
"Revan memang pandai dan cerdik. Menempatkan orang-orangnya di sekitar Nona Amanda." sinis Zeo.
Revan menyuruh beberapa orang bekerja di kediaman Tuan Joshua, bekerja sebagai mata dan telinga Revan. Tapi di bayar dari uang Tuan Joshua. Bukankah benar-benar pandai memanfaatkan peluang yang ada.
"Mereka harus segera di singkirkan. Kita mulai dari rumah ini terlebih dahulu." ucap Zeo lirih. Hanya bisa di dengar oleh dua orang di sebelahnya. Zea dan Nanny.
Karena setelah ini keduanya harus membantu Amanda untuk mensterilkan perusahaan Tuan Joshua dari antek-antek Revan. "Apa kita perlu melapor pada Tuan Egi?" tanya Zea lirih.
"Tidak. Biar Nona Amanda yang mengambil keputusan." sergah Zeo.
Nanny hanya diam, mendengarkan pembicaraan mereka. "Nanny, apa di sini ada jalan atau ruang rahasia?" tanya Zea. Terlebih Nanny terlihat begitu menyayangi Amanda. Dan Zea dapat melihat jika beliau sudah mengabdikan diri pada keluarga Tuan Joshua sejak lama.
"Jangan menoleh." perintah Zeo, saat Nanny hendak melihat ke sekeliling mereka.
"Baik." ucap Nanny dengan patuh. Nanny tidak banyak tanya, kenapa dilarang oleh mereka. Tapi beliau yakin jika semuanya demi kebaikan mereka.
"Ada." jawan Nanny pasti.
"Nanti malam, kunci pintu Nanny. Tapi jangan kunci jendelanya." ucap Zea.
"Baik." ucap Nanny, dia paham jika nanti malam keduanya akan datang bertamu ke kamarnya.
Amanda menyuruh Nanny untuk mengumpulkan semua pekerja yang bekerja di rumah Amanda. Tanpa terkecuali. Termasuk tukang kebun.
Semuanya tampak berdiri. Berbaris dengan rapi. Menghadap ke arah Amanda yang duduk dengan anggun di atas kursi single.
Dibelakang Amanda berdiri Zea, Zeo, dan pastinya Nanny. "Katakan pada mereka." perintah Amanda tegas.
Zea maju beberapa langkah ke depan. Memberikan pengumuman, jika akan ada pemberhentian beberapa pelayan di rumah ini.
Semua pelayan saling memandang satu sama lain. Mereka juga sedikit kebingungan. "Maaf Nona, apa kami punya salah?" tanya pelayan memberanikan diri.
"Punya salah atau tidak. Kalian sendiri yang tahu. Kenapa mesti bertanya pada saya. Apa kalian pikir rumah ini panti sosial. Yang mempekerjakan orang. Tidur dan makan, serta di bayar dari uang kami. Tapi mata dan telinga kalian, malah kalian pergunakan untuk kepentingan orang lain." sindir Amanda dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Lanjutkan Zea." perintah Amanda.
Mata Zea menyapu semua pekerja yang berdiri di depannya dengan tatapan remeh. "Akan saya bacakan. Siapa saja yang akan berhenti. Dengan arti kata, kelian dipecat dengan tidak hormat. Tanpa pesangon." jelas Zea, mulai membacakan tulisan di lembar kertas yang dia pegang.
Zea membacakan, nama siapa saja yang di berhentikan bekerja di rumah Tuan Joshua. Dan jumlahnya tidak main-main. Lebih dari setengah lebih pekerja yang bekerja di rumah Amanda, merupakan anak buah dan mata-mata Revan.
Bahkan mereka juga ada yang sudah bertahun-tahun bekerja di sini. "Saya tidak terima. Saya bekerja di sini sudah lebih dari lima tahun. Kenapa Nona memberhentikan saya." ucapnya.
Zeo maju satu langkah. Kini dirinya tepat berada di samping Amanda. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Entah apa yang ada di dalam sakunya. Tapi yang jelas, Zeo tampak waspada.
"Kenapa? Apa kamu pikir saya tidak tahu. Saya selama ini diam, hanya ingin kalian menyadarinya. Tapi ternyata percuma." cibir Amanda.
"Berapa uang yang kamu terima dari Revan?" tanya Amanda santai.
"Jawabbb!!?" bentak Amanda.
"Kamu bilang sudah lima tahun lebih bekerja di rumah saya. Lantas kenapa, saat Revan memberi kamu uang, kamu malah dengan suka cita menerimanya." cerca Amanda. Membuat semua pekerja di rumah Tuan Joshua menunduk.
"Jangan menguji batas kesabaran kami. Silahkan, untuk yang di sebutkan namanya. Segera berkemas, dan tinggalkan rumah ini. Sekarang juga." seru Zeo.
"Cih,,, kalian." ucap salah satu anak buah Revan yang bekerja sebagai satpam. Dia melihat ke arah beberapa rekannya. Dan tersenyum penuh arti.
"Nanny, ajak Nona Amanda sedikit menjauh." pinta Zeo. Segera Amanda bangun dari duduknya. Berjalan bersama Nanny, beberapa langkah ke belakang.
Benar dugaan Zeo, pengkhianat yang berjenis kelamin laki-laki menyerangnya. Tapi yang perempuan hanya menyingkir saja sembari melihat ke arah mereka bertarung.
Tak ingin membuang banyak waktu, Zea dan Zeo dengan mudah mengalahkan mereka semua. "Kalian, bukan tandingan kami." desis Zea, menginjak telapak tangan lawan. Membuatnya berteriak kesakitan.
Bugghhh,,,, Zeo menendang salah satu perut mereka. Hingga badannya sedikit terseret ke belakang. "Pergi, jika kalian masih ingin melihat matahari terbit besok." ancam Zeo menyeringai.
"Kalian, pastikan para pengkhianat ini benar-benar meninggalkan rumah Nona Amanda." perintah Zeo.
"Baik." ucap para pekerja lainnya yang masih setia.
__ADS_1
Amanda dan Nanny saling melempar pandang sebentar. Melihat bagaimana Zea dan Zeo dengan mudahnya mengalahkan mereka semua.
"Orangnya Tuan Egi memang juara." bisik Nanny di telinga Amanda.
Masalah di rumah Amanda pasti akan membuat Revan murka. Dan setelah ini, Amanda mengajak Zea dan Zeo pergi ke perusahaan.
Di perusahaan, Revan panik serta kesal. Mendapat laporan dari anak buahnya di kediaman Tuan Joshua.
Jika semua anak buahnya, sudah di singkirkan dan di berhentikan, atau kata lain di pecat dari rumah Amanda. "Dari mana Amanda mendapat keberanian sebesar itu." geram Revan.
"Sial, aku harus menggunakan apa untuk menekannya." Revan memikirkan sesuatu. Terlebih dia tidak bisa menggunakan kedua orang tua Amanda.
Karena memang sampai detik ini, Bob dan bawahannya bahkan belum bisa menemukan keberadaan mereka. "Bob. Kenapa kamu dan anak buahmu sangat tidak becus." kesal Revan.
Revan mulai sedikit was-was. "Zea dan Zeo, siapa sebenarnya mereka." ucap Revan dalam hati.
Egi meninggalkan perusahaan lebih cepat. "Kamu selesaikan sendiri pekerjaanku yang belum selesai." ucap Egi pada Beni, lalu dengan santi melenggang pergi meninggalkan perusahaan.
"Kenapa dengan Tuan Egi. Ada yang berbeda. Tampak lebih, menyenangkan saat di pandang mata." ucap Selly, sekertaris Egi.
Karena biasanya Egi akan menampilkan ekspresi datar. Dan seharian ini, Egi menampilkan ekspresi ramah dan senang. Bahkan, pertama kalinya, selama bekerja. Selly tidak di bentak.
Padahal tadi Selly melakukan sedikit kesalahan dalam pengetikan. Egi hanya menegurnya dan menunjukkan bagian yang salah untuk di perbaiki.
"Efek lope lope." ujar Beni pergi ke ruangannya sendiri. Selly hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sambil menampilkan ekspresi bingung.
"Lope lope." gumam Selly, seketika Selly tersenyum simpul. "Pasti Nona Lily." tebak Selly, karena beberapa kali Lily mengunjungi Egi di perusahaan.
Egi sekarang sudah berada di depan tempat Lily. Menunggu Lily di dalam mobil. Karena Egi sempat menghubungi pelatih yang melatih Lily. Bahwa Lily masih berada di tempat latihan.
Secara tidak sengaja, Egi melihat sosok yang sangat di kenalnya. Jika tadi Egi mendapat laporan dari anak buahnya, ada seseorang yang mengintai Lily.
Sekarang Egi melihatnya sendiri. "Ternyata benar dugaanku." gumam Egi tersenyum samar.
__ADS_1