
"Kak... jadi dia yang namanya Egi?" tanya sang adik dengan antusias. Lily hanya memutar matanya jengah. Bukankah tadi dia sudah memperkenalkannya. Kenapa Lila bertanya lagi.
"Pantas kakak tidak mau di jodohkan. Kalau Lila sih, juga pilih Egi." ucap Lila menyatukan telapak tangannya, tergenggam di depan dada sambil tersenyum lucu. Menggerak-gerakkan badannya ke kiri dan kanan.
"Kakak. Panggil dia kakak Egi. Ega Egi Ega Egi. Nggak sopan." kesal Lily.
"Santai saja kak, belum juga jadi suami." celetuk Lila, sukses mendapat lemparan bantal di kepalanya.
"Mamaaa!!" seru Lila mengadu pada sang mama yang sedang duduk di sebelah keduanya. Nyonya Tya hanya menggelengkan kepala melihat kedua anaknya.
"Jangan terus menggoda kakakmu." tegur Nyonya Tya.
"Siapa tahu kak Egi jodohnya Lila." ucap Lila tertawa dan berlindung di balik badan sang mama.
"Lila..!!" tegur sang mama. Karena seperti biasa, Lila selalu menggoda kakaknya di setiap kesempatan.
"Pa, tadi Egi bicara apa?" tanya Lily mengacuhkan godaan dari adiknya, dan melihat sang papa berjalan ke arah mereka.
"Tidak ada, masalah bisnis. Kerja sama kita." jawab Tuan Ardes berbohong sembari mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Lila.
"Cieee,,,, pasti ngarepkan. Ngarep KAKAK EGI membicarakan hubungan kalian." goda sang adik.
"Lilaaaa!!" seru Lily dengan wajah bersemu menahan rasa malu di depan kedua orang tuanya.
Sungguh, Lila sangat keterlaluan. Padahal, di lubuk hatinya Lily mengharapkan seperti apa yang dikatakan oleh Lila. Tapi semua itu mustahil terjadi saat ini.
"Mama setuju, kalau kamu menikah dengan Egi. Mama suka. Anaknya sopan." tutur sang Nyonya Tya.
"Kak, berapa lama kalian kenal?" tanya Lila penasaran.
Lily menelan ludahnya dengan kasar mendapat pertanyaan dari adiknya. Bagaimana dia harus menjawab. "Emmm,, sekitar dua bulan. I---iya dua bulan." jawab Lily.
Lily tidak berbohong. Karena memang dua bulan yang lalu pertemuan pertama mereka. Malam hari, saat di klub malam.
"Dua bulan. Bukankah, waktu itu kakak sedang kabur dari rumah." tebak Lila yang memang mempunyai ingatan yang tajam.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan,,,," Lila menunjuk ke arah sang kakak dengan mata menelisik, mencari kebenaran apa yang ada dalam pikirannya.
"Jangan ngaco. Buang pikiran negatifmu." tandas Lily.
"Sudah-sudah. Kalian ini. Seperti tikus dan kucing saja." ucap Nyonya Tya.
Sementara Tuan Ardes hanya memperhatikan mereka yang sedang berdebat lucu. Padahal sebenarnya, pikiran Tuan Ardes tertuju pada putri pertamanya, Lily.
"Terlihat sekali kamu menyukai Egi sayang. Jika benar, kamu harus berusaha mendapatkan hatinya. Dia bukan lelaki yang mudah di dekati." batin Tuan Ardes menghembuskan nafas kasar.
Mimik wajah Tuan Ardes tak lepas dari perhatian sang istri. Nyonya Tya yakin jika suaminya sedang memikirkan sesuatu.
"Mau ke mana pa?" tanya Nyonya Tya saat sang suami beranjak dari duduknya.
"Keruang kerja." jawab Tuan Ardes tanpa menoleh.
"Kalian berdua masuk kamar. Istirahat. Sudah malam" suruh Nyonya Tya.
Lily dan sang adik beranjak dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Tapi bukan Lily dan Lila namanya jika bersikap tenang jika mereka bersama.
"Dasar." gumam Nyonya Tya melihat kedua anaknya saling menjahili saat berjalan menuju kamar.
"Kalian urus lelaki itu. Jangan sampai lepas dan berkeliaran dengan seenaknya. Jika memang dia di masukkan ke dalam RSJ untuk rehabilitas, pastikan dia tidak akan pernah keluar." ucap Tuan Ardes di ujung ponselnya. Memerintahkan orang suruhannya.
"Pa." panggil Nyonya Tya masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Melihat istrinya masuk, segera Tuan Ardes mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Nyonya Tya.
"Kenapa?" bukannya menjawab, Tuan Ardes malah bertanya balik pada sang istri.
Tuan Ardes memang berniat menyembunyikan kejadian yang di alami Lily pada sang istri. Dirinya tidak ingin jika istrinya cemas dan khawatir.
"Mama lihat papa sepertinya ada masalah. Apa ada sesuatu yang menimpa Lily?" tebak Nyonya Tya. Seperti sedang mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Tidak ada ma." ucap Tian Ardes mengecup pelan dahi istrinya.
__ADS_1
"Pa, mama tahu ada yang papa sembunyikan. Cerita sama mama, jika menyangkut kedua putri kita." cecar Tuan Tya.
Karena Nyonya Tya tidak akan pernah bertanya atau merasa dirinya harus tahu jika suaminya bermasalah dengan bisnisnya. Karena Nyonya Tya sadar, jika dia tidak bisa membantu.
Sebagai seorang istri, Nyonya Tya percaya dengan suaminya. Selalu berdiri di samping Tuan Ardes dalam keadaan apapun. Tanpa mempunyai niat sedikitpun untuk meninggalkan beliau.
Tapi jika sudah menyangkut masalah keluarga. Terutama kedua putrinya. Dirinya merasa berhak tahu.
"Baiklah." ucap Tuan Ardes. Karena percuma menyembunyikan sesuatu dari sang istri.
Pasti Nyonya Tya akan selalu bertanya tanpa lelah. Dan dia akan mengekor kemanapun Tuan Ardes pergi. Untuk mendapatkan jawabannya.
Jika hanya mengekor biasa tidak masalah. Tentu Tuan Ardes akan sangat senang. Tapi Nyonya Tya kan melakukan hal-hal aneh dan menjahili sang suami. Dengan tidak memikirkan dimana mereka berada.
Tuan Ardes membawa sang istri untuk duduk. "Tapi mama janji, setelah papa ceritakan semuanya pada mama. Jangan pernah mengungkit masalah ini lagi. Atau membicarakannya. Terutama di depan Lily. Anggap saja mama tidak tahu menahu soal semua yang menimpa Lily." ucap Tuan Ardes.
"Sebenarnya ada apa sih pa?" Nyonya Tya semakin penasaran bercampur khawatir. Apalagi terlihat jika Lily dalam keadaan baik-baik saja. Seperti tidak terjadi sesuatu pada anak itu.
Tuan Ardes menggenggam telapak tangan sang istri. Mulai menceritakan semuanya pada sang istri.
Terlihat kedua mata Nyonya Tya mulai berkaca-kaca. "Bo--boleh mama lihat videonya pa?" ucap Nyonya Tya dengan tubuh gemetar dan air mata mulai membasahi pipi.
"Mama yakin?" tanya Tuan Ardes, takut jika istrinya akan semakin terisak. Nyonya Tya menganggu pelan.
Tuan Ardes membuka galery video di dalam ponselnya. Memperlihatkan rekaman video yang dikirimkan oleh Egi ke dalam ponselnya.
"Sayang... Lily...!!!" seru Nyonya Tya tidak kuat melihat video tersebut. Segera Tuan Ardes mengambil ponselnya. Menenangkan istrinya yang menangis tersedu.
"Sudah ma. Ingat pesan papa. Jangan mengungkit ataupun bertanya pada Lily tentang kejadian ini." ucap Tuan Ardes kembali mengingatkan istrinya.
"Tentu pa. Mama janji." ucap Nyonya Tya dengan masih menangis, berada di dalam pelukan suaminya.
Nyonya Tya tidak bisa membayangkan, betapa takutnya sang putri saat itu. Dari luar Lily memang terlihat tomboy dengan berlagak seperti lelaki. Padahal semua itu hanya luarnya saja.
Lily adalah perempuan penakut. Dirinya sengaja bergaya seperti itu hanya untuk melindungi diri.
__ADS_1
"Beruntung Egi datang tepat waktu." ucap Nyonya Tya lirih.
"Kita beruntung pada Egi pa." imbuh Nyonya Tya.