PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 18


__ADS_3

Lily kembali melihat ke arah ponselnya. Pesannya pada Egi hanya di balas sekali oleh Egi. Padahal Lily sudah mengirimkan lagi pesan pada Egi.


Lily bertanya kenapa Egi belum sampai ke apartemen. Tapi Egi tak kunjung membalas pesannya. Hingga Lily tertidur.


Sementara Egi hendak pulang ke apartemen selesai makan. Tapi Amanda terus mengekor di belakangnya. "Jangan mempersulitku Nona Amanda." ucap Egi menginterupsi.


Sudah cukup Egi dipersulit dengan kelakuan Lily. Dirinya tidak ingin terjebak dengan hal lain lagi. Apalagi jika soal perempuan. Yang mana akan membuat hidupnya berantakan kembali.


"Lalu bagaimana dengan diriku?" tanya Amanda dengan wajah sedih.


"Kenapa kamu bertanya padaku. Bukankah sebelum bertemu denganku anda baik-baik saja." sergah Egi tidak suka dengan sikap Amanda.


Padahal mereka bertemu dengan tidak sengaja. Yang artinya sebelum bertemu dengan Egi, Amanda bisa tetap berjalan sendiri tanpa ada seseorang yang menemaninya.


"Menghadapi satu Lily saja sudah menyita banyak waktu dan tenaga. Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi." batin Egi meninggalkan Amanda seorang diri di area perkiran.


"Dasar. Manusia berhati es. Apa dia tidak kasihan sedikitpun, melihat diriku. Astaga....!!!" seru Amanda dengan nada tertahan.


"Padahal kita rekan kerja. Apa dia tidak mau menjaga nama baiknya di depanku." sungut Amanda kesal.


Amanda masuk kembali ke dalam warung dan pergi ke toilet yang memang tersedia untuk pengunjung. Amanda melepas wig dan kacamata serta tompel di pipinya.


"Selesai." Amanda melihat dan membersihkan wajahnya dengan air.


"Saatnya pulang." Amanda melepaskan celana kain kebesaran yang dia pakai. Dan ternyata di dalamnya, Amanda juga memakai celana jeans dengan panjang selutut.


Tak lupa, dia juga membuka kemeja yang melekat di badannya. Dan lagi-lagi, di dalam kemeja, Amanda masih memakai kaos berlengan pendek.


Amanda memasukkan semua atribut penyamarannya ke dalam kantong kresek berwarna hitam yang sudah dia sediakan sebelumnya. "Cukup untuk malam ini." ucap Amanda merasa senang.


Setidaknya dia pergi dengan bebas tanpa ada seorang yang melarang semua keinginannya. Sungguh, keinginannya tercapai sudah malam ini.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan warung makan, Amanda memesan taksi online. Amanda menunggu taksi online di area parkiran.


Amanda tersenyum sinis melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dan juga pesan tertulis yang masuk ke dalam ponselnya. Dan sudah dapat di pastikan siapa yang melakukannya. Semua itu dari Revan.


Tapi tidak ada satupun panggilan atau pesan di ponselnya dari kedua orang tuanya. Menandakan jika Revan tidak memberitahu papanya. Dan Amanda sangat tahu alasannya.


"Pasti karena Revan tidak ingin terlihat gagal dalam tugasnya." cibir Amanda.


"Kamu pikir selamanya aku akan menjadi bonekamu. Tidak akan." ucap Amanda dalam hati.


"Seharusnya kamu yang menuruti semua perkataanku." imbuh Amanda. Tapi sayangnya, Amanda belum mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk itu.


Segera Amanda menonaktifkan kembali ponselnya setelah taksi yang dipesannya datang. Amanda menaiki taksi tersebut. Baru saja taksi tersebut berjalan, Amanda menyuruh pak sopir menghentikan taksianya.


"Berhenti sebentar pak." ucap Amanda pada sopir taksi. Membuat pak sopir berhenti di pinggir jalan.


Amanda menoleh ke belakang. Melihat beberapa mobil datang ke warung makan yang baru saja Amanda tinggalkan.


"Ternyata benar dugaanku." ucap Amanda lirih.


"Jalan pak." ucap Amanda. Dia memandang kantong kresek yang berada di sebelahnya. "Beruntung aku tidak membuangnya ke tempat sampah." ucap Amanda.


"CCTV." gumam Amanda. Dirinya merasa gusar, takut jika Revan memeriksa CCTV di tempat tersebut.


Memang Revan tidak akan menemukannya. Tapi Egi. Dirinya tadi masuk bersama Egi. Pasti Revan akan mencari tahu. Siapa orang yang makan bersama dengan Egi.


"Semoga apa yang aku pikirkan tidak terjadi." batin Amanda resah. Karena jika sampai terjadi. Mustahil Revan tidak akan mengusik kehidupan Egi.


Pasti Revan akan mengira jika Egi di balik sikap Amanda yang membangkang. Padahal sebelumnya, Amanda bersikap sangat penurut.


Tapi sepertinya dewi keberuntungan berpihak pada Amanda. Saat Revan menanyakan kamera CCTV pada pemilik tempat makan, beliau berkata jika CCTV sedang dalam keadaan rusak. Dan itu sampai sekarang belum diperbaiki.

__ADS_1


Malam ini Amanda tidak akan kembali ke apartemen. Dia akan pulang dan tidur di rumah kedua orang tuanya.


Meskipun kedua orang tuanya sedang tidak berada di kediaman mereka. Karena sang papa sedang menjalani pengobatan di negara tetangga.


Sementara mamanya, pasti sedang menemani sang papa. Mana mungkin beliau membiarkan suaminya berada di rumah sakit sendirian.


"Tapi aku tidak boleh masuk dari depan." gumam Amanda. Karena jika dia masuk dari depan, pasti satpam di rumah mengetahuinya.


Dan Amanda yakin jika Revan sudah memberitahu mereka sebelumnya. Untuk melaporkannya, jika Amanda pulang ke rumah.


"Bagaimana aku bisa masuk." batin Amanda mencoba berpikir.


"Nanny." gumam Amanda. Sepertinya dia harus meminta bantuan seorang perempuan tua di rumahnya. Yang dia panggil dengan sebutan Nanny.


Tapi bagaimana caranya menghubungi Nanny. Jika ponselnya menyala, itu berarti dirinya akan memberitahu keberadaannya pada Revan.


Amanda melihat isi dompetnya. "Pak, ke toko ponsel." ucap Amanda.


Amanda menyuruh taksi tersebut menunggu dirinya. Sementara dia segera membeli ponsel dengan harga murah sekaligus kartu chipnya.


"Jalan pak, ke alamat yang saya katakan tadi." ucap Amanda sambil memasukkan nomor Nanny ke dalam ponsel barunya.


Bukan masalah besar bagi Amanda, karena dia menghapal berapa nomor ponsel milik Nanny.


Beberapa kali Amanda menelpon Nanny, tapi tidak di angkat. "Kenapa tidak di angkat. Apa mungkin karena nomornya tidak ada dalam kontaknya." gumam Amanda.


Tapi Amanda tidak putus asa. Dia terus menghubungi nomor Nanny berkali-kali. Hingga di angkat.


"Nanny, akhirnya kamu angkat juga." ucap Amanda lega.


"Nona Amanda." ucap Nanny di seberang telepon.

__ADS_1


Amanda menceritakan semuanya pada Nanny. "Tenang saja Nona. Anda akan masuk tanpa seorangpun yang tahu." ucap Nanny.


Amanda turun dari taksi. Bersembunyi di balik pohon besar yang berada di pinggi jalan. Sambil menunggu Nanny menghubungi dirinya.


__ADS_2