
Disinilah Lily berada. Di dalam kamar Mauren. Tak henti-hentinya Lily mengumpat. Dan pastinya di tujukan pada Egi.
Mauren hanya diam. Membiarkan sahabatnya mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya.
"Bicara Mauren. Bicara!!! Apa yang harus aku lakukan." teriak Lily.
Beruntung kamar tidur Mauren kedap suara. Sehingga seberapa keras Lily berteriak, tidak akan bisa terdengar dari luar.
"Sudah?" tanya Mauren dengan santai, saat Lily sudah duduk di atas sofa besar dengan kaki bersila. Menatap kesal kepada Mauren.
"Sekarang aku bertanya. Kamu yang menemui Egi?"
"Please Renn..."
"Cukup jawab. Iya apa tidak." tegas Mauren.
"Iya." jawab Lily dengan nada kesal.
"Dia membiarkanmu masuk ke dalam ruangannya?"
"Renn,,,..." ucapan Lily berhenti saat Mauren menatapnya tajam.
"Iya." jawab Lily.
"Kamu mendekatkan badan kamu pada Egi?"
"Iya." jawab Lily dengan nada malas.
"Memintanya menjadi kekasih kamu?" kali ini Lily mengangguk pelan dengan bibir cemberut.
"Dia mencium punggung tangan kamu?"
Lily hampir berteriak teringat apa yang di tanyakan Mauren. Hanya saja, suaranya tercekat di tenggorokan melihat Mauren menatapnya dengan tajam dan penuh intimidasi.
"Iya." jawab Lily lirih.
"Egi memegang erat pinggang kamu?"
"Betul." seru Lily.
"Dimana kesalahan Egi? Kamu yang memulai Lily sayang." ucap Mauren jengah.
Karena sedari tadi Lily berkata jika Egi mencuri kesempatan dalam kesempitan. Berkata jika Egi mesum.
"Dia cuma pegang pinggang kamu. Cium tangan kamu. Dan itu karena kamu yang mengikis jarak di antara kalian terlebih dulu." jelas Mauren.
"So,,, siapa yang memulai?" tanya Mauren selanjutnya.
"Tapi seharusnya dia tidak boleh melakukan itu semua. Tidak adil." kekeh Lily menyalahkan Egi.
__ADS_1
"Tidak adil?" tanya Mauren tersenyum.
"Iyalah." jawab Lily dengan semangat.
Mauren sangat mengerti kenapa Lily berkata seperti itu. Lantaran selama ini Lily belum pernah dekat dengan lelaki. Baginya di peluk oleh seorang lelaki selain papanya merupakan hal yang sedikit aneh.
Jangankan dekat dengan lelaki, atau di bilang mempunyai kekasih. Lily saja tidak mempunyai sahabat lelaki.
Entah bagaimana kehidupan Lily sebelum dia masuk ke perguruan tinggi. Hingga akhirnya dirinya bertemu dengan Mauren, dan bersahabat dengan perempuan tersebut.
Dan yang lebih membuat Lily beruntung. Mauren adalah perempuan baik. Seandainya Mauren bukan perempuan baik, pasti dirinya sudah menjadikan Lily sebagai bahan mainannya atau lebih tepatnya menjerumuskan Lily ke dalam kehidupan yang berbahaya.
"Terus yang adil menurut kamu bagaimana?" tanya Mauren menahan kesal pada Lily. Seolah dirinya yang di manfaatkan. Bukankah sebaliknya. Lily yang bermaksud memanfaatkan Egi.
"Ya,,, ya,,, pusing aku mikirnya." seru Lily, tidak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut.
"Sayang, Lily Ardesya... Di sini kamu yang memulai terlebih dahulu. Di sini kamu yang menginginkan dia untuk menjadi kekasihmu. Di sini,,, kamu yang membutuhkan bantuan." jelas Mauren dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Renn,,, kamu itu sebenarnya sahabat siapa sih. Aku apa dia. Malah membela Egi." ketus Lily.
"Bukannya membela. Tapi mengatakan kenyataan." ucap Mauren.
"Kamu disini kesal. Merasa Egi mengambil kesempatan pada kamu. Padahal kamu nggak diapa-apain."
"Hey,,, dia meluk pinggang aku sama cium tangan aku." kekeh Lily.
"Cu-ma pegang ping-gang. Sama cium ta-ngan. Kamu nggak rugi. Coba kalau kamu di perkosa, baru kamu rugi." Lily melotot tak percaya dengan kalimat yang di ucapkan Mauren.
"Kamu juga kenapa nggak punya kakak laki-laki." ucapan Lily semakin ngkantur.
Mauren meraih bantal di sampingnya. Melemparkan pada Lily. "Seandainya punya, tidak akan aku izinkan." seru Mauren. Sepertinya dia tahu apa yang ada di pikiran Lily.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Lily mengacak rambutnya dengan kasar.
"Jujur sama papa kamu."
"Tidak akan pernah." Lily menyilangkan tangannya di depan badannya.
"Oke, lantas apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mauren. Lily memandang Mauren. Tampak dirinya sedang berpikir apa yang akan di lakukan selanjutnya.
Dengan pelan, Lily menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah sedih bercampur bingung. Membuat Mauren merasa kasihan.
"Huhhh,,,,, Aku juga ikut pusing." gumam Mauren membuang nafas kasar.
"Sepertinya berbicara baik-baik dengan Egi. Jalan satu-satunya." timpal Mauren.
"Caranya?" tanya Lily dengan polos.
Mauren menepuk pelan dahinya. "Nona Lily, anda adalah seorang mahasiswa dengan nilai terbaik di kelas anda. Gunakan sedikit otak anda. Oke." ejek Mauren.
__ADS_1
Lily hanya cemberut mendengar perkataan Mauren. "Aku benar-benar tidak tahu caranya." ucap Lily lirih.
"Aku akan membuat kesepakatan dengannya." gumam Lily masih terdengar Mauren.
"Tapi aku tidak punya apa-apa untuk membuat kesepakatan." keluh Lily. Sehingga Lily akan memutar otaknya. Sampai Egi bersedia menjadi kekasihnya. Meski hanya sementara.
Di kantor, Egi sedang menunggu rekan bisnisnya. "Tuan, Nona Amanda sudah datang." ucap Beni memberitahu atasannya.
Tangan Egi yang sedang menulis di atas kertas berhenti. Mendongakkan kepala dan menatap Beni. "Suruh masuk." Egi berdiri dan menyambut kedatangan Amanda. Perempuan berparas cantik dan juga pintar.
"Selamat datang. Silahkan duduk." ucap Egi dengan sopan.
Sebelumnya, Egi selalu bertemu dengan papa Amanda. Karena sebenarnya, Amanda hanya meneruskan apa yang papanya kerjakan. Karena sekarang papanya sedang sakit.
Amanda datang bersama dengan Revan. Asisten Amanda sekaligus bodyguard yang di perintahkan oleh papa Amanda untuk menjaga Amanda.
"Terimakasih."
Amanda dan Egi duduk berdampingan. Karena mereka hanya menghadap satu laptop di depannya. Egi menjelaskan beberapa poin penting pada Amanda.
Ekor mata Amanda melirik ke arah Egi. Tampak Egi sangat memukau dengan balutan jas di badannya. Apalagi saat Egi menjelaskan beberapa poin penting pada Amanda, Egi tampak lebih tampan.
"Bagaimana? Apakah Nona Amanda sudah mengerti dan paham?" tanya Egi menegakkan kembali tubuhnya. Membuat Amanda gelagapan. Lantaran dirinya sama sekali tidak memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Egi.
Segera Amanda menguasai dirinya. Bersikap seperti semula. "Sebenarnya ada beberapa hal yang kurang saya mengerti. Maaf sebelumnya, karena saya masih belum lama mengambil alih perusahaan papa." ucap Amanda mencari alasan.
"Tidak masalah Nona. Saya yakin anda akan lebih paham akan bisnis dengan pelan-pelan." ucap Egi.
"Amanda. Tanpa Nona." ucap Amanda membenarkan panggilan pada dirinya. Egi hanya tersenyum dan mengangguk.
"Bagiamana jika kita makan siang bersama." ucap Amanda dengan mata memandang ke arah pergelangan tangannya, dimana ada jam tangan yang melingkar di sana.
"Sekalian, menanyakan beberapa hal yang kurang saya mengerti." jelas Amanda.
"Boleh." ujar Egi.
"Van, saya pergi dengan Tuan Egi. Sebaiknya kamu juga makan siang terlebih dahulu." ujar Amanda pada asistennya. Revan.
"Saya akan makam siang, mengikuti Nona dan Tuan Egi." ucap Revan.
Sepertinya Revan akan mengekor kemanapun atasannya pergi. Amanda mendengus sebal. Lagi-lagi lelaki yang di suruh papanya selalu mengekor kemanapun dirinya pergi.
"Saya hanya menjalankan perintah Tuah Besar." ucap Revan beralasan.
Amanda memutar bola matanya jengah. Kalimat itu yang selalu keluar dari mulut Revan, saat dirinya memang sedang ingin sendiri.
"Tidak masalah. Beni juga akan ikut bersama kita." ucap Egi.
Egi tidak ingin masuk kedalam masalah antara Amanda dan Revan. Karena Egi tidak tahu apa yang terjadi. Dan Egi memang tidak mau tahu.
__ADS_1
Keempatnya menuju ke restoran terdekat. Dengan Egi satu meja bersama Amanda. Sementara Revan dan Beni berada di meja yang lain. Dan itu semua permintaan dari Amanda.