PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 59


__ADS_3

Tanpa mengetuk pintu dan tanpa permisi, Revan masuk nylonong ke dalam ruangan Amanda seperti biasanya.


"Apa-apaan ini..!!!" hardik Revan pada Amanda. Membanting sebuah map berisi berkas-berkas tepat di atas meja kerja Amanda.


Map tersebut berisi pembatalan atau lebih tepatnya pemutusan kerja sama perusahaan Amanda dengan beberapa perusahaan.


Revan sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Dia mengetahui saat dirinya bertanya pada salah satu perusahaan. Karena sebentar lagi adalah jari pertemuan mereka.


Tampak sinar kemarahan di kedua bola matanya. Bahkan, wajahnya terlihat merah menahan amarah. Amanda menatap Revan dengan tatapan santai.


Seolah jika sekarang, Revan bukanlah sosok yang perlu ditakuti. Terlebih ada Zea di sampingnya. Dan juga kedua orang tua Amanda sudah berada di bawah pengawasan Egi.


Membuat Amanda bertindak dengan pikiran dan kemauannya. Tidak perlu memikirkan jika Revan marah padanya. Tidak perlu ketakutan akan terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya.


Di samping Amanda, berdiri Zea dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sementara Zeo, sudah beberapa hari tidak berada di sekitar Amanda.


Zeo melakukan perintah yang sudah Amanda berikan padanya. Dan pastinya untuk memuluskan rencana Amanda mengambil alih beberapa properti yang di ambil Revan tanpa meminta izin padanya.


"Berbicaralah dengan sopan. Aku bisa memecat kamu sekarang juga. Ingat posisimu." ucap Amanda tegas dengan nada santai. Memberi tahu batasan Revan yang selama ini sudah di laluinya tanpa melihat aturan.


Rahang Revan gemeletuk mendengar perkataan Amanda padanya. Yang menurut Revan adalah suatu ancaman untuk Revan. "Kamu." geram Revan, menatap Amanda dengan tatapan menyalang.


"Iya, aku adalah pemilik perusahaan ini. Dan kamu hanya pekerja yang selalu aku gaji setiap bulannya. So, jadilah seperti anjing. Yang tahu bagaimana bersikap pada majikannya." olok Amanda pada Revan dengan bibir tersenyum sinis.


Nafas Revan seperti hendak melesat. Ada rasa tidak terima di hatinya saat Amanda mengucapkan kalimat tersebut.


"Dari mana dia mendapatkan keberanian seperti ini?" tanya Revan dalam hati.


"Tidak. Tidak bisa. Aku harus segera menghentikan Amanda sebelum semua rencana yang sudah ku susun hancur." imbuh Revan dalam hati.


"Aaaa...." teriak Revan, saat dirinya hendak melangkah maju, menyerang Amanda yang sedang duduk santai di kursi kebesarannya.


Sebelum tangannya sampai ke tubuh Amanda, Zea telah bergerak dengan gesit. Membekuk tubuh Revan. Memelintir tangan Revan di belakang tubuhnya.


Revan meringis kesakitan. Sungguh dirinya tidak menyangka jika perempuan di samping Amanda mempunyai kemampuan seperti ini.

__ADS_1


Amanda hanya diam dan menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Zea. "Jaga kelakuanmu." desis Zea, mendorong kasar tubuh Revan. Membuat tubuh Revan tersungkur di atas lantai.


Segera Revan berdiri. Menggerakkan tangannya yang terasa sakit karena ulah Zea. Revan menatap rajam ke arah Zea. "Lihat saja. Kamu akan menyesal telah melakukan ini padaku." ancam Revan memandang penuh dendam pada Amanda.


"Siapa yang sudah membuat Amanda menjadi seperti sekarang." kesal Revan, sambil berjalan di lorong perusahaan.


"Zea. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Amanda dengan nada lirih. Amanda yakin, jika Revan pasti akan melakukan sesuatu setelah ini.


"Hubungi Tuan Egi, Nona." saran Zea dengan segera. Zea sendiri tidak bisa menyarankan apapun selain saran tersebut. Karena Zea juga tidak begitu tahu mengenai perusahaan.


Berbeda dengan Zeo. Karena Zeo terbiasa melakukan urusan perusahaan bersama dengan Beni. Asisten Egi.


"Benar." ucap Amanda.


Segera Amanda menelpon Egi dengan perasan khawatir dan takut bercampur cemas. "Halo, Egi...." Amanda menceritakan semuanya pada Egi.


Termasuk saat Revan murka dan marah padanya. Karena memutuskan kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan.


Karena menurut Amanda, bukan keuntungan untuk perusahan yang di terima dari kerjasama tersebut. Lantaran Revan memindahkan beberapa persen uang hasil kerjasama tersebut masuk ke dalam rekening pribadinya.


Di surat perjanjian, tidak ada pembayaran pinalti saat salah saru pihak ingin memutuskan kerja sama tersebut. Amanda juga sempat merasa heran. Tapi Amanda akhirnya mengerti. Kenapa tidak ada poin seperti itu pada surat perjanjian tersebut.


Pastinya semuanya untuk kepentingan pribadi Revan. Sungguh, Revan simbol ulat berkepala dua.


Selesai menceritakan permasalahannya pada Egi. Kini giliran Amanda terdiam. Mendengarkan semua perintah, atau apa yang harus di lakukan Amanda.


"Baik. Terimakasih." Amanda menutup panggilan teleponnya.


"Bagaiman Nona?" tanya Zea.


Amanda menatap Zea dengan tatapan serius. "Setelah ini, Egi memperkirakan bakal terjadi hal besar. Dan kamu harus bersiap. Panggil Zeo sekarang juga untuk datang ke sini." jelas Amanda.


"Baik." Zea segera mengeluarkan ponselnya. Menghubungi Zeo dan menceritakan pada Zeo semuanya.


"Egi sudah menyuruh beberapa bawahannya untuk menuju ke sini." ucap Amanda.

__ADS_1


Zea tersenyum lega. "Syukurlah. Nona, jika nanti kondisi tidak kondusif. Sebaiknya anda meninggalkan perusahaan." ucap Zea.


Bukannya Zeo dan Zea tidak bisa menangani mereka. Hanya saja, Zea takut nyawa Amanda terancam. Karena pasti Revan sudah merencanakan semuanya dengan matang.


"Tidak bisa." ucap Amanda dengan cepat.


Zea mengernyitkan keningnya. "Egi berkata, apapun yang akan terjadi. Aku harus tetap berada di sini. Dan yang lebih penting. Egi menyuruhku untuk menunjukkan taring ku sekarang." ucap Amanda.


Tampak Amanda terlihat ragu. Dirinya bukan pengusaha. Dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Dan juga tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.


"Tapi Nona." Zea hanya khawatir pada keselamatan Amanda.


"Egi akan datang ke sini. Aku yakin." ucap Amanda dengan keyakinan.


"Nona, saya punya kabar baik." ucap Zea.


Tenggorokan Amanda yang kering, menjadi basah karena perkataan Zea. Amanda yakin jika kabar tesebut benar-benar kabar baik.


Terlihat Zea yang memandangnya dengan senyum di bibirnya. "Surat kepemilikan beberapa properti yang di ambil Revan sudah berada di tangan Zeo."


"Syukurlah." ucap Amanda lega. "Lalu?" tanya Amanda.


"Kita harus memberikannya pada Tuan Egi. Hanya beliau yang bisa bertindak. Kami hanya bawaan beliau. Tidak akan bisa menyuruh atau memerintah orang yang memiliki kekuasaan." jelas Zea.


Zea berbicara seperti itu karena memang benar. Mereka tidak bisa begitu saja membalikkan nama Revan menjadi nama Amanda.


Untuk melakukan hal tersebut, di butuhkan orang dengan kekuasaan tinggi. "Iya aku mengerti." ucap Amanda.


Karena Amanda sendiri juga tidak bisa melakukannya. "Mungkin, jika papa ada di sini. Semua akan kembali dengan normal." gumam Amanda.


Zea mendengar apa yang dikatakan oleh Amanda. "Kita doakan, semoga kondisi Tuan dan Nyonya segera membaik." ucap Zea. Amanda tersenyum simpul menanggapi perkataan Zea.


"Apa Zeo sudah dalam perjalanan?" tanya Amanda sedikit gusar.


Amanda takut jika kekacauan sebentar lagi akan terjadi. "Jangan khawatir Nona. Saya rasa rekan-rekan saya sudah berada di sekitar perusahaan. Dan untuk Zeo, dia sudah dalam perjalanan." jelas Zea.

__ADS_1


__ADS_2