
Egi segera keluar dari kamar, membiarkan Lily menemani Amanda. "Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Lily pada dirinya sendiri, melihat ke arah Amanda yang tertidur pulas.
Tapi nampak jelas ekspresi khawatir dan takut di wajah Amanda saat dia tidur. "Bahkan, saat terlelap dia masih ketakutan." ucap Lily selanjutnya.
Ada rasa kasihan sekaligus cemburu bercampur menjadi satu di hati Lily. Tapi sebisa mungkin Lily menepis rasa cemburu tersebut. "Ingat Lily, sejak awal kamu sudah tahu konsekuensi jika ingin menjalin hubungan dengan Egi." ucap Lily dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Lily segera berganti pakaian yang baru saja di bawakan oleh Beni. Dan juga, Lily mengganti pakaian Amanda. Karena pasti Amanda juga tidak nyaman memakai pakaian terlalu ketat saat tidur.
"Haaaa,,,, pakaian apa ini." ucap Lily bernafas lega setelah berhasil mengganti pakaian milik Amanda.
Kening Lily mengerut melihat ke arah pakaian milik Amanda yang sekarang berada di tangannya. "Kenapa pakaian seperti ini di jual." geleng Lily merasa heran.
"Bukan salah yang buat juga sih. Karena yang minat juga banyak." ujar Lily, sementara dirinya belum pernah memakai pakaian seperti itu. Karena kesehariannya, Lily lebih nyaman memakai kemeja dan juga celana panjang.
Pandangan matanya melihat pakaian yang digunakan oleh Amanda seperti pakaian anak kecil. "Astaga, pantas saja lekuk tubuhnya terlihat jelas." ucap Lily.
"Ckkkk..." decak Lily melipat pakaian tersebut, meletakkan di atas nakas. Tidak ingin membangunkan Amanda, Lily keluar kamar dengan pelan.
Dapur. Adalah tujuan utama Lily keluar dari kamar. "Mau kemana?" tanya Egi yang melihat Lily sedang berjalan.
Lily sedikit terkejut, lantaran tidak mengetahui jika Egi berdiri di samping tembok. "Aku haus. Mau ambil minum." cicit Lily sambil memegang tenggorokannya.
"Egi." panggil Lily lirih, saat Egi hendak melangkah meninggalkannya.
Egi menatap ke arah Lily. "Terimakasih." ucap Lily, membuat kening Egi mengerut. "Untuk?" tanya Egi.
"Sudah datang ke rumahku." ujar Lily dengan mata berbinar.
Egi hany mengangguk pelan, membalikkan badan dan melanjutkan langkah kakinya. Tapi seketika langkah Egi terhenti dengan tubuh Egi membeku, saat sebuah tangan melingkar di perutnya.
Egi merasakan dengan nyata dan jelas, ada sebuah benda kenyal yang saat ini menempel erat di punggungnya. Dan itu sangat hangat. "Terimakasih." ucap Lily.
Segera Lily melepaskan pelukannya. "Maaf." ucap Lily. "Astaga Lily, apa yang sudah kamu lakukan." rutuknya dalam hati, karena mempunyai keberanian sebesar tadi.
Memeluk Egi. Padahal sudah jelas Egi hendak pergi. "Kamu seperti sengaja menggodanya Lily." rutuk Lily dalam hati.
Egi kembali membalikkan badannya. Melangkah dengan pelan mendekat ke arah Lily. Hingga membuat Lily memundurkan langkahnya.
Tapi hanya beberapa langkah. Sebab punggung Lily sudah menyentuh dinding. "Apa kamu pikir ucapan saja sudah cukup." ucap Egi, memajukan wajahnya mendekat ke wajah Lily.
Egi tersenyum samar, melihat Lily membuang muka. Apalagi nampak kedua pipi Lily seperti tomat merah. Lucu, imut, dan menggemaskan.
Egi mengangkat tangannya. Memainkan jari jemarinya di pipi mulus milik Lily yang sekarang sudah berganti warna menjadi merah. "Siapa yang memulai." ucap Egi lirih, terdengar seperti bisikan yang membuat tubuh Lily meremang.
Tangan Egi memegang dagu Lily. Membawanya untuk menatap ke arahnya. "Tatap kedua mataku." ucap Egi tepat di depan wajah Lily.
Lily dapat merasakan hembusan nafas Egi menyapu wajahnya. Ada gelenyar aneh pada tubuh Lily. Dengan perlahan, Lily menatap wajah Egi. Bahkan Lily mengulum bibirnya sendiri.
Egi tersenyum menatap ke wajah Lily. Egi menempelkan dahinya ke dahi milik Lily. Membuat nafas Lily tercekat.
Egi melepaskan Lily, pergi begitu saja dari hadapan Lily. "Haaahhh... tadi sangat berbahaya." ucap Lily, setelah tubuh Egi tidak terlihat.
Lily menampar wajahnya pelan. Saat pikiran liar menguasai dirinya. "Jangan aneh-aneh Lily." sungut Lily pada dirinya sendiri, saat dirinya ingin merasakan bukan hanya dahi yang di tempelkan oleh Egi. Melainkan bibir.
Egi bergegas masuk ke dalam kamar. Menguncinya dari dalam. "Begitu manis dan wangi." gumam Egi.
Egi menghela nafasnya dengan panjang. "Sial,, padahal hanya bersentuhan dahi." kesal Egi berjalan ke dalam kamar mandi, menidurkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh bangun.
Dengan hanya melilitkan handuk di pinggang dan rambut masih basah, Egi keluar dari kamar mandi. "Ckkk,,, efek lama nggak di belai wanita." Egi memandang sendiri wajahnya di cermin.
"Amanda." ucap Egi, teringat Amanda. "Gue lupa, belum memberitahu si brengsek Revan." Egi segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan tertulis pada Revan. Jika Amanda sekarang bersamanya.
"Apa..!!!" seru Revan saat dirinya mendapat kabar dari Aldric, jika Egi membawa Amanda pergi.
"Tapi kamu tidak menyebutkan namaku kan?" tanya Revan pada Aldric lewat sambungan telepon.
__ADS_1
"Baiklah." ucap Revan, mematikan sambungan teleponnya dengan Aldric.
"Ini." Revan membaca pesan dari Egi yang masuk ke dalam ponselnya sekitar lima menit yang lalu.
"Beruntung Egi tidak terlalu jauh bertanya. Kenapa juga bisa kebetulan ada Egi di sana. Dan,,, Aldric bilang Egi bersama kekasihnya." ucap Revan, masih memandang ke arah ponselnya.
"Apa yang harus aku lakukan." Revan seperti sedang berpikir.
"Iya." segera Revan mengirim balasan pesan tertulis pada Egi. Mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Seperti ini, saya rasa sudah cukup. Semoga Amanda tidak bercerita apapun pada Egi." cemas Revan.
"Dasar." sungut Revan, saat pesannya sudah di baca oleh Egi. Namun tidak di balas.
"Awas saja jika sampai Amanda membuka mulutnya. Aku pastikan hidupnya akan jauh lebih sengsara." ucap Revan tersenyum licik.
Apalagi Revan masih mengira jika kedua orang tua Amanda masih berada dalam pengawasan Bob. "Jika sampai Amanda berani membuka mulutnya, aku akan menggunakan kedua orang tuanya sebagai senjata." ucap Revan.
"Egi." kata Revan, seperti memikirkan sesuatu. Dan pastinya pikirannya tidak jauh dari hal licik dan jahat.
"Akan jauh lebih baik jika Amanda bisa mengambil hati Egi. Sekalian membuat Egi bertekuk lutut di bawah Amanda. Haaaa...." ucap Revan tertawa.
"Ya,,, Egi akan di ikat oleh Amanda. Dan Amanda, akan menuruti semua perkataanku." ucap Revan dengan ambisinya yang sudah berlebihan.
Di dalam kamar, Nyonya Tya tidak segera memejamkan mata. "Ada apa ma?" tanya Tuan Ardes pada sang istri.
"Papa kenapa memperbolehkan Lily tidur di apartemen Egi?" tanya Nyonya Tya dengan kesal. Setelah tadi Tuan Ardes mengatakan jika Egi memberitahunya jika Lily akan menginap di apartemen miliknya.
"Memang kenapa?" bukannya menjawab, Tuan Ardes malah balik bertanya dengan santai dan tenang dengan kedua mata sudah terpejam.
"Pa...!!" seru Nyonya Tya menggoyang badan sang suami dengan kencang.
"Apa ma?" tanya Tuan Ardes membuka kedua matanya. Sebenarnya Tuan Ardes mengerti dan paham kenapa sang istri tampak khawatir.
Tuan Ardes memiringkan badannya. Menatap ke arah sang istri yang cemberut dengan wajah di tekuk. "Mama tenang saja. Egi tidak mungkin melakukan hal macam-macam pada Lily." Tuan Ardes memeluk tubuh sang istri.
Nyonya Tya mendongakkan kepala, membuatnya bisa memandang wajah sang suami. "Egi laki-laki. Pasti kekuatannya lebih besar." ucap Nyonya Tya lirih.
Tuan Ardes tersenyum, mengerti ke mana arah pembicaraan sang istri. "Mama dengar. Mama percaya sama papa. Egi bukan lelaki seperti itu." ucap Tuan Ardes.
"Papa yakin?" tanya Nyonya Tya. Tuan Ardes mengangguk pelan.
"Sudah, sekarang kita tidur. Sudah malam." ucap Tuan Ardes.
"Besok mama bisa tanya sendiri pada Lily." saran Tuan Ardes.
Sebenarnya Egi sudah menceritakan kepada Tuan Ardes jika dirinya sedang membantu seseorang. Dan orang tersebut adalah perempuan. Oleh karenanya, Egi membutuhkan Lily berada di sampingnya.
Karena Egi tidak mungkin membantu sendiri. Tapi Egi tidak menceritakan secara rinci. Karena Egi tahu batasannya. Juga demikian dengan Tuan Ardes, beliau tidak bertanya lebih jauh.
Tapi setidaknya Tuan Ardes mengizinkan Lily untuk tidur di apartemen Egi.
Pagi hari, kedua mata Amanda mengerjap pelan. Kepalanya merasakan sedikit pusing. Merasa ada yang berbeda, Amanda menoleh ke arah samping tempatnya tertidur.
Tampak wajah seorang perempuan cantik masih memejamkan mata di sampingnya. Amanda menatapnya dengan ekspresi datar.
Amanda mengingat dengan jelas, jika perempuan tersebut datang bersama dengan Egi tadi malam. Amanda memang di berikan obat tidur, tapi obat tersebut termasuk varian baru.
Dimana orang yang meminum obat tersebut akan merasakan mengantuk berat. Tapi kedua matanya tidak akan tertutup sempurna.
Dengan kata lain, orang tersebut masih setengah sadar. Hingga dirinya juga akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Sungguh berbahaya.
Amanda menatap lamat-lamat wajah Lily. "Dia,,," ucap Amanda dalam hati. Mengingat jika dirinya pernah bertemu dengan Lily sebelum ini.
"Iya, itu dia." imbuhnya dalam hati. Teringat pernah bertemu dua kali dengan Lily. Di perusahaan Egi dan di pameran busana.
__ADS_1
Amanda memejamkan matanya. Memijat ringan keningnya. Lily merasa jika kasur di sebelahnya bergerak. Membuatnya juga membuka kedua matanya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Lily dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Amanda menoleh dan tersenyum. "Terimakasih. Kamu yang menggantikan bajuku?" tanya Amanda tersenyum, menoleh ke arah Lily dengan keadaan masih terlentang di atas kasur.
Lily mengubah posisi tidurnya. Menjadi terlentang, sama dengan Amanda. "Iya, maaf. Aku berpikir kamu pasti akan sesak jika memakai pakaian tersebut." jelas Lily merasa lancang.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga tidak pernah menggunakan pakaian seperti itu sebelumnya." Amanda menatap ke atas. Dimana hanya ada langit-langit kamar.
Lily menoleh ke arah Amanda. Lily merasa ada nada sedih saat Amanda mengucapkannya. "Aku sudah seperti perempuan murahan memakai pakaian seperti itu." ucap Amanda dingin.
Lily merasa Amanda sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sebagai mahasiswa di fakultas hukum dan calon pengacara, Lily dapat melihat jika Amanda sedang dalam suasana hati yang kacau.
Segera Lily mengalihkan perhatian Amanda. " Lagi pula kamu tidak perlu berterimakasih padaku karena baju itu." ucap Lily.
"Beni yang membawakannya untuk kita. Apa kamu tidak lihat, kita seperti anak kembar." ucap Lily tertawa.
"Hah." Amanda melongo mendengar perkataan Lily. "Anak kembar." gumam Amanda. Segera melihat pakaian tidur yang dia kenakan dan yang Lily pakai.
Amanda dan Lily tertawa bersama. Melihat jika mereka memakai baju tidur yang sama. "Iya benar. Mana kita juga tidur di tempat yang sama." lanjut Amanda.
"Baiklah,,,, emmm." ucap Lily. "Amanda." ucap Amanda.
"Lily." sahut Lily, juga memperkenalkan diri.
"Amanda, aku akan mandi dulu. Semalam Beni juga membawakan kita pakaian ganti." Lily bangun dari tidurnya.
Amanda memandang ke arah Lily yang hilang di balik pintu kamar mandi. "Lily. Ada hubungan apa dia sama Egi." ucap Amanda lirih.
Entah kenapa Amanda merasa sedikit tercubit hatinya, saat Lily ternyata kenal juga dengan Beni. Asisten Egi, yang artinya Lily dan Egi memiliki kedekatan.
"Amanda, sadar. Mereka orang baik. Jangan pernah pikiranmu memikirkan hal bodoh yang nantinya malah merugikan dirimu sendiri." ucap Amanda, menasehati dirinya sendiri.
Amanda tersenyum, membayangkan kembali saat semalam Egi datang membawanya. "Seandainya aku punya seseorang seperti Egi di sampingku. Pasti aku merasa aman dan nyaman." gumam Amanda, berharap Egi menyukainya.
Amanda tersenyum kecut. "Ingat Amanda, sebesar apapun perasaan kamu untuk Egi. Jangan pernah kamu menunjukkannya, sebelum kamu mengetahui bagaimana perasaan Egi untuk kamu." ucap Amanda lirih.
Apalagi Egi mau dan dengan ikhlas membantunya. Dan yang Amanda pikirkan sekarang adalah kehadiran Lily. Amanda bukan perempuan jahat yang tidak tahu caranya berterimakasih saat seseorang memperlakukannya dengan baik.
Selesai Lily mandi, kini giliran Amanda yang melakukannya. Sementara Lily menunggu Amanda di kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Ceklek... Amanda keluar dari kamar mandi. Amanda dan Lily saling pandang. Dan tertawa bersama. Lagi-lagi baju yang mereka kenakan sama. Kaos berwarna biru muda dengan lengan pendek dan celana jeans.
Lily meletakkan hair dryer. "Jangan bilang jika Beni juga membelikan kita dalaman yang sama." tebak Lily.
"Coklat tua." ucap Amanda dan Lily bersama.
Mulut keduanya terbuka dengan kedua mata membulat sempurna. Mereka tertawa kembali.
"Tapi kenapa dia tahu ukuran kita?" tanya Amanda.
Lily mengangkat bahunya. "Apa mungkin Egi?" tanya Amanda kembali.
Lily menggeleng dengan ekspresi yang lucu. "Jangan harap. Egi bukan lelaki peka dan romantis seperti harapan anda Nona Amanda. Dia,,, dia sangat cuek. Ya,,, pasti tahulah." ucap Lily.
Amanda tersenyum. Meski sebenarnya Amanda tampak sedikit tercengang dengan ucapan Lily. Karena sepertinya Lily sangat mengetahui seperti apa seorang Egi.
Keduanya keluar dari dalam kamar. Menuju dapur. "Apa dia belum bangun?" tanya Amanda karena belum melihat keberadaan Egi, sementara Lily membuka kulkas.
"Mungkin belum. Biarkan saja." jawab Lily.
"Ada apa?" tanya Amanda.
Lily tersenyum cengengesan. "Aku tidak bisa masak. Bagaimana kalau kita pesan saja." saran Lily.
__ADS_1
"Tidak perlu." ujar Amanda, melihat ada beberapa bahan makanan di dalam kulkas. "Biar aku yang memasak." lanjut Amanda.
Lily memandang Amanda yang dengan terampil memainkan segala alat dapur. Sementara Lily hanya membantu setiap kali Amanda menyuruhnya untuk memotong, membersihkan, atau mengambilkan bahan makanan yang diperlukan Amanda.