PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 81


__ADS_3

"Apa ini..!!" seru Tuan Ebara melempar kertas di tangannya tepat pada sang asisten yang berdiri di depannya.


Karena asisten Tuan Ebara menyerahkan sebuah kertas dari pihak berwajib perihal pemanggilan atas nama sang putra. Dengan kasus yang sama seperti tahun lalu.


"Saya sudah menghubungi pengacara untuk menyelesaikan hal ini." jelas sang asisten, saat mata Tuan Ebara menatapnya dengan tajam.


"Dia adalah Nona Lily. Putri pertama dari Tuan Ardes dengan Nyonya Tya." imbuh sang asisten memberitahu pihak yang melaporkan Nando, saat Tuan Ebara masih menatapnya.


Namun, Tuan Ebara masih menatapnya tajam. Seolah penjelasan dari sang asisten masih kurang. "Tuan Muda Nando menyerang Nona Lily. Sebanyak dua kali." lanjutnya lagi.


Tuan Ebara mendengus kesal. "Anak itu, hanya bisa membuat masalah." ucapnya dengan tatapan murka.


"Segera selesaikan. Putri dari Ardes, lakukan sesuatu. Supaya kasus ini berhenti." perintah Tuan Ebara. Tentu saja dirinya tidak ingin nama baiknya tercoreng karena tingkah sang putra.


"Baik Tuan. Tapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." sang asisten menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Para korban yang terdahulu, bersedia kembali menjadi saksi atas tindakan Tuan Muda Nando pada mereka. Saat ini, mereka semua sudah berada di kantor polisi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.


"Lakukan sesuatu, ancam mereka. Apapun caranya. Bahkan, hal yang paling keji sekalipun. Aku tidak ingin semuanya hancur." perintah Tuan Ebara.


"Tuan, media juga sudah merilis dan menyiarkan kasus ini." tambah sang asisten dengan perlahan.


"Bagaimana bisa." ucapnya dengan ekspresi bingung.


Belum ada satu hari, namun kasus sang putra sudah mencapai titik ini. "Hanya ada satu cara. Tekan para korban. Dan juga keluarga mereka. Pastikan mereka mundur manjadi saksi." ucap Tuan Ebara.


"Sepertinya ini tidak semudah dulu Tuan. Seluruh keluarga tidak bisa kita sentuh. Ada seseorang yang melindungi mereka." ujar sang asisten.


"Ardes. Tidak mungkin. Meski dia pengusaha terkenal dan juga hebat. Namun dia tidak punya kekuatan sebesar itu. Untuk melindungi mereka." gumam Tuan Ebara.


"Bukan Tuan Ardes yang berada di belakang mereka. Namun Tuan Egi." jelasnya.

__ADS_1


"Egi. Kenapa bisa." Tuan Ebara duduk dengan badan gemetar. Dia tahu betul siapa Egi.


Pebisnis muda yang sukses dengan sikap dingin dan juga kejam. Semua orang yang berkecimpung di dunia bawah tanah. Pasti mengenal sosok tersebut.


Lelaki yang tidak mudah untuk di sentuh. Siapapun pasti ingin menjalin kerja sama atau hubungan yang baik dengannya.


Tak pelak, laporan dari sang asisten membuat Tuan Ebara harus memutar keras pikirannya untuk menyelamatkan sang putra. Egi, bukan lawan yang bisa di anggap remeh.


"Nona Lily dan Tuan Egi menjalin hubungan." jelasnya.


"Cari Nando. Sembunyikan dia." ucap Tuan Ebara.


"Cepat lakukan...!!" hardik Tuan Ebara, saat sang asisten malah diam di tempat. Tak bergerak sedikitpun, padahal sudah mendapat perintah darinya.


"Tuan Muda tidak ada di tempatnya. Bahkan kami sudah melacak melewati ponselnya. Namun hasilnya nihil." jelasnya.


Tuan Ebara memijat keningnya, kepalanya serasa ingin pecah. "Lakukan sesuatu...!!! Aku tidak ingin semuanya hancur berantakan..!!!" bentaknya.


"Nando, kenapa kamu tidak mencari tahu dulu. Siapa perempuan yang akan menjadi korbanmu." geram Tuan Ebara.


Byurrr......


"Aaaa... uhuk,, uhuk,,!!!" teriak Nando di bareng batuk, dengan tangan dan kaki terikat di atas ranjang. Dia terbangun karena guyuran air.


"Halo, kita bertemu lagi Tuan Muda Nando." seringai seorang lelaki.


"Kamu." ucap Nando, setelah melihat siapa yang berdiri di sampingnya.


"Iya saya." seringainya, membuat Nando sedikit ketakutan. Dia adalah bawahan dari Egi.


"Lepas..." erang Nando menggoyangkan kedua tangan dan kaki. Berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


"Kenapa, mau keluar?" seorang lelaki masuk ke ruangan di mana Nando berada, dengan memakan sesuatu di tangannya.


"Tenang saja, sebentar lagi kamu akan kami lepaskan." imbuhnya, duduk dengan tenang. Dengan mulut masih bergerak mengunyah sesuatu.


Keduanya tersenyum mengejek, meninggalkan Nando di ruangan sendiri. Terdengar suara Nando berteriak. Mengumpat dan mengucapkan sumpah serapah. Tak lupa segala umpatan dia keluarkan dari mulutnya.


"Ingin sekali aku memotong lidahnya." geramnya, mendengar suara berisik dari Nando.


"Ingat, Tuan menginginkan Nando tanpa lecet sedikitpun. Tahan emosi elo brow. Tunggu sebentar lagi." ucap rekannya tersenyum penuh arti.


Di tempat lain, Tuan Ebara mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari sang putra. Tentu saja dirinya tidak ingin jika Nando berada di tangan Egi. Jika sampai terjadi, itu berarti nasib Nando sudah bisa di pastikan.


Di universitas tempat Lily kuliah, terjadi hal menghebohkan. Terlebih berita jika Lily melaporkan Nando sudah tersebar luas.


"Laki kamu memang hebat. Padahal baru pagi tadi kasus ini di laporkan. Sekarang sudah seheboh ini" tukas Mauren.


"Kak Lily." panggil seseorang, Lily dan Mauren menghentikan langkahnya, begitu mendengar seseorang menyebut namanya.


"Maaf, mengganggu. Mungkin kakak tidak mengenal kami. Tapi bisakah kita minta tolong." ucapnya dengan penuh harap.


Mauren menyikut pelan lengan Lily. Seolah Mauren dan Lily tahu apa yang akan mereka bicarakan. "Minta tolong apa?" tanya Lily berpura-pura polos.


Mahasiswa yang memanggil Lily tersebut adalah adik kelas Lily dan Mauren. Keduanya tahu dan masih hapal, jika mereka adalah sahabat dari seseorang mahasiswa yang membuat seluruh universitas gempar. Dengan aksinya bunuh diri.


"Bisa. Tapi tidak sekarang." ucap Lily. Bukannya menolak, sebab Lily dan Mauren sebentar lagi akan masuk kelas.


"Baiklah. Jika boleh, apa kita boleh meminta nomor ponselnya kak." pintanya.


"Tentu." Lily mengeluarkan ponsel miliknya dan menyebutkan nomor ponselnya untuk di catat olehnya.


Lily dan Mauren saling melempar senyum, melanjutkan langkah mereka untuk masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2