PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 73


__ADS_3

"Ayo sini, kenapa kamu malah menutupi tubuhmu dengan selimut?!" panggil Egi, sekaligus bertanya pada Lily.


Melihat Lily membungkus tubuhnya menggunakan selimut. Dan hanya memperlihatkan kepalanya saja. Menjadikan Lily layaknya seperti kepompong.


Saat di tinggalkan Egi untuk mengambil kotak obat, Lily juga mengganti dressnya yang kotor dengan kemeja yang di berikan oleh Egi padanya. Kemeja milik Egi yang berwarna hitam.


"Ayo, kesini. Biar aku obati dulu luka kamu." Egi mengulurkan tangannya. Dengan pelan, Lily melepaskan selimut di tubuhnya.


Lily dengan pelan membuka selimut yang dia gunakan untuk membungkus badannya.


Glleeekkkk.... "****....!!" maki Egi dalam hati.


Melihat Lily begitu menggoda, dengan hanya menggunakan kemeja hitam yang dia berikan pada Lily. Tampak kebesaran di tubuh Lily, namun malah mengeluarkan kesan seksi bagi di pemakai. Membuat naluri lelaki seorang Egi keluar dengan sendirinya.


Kulit paha Lily yang mulus tampak terekspos dengan sempurna dan terlihat sangat indah. Terlebih warna kulit dengan warna kemeja yang Lily pakai sangat bertolak belakang.


Hitam dan putih.


Perpaduan dua warna yang sungguh menggoda di mata Egi. "Kenapa?" tanya Lily dengan wajah polosnya.


Egi segera membuang mukanya yang sudah nampak memerah karena hasrat yang tiba-tiba muncul, saat Lily duduk di sebelahnya.


Membuat kemeja besar yang Lily pakai sedikit terangkat ke atas. Memperlihatkan betapa mulus dan putihnya paha Lily yang tanpa goresan sedikitpun.


Masih membuang wajahnya ke arah lain, Egi mengeluarkan suara dari dalam mulutnya. "Kenapa kamu pakai?" ucap Egi dengan suara pelan dan terdengar serak.


Lily memandang sendiri ke arah badannya yang terbungkus kemeja berwarna hitam tersebut. "Kenapa kamu malah bertanya, kan kamu yang memberikan ini." kesal Lily, mendengar pertanyaan yang Egi lontarkan.


Egi mengacak kasar rambutnya sendiri. Membuat Lily mengernyitkan keningnya dan memandang Egi dengan tatapan aneh dari arah belakang. Karena saat ini posisi Egi duduk di samping Lily. Tapi dengan kepala menoleh ke samping, tidak melihat ke arah Lily.


"Kamu kenapa?" tanya Lily, memberanikan diri memegang bahu Egi. Tentu saja Lily khawatir melihat sikap Egi yang berubah secara tiba-tiba.


"Ssshhhh....." desis Egi, saat bahunya terasa seperti di sengat listrik, manakala Lily menyentuhnya dengan lembut.


"Egi." panggil Lily dengan wajah cemasnya.


"Aaaa...mmmmppphhtttt..." Dengan tiba-tiba Egi membalikkan badannya. Mencium bibir Lily dengan ganasnya.


Bukan hanya sekedar ciuman biasa. Tapi sebuah ciuman yang sangat dominan. Egi terus meletakkan bibirnya di bibir milik Lily.

__ADS_1


Egi merasakan, mencicipi, mencecep, memangut mesra, dan membelai lidah Lily dengan penuh nafsu. Egi menaruh tangannya di tengkuk milik Lily. Untuk memperdalam lidahnya mengakses setiap rongga di dalam mulut Lily.


"Emmmpphhh,,,, emmpppphhhh...." Lily yang sudah kehabisan nafa, mendorong kepala dan badan Egi.


"Huhhh,,,, hahhhh...." terdengar suara nafas Lily yang terengah-enggah. Sementara Egi, masih menempelkan dahinya dengan dahi milik Lily.


Dengan lembut dan pelan, Egi mengusap bibir Lily yang tampak membengkak. Di mana di bagian pinggir bibir Lily terdapat sisa cairan bekas keduanya berciuman.


"Kamu suka?" tanya Egi dengan suara seraknya.


Blusshh,,,, Masih menetralkan deru nafas dan suara jantungnya, kedua pipi Lily bersemu merah. Terlebih Lily dapat merasakan terpaan dan hangat nafas Egi yang terasa di wajahnya.


Lily segera mendorong Egi ke belakang. Bukannya marah, Egi malah tersenyum menggoda. "Jangan lakukan lagi. Aku tidak bisa bernafas." ucap Lily menggelembungkan kedua pipinya, untuk mengusir rasa gugup dalam dirinya.


"Makanya, aku ajarin kamu. Biar nggak kehabisan nafas." ucap Egi aneh.


Tangan Egi mengelus dengan lembut paha mulus milik Lily. "Eee,,,,jangan." Lily menyingkirkan tangan Egi dari pahanya. Sambil mengigit bibirnya sendiri.


Cup.... "Egi..!!" seriLily melotot tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Egi.


Sang kekasih dengan cepat dan singkat mengecup salah satu pahanya yang mulus. Egi malah tertawa pelan melihat Lily yang menatap dirinya.


Egi memajukan duduknya. "Kalau nggak boleh, aku cari perempuan lain." ucap Egi dengan santai.


Lily melotot dengan menampilkan wajah sadisnya. "Awas saja kalau berani." ancam Lily.


"Aduhhh...." ringis Lily tiba-tiba.


Egi memasang wajah khawatir. Baru saja Lily menampilkan wajah singanya, dan tiba-tiba Lily sudah merintih kesakitan. "Mana yang sakit?" tanya Egi.


Lily hanya mengusap pelan lengan kirinya bagian atas. "Coba lihat?" ucap Egi.


"Mau ngapain?" Lily menghentikan gerakan tangan Egi.


"Sudah diam. Nurut saja." ujar Egi.


Akhirnya Lily hanya bisa diam dan membuang muka. Sementara Egi membuka dua kancing atas kemeja yang di pakai oleh Lily.


"Keluarkan tangan kamu." pinta Egi. Dengan pelan, Lily mengeluarkan lengannya dari lengan kemeja tersebut.

__ADS_1


"Hufffttt..." Egi dengan pelan meniup lengannya. Lily tersenyum senang. "Pasti sakit?" gumam Egi lirih, melihat lengan Lily yang lebam.


"Tahan ya." pinta Egi, saat Egi mengoles sesuatu di lengannya. "Sakit?" tanya Egi memandang Lily. Dengan segera Lily menggeleng.


"Nando, aku akan memberi dia hadiah. Lihat saja nanti." ucap Egi dalam hati.


Selesai. Egi duduk dengan Lily berada di depannya. Tangan Egi melingkar di perut sang kekasih. Dengan Lily menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Egi.


Tak lupa, Lily menaruh bantal besar di pangkuannya. Bertujuan untuk menutupi pahanya yang mulus supaya tidak terlihat.


"Bagiamana, Kapan kamu akan melaporkan Nando?" tanya Lily.


"Tidak untuk sekarang." jawab Egi dengan lirih.


"Kenapa?"


Egi hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Lily. Sementara Lily dapat menebak apa yang sedang ada dalam benak Egi. "Sayang...." Lily mengubah posisi duduknya. Berhadapan dengan Egi.


"Lepaskan Nando." pinta Lily dengan memelas.


"Tidak akan!!" ucap Egi memandang ke arah lain.


"Kita akan melaporkannya. Jadi lebih baik kamu lepaskan dia." pinta Lily lagi.


Egi berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Melihat ke arah keluar, dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.


Lily hanya takut jika Egi malah akan membuat Nando terbebas dari hukuman. Lily khawatir, jika papa Nando malah akan menyerang balik Egi karena hal ini.


Lily memeluk Egi dari belakang. "Lepaskan dia. Oke." ucap Lily.


"Ckk,,,, mana bisa!!" seru Egi melepaskan pelukan Lily. "Lihat, dia hampir saja mencelakai kamu. Mana bisa aku membiarkannya begitu saja." tukas Egi.


"Aku tahu. Tapi Nando akan masuk ke penjara, jika kamu malah menahannya di tempat kamu. Dan aku takut, nanti malah papa Nando akan mencelakai kamu." pinta Lily dengan wajah memelas.


"Sayang...." ucap Egi.


"Segera kita akan melaporkan Nando." timpal Lily memotong perkataan Egi.


"Aku ingin Nando di penjara dalam waktu yang lama atas perbuatannya." lanjut Lily.

__ADS_1


Egi hanya bisa menghela nafas. "Susah memang berhadapan dengan mahasiswa hukum. Mereka pikir di dunia ini ada keadilan seperti itu. Terlebih bagi mereka yang memegang semua kendali. Uang dan kekuasaan." ucap Egi dalam hati.


__ADS_2