PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 93


__ADS_3

Tar..... Tuan Ebara murka. Saat tangannya membuka kotak dibungkus dengan rapi, yang baru saja di taruh oleh bawahannya. Dan ternyata isinya adalah kepala dari salah satu bawahannya yang sangat dia percaya. Beno.


"Kenapa kalian sama sekali tidak berguna?!!" teriak Tuan Ebara.


Bahkan, benda yang baru saja diterimanya dikirim langsung oleh salah satu bawahan Egi. Menandakan jika Egi sama sekali tidak takut menghadapi dirinya.


Segera beliau menghubungi bawahannya yang lain. Guna mencari tahu, dimana Egi menyembunyikan sang putra yang sangat di sayangnya tersebut.


Tetapi hasilnya masih sama. Nol. Mereka bahkan tidak menemukan petunjuk sama sekali, meskipun sedikit. Sungguh ironis.


"Egi..... Aaaaaa.....!! Berani kamu menyentuh seujung kuku Nando. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Lihat saja." seru Tuan Ebara dengan wajah garang.


Sementara di markas, Beni menyuruh semuanya untuk tetap waspada dan memperketat penjagaan di setiap tempat.


Karena tidak menutup kemungkinan, jika Ebara akan mengerahkan segala kemampuannya dan semua anak buahnya untuk menyerang setiap titik yang dia anggap milik dari Egi.


"Maaf Boss, kapan Tuan akan datang?" tanya anak buah Beni.


Beni memandangnya, dan mengangkat kedua bahunya. "Ada Nona Lily. Dan dia baru saja melewati hal yang mengerikan. Yang mungkin saja, dia tidak pernah mengalaminya selama ini." tukas Beni.


"Jangan terlalu berharap, jika malam ini Tuan akan datang. Tetaplah berjaga seperti biasa. Jangan sampai membuat celah sedikit saja, yang bisa membuat musuh tahu. Dan kita akan kalah dalam peperangan." papar Beni.


"Sebaiknya aku berjaga di luar saja. Berada dekat dengan lelaki bajingan itu, membuat emosiku naik ke ubun-ubun." kesal salah satu anak buah Beni, yang mendapat giliran menjaga Nando.

__ADS_1


Sementara Beni dan yang lainnya tertawa lepas mendengar keluh kesah dari rekannya. Yang memang sejak awal dia sangat membenci dan ingin sekali merobek mulut Nando yang selalu berteriak.


Beni, sebagai asisten yang pengertian. Dia mengambil alih sementara tugas Egi di markas. Karena dia tahu, jika saat ini atasannya tersebut pasti ingin menghabiskan waktu berduaan dengan sang kekasih.


"Boss, jika ingin pulang, pulanglah. Kami akan berjaga." tawar anak buahnya, karena mereka tahu jika Beni sudah menikah.


Beni menghela nafas panjang. "Tidak perlu. Aku akan bermalam di sini. Segera bangunkan aku, jika ada sesuatu." pinta Beni, melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang memang di gunakan olehnya jika berada di sini.


"Mungkin sedang bertengkar dengan istrinya." celetuk yang lain, dengan suara lirih.


"Sudahlah. Sebaiknya kita bergantian untuk berjaga. Seperti biasa." ajak rekannya.


Beni memandang seisi kamarnya. Lalu duduk di sebuah kursi single yang berhadapan dengan komputer. "Ckk..." decak Beni, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


Namun Beni tidak pernah bertanya pada sang istri. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Membiarkan semuanya berjalan dengan kuasa Tuhan.


Beni tersenyum. "Tuhan, keinginanku hanya satu. Buat aku jatuh cinta pada istriku. Jangan perempuan lain." gumam Beni berharap.


Ponsel Beni berbunyi. "Tuan Joshua." ucap Beni lirih. "Astaga. Kenapa aku sampai lupa." ucap Beni merasa bersalah.


Malam ini, Egi mendapat undangan makan malam di kediaman Tuan Joshua. Dan Beni lupa untuk mengatakan pada beliau, jika atasannya tersebut tidak bisa datang.


Beni segera mengangkat panggilan telepon dari Tuan Joshua. Mengatakan jika atasannya tidak bisa datang. Dikarenakan ada sesuatu hal, yang bersifat penting. Tak lupa, Beni mengucapkan kata maaf berulang kali.

__ADS_1


Beni memandangi ponselnya yang sudah mati. "Mungkin ini memang yang terbaik." gumam Beni, jika ketidak datangan Egi untuk menerima undangan makan malam di rumah Tuan Joshua adalah keputusan yang tepat.


Beni bukan lelaki lugu dan bodoh. Dia dapat melihat dengan jelas, sorot mata dari Amanda saat memandang Egi. Ada kata cinta di dalamnya.


Dan untuk Egi, Beni sangat mengenalnya. Atasannya tersenut bukan lelaki flamboyan yang gemar tebar pesona pada perempuan.


Egi juga bukan lelaki yang suka bergonta-ganti pasangan. Bahkan, selama menjadi asisten dari , Beni hanya sekali melihat Egi dekat dengan perempuan.


Di apartemen, Egi dan Lily tidur lelap sambil berpelukan. Keduanya tampak nyaman dalam dekapan pasangannya.


Berbeda dengan suasana hati Amanda. Dengan hati berbunga-bunga, Amanda menunggu dengan setia kedatangan Egi.


Amanda menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kamar. Hanya untuk memastikan penampilannya, saat bertemu dengan Egi.


Namun kesenangan yang ada dalam diri Amanda seketika sirna semuanya. Saat sang papa mengatakan jika Egi tidak bisa datang ke rumah mereka. Lantaran ada sesuatu hal yang penting.


"Kenapa mendadak?" kesal Nyonya Lita, merasa kasihan pada sang putri yang sedari tadi menyiapkan makanan dengan antusias.


"Mungkin Beni lupa memberitahu papa. Sudahlah, lenih baik kita makan malam. Tanpa Egi, kita bisa menikmati makan malam. Iyakan sayang?" tanya Tuan Joshua pada Amanda.


"Iya pa." jawab Amanda, dengan senyum palsunya.


Nyonya Lita tahu, jika sang putri mempunyai perasaan pada Egi. Dan beliau berjanji akan membantu Amanda mendapatkan Egi.

__ADS_1


__ADS_2