PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 69


__ADS_3

Egi saat ini sudah sampai di perusahaan. Tapi pikirannya tetap menuju dan memikirkan sang kekasih. Terlebih akan penampilan Lily yang sangat berbeda dari biasanya.


Egi mengambil dan membuang nafas dengan kasar. Tangannya memijat tengkuknya yang terasa pegal dan kencang sembari memejamkan mata. Merilekskan beban di otaknya.


"Lily." gumam Egi. Cemburu, tentu saja. Apalagi Egi melihat jika di sana juga ada Vincen. Lelaki yang jelas-jelas memperlihatkan rasa ketertarikannya pada Lily.


Bukannya Egi marah pada Lily saat ini. Tapi lebih pada emosinya. Egi takut, jika menemui Lily saat itu juga, maka dia akan marah. Meluapkan emosinya yang dia sendiri juga tidak tahu. Kenapa Egi merasa kesal melihat Lily bersama dengan Vincen. Dengan penampilan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


Ponsel Egi berdering. Egi membiarkannya. Seolah dirinya enggan untuk di ganggu. Apalagi saat ini tujuannya untuk menenangkan diri. "Vincen." geram Egi tertahan.


Egi sengaja menghindar, supaya saat dirinya bertemu dengan Lily, emosinya sudah mereda dan stabil. Sehingga bisa berbicara dengan tenang. "Apa seperti ini, rasanya cemburu." gumam Egi tersenyum samar.


Lagi dan lagi. Ponselnya kembali berdering. Namun Egi tetap mengacuhkannya. Seolah indera pendengarannya tidak mendengarkan jika benda berbentuk persegi dan pipih itu sedang memanggilnya.


Tapi kali ini, ponselnya terus berbunyi tanpa jeda. Membuatnya terganggu. "Aisshhh,,,," geramnya, melihat siapa yang mengganggunya.


Egi mengerutkan keningnya, melihat siapa yang menghubunginya. "Ada apa?" tanya Egi langsung tanpa basa basi.


Egi mematikan panggilan sepihak, memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Bergegas pergi dari ruangannya.


Selly, sekertaris Egi yang berada di depan ruangan Egi hanya memandang ke arah atasannya tersebut berjalan dengan setengah berlari. "Perasaan tadi Tuan Egi sudah makan siang." gumam Selly, berpikir jika Egi sedang lapar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang terjadi di sana saat ini?" tanya Bob pada anak buahnya.


"Terjadi sesuatu di perusahaan Tuan Joshua." lapornya dengan kepala menunduk. Dia tidak berani mengangkat dan menegakkan kepalanya. Sebab dia memberikan kabar buruk untuk atasannya.


"Katakan dengan jelas!" hardik Bob.


"Sepertinya Amanda mempunyai seseorang yang membantunya. Karena saat ini......." dia menceritakan semua kejadian yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sebelum terbang ke negara ini untuk menemui atasannya. Bob. Dan melaporkannya.


Bob terdiam. Menggerakkan telapak tangannya. Isyarat bagi bawahannya untuk meninggalkan ruangan. "Apa kamu sudah menyelidikinya?" tanya Bob pada orang kepercayaannya.


"Ditya. Beberapa kali dia masuk dan pergi dari negara tersebut. Dan beberapa kali bertemu dengan Nona Amanda." lapornya.

__ADS_1


"Ditya..." gumam Bob sama sekali tidak pernah berpikir jika orang itu adalah Ditya. "Bagiamana bisa?" tanya Bob dalam hati pada dirinya sendiri.


Berbeda dengan Bob. Di tempat lain, tampak Ditya tersenyum penuh kemenangan. Dia sengaja memberi sedikit celah pada bawahan Bob untuk mendapatkan namanya dalam barisan pahlawan dalam membantu masalah Amanda.


Ditya merasa bosan, karena anak buah Bob bekerja sangat lambat. Membuat semua permainan terasa hambar untuk Ditya. Membuat Ditya bosan menunggu.


Bagi Ditya, permainan yang dia ciptakan akan terasa menyenangkan. Jika musuh mengetahui jika dia lah lawannya. Sehingga perang terbuka pasti akan terjadi.


Akan menyenangkan bagi Ditya melihat musuh berlutut di depannya. Melihat dengan rasa takut pada wajahnya.


"Kenapa dia ikut campur masalah ini?" Bob merasa perusahaan Tuan Joshua sama sekali tidak ada kaitannya dengan Ditya.


Sebelum melancarkan aksinya, Bob sudah terlebih dahulu menyelidiki tentang perusahaan yang akan menjadi targetnya.


Bob pasti akan memilih perusahaan yang tidak terlalu berkembang dengan pesat. Dan Bob memilih perusahaan yang di kendalikan oleh seseorang yang tidak ada kaitannya dengan bawah tanah.


"Apa mungkin Nona Amanda dan Ditya memiliki hubungan." tebak bawahannya.


"Tidak. Jika semua yang kamu katakan benar terjadi, pasti Revan sudah memberitahu kita terlebih dahulu." kilah Bob.


"Maaf Boss, apa kita bisa mempercayai Revan. Setelah kita tahu akal liciknya." ingatnya pada Bossnya.


"Dia terlihat penurut. Ternyata benar-benar seperti domba berwajah serigala." ucap Bob merasa kesal, teringat pengkhianatan yang Revan lakukan.


"Apa kita perlu memberinya hadiah?" tanyanya pada Bob.


Bob tersenyum miring. Menandakan jika dia mempunyai sebuah rencana. "Biarkan saja dulu. Biarkan dia merasa, jika kita tidak mengetahuinya. Kita lihat, apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Setelah kehebohan yang terjadi di perusahaan Tuan Joshua." jelas Bob.


Bawahan Bob juga memberitahu jika Amanda memecat semua karyawan yang berkhianat padanya . Termasuk Revan.


"Baik."


"Satu lagi. Awasi pergerakan keluarga Revan. Jangan sampai Revan membawa mereka ke tempat yang mungkin tidak bisa kita jangkau." perintah Bob.


Bob juga tahu, jika Revan diam-diam mencari koneksi dan berhubungan dengan beberapa orang dari bawah tanah. Dan mereka terkenal lumayan berbahaya.

__ADS_1


Meski Bob dapat menang melawan mereka. Namun Bob tidak ingin melakukan hal yang tidak ada manfaat baginya. Dan hanya membuang-buang waktu.


"Kita harus bersiap. Terlebih sekarang kita tahu, siapa lawan kita. Ditya." ucap Bob, merasa sedikit cemas.


Ditya memang terkenal kejam dan tanpa ampun saat dia beraksi. "Apa dia masih dendam dengan kita boss?" tanyanya pada Bob.


Bob hanya diam, pandangan matanya fokus ke depan tanpa menjawab pertanyaan dari bawahannya.


Bagi Bob, Revan saat ini tidak begitu berbahaya. Karena dia dapat melenyapkan Revan hanya dengan satu kali perintah. Berbeda dengan Ditya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Entah, berapa jauh Lily berlari dari tempat mobilnya berhenti karena mogok. "Oke, Lily. Tenang. Jangan tunjukkan ketakutan kamu pada orang psikopat seperti Nando." ucap Lily dalam hati.


Lily yang belajar di bangku hukum pasti mengetahui bagaimana cara kerja seorang psikopat seperti Nando. Dan semua cara itu Lily pergunakan saat ini untuk melawan Nando. Dalam kehidupan nyata.


Lily berdiri tegak. Tidak sedikitpun memperlihatkan rasa takutnya di hadapan Nando. "Kembalikan ponselku." pinta Lily dengan nada dingin.


Nando menyeringai. "Pasti." ucapnya.


Dan,,,, pyar...... Nando membanting ponsel Lily ke atas aspal. Sehingga ponsel milik Lily hancur berkeping-keping.


Lily tetap diam dan tenang. Meskipun jantungnya seakan ingin loncat dari tempatnya, karena berdetak lebih kencang. Namun sebisa mungkin Lily tidak menunjukkannya pada lelaki berbahaya di hadapannya.


"Tenang Lily. Pasti sebentar lagi Egi akan datang." ucap Lily dalam hati. Mencoba menenangkan dirinya.


"Silahkan ambil." ucap Nando tertawa bahagia, seolah dia mendapatkan mainannya.


Lily memandang sekitar. Mencari sesuatu yang mungin dia bisa jadikan alat untuk melindungi diri. "Itu dia." ucap Lily dalam hati.


Tawa Nando terhenti, saat melihat Lily bersikap biasa saja saat ini. Berbeda dengan pertama kali Lily bertemu dengan dirinya.


Tampak perubahan di wajah Nando. Merasa tidak senang dengan sikap yang Lily tunjukkan. "Cihh,,, pasti sekarang kamu merasa hebat dan kuat. Hanya karena mengikuti pelatihan bela diri." cibir Nando.


Mata Lily membulat tidak percaya. "Bagaimana dia bisa tahu. Apa jangan-jangan selama ini, dia..." tebak Lily. "Dia selalu membuntuti ke manapun aku pergi." lanjut Lily dalam hati.

__ADS_1


Nando mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Kita akan lihat. Sampai mana keahlianmu." ucap Nando, dengan pisau lipat di tangannya.


Lily masih terdiam. Jujur, saat ini kakinya sudah bergetar. Tidak dapat lagi dia sembunyikan rasa ketakutannya. "Kenapa, takut." ejek Nando tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2