PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 106


__ADS_3

Seperti yang di jadwalkan. Hari ini adalah hari di mana semua orang menantikannya.


Pesta pernikahan Egi dan Lily.


Sebelum pesta di gelar, pagi hari Egi mengucapkan kalimat yang sakral. Yakni ijab kobul dengan sangat lancar dan tepat. Menjadikan perempuan bernama Lily, sah menjadi istrinya baik menurut agama maupun negara.


Malam hari, pesta resepsi diadakan. Dihadiri oleh ribuan orang, pesta pernikahan digelar di gedung yang menampung kapasitas besar. Tampak mewah dan megah.


Berbalut gaun pengantin berwarna putih, memamerkan pundak mulusnya. Dan sebuah kalung yang berbentuk sederhana. Pastinya dengan harga yang fantastis. Dengan bentuk gaun bagian bawah menutupi seluruh kakinya.


Lily berjalan di atas karpet berwarna merah dengan seorang lelaki yang tampak menawan dan gagah. Egi. Lily memasukkan tangannya ke dalam lengan Egi. Keduanya berjalan beriringan menuju ke kursi.


Layaknya raja dan ratu. Semua mata berfokus pada keduanya. Terlebih, gaun yang dikenakan oleh Lily maupun tuxedo yang melekat di tubuh atletis milik Egi adalah rancangan dari sang mama sendiri. Nyonya Tiwi.


Tak pelak, karena hal tersebut, Nyonya Tiwi meneteskan kembali air matanya. Setelah tadi pagi, beliau juga menangis saat ijab kobul di laksanakan.


Seketika Nyonya Tiwi teringat kepada mendiang sang suami yang telah lama meninggal. Berkhayal, betapa bahagianya, jika seandainya beliau masih hidup. Menyaksikan sang putra tercinta dengan berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


Yakni menikahi perempuan yang sangat di cintanya.


Pernikahan yang akan selalu di kenang sepanjang sejarah. Karena kemewahan dan juga kemegahannya.


Usai menjadi padangan suami istri, Egi membawa Lily untuk tinggal di apartemen milik Egi. Dan tentang momongan, memang keduanya sepakat untuk menunda. Hingga Lily lulus kuliah.


Hari-hari mereka lewati dengan penuh keromantisan. Egi yang bersikap dingin saat masih menjalin kasih. Sekarang dengan sangat terbuka menunjukkan rasa cinta dan sayangnya pada Lily.


Setahun sudah pernikahan keduanya berjalan. Tak ada masalah besar dalam pernikahan tersebut. Hanya ada beberapa hal kecil yang mewarnainya. Namun Egi maupun Lily dengan baik dapat mengatasinya.


Seperti yang sudah di bicarakan sebelumnya. Setelah Lily lulus kuliah, Egi memboyong Lily untuk tinggal di negera kelahirannya. Tinggal satu rumah dengan Nyonya Tiwi.


Tak ada penolakan atau bantahan dari Lily. Karena menurut Lily, itu adalah keputusan yang baik dan adil. Mengingat sang mertua hidup sendiri tanpa suami.


Meskipun di rumahnya ada banyak pekerja. Namun pasti rasanya akan berbeda, saat Nyonya Tiwi hidup bersama anak dan menantunya. Apalagi Egi adalah putra tunggal.


Sementara kedua orang tuanya masih memiliki Lila di samping mereka. Tuan Ardes dan Nyonya Tya juga mendukung keputusan yang di ambil sang putri, saat Lily mengatakan akan pergi dengan Egi, kemanapun sang suami pergi mengajaknya.


Tuan Ardes dan Nyonya Tya sadar, setelah menikah, mereka tak lagi mempunyai wewenang untuk mencampuri keputusan yang akan di ambil anak dan menantunya.

__ADS_1


Di negaranya yang baru, Lily meminta izin pada sang suami untuk bekerja di firma hukum. Sesuai dengan jurusan pendidikan yang dia ambil.


Tak ingin di katakan sebagai suami egois dan mengekang kebebasan sang istri, Egi memutuskan untuk memberi izin pada Lily.


Namun dengan syarat, jika Lily bisa membagi waktu antara pekerjaan dan juga tugasnya sebagai istri. Dan Lily menyanggupinya.


Dan satu lagi, Egi meminta Lily untuk berhenti di saat Lily dinyatakan hamil. Sebab, setelah acara wisuda, keduanya tidak lagi menggunakan alat penunda kehamilan. Berharap akan mendapatkan momongan secepatnya.


Belum genap Lily satu tahun, bekerja di firma hukum. Sesuai kesepakatan dengan sang suami. Lily akan mengundurkan diri dan berhenti bekerja saat dirinya dinyatakan hamil.


Dan saat ini, hal itu terjadi. Lily positif hamil.


Egi dan Nyonya Tiwi memperlakukan Lily seperti seorang putri. Meski awalnya Lily merasa tidak nyaman. Namun Lily berusaha untuk menerima perlakuan spesial dan super protektif dari suami dan mertuanya.


Sehingga lambat laun, Lily terbiasa dengan sikap keduanya. Kini, Lily lebih santai dengan sang mertua selalu di sampingnya. Menemani dirinya saat sang suami sedang bekerja.


"Kenapa sayang?" tanya Nyonya Tiwi merasa khawatir, saat Lily menampilkan ekspresi sakit di wajahnya.


"Ma, perut Lily mulas." keluh Lily dengan dahi yang sudah basah karena keringat.


"Mbok,,,,!!!" teriak Nyonya Tiwi.


"Hubungi Egi." lanjut Nyonya Tiwi. Merangkul Lily dan menuntunnya ke depan.


Memang, prediksi dari dokter, Lily akan melahirkan seminggu lagi. Namun, tidak ada yang bisa menghentikan, jika Tuhan menginginkan saat ini Lily akan melahirkan.


Sejak hamil, Lily memang sudah tidak menempati kamar utama di atas bersama Egi. Keduanya langsung memboyong pakaiannya untuk menempati kamar di bawah. Mereka tidak ingin Lily sampai capek. Meski di rumah tersebut ada liftnya.


"Hati-hati sayang." dengan penuh kelembutan, Nyonya Tiwi membimbing Lily masuk ke dalam mobil.


Begitu juga dengan Egi, dia segera meninggalkan rapat begitu mendengar jika sang istri sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk melahirkan.


Egi meninggalkan perusahaannya di sana, dan mengurusi perusahaan yang ada di negara ini. Sementara Egi berada di sini. Benilah yang memikul tanggung jawab untuk kelangsungan perusahaan di sana.


Dan Egi, mempunyai asisten baru lagi untuk menemaninya bekerja di sini. Itupun atas rekomendasi dari Beni.


Di belahan dunia lain, keluarga Lily juga segera berangkat menggunakan besi terbang. Setelah mendengar jika Lily akan melahirkan.

__ADS_1


Sebenarnya, mereka akan mengunjungi Lily lima hari kedepan. Sehingga Nyonya Tya, Tuan Ardes, maupun Lila dapat melihat prosesi persalinan Lily.


Tapi mau bilang apalagi. Jika saat ini, putri dan kakak tercinta sudah waktunya melahirkan. Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Lily dan calon bayinya.


"Dimana mereka??!" tanya Egi dengan nada tinggi pada sang sopir yang menunggunya di depan ruangan bersalin.


"Di dal...." belum selesai dia berucap, Egi nyelonong masuk ke dalam ruangan.


"Di dalam..." gumamnya menyelesaikan perkataannya sembari menggelengkan kepala.


"Sayang.... Ma, biar Egi saja, mama tunggu saja di luar." pinta Egi pada sang mama. Segera Nyonya Tiwi mengangguk. Memberikan kewajiban pada Egi untuk menunggu dan menyaksikan Lily berjuang untuk melahirkan sang buah hatinya.


Oekkkk..... semuanya bernafas lega. Mendengar tangis dari sosok mungil yang baru daja menghirup udara di luar rahim.


Satu jam setelah kedatangan Egi, sang bayi keluar dengan selamat dan lancar tanpa kekurangan apapun.


Begitu juga dengan Lily, dia tampak baik-baik saja. Namun, setelah melahirkan pastinya Lily tampak begitu lelah.


"Maaf, kami terlambat." ucap Nyonya Tya begitu sampai di ruangan Lily. Saat Lily dan Egi duduk di atas ranjang bertiga dengan sang buah hati. Dengan si mungil berada di pangkuan Lily, menyusu dengan pandai.


Dan Nyonya Tiwi berdiri di samping Lily, melihat sang cucu yang sedang menyusu pada sang mama.


Tampak seluruh keluarga berkumpul dengan senyum di bibir mereka. Rasa bahagia menyapa mereka. Dengan kehadiran sosok bayi mungil di tengah dua keluarga besar.


... ARKANA YOGA PRATAMA...


...SELESAI ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Terimakasih pada semua akak,,, yang selama ini selalu setia menunggu up date dari othor..


Terimakasih atas setiap dukungan dari akak...


...TERIMAKASIH & TERIMAKASIH** ...


...ara cahya ...

__ADS_1


... ...


__ADS_2