
Lily mengendarai mobil dengan perlahan. Membuat Lila mendengus sebal. "Kak, pukul berapa kita akan sampai, jika kakak menyetir seperti siput." kesal Lila.
"Rasanya malas sekali pulang ke rumah." ucap Lily mengeluh.
Lila memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Kalau begitu tidak usah pulang. Biar Lila sendiri yang pulang. Nanti kalau papa tanya, Lila bilang saja kakak tidak mau pulang." oceh Lila.
"Cckkk." Lily hanya berdecak mendengar ocehan dari sang adik.
"Lagi pula kenapa kakak merasa gusar. Papa bilang mereka hanya makan malam biasa. Lagi pula, kakak sudah punya kak Egi. Apa lagi yang kakak takutkan." omel Lila.
"Kakak tidak tahu. Tapi perasaan kakak merasa tidak nyaman." ucap Lily tidak berbohong.
Tidak nyaman dan merasa gusar karena Egi. Lily berharap Egi datang, dengan begitu keluarga sahabat sang papa akan mengetahuinya. Dan tidka lagi membahas masalah perjodohan.
Sementara di kediaman Tuan Ardes, sang papa sangat kesal. Karena kedua putri mereka belum pulang sampai sekarang.
"Papa tenang saja, mereka pasti pulang." ucap Nyonya Tya, menenangkan sang suami.
Tuan Ardes tidak menyahuti perkataan sang istri. Hanya memandang ke arah Nyonya Tya, sejurus kemudian membuang muka dengan wajah kesalnya.
Langkah Lily dan Lila terhenti saat melewati ruang tengah. Di mana sang papa memandang mereka dengan tatapan tajamnya.
"Kalian segera bersiap. Sebentar lagi sahabat papa beserta keluarganya akan datang." ucap Nyonya Tya segera membuka suara.
"Kakak sih, jalannya kayak siput." omel Lila sambil berjalan.
"Bisa diem nggak sih. Berisik." ketus Lily, meninggalkan Lila dengan berjalan lebih cepat menaiki anak tangga.
"Wooyyy... main tinggal saja. Kakkk!!!" teriak Lila.
Nyonya Tya hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua putrinya. "Sudah pa, mereka sudah pulang." ucap Nyonya Tya, melihat wajah sang suami masih menampilkan wajah kesalnya.
Sekitar tiga puluh menit, sahabat Tuan Ardes datang. Beserta anak dan istrinya. "Silahkan masuk, silahkan duduk." ucap Tuan Ardes, mempersilahkan mereka dengan sopan.
"Mauren, benar kan. Mauren?" Nyonya Tya menatap ke arah sahabat putrinya itu dengan tidak percaya.
"I--iya tante." jawab Mauren, dengan perasaan tidak nyaman.
Nafas Mauren seakan terasa sangat berat. Seperti pasokan udara di dalam paru-parunya berkurang. Setelah dirinya mengetahui jika dia berada di rumah Lily.
Mauren menatap tajam ke arah Vincen. Dirinya berasa sangat bodoh. Mauren merasa saudaranya tersebut memanfaatkannya.
Sungguh, Mauren tidak mengetahui. Jika ternyata lelaki yang hendak di jodohkan dengan Lily adalah Vincen. Saudaranya sendiri. Mauren juga baru saja mengetahuinya.
Sebelumnya, di kediaman Mauren……………
"Maksud tante, Mauren juga harus ikut?" tanya Mauren pada mama Vincen, saat beliau mengajak Mauren untuk mengikuti mereka makan malam di rumah sahabat papa Vincen.
"Iya. Sekalian biar kamu tahu. Siapa perempuan yang pernah di jodohkan dengan Vincen. Namun sayang, gagal." ucap mama Vincen, melirik ke arah sang suami. Sementara Vincen hanya diam.
Seperti yang sudah di rencanakan, Mauren malam ini pergi bersama keluarga Vincen. Tanpa tahu kemana tujuan mereka.
Hingga kedua mata Mauren membulat sempurna, saat mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam rumah mewah.
"Bu-bukankah ini, ini, ini rumah Lily." batin Mauren masih merasa tidak percaya.
Mauren menatap Vincen yang duduk di sampingnya, di belakang kemudi. Ingin sekali Mauren bertanya. Tapi tidak mungkin, karena di kursi belakang ada kedua orang tua Vincen.
Padahal Mauren belum mengatakan pada Lily, jika dirinya sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Egi pada Vincen. Dan sekarang, ada sebuah kejutan yang lebih besar.
Pasti, sudah dapat di pastikan. Lily akan marah pada Mauren. "Semoga Lily tidak murka. Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi." ucap Mauren dalam hati.
Tubuhnya seakan tidak ingin keluar dari dalam mobil. Ingin rasanya Mauren pulang ke rumah. Tapi semua tidak mungkin. "Lily, sungguh. Aku benar-benar tidak tahu." ucap Mauren dalam hati.
Kaki Mauren seperti jeli saat langkahnya memasuki rumah Lily. Apalagi saat Nyonya Tya bertanya padanya, dan memandangnya dengan tatapan bingung.
Nyonya Tya saja merasa terkejut. Bagaimana dengan sahabatnya, Lily. Semoga Lily percaya dengan semua penjelasannya nanti. Hanya itu yang Mauren inginkan. Tidak ada yang lain.
Kembali ke rumah Tuan Ardes………………
Nyonya Tya hendak bertanya lebih jauh, namun Tuan Ardes menyuruhnya untuk memanggil kedua putri mereka, yang belum juga turu. "Ma, panggilan Lily dan Lila." ucap Tuan Ardes.
"Sebentar." ucap Nyonya Tya, beranjak dari duduknya. Mauren menghembuskan nafas panjang, dengan kepala tertunduk.
Lily dan Lila, beserta Nyonya Tya sudah duduk di kursi ruang tamu. Pandangan mengarah pada Mauren dan juga Vincen. "Mereka." ucap Lily dalam hati.
__ADS_1
Dan Lila, juga menatap ke arah Mauren dengan tatapan terkejut dan juga bingung. "Dia, laki-laki itu." ucap Lily dalam hati.
Lily pernah melihat Vincen di kampus. Saat dia dan sang kakak di jemput oleh mobil Egi. Dan Lila masih ingat jika Mauren menghampiri lelaki tersebut. "Apa yang terjadi. Kenapa kak Mauren bersama mereka?" tanya Lili dalam hati.
Pandangan mata Lila beralih pada sang kakak. Tampak sang kakak juga menampilkan ekspresi bingung. Apalagi Lily juga menatap ke arah Mauren yang sedang menundukkan kepala.
Seolah Mauren tidak punya nyali untuk menatap wajah sahabatnya tersebut. "Sepertinya kak Lily juga tidak mengetahui apapun." ucap Lila dalam hati.
"Jadi mereka putri-putri anda Tuan Ardes?" tanya mama Vincen.
"Iya benar." ucap Tuan Ardes dengan senyum di bibir.
"Saya Lily Nyonya." ucap Lily memperkenalkan diri.
"Saya Lila, adiknya kak Lily Nyonya." kali ini, giliran Lila yang memperkenalkan diri.
"Kedua putrimu sama-sama cantik Ardes." puji papa Vincen.
"Terimakasih Tuan." jawab Lily dan Lila bersamaan.
Mama Vincen dapat melihat jelas perbedaan keduanya. Dan semua dimulai dari cara berpakaian keduanya yang sangat berbeda.
"Kenalkan, dia putra tunggal saya. Namanya Vincen." ucap mama Vincen, sementara Vincen hanya tersenyum.
"Dan dia Mauren, keponakan saya. Kebetulan Mauren tinggal di kota ini juga." imbuh mama Vincen.
"Sayang sekali, padahal putrimu sangat cantik. Pasti akan sangat serasi jika bersanding dengan putraku di pelaminan." ucap papa Vincen dengan senyum.
Meskipun dapat terlihat dengan jelas, jika senyum tersebut adalah senyum kekecewaan.
"Maaf, bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu. Sebelum kita melanjutkan perbincangan kita." saran Nyonya Tya, memecah kecanggungan tersebut.
"Baiklah, mari." ajak Tuan Ardes pada tamunya.
Ingin sekali Lily menyeret tangan Mauren, membawanya menjauh dari mereka. Dan bertanya padanya. Kenapa dirinya hanya diam saja. Dan tidak bercerita apapun padanya, sebelum ini.
Apalagi ternyata Vincen adalah lelaki yang sempat di jodohkan dengannya. "Egi, apa kamu benar-benar tidak datang." ucap Lily dalam hati, melihat ke arah pintu.
Saat makan malam, hanya terdengar suara Nyonya Tya yang menyebutkan beberapa hidangan. Semuanya seolah makan dengan nikmat.
"Jadi laki-laki itu adalah Vincen. Dan Mauren, kenapa dia tidak mengatakan apapun. Seolah-olah dirinya tidak tahu." ucap Lily dalam hati.
Sama halnya dengan keluarga Tuan Ardes dan juga keluarga sahabatnya yang sedang makan malam. Amanda saat ini juga tengah makan malam bersama Revan, di restoran ternama. Bersama dengan lelaki muda.
Mereka makan di private room. Hanya ada tiga orang di dalam ruangan tersebut. Dan di luar, bawahan kedua pihak berjaga untuk memastikan keamanan majikan mereka.
Lelaki tersebut adalah pemilik perusahaan. Dimana perusahaan Amanda akan bekerjasama dengan perusahaannya.
Sejak tadi, lelaki tersebut menatap Amanda saat mereka makan. Membuat Amanda menjadi tidak tenang dan was-was.
Di sela makan malam mereka, mereka juga berbincang mengenai bisnis yang akan mereka kerjakan bersama kedepannya.
Apalagi dirinya terngiang-ngiang perkataan Revan. PERCUMA PUNYA WAJAH CANTIK. JIKA TIDKA DIPERGUNAKAN DENGAN BAIK.
"Semoga malam ini, semua berjalan dengan baik." batin Amanda.
Sebelum berangkat, Amanda sudah memberikan nomor ponsel Egi pada Nanny. Amanda menyuruh Nanny menghubungi Egi, jika sampai jam sepuluh malam, Amanda belum sampai rumah.
Makan malam di kediaman Tuan Ardes sudah selesai. Kini mereka berada di ruang tengah untuk sekedar berbincang.
Semenjak tadi, Lily terus memandang ke arah Mauren. Tapi sepertinya Mauren selalu membuang muka saat Lily memandangnya. Membuat Lily semakin kesal saja.
"Lily, boleh tante bertanya?" tanya mam Vincen, mengalihkan pandangan Lily pada Mauren.
"Silahkan tante." ucap Lily ramah.
"Kenapa kamu menolak perjodohan ini?" tanya mama Vincen. Membuat semua mata mengarah pada Lily. Kecuali Mauren yang masih menundukkan kepala.
Lily mencoba untuk bersikap tenang."Maaf tante, kak Lily sudah mempunyai seorang kekasih." jawan Lila.
Lily tidak menyangka, jika sang adik akan menjawab pertanyaan dari mama Vincen. Sungguh, Lila merasa tidak suka saat mama Vincen menanyakan hal tersebut.
Padahal setahu Lila, sang papa sudah pernah membicarakannya. Lantas kenapa harus di bahas lagi. Lila melihat mama Vincen hendak menyudutkan atau menyalahkan sang kakak atas batalnya perjodohan ini.
Lily memandang ke arah sang adik. Tampak Lila tersenyum sambil memegang telapak tangan sang kakak. Lily juga membalas senyum sang adik.
__ADS_1
"Ma,," tegur papa Vincen. Padahal beliau sudah mewanti-wanti dari rumah, jika jangan ada yang membicarakan perjodohan tersebut.
Karena memang niat beliau datang hanya untuk makan malam. Bersilaturahmi. Tidak lebih. Meski perjodohan kedua anak mereka batal, bukan menjadi alasan untuk memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga sahabatnya tersebut.
Vincen tersenyum sinis mendengar perkataan Lila. Dan Mauren, melihatnya. "Vincen, jangan bicara macam-macam. Aku mohon." ucap Mauren dalam hati.
Sungguh ini adalah penyesalan terbesar Mauren dalam hidup. "Kenapa mulut ini harus lemes." batin Mauren, dengan dada berdebar.
"Kekasih." ucap Vincen, yang sedari tadi diam.
"Tamat riwayatku." ucap Mauren dalam hati, memejamkan mata. Ingin rasanya Mauren menghilang dalam hitungan detik saat ini juga.
"Dewa Neptunus. Tolonglah aku. Bawalah aku terbang ke planetmu." ucap Mauren berdo'a nyleneh.
Lily menatap ke arah Vincen. "Anda yakin Nona, jika kekasih anda itu adalah nyata." sindir Vincen.
Jlebbb.....
Lily menahan nafas sesaat. Melihat ekspresi dari Mauren, Lily bisa menduga bahwa mulut sahabatnya ini telah mengatakan sesuatu pada saudaranya, Vincen. "Mauren." geram Lily dalam hati.
"Tunggu Mauren, aku akan buat perhitungan denganmu." ucap Lily dalam hati.
Lila melotot tidak percaya. "Kamu pikir kak Egi makhluk kasat mata." celetuk Lila tidak terima. Apalagi Egi baru saja membantunya keluar dari masalah.
"Aku tarik kembali pujianku saat itu." batin Lila, menatap tajam ke arah Vincen.
Karena pertama kali melihat Vincen, Lila langsung memuji ketampanan yang dimiliki oleh lelaki tersebut.
"Lila." tegur Nyonya Tya, saat putrinya berkata dengan menaikkan nada bicaranya.
"Maaf." ucap Nyonya Tya, pada para tamunya. Merasa tidak enak hati.
"Ma, kenapa minta maaf." ucap Lila.
Tuan Ardes melirik ke arah Lila. Jika biasanya Lily yang membuat onar. Dan Tuan Ardes akan maklum. Karena memang itulah sifat putri pertamanya.
Dan ini. Lila. Lila yang di kenal sebagai putrinya yang anggun dan lembut. Kenapa bisa berubah secara drastis seperti ini.
"Kenapa. Memang benarkan perkataanku. Jika kekasih kakakmu hanyalah khayalannya saja. Atau dia hanya mengarang cerita. Hanya untuk menolak perjodohan kami." ucap Vincen tak kalah sengit.
Lila membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Vincen. "Sekarang saya tahu. Anda pasti patah hatikan karena kakak saya tidak mau menerima anda." cibir Lila, karena perkataan Vincen.
Vincen tersenyum. "Kenapa harus patah hati. Setidaknya saya tidak berbohong. Untuk diri saya dan orang lain." ejek Vincen, semakin membuat Lila yang semakin tidak mengerti.
Bukan hanya Lila, tapi juga kedua orang tua Vincen. Dan juga Tuan Ardes. Mereka bingung dengan perkataan Vincen.
"Lila, jaga sikapmu." ucap Nyonya Tya, bermaksud menghentikan perdebatan Lila dan Vincen. Karena Nyonya Tya tahu, kemana arah perkataan Vincen.
"Ma, dia berkata nglantur. Bilang kak Egi kasat mata. Kak Lily berkhayal. Kak Lily pembohong. Apa coba." sungut Lila tidak terima. Menatap tajam ke arah Vincen.
"Lila...!" geram Tuan Ardes dengan suara tertahan.
"Karena semua yang saya katakan adalah kebenaran. Bukan begitu, Nona Lily?" tanya Vincen tersenyum remeh.
"Apa sih maunya Vincen ini." batin Mauren merasa geram.
Awalnya Mauren mengira jika Vincen menyukai Lily. Tapi sekarang pandangan Mauren terhadap Vincen benar-benar berubah.
"Vincen, stop bicara omong kosong." seru Mauren yang sedari tadi diam.
Dirinya benar-benar tidak tahan dengan perkataan Vincen. Sekarang Mauren mengerti, jika Vincen merasa sakit hati. Atas penolakan perjodohan dari Lily.
Vincen tersenyum melihat ke arah Mauren. "Bukankah kamu sendiri yang mengatakan. Jika Lily dan Egi, tidak pernah punya hubungan." ujar Vincen.
"Mauren." gumam Lily, mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Kak Mauren." ucap Lila lirih. Lila menatap ke arah Lily. Tampak Lily menatap ke arah Mauren dengan tatapan marah bercampur kecewa.
"Tunggu, apa maksud semua ini?" tanya Tuan Ardes, mulai bingung dengan drama anak muda di depannya.
"Lebih baik, Tuan Ardes tanyakan langsung saja pada putri Tuan." ucap Vincen tersenyum sinis.
"Lily...!!" seru Tuan Ardes.
"Permisi. Maaf menganggu." ucap seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Membuat semua menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1