
"Maaf, mengganggu." papar Amanda, saat dirinya mendatangi perusahaan Egi bersama dengan Zea.
Sementara Amanda berada di dalam ruang kerja Egi, Zea menunggu di lobi depan. "Tidak masalah. Ada apa?" tanya Egi dengan wajah datar.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih untuk bantuannya selama ini." ujar Amanda tersenyum tulus. Egi hanya mengangguk pelan tanpa merubah ekspresinya.
"Emmm,,, sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku katakan selain itu." ucap Amanda langsung. Karena Amanda tahu betul bagaimana sifat Egi.
Dan terlebih, Amanda juga tidak bisa berlama-lama berada dalam satu ruangan bersama dengan Egi. Selain karena Egi yang memang bersikap dingin, Egi juga sangat irit berbicara.
Membuat Amanda menjadi seperti seorang yang kebingungan saat bersama dengan Egi. "Apa dia juga seperti ini. Jika bersama dengan Lily." ucap Amanda dalam hati, merasa penasaran.
"Huuhhh..." Amanda menghela nafas panjang.
"Katakan." ucap Egi dengan singkat.
"Ah, iya. Ba-baik." sahut Amanda dengan gugup.
Amanda meremas sendiri jari jemarinya. "Apa aku boleh, bertemu dengan papa dan mama?" tanya Amanda lirih, sambil menundukkan kepala.
Hal yang aneh. Amanda ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Tapi kenapa harus bertanya terlebih dulu pada Egi. Yang notabennya adalah orang luar.
Egi memandang intens ke arah Amanda. Egi sadar sekali, jika memang dirinya sama sekali tidak mempunyai hak akan kehidupan orang lain. Meskipun dirinyalah yang sudah membantu mereka.
Tapi juga bukan tanpa alasan. Kenapa Egi sebelumnya tidak mengizinkan Amanda untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Tuan Joshua beserta sang istri.
Meskipun Egi tahu, jika pasti mereka menahan rindu saru sama lain. Terlebih Amanda adalah putri tunggal mereka. Juga Amanda, yang dari dulu selalu bersama kedua orang tuanya.
Merasa tidak mendengar perkataan ataupun suara yang keluar dari mulut Egi atas pertanyaannya, Amanda memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
Seeerrrrrtt,,,,,, darah Amanda berdesir manakala pandangan matanya bersitatap dengan pandangan Egi. "Tuhan, tolonglah hamba. Jauhkan rasa itu dari dalam hati ini." ucap Amanda dalam hati, memejamkan kedua matanya secara perlahan.
Egi tersenyum samar melihat sikap dan tingkah Amanda. "Jika di perhatikan. Dia sesekali bertingkah persis seperti Lily. Lily, sedang apa dia sekarang." batin Egi, menggelengkan kepala.
"Secepatnya akan aku atur." jelas Egi, segera Amanda membuka kedua matanya dengan lebar-lebar. Mengedipkan kedua bola matanya dengan lucu.
"Benarkah?" tanya Amanda untuk menyakinkan indera pendengarannya.
__ADS_1
Egi mengangguk pelan. Amanda tersenyum tulus dan bernafas lega. "Maaf." ucap Egi.
Seketika senyum di wajah Amanda hilang mendengar kata maaf dari bibir Egi. "Ada apa?" tanya Amanda, berpikir jika sesuatu terjadi pada kedua orang tuanya.
"Maaf, saya menghalangi kamu bertemu dengan mereka." ucap Egi, masih dengan ekspresi datarnya.
Amanda tertegun mendengar alasan Egi meminta maaf. "Tidak. Jangan pernah meminta maaf padaku. Aku tahu, jika kamu melakukannya untuk kebaikan kami." papar Amanda tersenyum simpul.
Egi tersenyum dan mengangguk. "Astaga. Kenapa kekasih orang sangat tampan. Senyumnya." ucap Amanda dalam hati. Melihat senyum di bibir Egi yang sangat jarang dia lihat.
"Ingat Amanda, ingat. Lily, Lily, Lily." imbuh Amanda dalam hati, kembali menetralkan perasaannya dengan bernafas pelan.
"Ada apa?" tanya Egi.
"Eh,,, tidak. Emm... kapan aku bisa bertemu mereka?" tanya Amanda dengan antusias. Segera mengalihkan pikiran kotornya.
Egi terdiam, terlihat jelas jika Egi sedang memikirkan sesuatu. Egi membawa tangannya ke atas meja. Menyatukan kedua telapak tangannya, dengan menaruh siku di atas meja.
"Keruangan ku. Sekarang." Egi mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Tidak lama, pintu ruangan Egi terbuka. "Tuan." ucap Zea, setelah dirinya berada tepat di depan meja Egi.
Dengan segera, Zea mengeluarkan laptop dari dalam tas yang selalu dia bawa kemana-mana. "Ini Tuan." Zea menyerahkan laptop yang sudah menyala pada Egi.
"Ciptaan Tuhan yang sempurna." ucap Amanda dalam hati. Memperhatikan wajah Egi saat Egi menatap dengan serius ke layar laptop.
"Baiklah." Egi mengembalikan laptop tersebut pada Zea. "Besok." imbuh Egi.
Zea menatap Amanda dengan senyum senang. "Besok. Secepat itu." Amanda berdiri dari duduknya, saking merasa senang.
"Bertepatan dengan undangan yang kamu dapatkan." ujar Egi.
"Undangan." gumam Amanda, dia teringat jika memang besok dirinya mendapatkan undangan dari luar negeri.
Undangan perayaan ulang tahun dari kolega bisnis Tuan Joshua. Di karenakan sang papa sedang berada di luar negeri untuk pengobatan. Amanda yang akan menggantikan beliau.
Namun, tanpa Egi ketahui. Amanda bahkan tidak ingin pergi ke acara tersebut. "Maaf Tuan. Sebenarnya Nona Amanda berniat untuk tidak menghadiri undangan tersebut." jelas Zea dengan sopan.
__ADS_1
"Aku akan ke sana." ucap Amanda dengan cepat. "Iya, aku akan ke sana." ucap Amanda menyakinkan dirinya.
"Zea dan Zeo akan menemani kamu." tutur Egi.
"Terimakasih." sahut Amanda. Tidak dapat di pungkiri, Amanda sebenarnya menginginkan jika Egi yang akan menemaninya.
Tapi Amanda tahu diri, serta masih waras untuk tidak meminta hal tersebut. Karena Amanda tahu apa jawaban yang akan di berikan oleh Egi, jika Amanda nekat meminta hal tersebut.
Penolakan.
Di kediaman Tuan Ardes Lily dan sang adik sedang berada di dalam kamar Lila. Keduanya tampak tengah mempersiapkan penampilan Lily nanti malam.
"Pakai ini kak." Lila memberikan gaun pada Lily. Sebuah gaun sederhana dengan panjang sampai lutut kaki. Dengan belahan di pinggir sisi kanan yang tidak terlalu oanjang. Dan lengan pendek berkerah V.
Lily mengambilnya dari tangan sang adik. "Apa tidak berlebihan?" tanya Lily mengernyitkan dahinya.
Lily mengatakan pada sang adik. Jika dirinya di ajak oleh Egi untuk pergi makan malam. Langsung Lila heboh sendiri.
Lila hanya ingin kakaknya tampil cantik dan sempurna saat Lily pergi bersama dengan Egi. "Kakak." keluh Lila saat mendengar perkataan Lily. "Ini tidak berlebihan sama sekali." imbuh Lila.
Lila berdiri, memandang tajam ke arah Lily. "Jangan bilang jika kakak akan pergi dengan menggunakan pakaian seperti itu." Lila mengangkat tangan, menunjuk ke arah sang kakak.
Lily melihat sendiri ke arah tubuhnya. Lily merasa tidak ada salahnya memakai pakaian seperti ini. "Kenapa? Yang terpenting sopan, dan masih layak pakai." cicit Lily membela diri.
Lila memandang tajam ke arah sang kakak. "Iya, nanti kakak akan memakai ini." ujar Lily mengambil keputusan, melihat Lila seperti seekor induk ayam yang akan bertarung karena ada yang menganggu anaknya.
"Good job." Lila mengangkat kedua tangannya dan mengacungkan kedua jempolnya. "Sepertinya kita besok harus keluar untuk berbelanja." celetuk Lila.
"Berbelanja." ucap Lily heran.
"Iya. Bukannya Lila pelit. Tidak ingin meminjami kakak dress ataupun barang milik Lila. Tapi Lila hanya khawatir akan pandangan orang. Apalagi jika mereka tahu, itu dress atau apalah milik Lila yang sedang kakak pakai." jelas Lila.
"Lila takut, mereka akan mengira jika terjadi diskriminasi di keluarga kita. Lila jadi putri kesayangan. Dengan semua barang baru yang mahal. Sementara sang kakak, menggunakan barang bekas dari sang adik." celoteh Lila.
Lily seketika tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sang adik. Bagaimana bisa, Lila berpikir sejauh itu. "Ada-ada saja kamu." ucap Lila.
"Iihhh,,, kakak. Lila berbicara ke-be-na-ran. Pokoknya besok kita harus berbelanja. Tidak boleh menolak." paksa Lila.
__ADS_1
"Kita lihat besok saja. Kakak sibuk apa tidak." sahut Lily.
Karena memang, besok Beni akan mulai melaporkan Nando kepada pihak berwajib. Dan itu artinya Lily harus lebih berhati-hati di manapun berada.