
"Kakak mau menyerahkan dia ke pihak berwajib?" tanya Lila memandang Nando yang berbaring di atas lantai, dengan mata sipitnya.
"Dulu, tidak untuk saat ini." tegas Egi.
"Kak Lily sudah tahu?" tanya Lila. Egi menggelengkan kepala.
"Apa rencana kakak untuk dia?" Lila bersedekap dada, memandang Nando dengan tatapan tak suka.
"Menyingkirkannya dari dunia. Selamanya." jawab Egi tanpa ragu.
Lila terdiam. Netranya tajam memandang Nando. "Boleh Lila masuk?" tanya Lila tanpa ragu.
Egi menggerakkan tangannya. Dengan sigap, bawahan Egi membukakan pintu untuk Lila.
Lila mengitari tubuh Nando, dengan Nando memandang ke arah Lila dengan tatapan tak berdaya. "Ternyata hanya segini kemampuanmu." cibir Lila.
"Aaaa...!!" seru Nando dengan sisa suaranya, saat Lila tanpa ragu menendang kepala Nando. "Sampah sepertimu, memang seharusnya tidak ada di dunia." desis Lila, menginjak tubuh Nando menggunakan sepatu high hellnya.
"Beruntung, bukan dia yang menjadi pasangan Tuan." ucap Beni, melihat sisi kejam dari Lila. Yang terlihat anggun dan bertingkah sopan santun.
"Kakak tenang saja. Nando urusan kakak. Dan kak Lily, menjadi urusanku." ucap Lila dengan yakin.
"Satu lagi. Vincen." geram Lila.
"Akan ada saatnya, kamu tenang saja." sahut Egi.
"Tapi, aku berharap kakak mengusirnya dari negara ini. Jika perlu, kakak buat dia tidak pernah kembali lagi ke negara ini." ujar Lila.
"Ingin sekali aku mencakar wajahnya. Bagaimana bisa, dia menempatkan kakak dalam situasi seperti itu. Stupid..!!" seru Lila melampiaskan emosinya untuk Vincen.
Terlihat jelas wajah memerah Lila yang sedang menahan amarah. "Kakak harus mengingat perkataanku. Kak Lily itu, berhati lembut. Walau tingkahnya bar-bar dan sedikit heboh. Tapi dia tipe pemaaf." ungkap Lila.
"Ckk,,, padahal dari duku aku sudah memperingatkannya berulang kali. Jangan mudah percaya dengan orang. Namun, begitulah kak Lily. Selalu berpikir positif." lanjut Lila.
Beni mendekat, dan membisikkan sesuatu pada Egi. Lila merasa ada hal penting yang sedang terjadi. Lantaran Egi langsung menatap Beni dengan intens.
"Kak, Lila pamit dulu. Sekarang Lila sudah tenang. Kakak tidak memasukkan sampah itu ke dalam penjara." ujar Lila.
Lila merasa jika penjara merupakan hukuman ringan bagi manusia seperti Nando. Terlebih Lila sudah menyelidiki, siapa papa dari Nando.
__ADS_1
Dengan uang, Lila yakin Nando akan kembali berkeliaran seperti sebelumnya. Lila marasa bersyukur, sang kakak di pertemukan dengan lelaki seperti Egi.
Selain berkuasa, Lila yakin jika Egi akan menjaga sang kakak tersayang dengan baik. Dan Lila dapat melihat serta merasakannya.
"Dan untuk Vincen, Lila yakin, kakak akan memberikan dia hadiah yang manis." ucap Lila tersenyum miring menatap Egi.
Egi mengangguk pelan. "Kak, boleh Lila minta peluk?" tanya Lila ambigu.
Beni mengeraskan rahang, dan mengepalkan tangannya sempurna. Entah kenapa, hatinya merasa tertusuk mendengar permintaan Lila pada Egi.
Egi terdiam, menatap ke arah Lila. Kemudian Egi merentangkan kedua tangannya. Dengan cepat, Lila memeluk calon kakak iparnya tersebut.
Segera Beni memalingkan wajahnya. Dirinya tidak ingin melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa mendidih. "Ada apa dengan diriku?" tanya Beni dalam hati.
Beni memejamkan mata sebentar. Membayangkan wajah sang istri yang sedang berada di rumah. Namun ternyata tidak semudah itu.
Dalam bayangannya, di benak Beni malah terlintas senyum manis dari calon adik ipar atasannya tersebut. Tapi Beni mencoba menahan apa yang sedang dia rasakan.
Tentu saja dia tidak ingin jika Egi atau yang lain sampai tahu.
"Sayangi Lila, seperti kak Lily menyayangi Lila. Lila ingin, kak Egi jangan menyakiti hati kak Lily. Lila sangat menyayangi kak Lily melebihi diri Lila." Lila mengurai pelukannya, mendongak menatap Egi.
"Tenang saja, kakak akan menjaga kakak kamu dengan baik. Nyawa kakak taruhannya." tegas Egi, Lila langsung mengangguk fan menyeka air mata di pipinya.
"Lila percaya." ucap Lila tersenyum.
"Antarakan dia sampai tujuan." perintah Egi pada Zea.
"Kak, tidak perlu." tolak Lila dengan nada manja pada sang kakak ipar.
"Jangan membantah. Lebih baik kamu cepat pulang. Jangan tinggalkan calon istriku sendirian di rumah." ucap Egi, seperti sedang memberi tugas pada Lila.
"Tanpa di suruh, aku sudah pasti menjaga kak Lily." omel Lila sambil berjalan keluar markas, dengan Zea berjalan di belakangnya.
"Khemm... Ingat ada istrimu di rumah." ucap Egi, langsung menohok oada Beni.
Beni hanya tertunduk. Mengumpat dalam hati. Dia lupa, jika atasannya pasti akan tahu jika dirinya menyukai calon adik iparnya.
Egi berjalan ke dalam ruangannya di ikuti Beni di belakangnya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau mengantarkan saya." ucap Lila saat dirinya berada di dalam mobil, berdua dengan Zea.
"Zea." ucap Zea memperkenalkan diri.
"Lila. Kak Zea bisa memanggilku Lila. Aku adik dari kak Lily." ucap Lila menanggapi perkataan Zea.
"Tolong panggil saja nama saya. Tanpa ada kata lain di belakang, ataupun di depan Non." pinta Zea, merasa sungkan. Karena Lili adalah calon adik ipar dari atasannya.
"Baiklah, aki akan memanggil dengan nama saja. Asal kamu juga memanggilku dengan sebutan nama saja. Tapa Nona." tegas Lila memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.
"Tapi..." ucap Zea, seakan sulit mengabulkan keinginan Lila.
"Tidak ada kata tapi." ujar Lila.
"Maaf, saya tidak bisa." kekeh Zea.
"Ya sudah, aku juga tidak bisa. Kak Zea." ucap Lila tertawa pelan.
Di ruangannya, Egi menatap tajam oada Beni yang sedang menunduk di depan Egi. Takut, tentu saja Beni merasa takut, terlebih Egi mengetahui jika dirinya tertarik dengan Lila.
"Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah pribadimu. Tapi jika menyangkut Lila. Aku pasti akan turun tangan. Bukan masalah kamu bawahanku. Tapi statusmu, yang sudah beristri. Ingat itu." tegas Egi.
Beni tidak ingin membantah atau membela diri. Karena apa yang dikatakan oleh Egi adalah suatu kebenaran. "Maaf Tuan. Saya akan mengubur perasaan tersebut." ujar Beni.
"Hilangkan dan lenyapkan. Kamu harus mengingat satu hal. Meski kamu menikah tanpa cinta, tapi kamu jangan pernah melupakan statusmu. Dan jangan pernah mempunyai niat untuk mendua. Terlebih jika dipikiran kamu ada Lila." papar Egi.
Egi bukan sosok pemimpin yang suka mencampuri urusan atau masalah pribadi bawahannya. Namun kali ini Egi melakukannya. Lantaran Beni yang mempunyai perasaan pada Lila. Terlebih Beni sudah mempunyai seorang istri.
"Baik Tuan." ucap Beni. "Tapi maaf Tuan, sepertinya akan sangat sulit." ucap Beni dalam hati. Karena jujur, darah Beni merasa berdesir setiap kali melihat wajah cantik dari Lila.
Egi menggerakkan telapak tangannya. Dengan segera, Beni keluar dari ruangan Egi. Di pandangannya pintu yang baru saja di lewati oleh Beni.
"Aku hanya tidak ingin, Lila akan di cap sebagai perempuan perebut suami orang. Apalagi dia adalah adik kesayangan dari calon istriku." ucap Egi.
Egi mengenal dengan baik siapa Beni. Egi dapat memastikan, jika Beni tidak akan begitu daja melepaskan Lila.
Apalagi selama mengikuti dirinya, Beni sama sekali tidak pernah terlibat dengan sosok perempuan. Beni dan Egi, sosok lelaki yang hampir sama.
Jika mereka menemukan seseorang atau benda berharga, pasti mereka akan sekuat tenaga berjuang untuk memilikinya. Apapun resiko yang harus di laluinya.
__ADS_1