
"Serang setiap markas dari Ebara. Lumpuhkan mereka semua." perintah Egi. Seolah dirinya tahu langkah apa yang akan di tempuh oleh sang musuh.
"Bawa Ebara ke hadapanku dalan keadaan masih bernafas." imbuh Egi.
Segera Beni dan beberapa orang yang menjadi pimpinan dari setiap kelompok segera bergegas pergi untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh Egi.
Sementara bawahannya melakukan apa yang dia perintahkan, Egi berjalan menuju ke tempat di mana Nando berada. Dengan empat orang bawahannya, berjalan di belakang Egi.
"Letakkan dia di tempat yang seharusnya." manik mata Egi mengarah untuk melihat Nando yang masih bernafas, namun sudah tidak mempunyai tenaga untuk bergerak.
Egi kembali berjalan, dengan bawahan Egi menyeret Nando, di belakang Egi.
Segera kedua tangan Nando di satukan, dan di ikat dengan tali yang sudah terpasang di tempatnya sejak awal.
Egi menggerakkan tangan, kini tubuh Nando sedang bergelantungan di atas. Secara perlahan papa yang berada di bawah Nando bergeser.
Menampilkan air yang keruh di dalamnya. "Kalian pasti senang, aku membawakan makanan istimewa untuk kalian." ucap Egi, memandang tepat ke arah air.
Egi mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Aku ingin cepat selesai." ucap Egi dengan seseorang di ujung telepon.
Sembari menunggu bawahannya datang membawa Ebara, Egi kembali menghubungi seseorang. Dirinya terlihat serius saat berbicara dengan lawan bicaranya melalui ponsel.
"Ingat satu hal, ini kesempatan pertama dan terakhir, Tuan. Saya melepaskan putra anda karena saya menghormati anda sebagai sahabat dari mendiang papa saya. Tapi jika sampai Vincen kembali ke negara ini, dan membuat emosi saya kembali tersulut. Saat itu juga saya tidak segan-segan bertindak." tegas Egi dengan ponsel masih menempel di daun telinganya.
__ADS_1
Ternyata Egi menghubungi papa dari Vincen. Dan menyuruh papa Vincen untuk membuat Vincen menjauh dari Lily. Dan juga keluar dari negara ini secepatnya.
Beberapa saat kemudian, Beni datang membawa apa yang diinginkan oleh Egi. Tuan Ebara.
Egi dengan tenang duduk di kursi kebesarannya. Tatapan matanya tajam memandang ke arah Ebara. "Lepaskan,,, dan lakukan." perintah Egi penuh penekanan.
"Nando.... putraku." lirih Tuan Ebara, melihat putra tersayangnya bergelantung dengan tali yang mengikat kedua tangannya.
Egi menggerakkan tangannya. Dan,,,,, byur..... Tubuh Nando meluncur bebas turun ke air yang berada di bawahnya.
"Nando...!!!" teriak Tuan Ebara dengan sisa tenaganya. Kedua matanya membulat, melihat air yang berada di depannya berubah warna menjadi merah dengan bau anyir.
Tuan Ebara menatap tajam ke arah Egi. Seakan beliau mengatakan lewat tatapan matanya. Jika dia tidak akan memberi ampun pada Egi.
"Tuan, semua markas Tuan Ebara dalam kendali kita." lapor bawahannya.
Egi tersenyum smirk. "Aku kira menghadapi lawan tangguh. Ternyata,,, Ckkkk." Egi berdecak di sertai gelengan kepala. "Lemah." desis Egi.
"Ratakan semuanya. Jangan sampai ada yang tersisa. Untuk bawahan dari lelaki tua ini, biarkan mereka hidup. Aku tidak ada urusan dengan mereka." perintah Egi.
"Baik."
"Egi, iblis... Aku bersumpah. Kamu akan mati dengan mengenaskan..!!!" teriak Tuan Ebara.
__ADS_1
"Ha... ha... ha...." Egi tertawa lepas mendengar seruan sumpah serapah dari mulut Ebara.
"Astaga, perutku sampai sakit Tuan." ujar Egi dengan pandangan menusuk ke mata Ebara.
"Tapi maafkan aku, karena sudah bisa di pastikan. Anda tidak akan bisa melihat kematian dari seorang Egi." seringai Egi bagai iblis.
Dengan santai, Egi melipat lengan bajunya hingga siku. "Lepaskan ikatannya." perintah Egi, menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, terlihat seperti gerakan peregangan.
Bugh,,,, bugh,,,, bugh... Tanpa menunggu lama, begitu ikatan di tangan Ebara dilepaskan. Egi dengan membabi buta langsung mengarahkan pukulan hingga tendangan ke arah Tuan Ebara.
Kondisi tubuh yang sudah lemas sebelumnya karena di hajar oleh Beni, membuat Ebara hanya bisa menerima setiap pukulan dan tendangan dari Egi.
"Berikan dia pada mereka. Langsung lempar saja." perintah Egi menyeka keringat di dahinya.
Byurr.... lagi-lagi, buaya-buaya peliharaan Egi mendapat makanan istimewa daging manusia. "Pasti kalian sangat senang." sinis Egi melihat air tersebut masih berwarna merah.
Egi berjalan meninggalkan tempat tersebut. "Hancurkan perusahaan Ebara. Aku tidak ingin ada satupun peninggalan darinya yang masih tersisa." perintah Egi.
"Baik." ucap Beni, yang sebenarnya ingin menolak keinginan Tuannya. Mengingat banyaknya karyawan di sana yang pasti menggantungkan kelangsungan hidup mereka dan juga keluarga mereka pada perusahaan tersebut.
"Pindahkan semua karyawan ke tempat kita secara menyebar. Lakukan tanpa ada yang mengetahuinya." lanjut Egi.
Beni tersenyum. "Baik Tuan."
__ADS_1
Egi memang kejam, tapi dia melakukannya pada orang tertentu dengan alasan tertentu. Dia bukan sosok iblis yang sesungguhnya.
Dia hanya akan menjadi wujud iblis, saat miliknya tersentuh orang lain.