
Amanda makan dengan tidak tenang. Ada perasaan takut bercampur gelisah. "Maaf, jika Nona saya terkesan sedikit arogan." ucap Revan.
"Revan brengsek." umpat Amanda dalam hati. Ingin sekali Amanda menyumpal mulut Revan menggunakan lap yang berada di depan mereka.
Karena sedari tadi, Amanda hanya akan menyahut atau menjawab pertanyaan dengan singkat. Bahkan ekspresi wajah Amanda sedari tadi tampak datar. Tidak tersenyum, tapi juga tidak marah.
"Tidak masalah Tuan Revan. Bukankah wajar, jika sikap Nona Amanda seperti itu. Maklum, begitulah biasanya karakter perempuan cantik." ucap Aldric.
Entah apa tujuan Aldric berbicara seperti itu. Memuji Amanda, atau malah menyindir Amanda. Dan untuk itu, Amanda tidak mau ambil pusing. Amanda memasang raut wajah bodo amat.
Aldric engusaha muda yang hendak bekerja sama dengan perusahaan milik papa Amanda. "Bahkan saya menyukai perempuan yang seperti itu. Jinak-jinak merpati." imbuh Aldric tersenyum, memandang Amanda.
Tapi Amanda hanya melempar senyum biasa. Bahkan senyum Amanda terkesan mengejek kalimat yang baru saja keluar dari mulut Aldric. Amanda merasa muak mendengar setiap kata dan kalimat yang keluar dari dalam mulut Aldric.
"Pasti kerja sama ini akan berjalan dengan lancar." sahut Revan.
"Pasti." ucap Aldric mengandung makna tersendiri, sambil meneguk minumannya dengan sekali teguk. Dan memandang Amanda.
"Maaf, jika boleh tahu. Apakah Nona Amanda sudah mempunyai kekasih." tanya Aldric.
Bukan Amanda yang menjawab pertanyaan dari Aldric. Melainkan Revan. "Tentu saja belum. Nona Amanda masih terlalu sibuk belajar bisnis." jawab Revan.
"Iya saya mengerti. Pasti sangat sulit untuk Nona Amanda belajar bisnis. Apalagi selama ini, Tuan Joshua lah yang menanganinya. Dan Nona Amanda bahkan tidak pernah terlibat sama sekali." cicit Aldric.
"Tapi setidaknya, ada Tuan Revan. Pasti beliau banyak membantu." imbuh Aldric.
"Sudah tentu Tuan. Saya bekerja memang sebagai asisten Nona Amanda." sahut Revan dengan senyum terlihat tulus.
"Cih,, asisten kepala kamu. Timus penggerogot." umpat Amanda dalam hati.
"Mungkin jika Tuan Revan sedang sibuk, Nona Amanda bisa menghubungi saya. Dengan senang hati, saya akan menyediakan waktu untuk mengajari Nona Amanda belajar. Tentunya mengenai bisnis." ucap Aldric.
"Tentu, pasti Nona Amanda akan menghubungi anda dengan senang hati. Bukan begitu Nona?" tanya Revan, memandang Amanda dengan lembut.
Lagi-lagi, Amanda hanya tersenyum dan mengangguk pelan. "Belajar bisnis. Kamu pikir aku sebodoh itu. Revan brengsek. Kenapa bukan kamu saja yang mendatangi Aldric. Berdua di atas ranjang. Kurasa akan lebih menarik." batin Amanda memandang keduanya dengan jijik.
Aldric selalu memandang ke arah Amanda. "Baju sialan." umpat Amanda dalam hati.
Revan yang menyuruh Amanda memakai gaun seperti ini. Gaun berwarna navy dengan sedikit mutiara, dengan tali kecil di kedua pundak Amanda. Memperlihatkan kedua bahu mulus dan juga tulang selangka yang menarik perhatian Aldric.
Terlebih dengan kedua bongkahan besar di dada, dengan ukuran besar. Seakan ingin sekali keluar dari dalam sarangnya.
Bibir sedikit tebal milik Amanda yang sedari tadi bergerak karena mengunyah makanan, membuat Aldric ingin sekali mencoba merasakannya.
Aldric memandang ke arah Revan. Begitu pula sebaliknya. Pandangan keduanya yang penuh dengan bahasa isyarat.
Tak lama, datang kembali seorang pelayan. Menurunkan beberapa makanan penutup. Dan tentu saja, menuangkan air minum pada gelas ketiganya. Karena tampak gelas tersebut sudah kosong. Meskipun milik Amanda masih tersisa separuh.
Tanpa Revan ketahui, sekarang bawahan Ditya sedang beraksi mengeluarkan Tuan dan Nyonya Joshua dari rumah sakit.
Semua berjalan dengan lancar. Bahkan, orang-orang Bob juga tidak ada yang mencurigai jika sekarang yang berada di dalam ruangan bukanlah Tuan dan Nyonya Joshua.
"Bagaimana bisa semudah ini?" gumam Ditya. Saat Doris, sang asisten memberitahukan pada dirinya. Jika Tuan dan Nyonya Joshua sudah dikeluarkan dari rumah sakit dibawah pengawasan anak buah Bob, tanpa ada benturan sekalipun.
"Karena anak buah Bob tidak ada yang waspada. Mungkin karena selama ini, semuanya berjalan dengan baik sesuai rencana." jelas Doris.
Sebab selama ini, semuanya berjalan sesuai perintah Bob. Ditya mengangguk pelan. "Kumpulan orang bodoh." ucap Ditya.
"Tetap waspadalah, sampai mereka berdua berada di rumah sakit tujuan kita." ujar Ditya, mengingatkan Doris.
Ditya tidak ingin gerakan mereka sampai ketahuan oleh pihak Bob. Bukan Ditya takut. Karena sekarang nyawa kedua orang tua Amanda yang terpenting.
"Tenang saja Tuan. Mereka sudah sampai." ucap Doris.
Tuan Joshua dan sang istri sudah memasuki rumah sakit yang di rekomendasikan oleh Egi. Bukan rumah sakit milik Ditya. Meskipun dia juga memilikinya.
Egi berpikir, mereka pasti akan melacak rumah sakit milik sahabatnya tersebut. Jika mengetahui bahwa Ditya dan dirinya di balik hilangnya Tuan dan Nyonya Joshua.
"Maaf Tuan, apa anda yakin. Jika rumah sakit ini aman untuk mereka?" tanya Doris dengan hati-hati.
"Sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin. Tapi, setelah Egi memberitahu pemiliknya. Aku merasa yakin. Jangankan Bob. Mungkin, kita saja tidak bisa masuk dengan mudah ke dalam rumah sakit tersebut." jelas Ditya.
"Bagaimana dengan identitas keduanya?" tanya Doris. Karena Ditya hanya menyuruhnya untuk mengantar Tuan dan Nyonya Joshua ke rumah sakit itu. Dan setelahnya, Doris lepas tangan.
Karena sampai di sana, ada beberapa orang yang langsung membawa keduanya ke ruang khusus. Tanpa ada yang boleh menemani.
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat cerewet." seru Ditya, membuat Doris seketika menunduk.
"Egi sudah mengurus semuanya. Tugasku hanya mengeluarkan dan memindahkan. Dan setelah itu, membuat kacau kumpulan sampah tersebut. Bob. Pengkhianat." ucap Ditya dengan wajah kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tunggu, apa maksud semua ini?" tanya Tuan Ardes, mulai bingung dengan drama anak muda di depannya.
"Lebih baik, Tuan Ardes tanyakan langsung saja pada putri Tuan." ucap Vincen tersenyum sinis.
"Lily...!!" seru Tuan Ardes.
"Permisi. Maaf menganggu." ucap seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Membuat semua menoleh ke arah sumber suara.
Tuan Ardes mengernyitkan dahinya, melihat asisten Egi berdiri di dalam rumahnya. Dan Lily, langsung tersenyum.
"Maaf jika saya lancang, masuk ke dalam rumah Tuan. Saya sudah mengetuk pintu dan membunyikan bel rumah berkali-kali. Tapi tidak ada yang membukanya." ucap Beni berbohong. Padahal dia hanya mengetuk dan menekan bel sekali.
Beni memandang ke arah Lily dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepala. "Tuan masih ada di luar. Beliau masih di dalam mobil. Ada hal penting yang harus beliau selesaikan." jelas Beni, menatap ke arah Lily.
"Bani, ajak dia masuk." perintah Lily dengan senyum di bibirnya.
"Pasti Nona. Saya masuk terlebih dulu, hanya untuk memberitahu." ucap Beni.
"Aku ikut." seru Lily, saat Beni hendak melangkahkan kakinya keluar.
"Kak Egi datang." ucap Lila dengan senang. "Kakak iparku tertampan, tersayang, terkaya, dan berkuasa datang." imbuh Lila, menyindir Vincen.
"Lila.." tegur Nyonya Tya.
"Kenapa sih ma. Memang yang Lila katakan benar. Lila sangat senang, karena kak Lily mendapatkan lelaki seperti kak Egi." ucap Lila, menatap Mauren dan Vincen bergantian dengan tatapan sinis.
Jika dulu Lila akan senyum saat melihat ataupun menatap Mauren, sekarang hanya ada aura permusuhan dan rasa tidak suka yang Lila tunjukkan pada Mauren. Dan Mauren sudah merasakannya. "Maaf Lila." ucap Mauren dalam hati.
Mauren menatap ke arah Lila dengan tidak percaya. "Egi datang. Tapi mana mungkin. Kenapa dia datang. Tapi, itu lebih baik. Dari pada Lily akan mendapat masalah karena ulah Vincen dan karena mulutku yang lemes." batin Mauren, sedikit lega.
Setidaknya akan ada yang menyelamatkan Lily daei situasi ini. Membuat Mauren tidak terlalu merasa bersalah. "Terimakasih Egi. Aku berhutang pada kamu." ucap Mauren dalam hati.
Vincen menatap ke arah Lily dan Beni pergi. Ekspresi wajahnya tampak datar. Tidak ada yang mengetahui, apa lagi yang akan di lakukan oleh Vincen setelah kedatangan Egi.
"Terimakasih. Kamu datang." ucap Lily, setelah Egi keluar dari dalam mobil.
Beni menghela nafas panjang. "Mampir." batin Beni, menggerutu dalam hati.
Karena sejak sore, Tuannya sudah heboh sendiri. Dengan apa yang akan dipakainya. Awalnya Beni tidak mengerti. Kenapa atasannya tersebut menginginkan semua barang yang akan menempel pada badannya harus baru.
Dari kemeja, jas, celana, hingga sepatu. Bahkan ikat pinggang. Padahal, di dalam ruang pribadi Egi terdapat almari yang berisi banyak pakaian kerja. Dan pastinya masih bagus dan sangat layak pakai.
Hingga akhirnya, Egi mengatakan jika dirinya ingin datang ke kediaman Tuan Ardes. Karena undangan makan malam.
Seperti mengerti keinginan majikannya, segera Beni membeli semua yang di inginkan oleh Egi. "Kenapa tidak bilang dari tadi." ucap Beni dalam hati.
Tidak ingin salah mengira dan salah langkah, Beni menyuruh bawahannya yang bekerja sebagai tukang kebun di keluarga Tuan Ardes mencari tahu.
Dan ternyata, malam ini Tuan Ardes menerima tamu. Yaitu menjamu sahabatnya beserta keluarganya untuk makan malam bersama di rumah beliau.
Bawahan Beni juga menyebutkan nama keluarga yang hendak bertemu malam ini. Membuat Beni segera mencari tahu siapa mereka. Karena dia tidak mungkin bertanya pada Egi.
Egi memandang ke arah Lily. Tampak perempuan tersebut berpakaian seperti biasa. Tapi sedikit lebih rapi. Kemeja berlengan panjang, dengan celana kain berwarna hitam sebagai bawahannya.
"Kenapa?" tanya Lily, saat Egi melihatnya seperti sedang menilai. "Aku tidak suka memakai gaun." imbuh Lily. Seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Egi.
"Suatu saat kau harus menggunakannya." ucap Egi, terkesan seperti perintah.
Lily tersenyum. "Jika kamu yang meminta." ucap Lily dengan senang.
Egi memandang ke arah lengannya. "Kenapa?" tanya Lily, saat tangannya memegang milik Egi.
"Tidak ada." jawab Egi, kembali berjalan.
"Maaf Tuan. Saya akan menunggu di luar." ujar Beni. Egi hanya mengangguk pelan, dan masuk ke dalam rumah Tuan Ardes. Tentunya bersama Lily, yang memegang lengannya.
"Selamat malam, maaf sudah menganggu." suara bariton Egi mempu membuat semuanya terdiam.
Egi dan Lily berjalan mendekat ke arah mereka. "Tunggu, dia kekasih Lily?" tanya papa Vincen.
__ADS_1
Egi hanya sedikit tersenyum menjawab pertanyaan dari Tuan Gio, papa dari Vincen. "Lily ajak Egi duduk." suara sang mama menyadarkan lamunan Lily.
"Iya ma." ucap Lily.
"Sini kak." seru Lila menepuk kursi kosong di sampingnya. Dengan senyum, Lily mengajak Egi duduk di samping Lila. Dengan Lily yang duduk bersebelahan dengan sang adik.
"Pantas saja, putrimu menolak putraku Ardes." ucap Tuan Gio terkekeh pelan. Karena beliau tahu, siapa sosok Egi. Meskipun tidak tinggal dalam satu negara.
Tapi sebagai sesama pebisnis, memang sudah seharusnya mengenal para pebisnis lain. Entah dari negara yang sama, maupun negara lain.
Selama perbincangan ringan mereka, Lily sesekali mencuri pandang ke arah Egi. Dirinya sungguh tidak menyangka dengan kedatangannya. Sikap dan tingkah Lily tidak luput dari perhatian Vincen.
"Apa Tuan Egi serius menjalin hubungan dengan Nona Lily?" tanya Vincen tiba-tiba. Sontak semua orang terdiam, dan memandang ke arah Egi. Tapi Lily memandang ke arah Vincen dengan tatapan kesalnya.
Egi tersenyum miring. "Saya tidak pernah membicarakan masalah pribadi saya dengan orang lain, Tuan." jawab Egi.
"Sudah-sudah kenapa jadi tegang seperti ini." ucap Tuan Ardes berbicara.
"Saya dengar anda akan mendirikan perusahaan di negara kami?" tanya Tuan Gio.
"Sebenarnya bukan saya. Tapi teman saya. Dan saya hanya membantunya. Saya tidak mempunyai uang dan kekuasaan sebanyak itu, Tuan Gio." ujar Egi.
"Jangan merendah. Kami semua tahu siapa anda." ucap Tuan Gio.
"Tapi semua benar. Bukan saya yang mendirikan perusahaan di negara anda. Tapi sahabat saya. Ditya Mahendra." jelas Egi.
Membuat senyum Tuan Gio hilang seketika. Begitu juga dengan sang istri. Dan tentunya, Egi sangat tahu penyebab lenyapnya senyum tersebut.
"Ditya Mahendra." ucap Tuan Gio dalam hati.
"Maaf." ucap Egi, saat ponsel miliknya berbunyi.
"Ada apa?" tanya Egi, setelah mengangkat panggilan tersebut.
………………
"Seberapa parah?" tanya Egi, dengan rahang mengeras.
………………
"Lakukan yang terbaik." ucap Egi.
………………
"Hemmm." ucap Egi, dan mengakhiri percakapan mereka.
Yang menelpon Egi barusan adalah sahabatnya, yang menangani Tuan dan Nyonya Joshua. Sekaligus pemilik rumah sakit dimana keduanya berada saat ini.
"Mereka benar-benar ingin melenyapkannya. Menguasai hartanya, dan menjadikan putrinya sebagai tambang emas." batin Egi.
"Khemm,,, nak Egi. Bagaimana nak Egi bisa kemari?" tanya Nyonya Tya, membuat perhatian Egi teralihkan.
"Saya baru saja bertemu dengan klien. Dan kebetulan melewati rumah anda. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya, untuk mampir." jelas Egi.
"Tante malah senang. Kamu sering-sering datang ke sini." ucap Nyonya Tya.
"Mana bisa ma, Egi kan seperti papa." sahut Lily.
Lagi, ponsel Egi kembali berbunyi. Membuat percakapan mereka terhenti.
"Siapa?" tanya Lily, karena Egi hanya memandang ke arah layar. Bukannya mengangkat panggilan teleponnya.
Egi hanya melihat Lily sekilas. Dan tentunya Lily tahu, kenapa Egi tidak segera mengangkatnya. Karena nomor tersebut tidak tersimpan dalam kontak Egi.
"Angkat saja, siapa tahu penting." saran Lily.
"Halo." ucap Egi pertama kali saat mengangkat panggilan telepon dari seseorang yang belum dikenalnya.
……………
"Apa maksud kamu?" tanya Egi dengan raut wajah dingin.
……………
"Bicara yang jelas." tegas Egi.
__ADS_1
……………
Egi segera mematikan ponselnya. Dan menghubungi Ditya.