupun kalimat yang keluar dari dalam mulut Lily. Hanya saja, Lily membuang wajahnya secara perlahan. Menatap ke arah lain.
Egi mulai menceritakan beberapa perempuan yang juga menjadi korban dari Nando. Seperti halnya yang di alami oleh Lily.
"Tapi mereka semua berasal dari keluarga yang masih berada di bawah Tuan Ebara. Meskipun sebagian dari mereka berasal dari keluarga kaya. Namun masih tidak bisa mengalahkan kekuasaan Ebara." jelas Egi, menatap ke arah Lily yang masih terdiam.
"Mereka tidak punya kekuatan ataupun keberanian untuk melawan. Meskipun hati dan keinginan mereka untuk melawan Ebara sangat besar. Ancaman dari Ebara yang membuat mereka memilih untuk mundur." imbuh Egi.
Egi menghela nafas dengan pelan. "Nyawa. Nyawa keluarga mereka taruhannya." ucap Egi. Sontak membuat Lily langsung memandang ke arah Egi.
"Siapapun pasti akan takut. Jika nyawa orang di sekitarnya terancam. Namun, mereka akhirnya siap dan setuju untuk kembali membuat luka mereka." ucap Egi.
"Maksud kamu?" tanya Lily yang akhirnya membuka suara.
Egi tersenyum samar. "Mereka bersedia menjadi saksi karena kejahatan dari Nando. Dengan jaminan keselamatan keluarga mereka terjamin."
"Apa kamu yang menawarkannya?" tanya Lily lirih.
Egi mengangguk pelan. "Kenapa?" tanya Lily. Karena Egi saka sekali tidak ada kaitannya dengan kejadian tersebut.
Egi memandang intens ke arah Lily. "Lelaki mana yang akan ikhlas dan diam saja. Melihat kekasihnya sudah di buat trauma seperti itu." tegas Egi.
Kedua mata Lily mengembun mendengar perkataan yang keluar dari mulut Egi. Dengan tegas Egi menyatakan jika Lily adalah perempuan yang sangat berharga dan juga istimewa di hatinya.
Lily berhambur memeluk tubuh Egi. Pastinya dengan air mata kebahagiaan. Egi mengelus dengan lembut rambut panjang sang kekasih.
"Keluarga korban yang sudah tiada, juga akan ikut bergabung." ujar Egi lirih.
"Sudah tiada." gumam Lily, seraya melepas pelukannya.
__ADS_1
"Sudah tiada, maksudnya?" tanya Lily dengan tatapan bingung.