
"Semua sudah saya persiapkan dengan baik Tuan." lapor Beni pada Egi.
Egi tersenyum licik. "Tinggal kita tunggu. Apa yang akan di lakukan Ebara, saat anaknya kembali terjerat hukum. Dengan kasus yang sama." ujar Egi.
Tanpa sang papa, Nando bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah seorang lelaki yang memiliki gangguan mental. Dengan berlindung atas nama sang papa, Nando berbuat sesuka hati. Seolah tidak ada yang perlu di takutkan. Sama sekali.
Tapi kali ini berbeda. Nando menjamah seseorang yang seharusnya bahkan tidak boleh dia dekati. Namun sayangnya, kesempatan yang di berikan oleh Egi di sia-siakan.
"Kasus yang sama. Korban yang sama. Tapi orang yang akan mereka hadapi berbeda." ujar Beni dalam hati.
"Perketat penjagaan pada semua anggota keluarga korban. Jangan sampai orang suruhan Ebara dapat mengintimidasi mereka." perintah Egi.
"Baik. Semua sudah saya lakukan." ucap Beni dengan tegas.
"Bagus." ujar Egi.
Egi akan memastikan jika kali ini, Nando akan masuk ke dalam penjara. Dan meskipun semisal Nando kembali masuk ke rumah sakit untuk di rehabilitasi, Egi sudah menyiapkan kejutan kecil di tempat tinggal Nando yang baru.
"Jangan harap kali ini kamu akan kembali bernafas dengan lancar. Aku akan membuat kamu menikmati permainanmu sendiri." ucap Egi dalam hati, menyeringai licik.
Di tempat lain, Lily sedang bersama Mauren dan Lila. Ketiganya sekarang tengah berada di rumah Lily. Berbincang di gazebo belakang rumah. "Kakak yakin?" tanya Lila merasa cemas.
Lily bercerita pada Mauren dan Lila, jika dirinya akan menjadi saksi atas kejahatan yang di lakukan Nando. "Bukan hanya kakak saja, tapi korban-korban yang lain juga akan menjadi saksi. Tenang saja." papar Lily.
Lila merasa cemas, lantaran kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah. Sang mama menemani Tuan Ardes ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis.
Namun, Lily sudah mengatakan pada sang papa. Dan dengan tenang, Tuan Ardes mengiyakan apa yang akan di lakukan sang putri.
Namun dengan satu syarat. Egi tetap berada di sampingnya. Tanpa Lily ketahui, Egi sebenarnya sudah meminta izin pada Tuan Ardes tentang masalah ini.
__ADS_1
Dengan percaya sepenuhnya pada Egi, Tuan Ardes menyetujui permintaan dari Egi. Karena beliau tahu betul, siapa sosok Egi.
"Bagaimana kalau kalian menginap di rumahku." tawar Mauren yang juga merasakan hal yang sama dengan yang Lila rasakan.
Lily langsung menggeleng. "Apa kamu ingin merusak hubunganku dengan Egi." ujar Lily. Karena pasti Vincen akan sering mendatangi rumah Mauren jika ada Lily di sana.
"Aku bisa meminta Vincen untuk tidak datang ke rumahku." kilah Mauren.
"Dan kamu pikir Vincen akan dengan patuh, menuruti perkataan atau permintaan kamu itu." ketus Lily memutar kedua matanya.
"Aku bisa mengusirnya." kata Mauren dengan enteng.
"Dan hubungan kalian akan renggang. Bahkan keluarga Vincen akan semakin membenciku. Bahkan keluargaku." ucap Lily terus menyahuti perkataan Mauren sesuai kenyataan.
"Aku juga heran. Kenapa mama Vincen membenci kita. Padahalkan waktu itu kalian belum pernah ketemu. Dan dari awal kakak juga sudah menolak perjodohan tersebut." ujar Lila heran.
"Iya, ya..." Lila dan Mauren hanya meringis.
"Ehh,,, bagaimana jika dengan Egi. Kalian bisa menginap di apartemen Egi. Atau kalian suruh saja Egi menginap di sini. Di rumah kalian. Bukankah lebih aman." saran Mauren dengan semangat menyuarakan pendapatnya.
"Tidak perlu. Lagian kalian mencemaskan sesuatu yang tidak perlu." ujar Lily.
"Keselamatan kita sangat terancam kak. Dan benar kata kak Mauren. Apalagi kakak salah satu korban yang akan menjadi saksi. Pasti Nando ataupun Tuan Ebara akan mengancam nyawa kakak." kesal Lila.
"Dan kakak juga yang melaporkan. Meski semua di urus oleh Beni, asisten Egi." papar Lily santai.
"What...!! Kamu yang melaporkan." Mauren dan Lila saling pandang dengan tatapan takut.
"Kamu tahu, dia Nando. Putra dari Tuan Ebara." jelas Mauren.
__ADS_1
"Astaga. Sekarang coba kalian pikir. Dulu kasus ini sempat mencuat. Tapi dengan mudah hilang. Karena apa. Korban yang melaporkan hanya orang biasa yang mudah di tekan oleh Ebara." papar Lily.
"Iya, pasti mereka takut dengan segala ancaman Tuan Ebara." sahut Lila.
"Dan sekarang kasus ini kembali di angkat. Dan korban yang sebelumnya ketakutan, pada akhirnya berani berdiri lagi dan melawan kembali. Bahkan mereka dengan senang hati membantu kita untuk tetap menjadi saksi. Kalian pikir, kenapa semua ini bisa terjadi." lanjut Lily seperti sedang melakukan tanya jawab, atau teka-teki.
"Egi."
"Kak Egi."
Mauren dan Lila menyebut nama Egi dengan serempak. "Betul." ucap Lily, menunjukkan sedikit keangkuhannya, karena memiliki seorang seperti Egi di sampingnya. Yang otomatis dapat di andalkan dalam situasi apapun.
Prok,, prok,, prok,, Mauren bertepuk tangan dengan semangat. "Aku juga mau, satu. Seperti Egi." celetuk Mauren.
"Lila juga mau." rengek Lila, menggoyangkan badannya.
"Kalian..!!!!" Lily melotot pada keduanya. Membuat Mauren dan Lila tertawa lepas.
"Benar juga. Selama ini kamu selalu aman. Padahal Nando sedang berkeliaran. Pasti ada orangnya Egi yang memantau kamu." papar Mauren.
Lily bersedekap dada dengan mengangkat kedua bahunya. Tak lupa, masih menunjukkan sikap seolah dia perempuan paling beruntung. Mendapatkan lelaki seperti Egi.
"Apa di rumah kita juga ada orangnya kak Egi?" tanya Lila dengan wajah polosnya.
Pertanyaan Lila mampu membuat Mauren maupun Lily terdiam sesaat, dan ketiganya saling pandang. "Bisa jadi. Tapi siapa?" tanya Lily ikut merasa penasaran.
Ketiganya terdiam dengan pikiran masing-masing. "Kenapa kita malah berpikir hal itu. Lagi pula itu juga tidak penting." ujar Lily.
"Mauren, bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan sesuatu?" tanya Lily dengan penasaran.
__ADS_1