PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 67


__ADS_3

Lily, Mauren, dan Vincen duduk bersama di salah satu ruangan rumah Mauren. Vincen terus menatap Lily dengan tatapan yang memperlihatkan rasa terpesona akan tampilan baru dari Lily.


Tidak dengan Lily, dia merasa risih dengan tatapan dari Vincen. "Huffttt,,," Lily menghembuskan nafas panjang.


Niat hati mendatangi rumah Mauren karena ingin mencari tahu mahasiswa yang berurusan dengan Tuan Ebara. Malah terjebak dalam situasi yang tidak di inginkan.


Mauren tersenyum menatap ke arah Lily. Tampak raut wajah senang Mauren perlihatkan karena perubahan dari Lily. "Pasti karena Egi." tebak Mauren.


Kalimat dari Mauren membuat senyum di bibir Vincen memudar seketika. Dan Lily tersenyum samar sambil mengangguk pelan.


"Benarkan..." ucap Mauren mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal.


"Eh,,, iya. Ada apa. Tumben datang tidak memberitahu." ujar Mauren, lantaran memang hari ini keduanya tidak ada kelas kuliah.


"Apa lebih baik aku pulang saja. Percuma juga di sini." ucap Lily dalam hati.


"Lily...!!" panggil Mauren menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Lily, karena Lily malah bengong melihat ke arahnya.


"Eh, tidak. Emm,,, maksudnya tidak ada apa-apa." ucap Lily.


Sayangnya Mauren tidak percaya. Pasti Lily ingin mengatakan atau menceritakan sesuatu padanya. Mauren melirik ke arah Vincen. "Pasti karena ada Vincen di sini." tebak Mauren, sehingga Lily hanya diam.


Tampak dengan jelas wajah bad mood Lily. Dan Mauren merasakan dan mengetahuinya. "Ckk,,, kenapa Vincen nggak peka bangat sih." gerutu Mauren dalan hati.


"Khemm,,, Vincen, kamu...." ucap Mauren, tapi perkataannya terhenti. Karena terpotong dengan kalimat yang Vincen keluarkan dari dalam mulutnya.


"Bagaimana kalau kita makan di luar?" tanya Vincen, tapi lebih pada kalimat ajakan. Dengan pandangan mata menatap ke arah Lily.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak bisa." tolak Lily langsung.


"Mauren, sepertinya saya harus pergi. Maaf, menganggu waktu kalian." dengan segera Lily berjalan menuruni anak tangga.


"Lily..!!!!" panggil Mauren pada Lily. Dia tahu, jika Lily pasti sedang kesal bercampur sebal karena keberadaan Vincen.


"Lagi pula, kenapa aku harus kesal. Mauren dan Vincen kan memang bersaudara. Pastinya Vincen lebih sering di sini." gumam Lily sambil berjalan.


"Huhh,,, Lebih baik, ke depannya aku buat janji bertemu Mauren di luar saja. Atau di rumahku." ucap Lily lirih.


Malas sekali rasanya Lily harus bertemu dan bertatap muka dengan Vincen. "Menyebalkan. Semua rencana yang sudah aku buat hancur gara-gara dia." dumal Lily.


Saat ini Lily sudah berada di teras rumah Mauren. Tanpa Lily sadari, sepasang mata mengawasi Lily dari dalam mobil tepat di depan pagar gerbang rumah Mauren.


Egi melihat dengan jelas, keberadaan Lily saat ini. Egi membuka kaca jendelanya. Membuatnya lebih leluasa melihat ke arah sang kekasih.


Tapi Egi hanya diam tidak menjawab. Dengan pandangan mata tajam mengarah kepada Lily yang berjalan menghampiri mobil milik Lily sendiri.


"Lily...!!" teriak Vincen memanggil Lily. Setelah melewati pintu utama rumah Mauren. Di susul oleh Mauren di belakang Vincen.


Entah apa yang sedang di bicarakan oleh Lily dan Vincen. Egi maupun Beni tidak mengetahuinya. Tapi yang jelas, Egi melihat jika tangan Vincen memegang lengan dari Lily yang hendak membuka pintu mobil.


"Jalan." perintah Egi pada Beni, dengan perlahan kaca jendela mobil Egi mulai tertutup. Tapi sebelum tertutup sempurna, Mauren melihat sosok Egi duduk di dalamnya.


"Egi." gumam Mauren, terdengar jelas di telinga Lily.


Segera Lily melepaskan dengan kasar tangan Vincen yang berada di lengannya. Lily mengikuti ke mana arah mata Mauren memandang.

__ADS_1


Lily membulatkan mulutnya. Dia hapal betul jika memang itu adalah mobil sang kekasih. Segera Lily mendorong tubuh Vincen yang menghalangi jalannya. "Minggir...!!! bentak Lily dengan pandangan menghunus pada Vincen.


"Biar aku temani." tawar Mauren, yang pastinya tahu ke mana sahabatnya akan melajukan mobilnya.


"Tidak perlu." ucap Lily sambil masuk ke dalam mobil.


"Semoga Lily baik-baik saja. Semoga hubungan keduanya juga baik." ucap Mauren lirih, Mauren sangat tahu bagaimana sahabatnya tersebut sangat mencintai Egi.


Vincen masih berdiri di pekarangan rumah Mauren, sementara si empunya sudah masuk ke dalam rumah.


Mata Lily mencari keberadaan mobil Egi sambil menyetir. "Di mana Egi?" tanya Lily pada diri sendiri.


"Kenapa tadi Egi ada di sana? Kenapa tadi kamu harus pergi." ucap Lily dalam rasa khawatir.


Lily yakin jika Egi melihat penampilannya saat ini. Terlebih tadi di sana ada Vincen. "Lengkap sudah." keluh Lily, tetap fokus menyetir.


"Pasti Egi mengira jika aku berdandan cantik untuk Vincen. Aaa.... Lily. Kamu ceroboh!!" teriaknya frustasi.


"Ehhh,, Ehhh... Kenapa ini?" tanyanya pada diri sendiri. Tiba-tiba mobilnya berhenti sendiri. Beruntung tidak tepat di tengah jalan. Sehingga mobil Lily tidak menghalangi pengguna jalan lain.


Lily mencoba memutar-mutar kunci mobilnya fan menyalakan kembali. Namun nihil. Mesin mobil Lily tetap tidak berbunyi sedikitpun. "Lengkap sudah penderitaan kamu Lily." seru Lily tertahan.


Lily keluar dari dalam mobil. Menendang badan mobil bagian samping untuk meluapkan emosinya. "Kenapa mesti mogok sih kamu. Apa kamu tidak tahu, sekarang keadaannya sedang darurat." kesal Lily, memaki si mobil yang tidak tahu apa-apa.


Lily duduk di pinggi jalan. Mengeluarkan ponsel dan memanggil bengkel langganannya. "Baik pak. Kunci mobil akan tetap saya taruh di dalam. Saya tinggal. Karena saya ada kepentingan." ucap Lily memberitahu pihak bengkel.


"Aku harus segera ke apartemen Egi. Jik tidak ada, aku akan pergi ke perusahaannya." tutur Lily.

__ADS_1


Lily memilih tidak menghubungi Egi. Karena Lily berpikir, pasti Egi tidak akan mengangkat panggilan telepon darinya. "Semoga Egi percaya dengan ku." harap Lily


__ADS_2