PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 44


__ADS_3

Ditya tersenyum penuh arti, saat mendengar apa yang di ucapkan oleh anak buahnya. Jika saat ini Bob sedang marah besar. Dikarenakan dua tawanannya menghilang dengan mudah.


Dan bahkan sekarang mereka kehilangan jejaknya. "Apa kami perlu melakukan sesuatu?" tanya bawahannya.


Ditya menggeleng dengan bibir mencebik. "Tunggu. Kenapa kita tidak bermain-main dengan Bob. Sekalian melampiaskan rasa kesalku pada penghianat itu." ucap Ditya, merencanakan sesuatu.


"Apa kami perlu berjaga dimana Tuan Joshua dan juga Nyonya Joshua berada sekarang?" tanyanya.


"Tidak perlu. Mereka ada di bawah perlindungan Egi. Dan juga ada orang lain yang menjaganya. Kita tidak perlu mencampuri urusan mereka." Ditya menyesap air minum yang berwarna biru di dalam gelas kristal, yang sekarang berada di tangannya.


"Kita hanya akan bermain-main dengan Bob. Lagi pula, sudah lama aku tidak melakukan permainan seperti ini, bukan." Ditya tersenyum manis.


Tapi menurut bawahannya, senyumnya adalah senyum yang menakutkan. Karena pasti sebentar lagi akan ada yang kehilangan nyawanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu pikir, Revan bisa bekerja seorang diri. Dia hanya seorang lelaki pengecut dan tidak berguna. Hanya dengan satu gerakan, aku bisa mengatasinya. Tapi tidak dengan orang di belakangnya." tegas Egi, dirinya ingin jika Amanda bisa bersikap lebih rasional.


"Aku bukannya takut dengannya. Tapi, aku tidak mungkin ada dua puluh empat jam bersama dengan dirimu. Dia,,, dia kejam dan bengis." jelas Egi, melihat ke arah Lily.


Sebenarnya, Egi bisa saja menghabisi Bob dengan mudah. Tapi dia tidak ingin melakukannya. Karena menurutnya, ini bukanlah pertempuran antara dirinya.


Dan sekarang, niat Egi hanya satu. Membentuk kepribadian Amanda menjadi perempuan tangguh, kuat, dan licik. Tapi licik dalam arti pandai mengambil kesempatan atau peluang emas dari musuh.


Terlebih Amanda tidak mempunyai seseorang di sampingnya. Yang bisa dia andalkan. Karena Egi, tidak mungkin akan membantunya dengan terus menerus. Karena itu semua mustahil.


Lily mengangguk. Lily sekarang mulai mengerti kenapa Egi menyuruhnya untuk menginap, bahkan menemani Amanda. Dan alasan Egi melarang Amanda untuk menemui kedua orang tuanya, sekarang.


Lily memegang telapak tangan Amanda. "Terimakasih." batin Lily. Merasa jika Egi seperti menjaga jarak dengan Amanda, meskipun dia berniat membantu Amanda.


Terkesan Egi ingin melibatkan Lily dalam masalahnya. Lily menduga jika Egi hanya ingin menegaskan jika dirinya sudah mau menerima dirinya. Dan itulah yang diinginkan oleh Lily.


"Sekarang, bukan saatnya untuk menemui kedua orang tuamu. Sekarang saatnya kamu mulai berperang. Memegang kendali atas semua apa yang memang menjadi milik keluargamu." Lily mencoba memberi pengertian pada Amanda.

__ADS_1


"Dan lagi, aku percaya pada Egi. Jika kedua orang tuamu sekarang dalam keadaan baik-baik saja. Dia berada di tangan yang tepat. Justru karena itu, kamu sebaiknya manfaatkan waktu dengan baik. Jangan sampai Revan berhasil melakukan apa yang dia inginkan." Lily berusaha meracuni pikiran Amanda.


"Apa kamu tidak mempercayai Egi. Dia sudah membantu kamu sejauh ini." ucap Lily, memberi sedikit tekanan pada Amanda.


Menjadikan Amanda mau tidak mau harus menuruti perkataan Egi. Dikarenakan Egi lah yang membantunya. Terlebih mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


Bukankah seharusnya Amanda memanfaatkan situasi yang sudah di buat oleh Egi dan juga Ditya.


Sebagai calon pengacara, Lily mempunyai kemampuan untuk membuat seseorang tertekan atau seseorang bertambah semangat.


Tapi sayangnya, kemampuan Lily tidak bisa di terapkan pada Egi. Mungkin karena rasa cinta yang ada pada hati Lily, membuatnya menjadi seorang perempuan yang polos. Polos untuk rasa cintanya pada Egi.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Amanda, memandang ke arah Lily.


Egi tersenyum samar melihat dan mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Lily. Ada rasa bangga tersendiri di dalam hatinya. "Bego, apa yang ada dalam pikiran gue." ucap Egi, karena sempat-sempatnya dirinya terpesona dengan pembawaan tenang dari seorang Lily.


"Rebut semua yang seharusnya menjadi milikmu. Di sana papa dan mama mu sedang berjuang untuk sembuh. Untuk bisa bertemu dengan putrinya." tegas Lily.


Lily memegang kedua pundak Amanda. Keduanya saling bersitatap. "Dan tugas kamu. Kembalikan apa yang seharusnya berada di tempatnya. Sebelum papa kamu meninggalkan negara ini. Lakukan untuk mereka. Jangan sampai, mereka sembuh. Dan saat mereka kembali semuanya telah menjadi milik Revan." ucap Lily sungguh-sungguh.


Lily mengurai pelukan dari Amanda. Setelahnya, keduanya memandang ke arah Egi. Pandangan mata mereka seperti sedang menunggu apa yang akan di katakan oleh Egi.


"Setelah ini, akan ada dua orang yang akan mengikuti kamanapun kamu pergi." ujar Egi.


"Aku,,," Amanda menunjuk pada wajahnya sendiri.


"Ya kamu, memang siapa?" ucap Lily, tersenyum melihat tingkah Amanda yang polos dan lucu.


"Mereka adalah Zea dan Zeo. Katakan saja jika mereka adalah teman kuliah kamu, jika Revan bertanya. Aku sudah mengatur semuanya. Dan juga, mereka bisa di andalkan dalam segala hal. Anggap saja mereka adalah tangan dan mata dari bagianku." jelas Egi.


Ponsel Egi berbunyi. Egi mengangkat panggilan telepon di ponselnya. Hanya mendengar tanpa berkata apapun. Lalu mematikannya.


Membuat kedua perempuan di depannya menatap penuh tanya. Apalagi mereka tidak bisa menebak. Dikarenakan ekspresi Egi yang datar.

__ADS_1


"Sekarang kamu pergi ke kampus, tempat kamu kuliah dulu. Zea dan Zeo ada di sana. Di depan sudah ada taksi. Anak buahku akan mengikuti kamu dari belakang. Ingat, bersikaplah biasa. Anak buah Revan ada di sekitar sini." jelas Egi.


"Baik." ucap Amanda sambil tangannya tetap menggenggam erat telapak tangan Lily. "Bisakah aku meminta nomor ponselmu." pinta Amanda dengan tatapan penuh harap.


Egi meletakkan sebuah ponsel di depan meja, menyodorkan untuk lebih dekat pada Amanda. Lily dan Amanda menatap ke arah Amanda.


"Kami bisa menghubungi semua orang lewat ponsel tersebut. Tapi ingat, jangan sampai ketahuan oleh Revan. Bermainlah yang cantik." ucap Egi, mengingatkan Amanda.


Amanda mengambil ponsel pemberian Egi. "Ya, benar. Lebih baik aku menggunakan ponsel ini." Amanda menatap ke arah Lily. "Nomorku yang satunya sudah di sadap oleh Revan. Membuatku tidak bisa berkutik." terang Amanda.


"Didalam sudah ada beberapa nomor." ucap Egi, segera Amanda membuka kontak di ponsel yang baru saja di berikan oleh Egi.


Amanda tersenyum. "Sudah ada nama kamu." Amanda memperlihatkan pada Lily sembari tersenyum.


Lily juga tersenyum. Tapi ada rasa yang mengganjal di hati Lily. Entah apa itu. Karena Lilypun tidak mengetahuinya.


Amanda pamit pada Egi dan Lily. Meninggalkan apartemen Egi dengan langkah pasti. Karena sekarang, dirinya tidka perlu takut akan ancaman dari Revan. Mengenai kedua orang tuanya.


"Tapi aku harus bermain cantik. Benar kata Egi dan Lily. Aku harus mengambil kembali semua yang telah Revan ambil." gumam Amanda.


"Yang terpenting, jangan sampai Revan mengetahui keberadaan mama dan papa. Revan, sekarang aku sudah siap bermain. Terimakasih Egi, terimakasih Lily. Kalian berdua malaikat penolongku." Amanda tersenyum.


Tapi entah kenapa, setiap melihat Egi dan Lily bersama, ada perasaan mengganjal di hati Amanda yang sulit di jabarkan.


Egi memeluk tubuh Lily dari samping. "Egi, lepas...." rengek Lily dengan cemberut. Lily hanya takut dan malu, seandainya Egi mendengar suara detak jantungnya yang kencang. Dan juga kedua pipinya yang bersemu merah.


"Serius, minta di lepas." bisik Egi.


Egi menaruh kepalanya di pundak Lily. "Jangan menyesal. Karena jika kamu meminta untuk aku melepaskan, maka aku akan cari yang lain. Yang mau aku peluk." ucap Egi, menggoda Lily.


"Amanda juga cantik. Dia jauh lebih seksi dari kamu." Egi melepaskan pelukannya. "Semalam, Amanda benar-benar seksi." goda Egi.


Lily memukul keras lengan Egi sambil cemberut kesal. Egi tertawa terbahak. "Makanya, jangan minta lepas. Menyesalkan." Egi kembali merengkuh tubuh Lily ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Lily melingkarkan tangannya di perut Egi. Tersenyum bahagia.


__ADS_2