
Lily menyuruh Egi untuk membantu Amanda. Lily merasa jika Amanda pasti tidak bisa menangani masalah ini sendirian. Meskipun di sampingnya ada Zea dan juga Zeo. "Apa tidak sebaiknya kamu ke sana." ujar Lily pada Egi.
"Ada apa?" tanya Lily, saat Egi menatapnya dengan tatapan aneh.
Lily mengelus lembut pipi Egi. "Hey, ada apa?" tanya Lily mengulangi kalimatnya lagi.
Egi menggenggam telapak tangan Lily, menciumnya dengan lembut. "Kamu tidak cemburu?" tanya Egi.
Lily tersenyum manis. Menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Karena kamu sudah jujur. Dan aku mengetahui siapa Amanda. Dan karena apa kamu berdekatan dengan dia." jelas Lily membuat Egi terkesima.
"Aku percaya, kamu tidak akan meninggalkan aku. Ya, meskipun aku tak secantik Amanda." ucap Lily lirih.
Egi menjawil hidung Lily. "Siapa bilang." ucap Egi, membuat Lily cemberut. Menutupi bibirnya yang tersenyum.
"Kami perempuan tercantik. Apalagi,,,," Egi menggantungkan kalimatnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Segera Lily menutup mulut Egi menggunakan telapak tangannya sambil melotot. Sepertinya Lily mengetahui, apa yang akan dikatakan oleh Egi.
Egi membawa tangan Lily ke bawah. "Kamu ikut?" tanya Egi penuh harap.
Lily menggelengkan kepalanya. Lily merasa jika keberadaannya mungkin malah akan memperlambat gerak dan juga tindakan Egi.
Karena Egi harus menjaga dirinya juga. "Sebaiknya kamu segera berangkat. Kasihan Amanda, dia sendirian di sana."
__ADS_1
"Ada Zea dan Zeo." tukas Egi tenang.
"Heeehhhhh." Lily menghembuskan nafas panjang. "Apa mereka bisa mengatasinya?" tanya Lily khawatir.
Mengingat jika Zea dan Zeo hanyalah bawahan Egi yang belum mempunyai nama. Dan pastinya karyawan Amanda tidak akan takut berhadapan dengan keduanya.
Berbeda dengan Egi. Karena dapat dipastikan, jika semua mengenal siapa sosok dari seorang Egi. "Itu berarti, aku harus keluar dari sarang." ucap Egi pelan.
Lily mengerti kemana arah pembicaraan Egi. "Tidak apa. Kamukan berniat baik. Yakni menolong orang. Jadi jangan setengah-setengah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lila masih tertegun, degup jantungnya kembali berdetak kencang. Berada di dekat Vincen dengan jarak sedekat ini.
"Aaaa...." teriak lelaki yang mengganggu Lila, saat tangannya di pelintir oleh Vincen. ""
Semua temannya melihat ke arah Vincen dengan tatapan waspada. Saat salah satu dari mereka hendak membantu temannya yang di pelintir oleh Vincen, lelaki yang berada di belakangnya. Yang juga rekannya menghentikannya sambil berbisik.
Seketika dia melihat ke arah Vincen dengan tatapan geram tertahan. Seperti tidak bisa meluapkan amarahnya pada Vincen.
"Lepaskan dia, kami akan pergi." ucapnya dengan tenang, seolah dirinya tahu siapa sosok Vincen. Yang teman-temannya tidak ketahui.
Dengan meringis, menahan sakit temannya yang saat ini dalam genggaman Vincen menatap dengan tidak percaya. Karena sebelumnya, dia tidak pernah berkata seperti itu. Atau menyerah.
__ADS_1
Pasti dia akan menghajar siapapun yang menyerang atau menghina salah satu dari mereka. Vincen tersenyum remeh. Mendorong lelaki yang di pelintir tangannya ke belakang dengan kuat.
Beruntung, teman-temannya yang berada di belakang segera menangkap tubuhnya. "Sudah. Sebaiknya kita pergi. Nanti aku jelaskan." ucapnya, saat lelaki tersebut ingin membalas Vincen karena memelintir tangannya hingga sakit.
Mereka pergi dengan tatapan permusuhan. Dapat di pastikan, mata mereka memandang penuh dendam pada Vincen dan Lila.
"Heyy..." ucap Lila saat hendak pergi melangkah meninggalkan Vincen.
Lila melepaskan tangannya yang di cekal oleh Vincen. "Apa. Heh,,," ucap Lila dengan kedua mata melotot.
"Ingat, saya tidak meminta bantuan. Jadi, jangan harap saya mengucapkan terimakasih." ucap Lila dengan angkuh.
Padahal sejatinya jantung Lila berdetak tidak normal. Tapi dengan sikap angkuh dia menutupi semuanya.
Vincen tersenyum remeh. "Sayangnya aku memang orang yang bermurah hati." sindir Vincen.
Lila memandang dengan tatapan kesal. Dirinya sadar jika perkataan Vincen di tujukan untuk dirinya. Segera Lila melangkah meninggalkan Vincen.
"Jangan menengok ke belakang Lila, jangan." ucap Lila pelan. Karena sebenarnya Lila ingin sekali menengok ke belakang.
Berbeda dengan Lila, Vincen pergi tanpa menghiraukan Lila. Karena baginya, Vincen menolong Lila karena Lily.
Vincen masih menyimpan rasa untuk Lily. Dan sampai saat ini, dirinya masih menginginkan Lily.
__ADS_1
Sampai di kelas, Lila langsung mendudukkan pantatnya di kursi. Segera teman-temannya, datang menghampiri