PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 61


__ADS_3

"Bisa minggir." ucap Lila, ketika langkah kakinya terhenti. Lantaran di depannya berdiri beberapa pria yang sedang berkerumun sembari berbincang memenuhi jalan. Sehingga mahasiswa lain akan kesulitan untuk melaluinya.


Teguran dari Lila seperti angin lalu untuk mereka.


"Ckk." Lila berdecak sebal. "Maaf, bisakah saya lewat?" Lila menaikkan nada suaranya. Sementara di belakang Lila juga ada beberapa mahasiswa yang hendak lewat, tapi tertahan oleh mereka.


Seketika suara yang keluar dari mulut mereka terhenti. Dibarengi dengan kepala yang menoleh untuk menatap ke arah suara, yaitu Lila.


Bukannya minggir atau memberi jalan, mereka malah sok berkuasa. "Pengganggu. Cari jalan lain." ucapnya dengan ketus, salah satu dari mereka dengan suara seperti membentak, meski tidak keras.


Cari jalan lain. Berputar. Tidak mungkin. Dapat dipastikan Lila dan yang lainnya akan terlambat masuk ke dalam kelas. Lantaran akan menempuh jalan berputar yang lumayan jauh.


Habis sudah kesabaran Lila. "Astaga,,," geram Lila. "Kalian pikir ini jalan nenek moyang kalian." sungut Lila. Yang malah membuat mereka kesal.


Beberapa lelaki hanya diam dan memandang remeh ke arah Lila. Sementara satu diantaranya berdiri di depan Lila. Beradu mulut dengan Lila.


"Astaga..." ucapnya menirukan perkataan Lila, dengan nada dan mimik muka seolah meniru Lila.


"Kamu perempuan. Jadi jangan sok jagoan." gertaknya. Dengan tangan mendorong bahu Lila. Membuat tubuh Lila mundur selangkah ke belakang. Tapi Lila tidak sampai terjatuh, lantaran temannya berada di belakang tubuh Lila.


Lila memang terkenal sebagai mahasiswi yang anggun dan lembut. Berbeda dengan Lily. Dia di kenal sebagai mahasiswa dingin dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


Tapi, meskipun begitu, Lila juga tidak mudah di tindas atau di buli. Lila menyapukan telapak tangannya di bahu yang di dorong oleh lelaki tadi. Seperti ada kotoran di bahunya.


Lila memandang tajam ke arahnya. "Lila sudah, kita pergi saja." ajak temannya sesama mahasiswa yang berdiri di belakang Lila. "Ayo." ucapnya lirih, di samping telinga Lila. Memegang lengan Lila dari belakang.


"Kalian duluan saja." ucap Lila tanpa mengalihkan pandangannya dari lelaki tersebut.


Lila melepaskan cekalan tangan temannya. "Kalian pikir, kalian hebat." ucap Lila melangkah ke depan.


Terdengar suara tepuk tangan dari mereka serempak. "Waooowww...." ucapnya.


Lelaki yang sedari tadi menonton, kini menggerakkan badannya. Melangkahkan kakinya untuk berdiri di samping temannya yang berdiri di depan Lila.


Memandang Lila dari ujung kaki hingga pucuk kepalanya dengan tatapan yang sulit di tebak. "Kita pergi saja." bisik teman Lila yang berada di belakang Lila.


Tak ada rasa takut atau gemetar di tubuh Lila. Meskipun dia sekarang berdiri sendiri. Salah satu dari mereka mendekat ke arah Lila dengan ekspresi wajah marah dan tak bersahabat.


Salah satu dari mereka mencengkeram dagu Lila dengan tiba-tiba. "Haa.. haa..." dia tertawa terbahak-bahak saat Lila mendorong tubuhnya sembari sebelah tangannya melepaskan cengkeraman tangan di dagunya.


"Lemah." ejek sang lelaki. Semua rekannya tampak tertawa puas. Menikmati pemandangan di depan mereka. Yakni saat satu temannya mempermainkan Lila.


"Aaa...!!" teriak Lila, ketika tangannya di pelintir dan di bekuk ke belakang.

__ADS_1


Wajah Lila memasang ekspresi meringis kesakitan. Beberapa mahasiswa yang berjalan di sekitar Lila hanya lewat begitu saja.


Kerena memang, sekelompok mahasiswa lelaki tersebut terkenal akan kebadungannya dan juga kenakalannya.


Seolah dia tidak melihat Lila sedang di buli. "Lepas..." teriak Lila berontak.


Tidak kehabisan cara, Lila menginjak telapak kaki sang lelaki menggunakan tumitnya. Injakan dari kaki Lila yang bertenaga membuatnya melepaskan cengkeraman tangannya dai tangan Lila.


Segera Lila membalikkan badan dan.... plaaakkk..... menampar dengan keras pipi lelaki tersebut.


"Waoooowww...." seru dan sorak di sertai tawa rekan-rekan lelaki tersebut melihat salah satu teman mereka di tampar oleh Lila.


Dan pastinya mereka tertawa karena rekannya di permalukan oleh Lila. Merasa tidak terima karena di permalukan, lelaki tersebut hendak menampar balik Lila.


Tapi sayangnya, tangannya yang sudah terangkat di udara di hentikan oleh seseorang. Lila menoleh ke orang yang sudah menghentikan pergerakan lelaki tersebut.


Lila tertegun, melihat sosok yang membantunya. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika Vincen menolongnya. Di saat tidak ada orang yang menolongnya. "Kamu." geram lelaki tersebut. Mencoba melepaskan cekalan tangan Vincen.


"Lepas brengsek. Atau kamu akan menyesal." hardiknya, melirik ke arah rekan-rekannya. Dan Vincen tahu arti isyarat darinya.


Yakni jika dirinya bersama dengan temannya dengan jumlah lebih dari dua. Sementara Vincen hanya sendirian.

__ADS_1


Sementara Lila masih tertegun, degup jantungnya kembali berdetak kencang. Berada di dekat Vincen dengan jarak sedekat ini.


"Oke Lila,,, tenangkan dirimu. Jangan sampai Vincen menyadarinya." ucap Lila dalam hati.


__ADS_2