PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 32


__ADS_3

Segera Egi melajukan mobilnya ke tempat Lily kuliah. Dengan santai, Egi melajukan mobilnya. Karena jika melihat waktunya, dia masih memiliki banyak waktu. Sampai Lily selesai pelajaran.


Tak lupa Egi menyalakan musik di dalam mobil, sekedar menemaninya dalam berkendara. Sesekali Egi bernyanyi di beberapa bagian lagunya. Egi memarkirkan mobilnya di tepi jalan masuk tempat Lily kuliah.


Mengambil ponselnya. Memberi pesan pada Lily, jika dirinya sudah di depan kampusnya. Sembari menunggu Lily. Egi melihat beberapa berita dan perkembangan bisnis di ponsel miliknya.


"Lila." gumam Egi, saat manik matanya melihat Lila seperti sedang di keroyok oleh beberapa perempuan. Jika dilihat sekilas, mereka tampak berbincang dengan baik dan santai.


Tapi Egi dapat memastikan, jika mereka seperti sedang menekan Lila. Dan Lila, tidak berani untuk meminta bantuan. Hanya diam, dan mendengarkan ocehan mereka.


"Empat lawan satu." gumam Egi menghitung perempuan di sekitar Lila. "Dasar anak jaman sekarang." imbuh Egi.


Egi keluar dari mobilnya, dan menghampiri mereka. "Lila." panggil Egi. Membuat semuanya menoleh ke arah Egi.


"Kak Egi." sapa Lila. Segera mendekat ke samping Egi.


"Lila, dia siapa?" tanya salah satu perempuan yang berada di dekat Lila.


"Dia kakakku." jawab Lila.


"Waow." ucapnya. Tampak semuanya takjub memandang Egi. Pastinya mereka terpesona dengan wajah serta badan Egi yang sempurna.


Apalagi dengan apa yang dikenakan oleh Egi. Pakaian kantor masih menempel di tubuh proporsional milik sang pengusaha.


Dan satu lagi, kacamata hitam bertengger di hidung mancung milik Egi.


"Kenalkan, saya...." ucap salah satu dari mereka, mengulurkan tangannya. Ingin berkenalan dengan Egi. Memasang wajah secantik mungkin.


Belum sempat dia menyebutkan namanya, Egi sudah mengeluarkan suaranya terlebih dahulu. "Di sini terlalu panas. Sebaiknya kita mencari tempat berteduh." ajak Egi pada Lila.


"Baik kak." ucap Lila, mengikuti arah kaki Egi.


"Whatttt...!!!" pekik perempuan tersebut, saat Egi mengacuhkannya.


"Memang pantas sih. Lagaknya sama orangnya."


"Aku tetap suka."


Lila tersenyum samar mendengar perkataan mereka. "Ingin sekali melihat ekspresi mereka." batin Lila, tapi dia tidak berani menoleh ke belakang.


"Kak Egi mau menjemput kak Lily?" tanya Lila.


"Iya." jawab Egi singkat, saat mereka berdua berdiri di bawah pohon besar. Menghindari panas matahari sore.


Lila hanya diam setelahnya. Karena terlihat Egi sibuk dengan ponselnya. Bahkan beberapa kali Egi menerima panggilan dari seseorang. Lila hanya tidak ingin mengganggu Egi dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Serasa sendiri." keluh Lila dalam hati. Karena sikap Egi yang dingin.


Keduanya bahkan menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa yang lewat di sekitar mereka. Apalagi dengan pakaian yang Egi kenakan.


Dan yang paling menarik perhatian dari semuanya adalah wajah tampan paripurna milik Egi serta badan proporsional sang pengusaha.


Lila memandang ke arah Egi. "Ada apa?" tanya Egi yang ternyata sadar, jika Lila memperhatikannya. "Kakak nggak risih. Mereka semua memperhatikan kakak." ucap Lila.


"Sudah biasa." ujar Egi.


Lila memandang ke arah Egi dengan berkedip lucu. "Sudah biasa." gumam Lila. Menirukan perkataan Egi. "Jawaban yang luar biasa." ucap Lila dalam hati.


Sebuah mobil melewati mereka. Parkir di lahan parkir kuliah. Merasa penasaran, Lila melihat ke arah mobil tersebut.


Hingga keluar lelaki tampan dengan memakai kaos di balut jaket denim, serta celana jeans panjang dari dalam mobil.


"Gantengnya." gumam Lila dengan kedua telapak tangan di satukan, tepat di dadanya. Seolah terpesona dengan lelaki tersebut.


Masih terdengar jelas di telinga Egi. Membuat Egi memandang ke arah pandangan mata Lila bermuara.


Egi hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah dari adik Lily tersebut. "Belajar yang benar." ucap Egi sambil memukul pelan kepala Lila.


"Apa sih kak. Lila itu masih normal. Wajarlah mengagumi lawan jenis. Lagian, ini namanya penyegaran otak kak. Biar nanti, saat belajar akan encer lagi." cicit Lila.


"Masih gantengan aku." ucap Egi dengan percaya diri.


"Astaga." ucap Lila menatap heran ke arah Egi.

__ADS_1


"Kakak memang ganteng. Tapi kakak milik kak Lily." jelas Lila. "Jika diakan, mungkin masih sendiri." imbuh Lila menatap lelaki yang tengah duduk di kap mobil.


"Mungkin. Mungkin juga sudah punya istri." celetuk Egi. Mendapat pelototan dari Lila.


"Eh,,, itu kak Lily." ucap Lila, melihat kakaknya berjalan ke arah mereka.


"Dia namanya kak Mauren." jelas Lila, karena Lila yakin jika sebentar lagi Egi akan bertanya padanya. Tentang sosok yang berjalan di samping kakaknya. Lily.


"Tidak tanya." ucap Egi dingin. Mendapat lirikan tajam dari Lila. "Kok kak Lily bisa suka sih sama kak Egi. Sumpah, cuek banget. Kata-katanya juga nggak enak di dengar." ucap Lila dalam hati, merutuki sikap Egi.


"Kakkkk!!!!" teriak Lila memanggil Lily, serta melambaikan tangan. Egi seketika menepuk pelan kedua telinganya.


"Merdu tahu kak." omel Lila, menyadari siap Egi.


Tampak Lily segera bergegas menghampiri mereka. Membuat Mauren di tinggalkan. Dan Vincen, yang sudah menunggu dengan duduk di atas kap mobil tersenyum.


Vincen mengira Lily datang pada dirinya. Senyum di bibir Vincen menghilang secara perlahan saat Lily melewatinya begitu saja. Bahkan menatapnya saja tidak. Seolah Lily tidak mengenal Vincen.


Vincen memandang ke mana Lily berjalan dengan semangat. Serta tersenyum tulus. "Dia." gumam Vincen menatap sosok Egi.


"Dari tadi? tanya Lily dengan lembut, memandang ke arah Egi.


"Aku lapar." ucap Egi dingin. Tanpa basa basi Egi berjalan ke arah mobilnya di parkir tanpa mengajak Lily ataupun Lila.


"Kak." ucap Lila, merasa Egi mengacuhkan Lily.


"Ayo kamu ikut kakak saja." Lily menyeret lengan sang adik. Karena Lily sudah mengatakan pada Mauren jika dirinya dan Lila akan pulang bersama dengan Egi.


"Dia Egi. Lelaki yang aku ceritakan waktu itu." jelas Mauren saat dirinya berada di dekat Vincen.


Vincen hanya diam, tidak menyahuti perkataan Mauren. Pandangan matanya masih terfokus pada mobil yang membawa Lily pergi.


Mauren membuang nafas, saat Vincen diam dan masuk ke dalam mobil begitu saja. Tanpa berbasa-basi dengannya.


"Aku kira kamu tadi berbohong." ucap Lily saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Lila duduk dengan memainkan ponselnya di kursi belakang. Sebenarnya Lila tidak benar-benar fokus bermain ponselnya. Dia mencuri pandang dan mencuri dengar, tentang apa yang terjadi di kursi depan. Dimana Lily dan Egi duduk.


"Aku tidak suka jika kamu mengabaikan perkataanku." ucap Egi.


Lily tidak marah saat Egi berkata seperti itu. Lily tahu, jika Egi khawatir padanya. "Kamu akan masuk les tambahan." ucap Egi.


"Apa?" tanya Lily, tidak mengerti maksud perkataan Egi.


"Aku mendaftarkan kamu di latihan bela diri. Semuanya sudah aku urus. Termasuk jadwalnya. Tidak akan bentrok dengan kuliah kamu." jelas Egi.


Lily memandang Egi dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja perkataan Egi dan juga perintah Egi supaya Lily belajar bela diri sangat menyentuh hati Lily.


Semua itu menandakan jika Egi memperhatikan dirinya. "Iya. Nanti kamu kasih tahu jadwalnya ke aku." ucap Lily dengan perasaan senang.


Di kursi belakang, Lila tampak bingung dengan percakapan keduanya. "Bela diri. Untuk apa. Kakak saja sudah sangat bar-bar. Bagaimana kalau dia bisa bela diri. Apa papa mengizinkannya." ucap Lila dalam hati


"Apa benar, yang aku lihat tadi pagi?" tanya Lily dengan cemas.


"Benar." jawab Egi singkat.


"Aku sudah menyuruh bawahanku untuk mengurusnya, jangan khawatir." jelas Egi. Hati Lily langsung tenang, setelah mendengar perkataan Egi.


Ketiganya masuk ke dalam restoran. Memesan makanan dan segera memakannya. Tidak ada pembicaraan apapun saat makan.


Bahkan saat Lila hendak mengeluarkan suaranya, Lily segera menyentuh lengan Lila. Mengisyaratkan supaya Lila diam saat makan. Karena Lily tahu, jika Egi sangat tidak suka di ganggu saat makan.


"Setelah makan, aku akan mengantar kalian pulang." ucap Egi, mengusap bibirnya dengan tisu.


Sesuai janji, Egi mengantarkan Lily dan Lila sampai rumah. Bahkan, Egi menjalankan mobil, setelah Lily serta adiknya masuk ke dalam rumah.


"Kak, setelah mandi, ada yang Lila pengen tanya." ucap Lila, begitu pintu rumah tertutup.


"Sama. Kakak juga. Kamu mandi dulu. Kakak tunggu di kamar kakak." perintah Lily.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi kamu gagal?" tanya Bob dengan pandangan mata tajam menatap ke arah Revan.

__ADS_1


"Iya, maaf." ucap Revan sambil duduk.


"Apa Egi sudah membacanya?" tanya Bob memastikan.


"Belum." jawab Revan dengan yakin.


"Amanda membawa semua berkas kembali pulang. Dia mengatakan jika Egi masih sibuk. Dan dia tidak akan menandatanganinya, sebelum membaca." imbuh Revan.


"Lagi pula, pasti. Aku berani menjamin, jika Egi belum membacanya. Jika sudah, pasti dia tidak akan tinggal diam." ujar Revan, karena dirinya mendengar dari alat perekam yang sengaja dia taruh di map tersebut.


"Lagi pula, kenapa kita harus membuat masalah dengan Egi? Apa dia menyinggungmu? Atau ada sesuatu yang aku tidak tahu?" cecar Revan.


"Aku mendapat bayaran mahal. Jika berhasil menyusupkan satu masalah pada perusahaan milik Egi." jelas Bob.


"Kenapa kamu tidak bilang dari awal!!" bentak Revan.


Bob memandang Revan dengan tatapan membunuh. "Jangan berani berteriak atau menaikkan nada suara kamu di depanku." ucap Bob dengan tatapan mata membunuhnya.


"Maaf. Aku hanya reflek." ucap Revan beralasan. Padahal dia benar-benar marah pada Bob.


Rekannya tersebut mengambil pekerjaan tanpa mengatakan apapun padanya. Dan yang lebih menjengkelkan. Bob menyuruh Revan untuk melakukannya kembali.


"Aku harus kembali ke perusahaan. Amanda akan curiga, jika aku terlalu lama pergi." ucap Revan, mencari alasan. Karena Revan sudah sangat muak melihat wajah garang dan sok kuasa dari Bob.


Di dalam mobil, Revan berkali-kali mengumpat. "Bisa-bisanya Bob, mengumpankan diriku. Masuk ke dalam masalah dengan Egi." kesal Revan.


Revan kenal betul siapa Egi. Mana mungkin Revan akan mencari masalah secara langsung pada Egi. Lagi pula, jika sekarang dia mencari masalah dengan Egi, pasti dia akan kalah. Meski dengan Bob di belakanganya.


"Bos, sebaiknya anda berhati-hati dengan Bob. Dia sangat licik untuk dijadikan rekan kerja." ucap anak buah Revan, yang juga menjadi sopir Revan.


Revan hanya diam. Dia membenarkan perkataan anak buahnya. "Beruntung, aku sudah mengalihkan beberapa kekayaan Joshua menjadi milikku." ucap Revan dalam hati.


Karena Revan melakukan semua, pastinya tanpa sepengetahuan Bob. "Bagaimana keadaan Tuan dan Nyonya Joshua?" tanya Revan.


"Tidak ada yang tahu boss. Kita tidak bisa masuk. Bawahan Bob menjaganya dengan ketat." jelas anak buah Revan.


"Meski begitu, kalian harus tetap memantaunya." perintah Revan.


"Baik boss."


Revan dan Bob memang saling bekerja sama untuk menguasai semua harta dari Tuan Joshua. Dengan sistem bagi hasil.


Bob akan mengurus Tuan Joshua beserta istrinya. Sementara Revan, akan mengurus Amanda. Revan sendiri juga tidak menyangka akan melangkah sejauh ini.


Karena, awalnya dia hanyalah karyawan biasa. Dan tiba-tiba di datangi seseorang. Menawarinya kerja sama dengan hasil menggiurkan. Yaitu Bob.


Revan juga tidak tahu, kenapa Bob tiba-tiba mendatanginya. Dan berniat menguasai semua kekayaan Tuan Joshua. Karena Bob tidak pernah mengatakan pada Revan, apa alasannya.


Di perusahaan, Amanda mencari Revan. Tapi dia tidak menemukannya. Padahal, ada sesuatu yang penting. Yang akan di tanyakan oleh Amanda pada Revan.


"Kemana Revan?" tanya Amanda pada karyawannya.


"Tuan Revan keluar Nona. Beliau berpesan hanya keluar sebentar."


Amanda mengibaskan tangannya. Sehingga karyawan tersebut segera meninggalkan ruangan Amanda. "Kenapa ada berkas ini?" tanya Amanda pada dirinya sendiri.


Amanda menemukan di tumpukan berkas yang di tanda tanganinya. Ada sebuah berkas pengajuan kerja sama dengan perusahaan baru. Tapi Amanda belum menandatanganinya.


Padahal, seingat Amanda. Mereka belum pernah bekerja sama. Amanda berpura-pura memainkan ponselnya. Dan memotret berkas tersebut.


"Aku harus menunjukkannya pada Egi." ucap Amanda dalam hati.


Pintu ruangan Amanda terbuka dari luar. Segera Amanda mengganti ponselnya ke game. Dia tidak ingin ada yang mengetahuinya.


"Revan." gumam Amanda, seakan tidak peduli. Dan meneruskan bermain game di ponselnya.


"Ada apa mencariku?" tanya Revan. Amanda menaruh ponselnya dengan keadaan ponsel masih menyala. Hingga Revan dapat melihat jika Amanda sedang bermain game di ponselnya.


Revan tersenyum sinis. "Dasar bodoh. Hanya tahu hidup enak." cibir Revan dalam hati.


Dan Amanda tersenyum dalam hati. "Aku akan menjadi orang bodoh, sampai aku bisa memegang sendiri perusahaanku. Dan balik melawanmu." batin Amanda.


"Apakah besok aku harus kembali menemui Egi?" tanya Amanda.

__ADS_1


Revan terlihat diam. Seperti sedang berpikir. "Tidak perlu." ucap Revan, membalikkan badannya dan pergi.


Jawaban dari Revan sungguh membuat Amanda kesal. Padahal, Amanda ingin memberitahu Egi tentang sesuatu. "Bagaimana aku bisa bertemu dengan Egi. Tanpa ada yang mengetahuinya." batin Amanda, memikirkan sebuah rencana.


__ADS_2