
"Tidak becus..!!" teriak Revan, saat orang suruhannya melaporkan jika rekannya yang Revan suruh untuk mengikuti Amanda, kehilangan jejak mereka.
"Mereka mengganti mobil di tengah jalan. Tepat di jalan gelap dan sepi." jelasnya, menirukan yang rekannya katakan pada dirinya.
"Dan kamu pikir aku peduli. Aku hanya ingin hasilnya. Entah bagaimana cara kalian melakukannya." bentak Revan dengan kasar.
Mendapati bossnya sedang marah, dia hanya diam dan menundukkan kepalanya. "Bagaimana dengan Bob?" tanya Revan, sebab sampai sekarang orang yang dia perintahkan untuk menemui Bob malah tidak kembali padanya.
Padahal menurut perkiraan Revan, sudah dari kemarin dia datang dan memberikan laporan atas tugas yang dia berikan. "Maaf boss, dia juga belum kembali." paparnya dengan rasa takut.
"Lalu kamu hanya diam saja!!" bentak Revan dengan mata menyalang.
"Saya sudah menyuruh seseorang untuk memeriksanya. Dan saat ini, Bob sedang di sibukkan oleh Ditya." jelasnya.
"Beruntung bayaranku besar. Jika tidak, mana mau aku kamu perlakukan seperti budak." ucapnya dalam hati.
Bukan karena kesetiaan dirinya bekerja dan tunduk pada Revan. Melainkan karena uang. Jika bukan karena uang, mungkin saat ini Revan sudah tidak punya bawahan yang mau dia suruh sesuai kehendaknya.
Uang Revan masih banyak. Bahkan untuk membangun sebuah perusahaan kecil-kecilan, Revan juga sanggup. Dan semua itu dia peroleh dari perusahaan Tuan Joshua.
Namun Revan tidak ingin melakukannya. Dia masih ingin mengulangi lagi perbuatannya untuk masuk kembali ke dalam perusahaan Tuan Joshua atau perusahaan lainnya, jika dia menemukan target selanjutnya.
Revan. Benar-benar manusia berotak licik.
Revan mengangguk mengerti. Karena sebelum Revan bekerja sama dengan Bob, dia sudah mengetahui sepak terjang Bob. Termasuk perselisihannya dengan Ditya.
"Siapa orang yang sudah menolong Amanda. Tidak mungkin Ditya seorang." gumam Revan berpikir.
Revan tahu persis bagaimana cara kerja atau tabiat Ditya saat menghadapi musuh. Ditya lebih suka melakukan perang terbuka. Menunjukkan jati diri dan wajahnya di hadapan musuh.
Tapi kali ini, orang yang membantu Amanda seakan menyembunyikan identitas dirinya. Seolah dia tidak ingin ada yang mengetahui jika dirinyalah yang sudah membantu Amanda selama ini.
Revan menyandarkan tubuhnya di kursi single. Memejamkan mata, dengan tangan mencubit pangkal hidung secara berulang.
__ADS_1
Tiba-tiba Revan membuka mata, dan menatap tajam bawahannya yang berada di depannya. "Cari tahu, dengan siapa saja Amanda bertemu selama ini. Meski Amanda hanya bertemu dengan orang itu hanya sekali. Dan satu lagi. Selidiki mengenai Ditya. Jangan lupakan dua orang yang berada di sisi Amanda. Selidiki mereka juga. Secepatnya." perintah Revan.
"Aku yakin, jika ada seseorang yang berkuasa dan hebat di balik semua ini. Dan aku harus mengetahuinya." ucap Revan dalam hati.
Tidak semudah itu Revan. Pasti Egi tidak akan membiarkan kamu atau orang lain yang tidak di inginkan oleh Egi untuk mengetahui semua ini.
Dan jika Revan mengetahuinya, itu berarti Egi memang menghendaki untuk Revan tahu. Jika dirinyalah orang yang selama ini membantu Amanda.
Di tempat lain, Nando terus berteriak hingga suaranya serak. "Ckk,, mengganggu saja." geram anak buah Egi.
"Hey,, mau apa kamu?" tanya rekannya.
"Ingat, jangan sampai Nando terluka. Tuan Egi sudah menyiapkan tempat spesial untuknya." ingat rekannya.
"Tenang saja, aku ingin tidur dengan nyenyak. Tanpa harus mendengar suaranya yang seperti kaleng bekas." ucapnya berjalan ke arah ruangan di mana Nando di sekap.
Sreeeeet..... "Selesai." ucapnya menepuk telapak tagannya.
"Emmpphhh,,,, emmmppphhh...." Nando berusaha mengeluarkan suaranya. Namun sayang, karena mulutnya di lakban, dia tidak bisa lagi berteriak seenak jidatnya.
Egi bukannya tidak percaya atau meragukan kemampuan anak buahnya dalam menjaga Nando saat Nando di sekap di markas mereka sendiri.
Egi hanya tidak ingin Nando terluka. Lebih tepatnya melukai diri sendiri. Egi membutuhkan Nando dalam keadaan sehat. Tidak kurang sedikitpun. Bahkan Egi menginginkan Nando dalam keadaan sehat.
Sehingga kedua tangan dan kaki Nando harus diikat menjadi satu dengan ranjang tempat dia di baringkan. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa di lakukan oleh Egi.
Bahkan Egi sudah mewanti-wanti bawahannya, jika jangan sampai ada sedikit luka di kulit atau tubuh Nando.
"Aku juga ingin menjadi bagian dari permainan ini." ucapnya sembari memainkan kari jemarinya.
Temannya menepuk pundaknya dengan pelan. "Tenang saja, kita akan memainkan peran kita dengan baik." ucap rekannya.
Sementara Tuan Ebara menyebarkan seluruh bawahannya untuk mencari sang putra. Dan sampai detik ini, lokasi keberadaan Nando juga belum bisa di temukan oleh mereka.
__ADS_1
"Egi, apakah kalian sudah mencari ke markas Egi." perintah Tuan Ebara.
Semua tampak diam. Tidak ada yang mengeluarkan suara dan juga bergerak. "Kenapa?" tanya Tuan Ebara, merasa ada yang aneh dengan bawahannya.
"Maaf Tuan, kita sudah menyelinap ke markas tersebut. Tidak ada Tuan Muda Nando di dalamnya." jelasnya.
Tuan Ebara memandangnya dengan tatapan heran. "Semudah itukah?" tanya Tuan Ebara mengernyitkan keningnya.
Semua bawahannya terdiam dan saling pandang. Mendapatkan pertanyaan dari majikannya, mereka baru sadar jika memang semuanya terasa tidak mungkin.
Bawahan Tuan Ebara masuk ke dalam markas yang mereka yakini sebagai markasnya Egi dengan sangat mudah. Bahkan, meskipun di jaga dengan sangat ketat. Mereka tidak ketahuan.
Mereka masuk dan menggeledah setiap ruangan dengan lancar. Bahkan mereka keluar dari sana juga dengan mudah. "Maaf Tuan." ucap mereka serempak dan segera berlutut.
Mereka menyadari jika mereka salah, dan mereka masuk ke dalam permainan anak buah Egi. "Cih,,, kalian memang bodoh!!" umpat Tuan Ebara.
Mereka tidak menyadari jika sebenarnya bawahan Egi mengetahui kehadiran mereka di dalam markas dan membiarkan mereka bertindak sesuka mereka.
"Pasti, sekarang mereka sedang menertawakan kebodohan kalian, yang seperti kerbau di tusuk hidungnya." geram Tuan Ebara.
Tuan Ebara merasa marah bercampur malu. Bahkan tindakan anak buah dari Egi bisa membuat dirinya seperti kehilangan harga diri.
"Tuan..."
"Diam!!!" bentak Tuan Ebara. "Jika yang keluar dari mulutmu bukan hal penting, lebih baik kamu diam. Atau memang kamu lebih memilih kehilangan lidah kamu." ancam Tuan Ebara.
"Baik. Maaf sebelumnya. Jika perkiraan kita benar, berarti Egi mempunyai markas lain yang tidak kita ketahui." ucapnya.
Tuan Ebara memandang tajam ke arahnya. "Kami akan segera mencari tahu." lanjutnya.
"Lakukan segera. Jika kalian kembali tidak memberikan hasil apapun. Nyawa kalian taruhannya." ancam Tuan Ebara.
"Baik Tuan." ucap mereka serempak. Dan segera meninggalkan ruangan majikannya tersebut.
__ADS_1
Tuan Ebara mengambil cerutu dan menyalakannya. "Semoga dia dapat memberikanku kabar yang menyenangkan." gumam Tuan Ebara, dengan cerutu tersumpal di mulutnya.
.