
"Jangan dilanjutkan. Aku baik-baik saja. Jangan kotori tangan kamu dengan darah mereka." bujuk Lily
Saat Egi sudah dalam keadaan bertarung, maka dia akan sulit di kendalikan. Itulah kenapa Beni khawatir jika sampai Egi melukai Lily.
Bawahan Egi saja, termasuk Beni, memilih untuk tidak ikut campur. Saat Tuan mereka sedang dalam mode garang dan buas.
Egi terdiam, dan membalikkan badan. Masih dengan ekspresi dingin, dia menatap ke arah Lily. Cup,,,, Lily mencium singkat bibir Egi. Membuat Egi tersenyum dan membalas kecupan singkat dari Lily
Semua bawahan Egi langsung menunduk melihat adegan tersebut, serta bernafas lega. Termasuk Beni, yang tersenyum sempurna. "Sekarang sang iblis sudah mempunyai pawang." gumam Beni.
Egi mengambil kursi. "Duduklah." pinta Egi dengan nada lembut. Egi kembali mengambil satu kursi. Menaruhnya di samping Lily, dan mendaratkan pantatnya di kursi tersebut.
"Lepas." perintah Egi, dengan mata mengarah kepada Vincen yang masih terikat.
Egi menajamkan pandangannya pada Beno. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Sejenak kemudian, Egi tersenyum smirk.
"Khemm..." dehem Egi, melirik ke arah Beni dengan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Berikan hadiahnya pada sang majikan." perintah Egi.
"Hadiah apa?" tanya Lily dengan polos.
Egi merapikan rambut Lily yang berantakan. "Hadiah besar, katena pastinya Tuan Ebara akan merasa senang." ucap Egi dengan nada lembut dan ekspresi malaikat yang baik hati.
Segera Beni berbisik ke anak buahnya yang berada di sebelahnya. Lalu dia segera mengangguk, mengajak rekannya untuk melakukan perkataan yang baru saja di bisikkan oleh Beni.
"Yang namanya iblis, akan tetap menjadi iblis. Meski bisa berubah menjadi malaikat baik. Sementara waktu." ucap Beni dalam hati.
"Pandai sekali Tuan bersandiwara di depan pujaan hati." ucap yang lain dalam hati.
Egi sangat pandai mengambil peran dalam setiap keadaan. Tentu saja, dihadapan Lily, Egi menginginkan sang pujaan hati menatapnya sebagai lelaki baik hati. Dan Egi akan memperlihatkan, apa yang ingin dilihat Lily pada dirinya.
Kedua mata Lily melihat bawahan Egi menyeret keluar tubuh Beno. "Mau di bawa kemana?" tanya Lily.
"Di obati. Kasihan jika dia terus merasakan sakit." ujar Egi tersenyum manis. Seolah perkataannya mengandung arti yang dalam. Dan hanya mereka yang bekerja di bawah tangan Egi yang paham.
__ADS_1
"Perkataan yang terdengar sangat manusiawi." ucap bawahan Egi dalam hati. "Memang setelah ini, Beno tidak akan merasakan sakit." imbuhnya dalam hati.
Padahal mereka tahu, jika saat ini Beno pasti sedang meregang nyawa. Dan selamanya dia tidak akan merasakan kesakitan lagi. Tepat seperti yang dikatakan Egi. Di obati.
Bawahan Egi mengirim penggalan kepala Beno kepada Tuan Ebara. Sadis. Itulah salah satu kekejaman Egi yang di sebut iblis penunggu neraka.
Mereka tersenyum sambil menggeleng. "Salah sendiri, membangunkan macan yang tidur lelap." ucapnya, saat memasukkan kepala Beno kedalam sebuah kotak yang terbungkus rapi.
Sementara tubuh Beno, jangan tanyakan lagi. Hewan buas akan dengan senang hati menjadi pengeksekusi terakhir. Di mana perut mereka akan terasa kenyang karena melahap tubuh Beno.
"Kalian urus dia. Jaga dengan baik. Aku masih mempunyai urusan dengannya." perintah Egi pada bawahannya yang merangkul Vincen.
"Jangan salahkan Vincen." cicit Lily, langsung mendapat tatapan tajam dari Egi.
Beni merasa Lily salah berucap di saat yang tidak tepat. "Bisa kacau." ucap Beni dalam hati. Takut Egi akan salah paham pada Lily. Atau Egi akan cemburu, karena Lily masih membela Vincen.
"Maaf Tuan, apa tidak sebaiknya Nona Lily di rawat." ujar Beni mengalihkan perhatian Egi.
Lily menatap Beni, seakan mengucapkan terimakasih dari sorot matanya Dan bernafas lega. Beni tersenyum samar dan sedikit mengangguk.
Egi pergi bersama dengan Lily dan Mauren. Ketiganya langsung menuju ke apartemen milik Egi. Di mana di sana sudah ada dokter pribadi dari Egi.
"Bagaimana?" tanya Egi pada sang dokter, setelah beliau selesai memeriksa keadaan kedua perempuan tersebut.
Lily dan Mauren terlebih dahulu berganti pakaian yang memang sudah di belikan oleh bawahan Egi. Karena pakaian keduanya sangat kotor.
Terlebih Lily, di pakaiannya terdapat bercak darah yang sudah mengering.
"Hanya luka luar. Dan sedikit syok. Jangan khawatir. Mereka akan pulih dengan segera." jelas sang dokter.
Selesai di periksa, Mauren bersikeras untuk pulang terlebih dahulu. "Lalu kamu mau naik apa?" tanya Lily.
"Kan ada taksi. Tenang saja." jawab Mauren, sambil memegang kertas resep yang diberikan sang dokter.
__ADS_1
"Lalu itu bagaimana?" tanya Lily, melihat resep obat tersebut.
"Jalan pulang, sekalian mampir apotik." jelas Mauren.
"Apa perlu di antar Egi?" tawar Lily. Mauren langsung menggeleng untuk menjawab tawaran dari sahabatnya tersebut. "Tidak perlu." tolak Mauren
"Dia kira aku sopir." dengus Egi dalam hati, yang sedang duduk di sofa, dengan mata berpura-pura berfokus pada layar ponselnya.
Padahal, Egi sedang menyimak percakapan sang kekasih dengan sahabatnya. "Jangan kamu membicarakan tentang Vincen terlebih dulu." bisik Mauren.
Lily memandang sekilas ke arah Egi, lalu mengangguk paham. Mauren sadar, jika saudaranya tersebutlah akar dari permasalahan ini.
Jika saja dia tidak mudah terbujuk omongan dari Beno, pasti mereka sekarang dalam keadaan baik-baik saja. Dasar tidak berguna.
Namun Lily juga merasa dirinya ikut andil dalam masalah ini. Jika saja Lily mengindahkan perkataan Mauren untuk tidak menemui Vincen, kejadian tersebut tidak akan pernah terjadi.
"Ingin pulang saja pake drama segala." ucap Egi dalam hati merasa kesal.
"Aku pulang dulu, baik-baik di sini." Mauren mengecup kedua pipi Lily bergantian.
"Terimakasih atas bantuannya, saya pulang dulu." pamit Mauren, berdiri di depan Egi.
"Hemm..." ucap Egi acuh, dengan kedua mata masih fokus ke layar ponselnya.
Mauren menghela nafas melihat sahutan dari Egi, dirinya tidak terlalu terkejut. Lantaran memang seperti itulah sifat Egi. Dan Mauren sudah mengetahuinya. "Dasar Egi. Tapi aku tetap cinta." ucap Lily dalam hati, tersenyum.
Mauren kembali mengarahkan pandangan pada Lily dan tersenyum. Lily mengangguk pelan, dan membalas senyum dari Mauren.
Egi memastikan jika Mauren telah meninggalkan apartemennya. "Maaf, datang terlambat." Egi bersimpuh di depan Lily.
Lily membawa Egi untuk duduk di sampingnya, memeluknya dengan nyaman. "Biarkan dulu aku seperti ini." ujar Lily, saat Egi hendak melepaskan pelukannya.
Beberapa saat, keduanya terdiam. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dengan Lily tetap berada di pelukan Egi. Terdengar suara nafas Lily yang mulai teratur, menandakan jika pemiliknya sudah masuk ke dalam mimpi.
__ADS_1
Dengan pelan dan perlahan, Egi memindahkan Lily untuk berbaring di atas kasur empuk miliknya. Egi segera pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya.
Egi mematikan ponsel miliknya. Dirinya tidak ingin di ganggu untuk saat ini. Egi malah ikut Lily, berbaring di samping Lily, dan mulai memejamkan kedua matanya.