PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 88


__ADS_3

"Kamu yakin ingin bertemu dengan Vincen?" tanya Mauren memastikan.


Lily mengangguk. "Siapa tahu, Vincen memang mempunyai sesuatu yang harus aku ketahui. Dan bisa memberatkan hukuman Nando." ucap Lily sembari fokus menyetir.


"Dari mana kamu tahu, tentang itu? Apa dia memberitahu kamu?" tanya Mauren lagi.


"Tidak. Lantas apa lagi yang ingin di berikan olehnya. Dia berkata akan memberikan bukti. Dan,, lagipula dia juga tidak keberatan, jika aku mengajakmu." ucap Lily sama sekali tidak menaruh curiga.


"Tunggu." Mauren menatap ke arah Lily. "Apa Vincen tahu, jika kamu melaporkan Nando atas kasus penganiayaan?" tanya Mauren.


"Pastinya Vincen tahu. Bukankah kasus ini menjadi pembicaraan di mana-mana." ucap Lily dengan yakin.


"Iya juga sih. Eits,,, tunggu. Egi tahukan, jika Nona Lily ingin menemui Vincen?" tanya Mauren dengan nada menggoda.


Lily menggeleng pelan. "Lily, astaga. Kamu tahu. Egi bisa murka, jika kamu menemui Vincen. Tapi tanpa bilang apapun sama dia." geram Mauren.


Mauren hanya khawatir jika hubungan sahabatnya dengan sang kekasih mengalami masalah hanya karena hal ini. "Tenang saja, kan aku menemui Vincen tidak sendiri. Ada kamu." ucap Lily, menoleh ke arah Mauren sebentar. Lalu kembali fokus ke depan.


"Terserah. Yang terpenting aku sebagai sahabat sudah mengingatkan. Jika terjadi apa-apa, aku tidak ikut campur." ujar Mauren menggeleng. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Lily.


"Jadi, kita bertemu Vincen terlebih dulu. Baru berbelanja?" tanya Mauren.


"Yapz, betul." jawab Lily dengan santai.


Mauren memandangi jalan yang mereka lalui. "Lily, kita mau ke mana?" tanya Mauren, karena dirinya sama sekali belum pernah melewati jalan ini.


"Bertemu dengan Vincen." jawab Lily.


"Iya tahu. Tapi kemana!?" geram Mauren, memandang sekelilingnya sepanjang jalan.


"Ke restoran ini." tangan Lily yang satunya menunjuk ke arah layar ponselnya yang ia taruh di atas dasboard.


Dimana ponsel tersebut menyala, dengan menggunakan sebuah aplikasi penunjuk arah. Dan Yang alamatnya telah Vincen berikan setelah keduanya bertelepon.


Mauren menatap ke arah layar ponsel milik Lily. "Jauh sekali. Kayak tidak ada tempat saja di sini." gerutu Mauren.


Lily mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Kata Vincen, tempatnya nyaman untuk berbincang." ujar Lily.


"Lily berhenti sebentar." pinta Mauren, Lily pun menghentikan mobilnya.


"Kenapa?" tanya Lily.


"Beritahu Egi, jika kita bertemu dengan Vincen." pinta Mauren, sedikit memaksa.


"Maunya sih begitu. Tapi Egi sedang rapat." sahut Lily.

__ADS_1


"Ya nggak masalah. Nanti setelah rapat Egi bisa membacanya." ucap Mauren.


Mauren kembali menghadap ke depan. "Entah kenapa perasaan aku tidak enak." lanjut Mauren.


"Sama." timpal Lily, keduanya lantas saling beradu pandang.


"Tapi aku harus menemui Vincen. Aku penasaran, tentang bukti yang dikatakan olehnya." kekeh Lily.


Lily segera mengirimkan pesan tertulis pada Egi. Mengatakan jika dirinya di temani oleh Mauren pergi menemui Vincen sebelum berbelanja.


Lily juga menuliskan alasan dia menemui Vincen. Tak lupa, Lily mencantumkan alamat di mana dirinya bersama dengan Mauren akan bertemu dengan Vincen.


Lily memandang ke arah Mauren yang juga melihat saat Lily mengetik tulisan di layar ponselnya. "Kamu, nggak ada romantis-romantisnya." gerutu Mauren.


"Terserah." ucap Lily cuek, setelah mengirimkan pesan tersebut pada sang kekasih.


Gengsi dan malu. Lily sebenarnya ingin sekali memberi emotion gambar hati dan menyebut Egi dengan kata sayang.


Namun semua urung lakukan karena Lily tahu jika Mauren melihat pesan yang Lily ketik untuk di kirom pada Egi.


"Kami yakin, ini tempatnya?" tanya Mauren.


Tapi sebelum Lily mengeluarkan perkataannya, Mauren kembali berucap. "Ehh,, itu mobil Vincen." tunjuk Mauren pada sebuah mobil di parkiran.


"Iyalah Mauren sayang. Kita sudah di sini. Dan kamu bilang jika itu mobil Vincen." Lily dengan pelan menaruh mobilnya di parkiran. Tepat di sebelah mobil Vincen.


"Restoran apa kuburan sih." gumam Mauren. Lokasi restoran tersebut sangat menyendiri. Memang ada beberapa kios, namun sedikit jauh. Meski terlihat oleh mata.


"Ayo." ajak Egi, menggandeng tangan Mauren.


"Sepi banget." lagi-lagi mata Mauren mengitari sekitar.


"Benarkan." tebak Mauren, menggeleng tidak percaya.


"Apanya?" tanya Lily bingung.


"Kita pulang saja. Perasaan aku nggak enak." ajak Mauren. Lantaran di dalam restoran hanya ada Vincen. Tidak ada pengunjung lainnya.


Mauren hanya takut jika ternyata Vincen ingin berbuat jahat pada Lily. Meski Vincen adalah saudaranya, namun tidak lantas membuat Mauren membela dan membenarkan perbuatannya.


Mauren menggandeng tangan Lily, berniat menyeret Lily untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun belum sempat Mauren membawa Lily meninggalkan tempat tersebut, Vincen sudah terlebih dulu memanggil keduanya.


"Lily... Mauren...!" teriak Vincen sembari melambaikan tangan. Memberitahu keberadaannya.


Mauren memutar kedua matanya dengan malas. "Tanpa berteriak fan melambaikan tangan kita juga tahu, kalau dia ada di sana." sebal Mauren, sebab hanya ada Vincen di dalam restoran.

__ADS_1


"Ayo, kita ke sana." Lily beralih memegang lengan Mauren, membawanya menuju meja tempat Vincen berada.


"Silahkan duduk." ucap Vincen dengan binar kebahagiaan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Vincen, memandang ke arah Lily. Mauren hanya nyengir kuda, merasa di abaikan oleh Vincen.


"Maaf, tidak perlu. Saya baru saja makan di rumah. Kamu Mauren?" tanya Lily. Mauren menggeleng dengan ekspresi acuh.


"Langsung saja. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lily tidak suka berbasa-basi.


"Sebaiknya kamu pedan sesuatu dulu?" tawar Vincen.


"Maaf. Langsung saja. Kita tidak punya banyak waktu." tolak Lily.


"Baiklah." ucap Vincen pasrah. Vincen mengambil sebuah map dari kursi di sebelahnya.


"Ini, kamu lihat." Vincen menyerahkan map tersebut pada Lily.


Lily dan Mauren saling pandang. Lily mengambil map tersebut, dan membuka isinya. Dengan cermat, Lily membaca setiap lembar kertas yang ada di dalam map tersebut.


Selembar demi selembar Lily selesai membaca, bergantian dengan Mauren. "Maksud kamu apa!?" tanya Mauren dengan nada setengah membentak.


"Itu semua adalah bukti. Jika Egi dan Tuan Ebara sedang berseteru. Egi menggunakan kamu untuk mengalahkan Tuan Ebara." jelas Vincen.


"Heh,,,, kamu lihat." Mauren menatap ke arah Lily dengan kesal. "Aku bilang apa. Tidak ada gunanya kita ke sini. Membuang-buang waktu, tenaga, dan juga bensin." kesal Mauren.


"Lily, kamu pertimbangkan semuanya. Jangan mau di bodohi oleh Egi." bujuk Vincen.


"Apa hubungan kami dengan Tuan Ebara?" tanya Lily dengan tenang. Mauren pun menatap Vincen, menunggu jawaban dari saudaranya tersebut.


"Tidak ada. Tapi perusahaan milikku pernah bekerja sama dengan perusahaan beliau. Tuan Ebara orang baik. Termasuk Nando, putranya. Aku sudah pernah bertemu dengannya." kekeh Vincen.


"Memangnya kamu tahu? Kenapa aku melaporkan Nando pada pihak kepolisian?" tanya Lily.


"Karena Egi memfitnah Nando. Dan kamu percaya, dengan mudahnya. Karena hati kamu sudah di butakan dengan cinta." ucap Vincen.


"Baiklah. Terimakasih atas niat baik kamu. Dan tenang saja, setelah dari sini. Aku akan mencabut tututanku." ucap Lily tersenyum.


"Lily..!!!" seru Mauren. Tapi Lily segera menepuk paha Mauren berkali-kali, meski pelan. Membuat Mauren bersikap waspada.


"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui." ucap Mauren dalam hati.


Mauren dan Lily sudah berteman lama. Keduanya mempunyai kode sendiri saat ada bahaya datang mendekati mereka.


"Baiklah. Aku akan menerima keputusan kamu. Sebaiknya kita segera pergi, dan mencabut laporan kamu." ucap Mauren.

__ADS_1


__ADS_2