PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 89


__ADS_3

"Biar aku yang mengantar kalian pulang?" tawar Vincen.


"Tidak perlu, kami membawa mobil sendiri." tolak Lily dengan ramah. Lily tidak ingin beberapa orang yang sedang bersembunyi mencurigai dirinya.


Mauren dan Lily bergandengan tangan, hendak keluar dari dalam restoran. Tapi sayangnya, sebelum mereka melangkah keluar, pintu restoran sudah di tutup oleh seseorang, dengan beberapa orang berdiri di depan pintu bagian dalam.


Mauren dan Lily saling berpandangan, kedua telapak tangan mereka masih saling menggenggam. "Ternyata ini jebakan." gumam Mauren, masih terdengar oleh Lily.


Vincenpun akhirnya berdiri berjalan ke arah Lily dan Mauren yang tak jauh dari tempatnya. "Biarkan mereka pergi. Lily sudah bersedia mencabut laporannya." ucap Vincen, seolah mengenal mereka.


Lily dan Mauren melirik ke arah Vincen dengan pandangan sengit. "Baiklah, sebaiknya Tuan Vincen saja yang pergi meninggalkan restoran." ucap seorang lelaki yang tiba-tiba muncul.


"Ayo, kita pergi. Kalian minggir." Vincen meraih lengan Lily, tapi Lily segera menyisihkan tangannya. Membuat semuanya tertawa, mencemooh melihat Vincen mendapatkan penolakan dari Lily.


Namun Vincen seakan tidak terpengaruh. "Kalian, minggirlah. Kami ingin lewat!!" bentak Vincen, sebab mereka bahkan tidak bergeser sejengkalpun.


Lily dan Mauren masih terdiam. Keduanya hanya mendengar dan mengamati sekitar. Mauren menyenggol tubuh Lily, seakan sedang memberi kode.


Ternyata Lily sudah memberitahu Egi, tanpa sepengetahuan Mauren. Sejak Lily merasakan ada yang berbeda dengan restoran tersebut. Lily segera memberi pesan pada sang kekasih.


Kenapa Lily tidak menelpon, Lily takut mereka semua yang bersembunyi akan mengetahui. Dan malah akan membahayakan nyawanya dan Mauren.


"Astaga..." seru lelaki yang mengajak Vincen untuk bekerja sama. "Bukankah sudah aku bilang. Tuan Vincen yang terhormat, jika anda ingin pergi. Silahkan pergi." ucapnya menunjukkan pintu keluar.


"Biarkanlah kedua perempuan cantik ini di sini. Saya, ada perlu dengan dia." lanjutnya, menunjuk ke arah Lily sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Jaga mata kamu!!" bentak Vincen.


"Ooo,, takut." ejeknya dengan ekspresi seperti sedang ketakutan. Tapi setelahnya, dia tertawa tebahak-bahak.


"Bukankah kesepakatan kita sudah selesai." ucap Vincen, menatap tajam ke arah lelaki yang menjadi ketua kelompok tersebut. Panggil saja namanya Beno.


Mauren dan Lily memandang Vincen dengan terkejut. "Kesepakatan." gumam Lily.


"Maaf." ucap Beno, menyatukan telapak tangannya di depan dadanya, seolah merasa bersalah. "Tapi kesepakatan kita,,,, ber-ubah." lanjut Beno menyeringai.


"Benoo... Apa maksud kamu?!" seru Vincen, sadar jika dirinya di permainkan dan hanya di jadikan alat.

__ADS_1


"Beno, kenapa namanya hampir mirip dengan asisten Egi. Apa mereka saudara kembar yang tak serupa?" bisik Mauren di telinga Lily.


Lily hanya memutar kedua matanya dengan malas. Di saat genting, Mauren masih saja bisa bercanda.


"Maksud saya." Beno menunjuk ke arah wajahnya sendi dengan senyum. Tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi garang. "Tinggalkan mereka. Maka nyawa kamu akan selamat." ancam Beno.


"Tidak akan." kekeh Vincen berdiri di depan Mauren dan Lily.


"Dia pikir bisa melindungi kita berdua. Lihat, lawannya sangat banyak." bisik Mauren pada Lily.


"Kenapa kamu malah mempersulit diri. Bodoh!!" ejek Beno.


"Perempuan ini sama sekali tidak menganggap kamu. Kenapa kamu masih membelanya." bentak Beno.


Lily melirik ke arah jarum jam. Berharap Egi segera datang. "Apa yang kalian inginkan?" tanya Lily dengan tenang.


Mengulur waktu. Itulah sekarang yang ada di benak Lily. Menunggu kedatangan sang pangeran.


Beno menggerakkan tangan. Dengan cepat, anak buahnya berjalan ke arah Vincen. Segera, Vincen berusaha melawan demi melindungi dirinya dan juga kedua perempuan di belakangnya.


Mauren memegang erat lengan Lily, menandakan jika dia dalam ketakutan. Berbeda dengan Lily, dia berusaha untuk tetap dalam keadaan tenang.


Lily sadar dia akan memperparah keadaan jika dirinya juga merasakan takut berlebihan. Di hati Lily, hanya ada satu keyakinan.


Yakni, sang pujaan hati pasti akan datang. Lily yakin.


"Lepas!!" teriak Vincen berontak, saat tubuhnya di ikat menjadi satu dengan kursi.


Bughh,,, bughh,,, bugh,,, beberapa pukulan mendarat ke perut Vincen. Membuat si empunya meringis lesakitan. "Aaa..!!!" seru Mauren menyembunyikan wajahnya di punggung Lily dengan tubuh gemetar.


"Cukup." ucap Beno, memandang remeh ke arah Vincen.


"Kalian. Brengsek." umpat Vincen meludah ke arah Beno, namun sayangnya posisi Beno tidak tergapai oleh air yang di keluarkan dari dalam mulut Vincen.


Beno tersenyum sinis. "Kami memang brengsek." ucap Beno merentangkan kedua tangannya. "Dan kamu, pernah percaya pada si brengsek ini." lanjut Beno tertawa terbahak-bahak.


Beno mendekat ke arah Vincen. "Tuan Muda Vincen. Terkenal karena kepiawaiannya menjalankan perusahaan sang papa. Hingga perusahaan tersebut melejit ke atas." ucap Beno dengan menggerakkan tangannya dari bawah ke atas.

__ADS_1


"Tapi sayang." Beno menepuk pipi Vincen dengan keras. "Kepintaran otakmu tidak berpengaruh pada kami." imbuh Beno tertawa senang.


Beno mengalihkan pandangannya pada kedua perempuan yang berdiri. Di mana di kanan kiri mereka sudah di kelilingi anak buah Beno.


"Egi. Kamu kekasihnya Egi. Hebat juga. Pelet apa yang kamu gunakan." ucap Beno, melihat tubuh Lily dengan intens. Seakan ingin menelanjangi Lily.


"Biasa." ejek Beno tersenyum remeh, menilai bentuk tubuh Lily.


Beno memiringkan kepala. "Bagaimana kalau dia. Bukankah dia sahabatmu?" tanya Beno, membuat takut Mauren.


Mauren semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Lily. "Jangan macam-macam." ucap Lily memandang tajam Beno, seakan tidak merasa takut.


Prok,,, prok,,, "Bravo. Aku akui, nyalimu cukup besar cantik. Pantaslah, bersanding dengan Egi." puji Beno.


"Ckk,,, tapi aku ingin tahu. Apa kekasihmu itu tahu. Jika pujaan hatinya sedang berada di sini." ucap Beno mendekati Lily.


"Beno,,,,!! Jangan mengganggunya!!" teriak Vincen.


Beno mengangkat telapak tangan. Bugh,,, bugh,,, beberapa pukulan mendarat ke wajah tampan milik Vincen. Bahkan, sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Jangan lupa. Bukankah kamu, yang membawanya ke sini." ucap Beno.


"Karena kamu membodohiku. Bajingan..!!!" seru Vincen.


"Ha,,, ha,,, Karena kamu memang bodoh." ejek Beno tertawa. Vincen hanya bisa mendengus dan menahan emosinya. Lantaran tubuhnya yang terikat.


Saat rapat sedang berlangsung, Egi tak sengaja menyenggol ponsel miliknya yang dia letakkan di atas meja di dekatnya. Alhasil, ponsel tersebut jatuh ke lantai., karena Egi meletakkan di pinggir meja.


Saat Beni hendak mengambilnya, Egi menggerakkan tangannya. Menandakan jika dia sendiri yang akan mengambilnya. Beni pun kembali duduk dengan tenang.


Kening Egi mengerut, melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari sang kekasih. "Tuan." panggil Beni, saat ada karyawan yang hendak membacakan laporan bulanan.


Namun Egi acuh, kedua matanya masih fokus terhadap ponselnya. "Kamu duduk dulu." perintah Beni pada karyawan tersebut. Lantaran mengetahui jika atasannya sedang memperhatikan sesuatu.


Dan itu, pasti penting melebihi rapat yang sedang dia pimpin saat ini. Terbukti Egi abai dengan rapat. Karena tidak biasanya, atasannya seperti ini.


"Bubarkan rapat." Egi berdiri dan keluar dari ruangannya. "Maaf semuanya, rapat kita tunda. Nanti akan ada pemberitahuan, kapan rapat akan kembali di laksanakan." ucap Beni pada semua karyawan dan segera bergegas menyusul atasannya.

__ADS_1


__ADS_2