PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 31


__ADS_3

"Lily!!" teriak Mauren, menatap kesal ke arah Lily.


"Iya, maaf." ucap Lily cengegesan.


Bagaimana Lily tidak merasa sangat senang. Saat Egi meminta alamat tempat Lily kuliah. Dan juga, Egi meminta Lily memberitahunya jika sudah selesai pelajaran.


"Berarti, Egi mau jemput aku." tebak Lily dengan wajah bersemu, merasa sangat senang. Sementara Mauren hanya menggelengkan kepala melihat ke arah sahabatnya tersebut.


"Terimakasih sudah mengantar." ucap Mauren pada Vincen, setelah keduanya tiba di kampus. Dan turun dari dalam mobil. Sementara Lily hanya tersenyum.


"Nanti aku jemput." ucap Vincen, dengan mata memandang ke arah Lily.


"Oke." ucap Mauren mengangkat tangan kanannya. Menyatukan jari telunjuk dengan jempolnya.


"Kelihatannya Vincen tertarik sama kamu." goda Mauren, menyenggol bahu Lily.


"Maaf, di kelas kita tidak terdapat pelajaran mengarang cerita." sergah Lily.


"Aisshhh,,, jahatnya." ucap Mauren, pura-pura merajuk. Dengan tangan bergelayut di lengan Lily.


"Tapi serius. Dari pada kamu sama Egi. Lebih baik sama Vincen." ucap Mauren sambil berjalan menuju kelas mereka.


"Dia juga dari keluarga kaya, sama seperti kamu. Keluarga terpandang dan juga baik. Emmm,,, tapi benar deh, aku bisa merasakannya. Jika dia menyukai kamu." oceh Mauren.


Lily langsung menghentikan langkahnya. Menatap kesal ke arah Mauren. "Memang kamu peramal." ucap Lily.


"Kamu itu. Serius. Saat dia menatap kamu, terlihat ada yang berbeda." ujar Mauren dengan nada sungguh-sungguh.


Saat keduanya tengah berjalan dan berbincang santai, Lila datang menghampiri mereka. "Hai kak Mauren." sapa Lila.


Mauren hanya tersenyum. Meski Mauren adalah sahabat dekat Lily, namun dia tidak terlalu akrab dengan Lila.


"Kak, nanti pulangnya bareng ya." ucap Lila dengan bibir cemberut.


"Mobil kamu kemana?" tanya Lily, karena biasanya mereka akan pergi kuliah membawa mobil masing-masing. Lantaran jam pelajaran yang tak sama.


"Di bengkel!!" ucap Lila dengan wajah kesal.


"Kok bisa?" tanya Lily.


"Nanti Lila cerita di rumah." ucap Lila lirih, dengan menengok ke sekitar mereka.


"Tapi kakak juga nggak bawa mobil. Mobil kakak juga di bengkel. Tapi mogok di tengah jalan." jelas Lily.


"Yahh..." desah Lila.


"Bareng kita saja nanti, saudara aku akan menjemput." kata Mauren membuka suara.


"Boleh kak?" tanya Lila dengan senang.


"Iya." jawab Mauren sambil mengangguk.


"Nanti aku tunggu di pos keamanan ya kak. Sepertinya aku selesai dulu." jelas Lila, di sahut anggukan oleh Mauren dan Lily.


"Ya sudah, Lila pergi dulu kak." pamit Lila.


Lila melangkahkan kakinya menjauh dari sang kakak. "Kenapa?" tanya Mauren, saat Lily masih memandang ke arah sang adik yang sudah jauh dari mereka.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan Lila." ucap Lily lirih, melihat sedikit gelagat aneh dari sang adik.


"Ya, aku juga berpikiran sama." ucap Mauren.


Keduanya lantas segera pergi ke kelas. Karena memang sebentar lagi jam pelajaran siang akan dimulai. "Lebih baik, nanti saja di rumah aku tanyakan kembali." ucap Lily dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana?" tanya Revan pada Amanda. Saat Amanda sudah sampai di perusahaan miliknya.


"Oke Amanda, bersikaplah senatural mungkin. Seperti biasa." batin Amanda.


"Loh, kok kamu sudah di sini. Katanya ada pekerjaan penting." ucap Amanda, melihat Revan sudah duduk dengan sombong, mengangkat sebelah kakinya dengan berada di kaki satunya lagi, di ruangan milik Amanda.


"Apa Egi sudah menandatanganinya?" bukannya menjawab pertanyaan Amanda, Revan malah balik bertanya.


"Belum, saat aku datang dia sibuk." ucap Amanda, menaruh map yang di bawanya ke atas meja. Masih dengan posisi berdiri.


"Dia menyuruhku untuk meninggalkan semua berkas ini. Dan akan menandatanganinya nanti. Tapi kata kamu, aku harus membawanya kembali. Meski tanpa tanda tangan. Jadi aku membawanya kembali, dan belum mendapatkan tanda tangan dari Egi." jelas Amanda.

__ADS_1


"Kamu bisa memaksanya!!" hardik Revan sambil berdiri. Membuat Amanda kaget, hingga berjingkat dan memegang dada miliknya.


"Tenang Amanda, tenang." batin Amanda.


"Egi tidak mau menandatangani, jika belum membacanya." ucap Amanda.


"Bodoh. Pakai otakmu. Kamu bisa menggunakan cara lain. Supaya Egi menandatanganinya." ucap Revan, mendekat ke arah Amanda.


"Percuma punya wajah cantik. Tapi tidak dipergunakan dengan baik." desis Revan, menabrak bahu Amanda. Hingga badan Amanda sedikit terhuyung. Namun masih berdiri dengan tegap.


Revan mengambil map tersebut. Kemudian pergi meninggalkan Amanda sendiri. "Oke Amanda, tenang. Jangan menangis atau marah. Kamu harus ingat. Revan bisa menaruh bolpoin untuk merekam pembicaraan kamu dan Egi. Bukan tidak mungkin, sekarang Revan juga memasang CCTV di ruangan kamu. Tanpa sepengetahuan kamu." ucap Amanda, menetralkan perasannya.


"Ingat perkataan Egi. Bertindaklah seperti orang bodoh." imbuh Amanda dalam hati.


Amanda menarik nafas panjang dan duduk di kursi. Memijat keningnya yang terasa pusing dengan perlahan.


Amanda teringat perkataan Revan yang terakhir. "Percuma punya wajah cantik. Tapi tidak dipergunakan dengan baik."


Amanda merinding mengingat perkataan tersebut. "Jangan sampai apa yang aku pikirkan menjadi kenyataan." batin Amanda.


"Jangan sampai, Revan menyuruhku melakukan hal hina dan menjijikkan." imbuh Amanda dalam hati.


Amanda berpikir, jika Revan akan menggunakan tubuhnya untuk memperoleh proyek-proyek besar. "Aku harus segera memberitahu Egi." ucap Amanda, mengambil ponsel miliknya.


"Tunggu." batin Amanda, teringat perkataan Egi.


Jika Amanda tidak boleh menghubunginya melalui ponsel miliknya. Karena kemungkinan besar ponsel milik Amanda sudah tersambung dengan ponsel milik Revan.


Dengan begitu, Revan akan mendengarkan semua percakapan keduanya. Dan juga, jika Amanda mengirim pesan pada Egi, Revan juga bisa membacanya.


Tubuh Amanda bergetar. "Apa yang harus aku lakukan." batin Amanda, menyandarkan badannya di kursi.


Dan Revan, segera mengambil alat perekam tersebut. Dan mendengarkannya. "Benar-benar tidak bisa di andalkan." seru Revan dengan suara tertahan.


"Tunggu." ujar Revan, kembali mendengarkan percakapan Amanda dan Egi.


"Kenapa waktunya hanya sebentar. Tapi Amanda baru pulang sekarang." ucap Revan, mencurigai Amanda.


Segera Revan menelpon sopir yang dia suruh untuk mengantar Amanda. Dan menanyakannya. Sang sopir menjawab jika Amanda mampir terlebih dahulu ke kanton perusahaan milik Egi.


Segera Revan menutup teleponnya. Dirinya menjadi uring-uringan dengan ketidak keberhasilan Amanda. "Pasti Bob akan marah." ucapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, ternyata lelaki tersebut berhasil keluar dari rumah sakit jiwa." ucap Beni melaporkan hasil penyelidikannya.


"Ardes, bagaimana dia bisa seceroboh ini." gumam Egi.


"Katakan pada Tuan Ardes jika aku akan ke sana." perintah Egi.


"Segera Tuan." ucap Beni, segera memberitahu pada asisten Tuan Ardes, jika atasannya sedang dalam perjalanan menuju perusahaannya.


"Maaf Tuan, apakah anda bermaksud mambantu Nona Amanda?" tanya Beni dengan hati-hati, sembari menyetir.


"Aku sendiri juga tidak yakin." jawab Egi. Bukannya Egi tidak yakin atas kemampuannya bisa mengalahkan Revan beserta Bob.


Tapi dirinya harus berpikir berkali-kali. Jika ingin membantu Amanda. Karena membantu Amanda, berarti Egi juga harus menjaga dengan ekstra orang yang di sayangnya. Yaitu sang mama.


Itulah alasan terbesar Egi ragu untuk membantu lebih dalam masalah keluarga Amanda. "Mungkin aku akan membantunya. Tapi secara diam-diam. Biar Ditya saja yang memainkan peran." imbuh Egi.


Karena kebetulan, Ditya juga mempunyai masalah dengan Bob. Karena Bob bekerja sama dengan musuh Ditya. Dan secara tidak langsung, Ditya sekalian bisa memberi sedikit pelajaran pada Bob.


Keduanya sampai di perusahaan Tuan Ardes. Di lobi, sudah nampak asisten Tuan Ardes. Terlihat kedatangan Egi sudah di sambut oleh Tuan Ardes.


"Silahkan Tuan, Tuan Ardes sudah menunggu anda di ruangannya." ucap sang asisten dengan sopan, sedikit membungkukkan badan.


Tanpa banyak kata, setelah masuk ke dalam ruangan Tuan Ardes. Dan duduk di kursi, Egi langsung mengatakan uneg-unegnya.


"Kenapa laki-laki itu bisa lolos?" tanya Egi tanpa basa-basi.


Tuan Ardes terkekeh pelan. "Kamu lupa sedang bicara dengan siapa?" goda Tuan Ardes.


Tuan Ardes mengulurkan tangannya, membuat Egi mengernyitkan dahi. "Lama." ucap Tuan Ardes, mengambil telapak tangan Egi yang berada di pangkuannya.


"Saya calon mertua kamu. Jaga kesopanan kamu, jika ingin saya terima." ucap Tuan Ardes.


Segera Egi melepas telapak tangannya. "Heh,,, jangan berkata seperti itu Tuan. Harusnya anda yang menjaga sikap anda. Jangan sampai saya mencampakan putri anda." ancam Egi.

__ADS_1


Egi membenarkan posisinya duduk, sambil merapikan jas yang dipakainya. Padahal jas tersebut masih dalam keadaan rapi. Egi memandang ke arah Tuan Ardes dengan senyum mengejek. "Kelihatannya putri anda yang tergila-gila padaku." ucapnya dengan sombong.


Beni yang berdiri tak jauh dari mereka hanya menggeleng. Melihat perdebatan di antara Tuan Ardes dan Egi. Keduanya seolah tidak mau mengalah. "Bisa lama jika dibiarkan." batin Beni.


"Khemm... khemm..." Beni berdehem.


"Maaf, tenggorokan saya tiba-tiba terasa gatal, Tuan." ucap Beni beralasan, saat Tuan Ardes dan Egi secara serempak menatap ke arahnya.


"Kenapa lelaki tersebut bisa lolos?" tanya Egi dengan tenang.


Tuan Ardes memandang ke arah Egi. Seolah dia tidak percaya. Padahal dia sudah menempatkan bawahannya untuk menjaga lelaki tersebut, supaya jangan sampai meninggalkan rumah sakit jiwa. Dengan alasan apapun.


"Beni." ucap Egi. Segera Beni mendekat, menyerahkan map pada Tuan Ardes. Dimana, di dalam map tersebut ada berkas dan juga beberapa foto lelaki yang dimaksud oleh Egi.


Tampak lelaki tersebut sedang berada di jalan. Terlihat berjalan santai dengan memakai pakaian bagus. Berada di beberapa warung makan, serta restoran. Dan juga tempat belanja.


Sungguh, lelaki tersebut terlihat menikmati hidupnya. Tak lupa ada foto, saat lelaki tersebut menaiki mobil mewah. Dan pastinya dengan harga selangit. Seakan dia tidak pernah berbuat salah.


"Bukan hanya Lily yang menjadi korban. Bahkan ada seorang perempuan yang meninggal. Dan beberapa lainnya depresi. Karena perbuatannya." jelas Egi.


"Meski ada beberapa juga yang selamat. Dia benar-benar psikopat. Kejam dan tanpa ampun." imbuh Egi.


Jika dulu, Egi menyerahkan semuanya pada Tuan Ardes untuk menyelidiki serta mengambil sikap atas lelaki tersebut. Lantaran Lily adalah putrinya.


Tapi tidak untuk sekarang. Setelah kejadian pagi tadi, segera Egi menyuruh Beni melakukan penyelidikan secara mendetail.


"Biarkan anak buahku yang menangani lelaki tersebut. Dan anda. Tuan Ardes, sebaiknya anda disiplinkan bawahan anda." sindir Egi.


Sementara Tuan Ardes masih diam, dengan rahang keras dan tangan mengepal sempurna. Dirinya sangat tahu, apa arti perkataan Egi yang terakhir.


Penghianat. Bawahannya telah berkhianat padanya.


Tapi setidaknya Tuan Ardes merasa bersyukur. Ada seseorang seperti Egi di samping Lily. "Dapatkan cinta Egi. Papa merestuimu." gumam Tuan Ardes.


Beni juga menyelidiki, kenapa lelaki tersebut bisa lolos dari rumah sakit jiwa. Ternyata dia memberi uang dengan jumlah besar pada bawahan Tuan Ardes.


Uang. Bukan masalah besar bagi lelaki tersebut. Karena dia putra dari salah satu pengusaha kaya di negara ini.


Dan pastinya, keluarganya akan menutupi semua kelakuan putranya. Bagaimanapun caranya.


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan Tuan?" tanya Beni, setelah keduanya meninggalkan perusahaan milik Tuan Ardes.


"Perintahkan bawahanmu untuk selalu memantau Lily. Di manapun dia berada. Meski saat berada dalam kelas, maupun di dalam rumah." ucap Egi.


"Dan untuk lelaki tersebut. Lakukan hal yang sama seperti Lily. Kita lihat, apa yang akan dia lakukan selanjutnya." imbuh Egi, dengan senyum menyeringai.


Glek,,,, Beni bergidik ngeri melihat senyum atasannya tersebut, yang dilihat dari balik kaca mobil.


Sudah sangat lama, bahkan bertahun-tahun. Beni tidak pernah melihat senyum mengerikan dari Egi. Dan sekarang, dia melihatnya lagi.


"Tanpa anda sadari, Nona Lily sudah masuk dalam hati anda Tuan. Saya berjanji, akan menjaga Nona Lily untuk anda." batin Beni merasa begitu senang.


Karena sejak menjatuhkan hati untuk seorang perempuan bernama Ella. Dan mendapat penolakan. Karena sang perempuan sudah memiliki kekasih.


Egi tidak pernah lagi membuka hatinya untuk perempuan. Dia seperti enggan untuk berdekatan dengan yang namanya perempuan.


Padahal dengan Amanda, Egi masih berpikir untuk membantunya. Tapi tidak dengan Lily. Egi langsung membantunya. Padahal Lily tidak pernah meminta pada Egi.


Egi melihat ke arah jam tangan mewah dan pastinya mahal, yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kamu kembali ke perusahaan naik taksi saja. Saya ingin pergi ke suatu tempat." perintah Egi.


Tanpa banyak bertanya, Beni menepikan mobilnya dan memberhentikannya. Segera keduanya turun dari dalam mobil.


"Jangan lupa untuk menaruh bawahanmu yang kompeten dan hebat di sekitar mereka. Jangan hanya satu orang." ucap Egi, kembali mengingatkan Beni.


"Dan lagi, saya tidak akan kembali ke perusahaan. Kamu handle semua pekerjaanku." imbuh Egi.


"Baik Tuan." ucap Beni dengan sopan.


Segera Egi melajukan mobilnya ke tempat Lily kuliah. Dengan santai, Egi melajukan mobilnya. Karena jika melihat waktunya, dia masih memiliki banyak waktu.


Tak lupa Egi menyalakan musik, sekedar menemaninya dalam berkendara.


Di perusahaannya, Tuan Ardes benar-benar murka. Bagaimana bisa dia dibohongi mentah-mentah oleh bawahannya.


"Temukan dia. Seret ke hadapanku. Aku tunggu di tempat biasa." perintah Tuan Ardes pada asistennya.


"Brengsek. Benar-benar tidak tahu balas budi." tampak Tuan Ardes benar-benar marah.

__ADS_1


Orang yang selalu dia beri uang setiap bulan. Dia penuhi semua kebutuhannya. Dia sediakan tempat tinggalnya. Sekarang berani berkhianat hanya karena sejumlah uang.


"Kita lihat, apa yang akan kamu terima setelah ini. Apakah uang yang kamu dapatkan bisa menyelamatkanmu!!" desis Tuan Ardes, dengan tatapan mata menyalang.


__ADS_2