
Lily masuk ke dalam kamar begitu Egi meninggalkan rumahnya. Di dalam benaknya, masih terfikir tentang kejadian yang menimpanya. "Ternyata korbannya bukan hanya aku saja." gumam Lily.
"Lelaki itu sangat berbahaya. Benar kata Egi, dia harus segera di masukkan ke dalam penjara. Sebelum banyak nyawa yang akan menjadi mainannya." Lily memutuskan akan maju melawan Nando bersama para korban lain.
Lily tersenyum. Mengingat bagaimana Egi menolongnya. "Egi, semoga kita memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidup." ucap Lily memohon pada Tuhan.
Lily beranjak dari duduknya. Mengambil sebuah gaun sederhana milik sang adik yang memang sengaja Lila taruh di atas ranjang sang kakak.
"Benar kata Lila. Aku harus merubah penampilanku. Di luar sana, banyak perempuan yang berlomba ingin mendekati Egi. Dan aku, tidak akan membiarkannya."
Lily masuk ke kamar ganti dan mengganti pakaiannya. "Cantik." kata yang keluar dari bibir Lily, saat dirinya bercermin. Memandang dirinya sendiri yang tengah memakai gaun sederhana tersebut.
Lily mengulum bibirnya. "Aku harus minta tolong Lila, cara belajar merias wajah. Tapi tipis saja." ucap Lily, yang memang wajahnya tidak pernah terkena make-up.
Lily bertekad akan berubah demi hubungannya dengan Egi. Dia ingin memantaskan diri, saat berdiri dan bersanding di samping Egi.
Katena jika dilihat dari keluarga, tentu saja papa Lily, Tuan Ardes juga bukan pengusaha sembarangan. Seandainya Lily dan Egi menikah, keduanya berasal dari kalangan yang sama.
Hanya saja, Lily ingin memantaskan diri dalam segi penampilan. Terlebih, pasti Egi akan sering mengajaknya untuk keluar.
Sekedar makan di restoran, bertemu klien, atau bahkan menghadiri acara bisnis lainnya.
Lily juga harus bisa tampil menyesuaikan dengan mama Egi. Nyonya Tiwi. Karena beliau adalah desainer hebat, dan Lily juga tidak ingin mempermalukan calon mertuanya.
"Benar kata Lila dan mama. Aku harus membiasakan diri. Di mulai dari dalam rumah. Dan, di mulai saat ini juga." gumam Lily tersenyum malu-malu. Meski dia saat ini seorang diri.
"Ada yang kurang." Lily memindai penampilannya dari atas hingga bawah.
__ADS_1
Lily menepuk pelan dahinya. Melihat jika di kakinya masih terpasang sepatu. Bukan high hell. "Tapi aku belum terlalu mahir menggunakan high hell. Apalagi yang tinggi." Lily cemberut menatap ke bawah.
Seketika Lily teringat, jika dirinya mempunyai high hell dengan tinggi yang pendek. Segera Lily mengambilnya, mengganti sepatunya menggunakan high hell tersebut.
Senyum Lily merekah. "Sempurna." gumam Lily. "Jika dengan tinggi seperti ini, aku masih bisa berjalan." lanjut Lily.
Lily memegang kedua pipinya. Ingin sekali dia berselfie dan mengirimkannya pada Egi. Tapi Lily menahannya, dia ingin memberikan kejutan untuk sang kekasih.
"Semoga Egi suka dengan perubahan ku ini." ucapnya berharap.
Lily berjalan keluar dari dalam kamar ganti dengan langkah anggun. Lily mengeluarkan laptop dan mulai mencari apa yang di inginkan.
"Nando Ebara." Lily mengetikkan nama tersebut di pusat pencarian. Dengan segera, terdapat sejumlah penjelasan siapa Nando Ebara.
"Ternyata." sinis Lily. "Pantas, dia dengan mudah dapat meloloskan diri. Ternyata karena kekuasaan dari papanya." lanjut Lily.
Lily masih ingat, saat di kampus ada segerombolan mahasiswa yang membicarakan temannya yang bunuh diri. "Apa mahasiswi tersebut juga korban dari Nando." ucap Lily menebak.
Lily mencoba mengingat setiap perkataan dari sekelompok mahasiswa. "Bukan. Bukan Nando. Tapi,,,," Lily tersenyum penuh arti.
"Mauren, aku harus meminta tolong padanya." tanpa mengganti pakaian, Lily mengambil kunci mobil. Meninggalkan rumah dan pergi menemui Mauren.
"Nona Lily." gumam anak buah Egi, yang di susupkan Egi ke dalam rumah Tuan Ardes. Bekerja sebagai tukang kebun.
Segera dia pergi ke belakang. Menghubungi rekannya yang berada di jalan, untuk mengikuti Lily. Tapi dia juga menghubungi Egi. Lantaran dia merasa penampilan Lily sangat berbeda. "Beres." ucapnya, kembali bekerja.
"Mauren ada?" tanya Lily pada pembantu di rumah Mauren.
__ADS_1
"Nona Lily. Astaga,, cantik sekali." puji pembantu tersebut.
"Hah..." Lily melongo, seketika Lily sadar jika dirinya belum berganti pakaian. "Terimakasih." ucap Lily.
Ingin sekali Lily berganti pakaian. Namun dia berpikir tidak perlu. Toh, yang akan melihat hanya Mauren. Bukan orang lain. "Mungkin Mauren bisa memberi masukan atas penampilanku." ucap Lily dalam hati.
"Mauren ada?" tanya Lily lagi.
"Ada Non, di atas. Bersama...."
"Oke, terimakasih." belum selesai dia menjawab, Lily sudah memotong perkataannya dan berlari menaiki anak tangga.
"Bersama Tuan Vincen." imbuhnya lirih, melihat Lily yang sudah berada di tengah-tengah tangga.
"Mauren....!!" seru Lily tersenyum, memanggil Mauren dengan nada bahagia. Dirinya mengira jika Mauren sedang sendiri. Ternyata di depan Mauren ada Vincen.
Mendengar suara dari Lily, membuat Mauren dan Vincen menoleh ke sumber suara. Keduanya melongo melihat penampilan Lily yang dangat anggun dan cantik.
Bahkan, tanpa sadar Vincen berdiri dan tersenyum senang. Tapi tidak dengan Lily, senyum yang merekah di bibirnya seketika lenyap entah kemana.
Ada rasa menyesal di hati Lily, karena dirinya begitu ceroboh. Padahal Lily berniat memperlihatkan pertama kali perubahannya pada Egi, sebagai orang yang di cintanya.
"Lily..!!!" seru Mauren dengan senang.endekat ke arah sahabatnya. Mauren juga tampak kaget dengan perubahan sahabatnya tersebut.
Mauren memegang kedua pundak Lily. "Kamu cantik banget." ucap Mauren menatap wajah Lily.
Lily tersenyum malu. "Terimakasih." ucap Lily.
__ADS_1
"Khemm..." dehem Vincen, mendekat ke arah Lily dan Mauren.