PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 46


__ADS_3

Mauren hanya diam saat dirinya sedang sarapan dengan keluarga Vincen.


"Terimakasih Mauren, sudah mengizinkan kami untuk tinggal di sini." ucap mama Vincen di sela-sela sarapan mereka.


Mauren membalasnya dengan senyum. "Tidak apa-apa bibi, lagi pula kitakan saudara." sahut Mauren.


Mama Vincen sedikit menunjukkan wajah sedih. "Seandainya saja kalian bukan saudara, pasti bibi akan sangat senang." ucapnya, Mauren menatap dengan rasa bingung karena ucapan mama Vincen.


"Khemm,,, jangan kamu pikirkan ucapan bibi mu. Lanjutkan saja sarapan mu." timpal papa Vincen.


"Iya paman." Mauren juga merasa aneh dan bingung dengan perkataan mama Vincen. Tapi dia lebih memilih untuk abai dan tidak terlalu memikirkannya.


Sementara Vincen memilih menikmati sarapannya dalam diam, tanpa membuka mulutnya untuk ikut bersuara.


"Tunggu." cegah Mauren, saat Vincen ingin meninggalkan rumahnya. Sementara kedua orang tua Vincen kembali ke negaranya setelah sarapan mereka selesai.


Tanpa menyahuti perkataan Mauren, Vincen berhenti dan menoleh ke arah Mauren. "Jangan usik atau muncul lagi dalam kehidupan Lily." tegas Mauren.


Bodohnya Mauren, dirinya dengan mudahnya percaya jika saudaranya memang ingin kuliah di jurusan psikolog. Padahal Vincen sudah lulus dengan nilai terbaik untuk jurusan bisnis di universitas yang ada di negara lelaki tersebut.


"Untuk itu, aku tidak bisa menjamin. Lagi pula, kamu tidak berhak melarang atau mencampuri urusan dan masalah pribadiku." ucap Vincen dingin.


Mauren tersenyum sinis. Sungguh, dirinya begitu tolol. Sebagai mahasiswa jurusan hukum, dia sama sekali tidak peka jika di manfaatkan oleh saudaranya.


Bukannya bodoh. Hanya saja, Mauren percaya. Jika saudara yang sudah dikenalnya sejak kecil adalah sosok baik. Dan pastinya, Mauren tidak menyangka hal tersebut bisa terjadi.


"Lily adalah sahabatku. Dan aku tidak akan membiarkan kamu menyakitinya." tegas Mauren dengan mata melotot.


"Menyakiti." ujar Vincen lirih. "Sahabatmu akan semakin tersakiti. Jika terus bersama dengan lelaki yang tidak mencintainya." sungut Vincen.


"Cihh,,, bukankah kamu sendiri yang menceritakan semuanya padaku. Tentang Egi. Bagaimana Lily dan Egi bertemu. Bagaimana hubungan di antara keduanya. Apa kamu lupa. Mauren,,, jangan bilang. Jika kamu amnesia." ejek Vincen.


Seolah menegaskan jika Mauren lah yang membuat dirinya menjadi seperti ini. Karena semua yang di ceritakan Mauren padanya. Vincen menjadi ingin memiliki Lily, meski perjodohan sudah di batalkan.


Lidah Mauren seketika kelu, mendengar perkataan Vincen. Dirinya juga mengingat, bagaimana dirinya meminta Vincen untuk menjadi kekasih pura-pura dari Lily. Hanya untuk, supaya Lily bisa melepaskan Egi.


Vincen tersenyum. "Lagi pula, Lily perempuan yang cantik. Berasal dari keluarga terpandang. Lily, seperti berlian di tengah lumpur." ucap Vincen.


Membayangkan wajah ayu dari Lily. Meskipun Lily sama sekali tidak memakai riasan di wajahnya. Bahkan pakaian Lily terkesan santai untuk perempuan seperti Lily.


"Tidak!!" seru Mauren.


"Oke, jika dulu aku memintamu untuk mendekati Lily. Tidak untuk sekarang. Apa kamu buta, sekarang Egi dan Lily saling mencintai. Dan aku yakin itu." ucap Mauren menaikkan nada suaranya.

__ADS_1


"Haaaa,,, haa,,, Mauren, Mauren. Bisa saja mereka hanya bersandiwara. Kamu pikir aku bodoh. Atau memang kamu yang bodoh." ejek Vincen.


"Iya. Aku bodoh. Aku bodoh, percaya dengan kamu." geram Mauren.


"Ckk,,, Mauren. Seharusnya kamu senang jika aku dan Lily bersama. Hubungan sahabat di antara kalian akan semakin erat. Dan akan menjadi hubungan saudara. Bukan begitu." ucap Vincen melangkah pergi meninggalkan Mauren yang masih terbengong.


"****.... aaaaaaa!!?" teriak Mauren menjambak sendiri rambutnya. "Lily, aku harus segera berbicara dengan Lily." ucap Mauren.


Mauren tidak ingin hubungan persahabatannya dengan Lily hancur karena kesalahpahaman ini. Mauren harus meluruskan semuanya, sebelum semua terlambat.


Lila sedang membantu sang mama yang sedang merangkai bunga di teras belakang. Karena memang Hari ini, dia masuk kelas siang.


Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya melakukan kegiatan tersebut. Sementara Tuan Ardes seperti biasa, beliau berangkat ke perusahaan. "Ma, kakak belum pulang?" tanya Lila.


"Belum, katanya pulang sekalian nanti sore." jelas Nyonya Tya.


Lila menghentikan gerakan tangannya merangkai bunga. "Nanti sore?" tanya Lila dengan raut wajah bingung.


"Iya, tadi asistennya Egi datang ke sini. Katanya mengambil buku kakak kamu untuk masuk kelas pagi. Siangnya lanjut masuk kursus bela diri." jelas Nyonya Tya dengan santai.


Lila cemberut. Meletakkan cuter yang dia pegang. "Kenapa?" tanya sang mama.


"Kak Egi memonopoli kak Lily. Padahal Lila mau tanya-tanya sama kakak." dengus Lila.


Semalam, Tuan Ardes sudah menasehati sang istri. Memberi pengertian pada beliau. Jika sekarang putri sulungnya sudah dewasa.


Mereka tidak boleh terlalu mencampuri dan terlalu mengekang Lily terkait hubungannya dengan Egi. Tuan Ardes meminta beliau hanya untuk memantau.


Menanyakan sesuatu yang sewajarnya. Memberikan kebebasan pada sang putri, tapi tetap memperhatikan semua tingkahnya.


Tuan Ardes juga meminta sang istri untuk menjadikan putrinya seperti sahabatnya. Jadi, mereka tidak akan segan dan merasa tidak nyaman saat mengeluarkan segala keluh kesah tentang pasangan mereka pada sang ibu.


Tuan Ardes sadar jika dirinya dari dulu tidak begitu dekat dengan kedua anaknya. Lantaran beliau sering menghabiskan waktu di perusahaan untuk bekerja dan bekerja.


Sementara kedua anaknya lebih dekat dengan sang istri. Tapi Tuan Ardes merasa bersyukur, setidaknya salah satu dari mereka bisa memberikan kenyamanan pada kedua anaknya untuk bercerita apapun pada sang mama.


"Lila hanya penasaran mama." sungut Lila.


"Kamu itu. Mau jadi detektif." goda Nyonya Tya pada putri bungsunya.


Lila semakin mendekatkan badannya pada sang mama. "Iiiihhh,,,, mama. Apa mama nggak penasaran. Kenapa kak Mauren bisa bersama mereka." ucap Lila setengah berbisik.


Padahal di sekitar mereka tidak ada siapapun. Karena semua pembantu sedang bekerja sesuai tugas masing-masing, di tempat yang sudah seharusnya.

__ADS_1


Nyonya Tya menoleh ke samping. "Kamu kan semalam juga berada di sana. Kak Mauren dan mereka bersaudara." Nyonya Tya menggeleng, melanjutkan kegiatannya.


"Bukan itu ma." kesal Lila.


Lia menyingkirkan bunga di depan sang mama. Duduk bersila di hadapan Nyonya Tya. "Ma, aku dan kak Lily sama sekali tidak tahu. Jika kak Mauren dan Vincen bersahabat. Oke, kalau aku sih. No problem. Jika kak Mauren tidak memberi tahu aku. Tapi kak Lily. Kan aneh." Lila menampilkan ekspresi lucu menurut Nyonya Tya.


Membuat Nyonya Tya tertawa. "Mama,,,, kok malah tertawa." sebal Lila.


Nyonya Tya berhenti tertawa. Menaruh cuter di tangannya. "Kamu itu. Beneran mau jadi detektif. Kenapa dulu tidak mengambil jurusan hukum seperti kakakmu. Malah jurusan seni musik." goda Nyonya Tya.


"Mama." Lila melotot sambil berkacak pinggang. "Lila serius.....!!" gerutu Lila kesal.


Nyonya Tya tersenyum. Mencubit kedua pipi sang anak. "Kamu itu. Sok tahu."


"Sekarang gantian, mama yang bertanya." tantang Nyonya Tya.


"Apa?" tanya Lila. Karena memang Nyonya Tya dan kedua putrinya memiliki kedekatan yang sangat akrab.


"Vincen. Dia menurut kamu tampan tidak?" Nyonya Tya mulai usil.


Lila mengangguk. "Tampan." jawab Lila polos. Belum tahu jika sang mama akan menjebaknya dengan setiap pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


"Pasti di luar banyak perempuan yang menyukainya. Benar tidak?"


"Iya juga sih ma." Lila membayangkan wajah tampan dengan tubuh proporsional milik Vincen.


Nyonya Tya tersenyum samar. "Dia tipe lelaki adik Lila, apa bukan?" tanya Nyonya Tya lirih, tapi masih terdengar di telinga Lila. Sambil menahan suara tertawa.


Lila tersenyum menatap ke bawah. "Eh,,,," Lila mendongakkan wajahnya, melihat ke arah sang mama yang cengar cengir.


"Mamaaaaa.....!" teriak Lila berdiri, menghentakkan kakinya ke lantai.


"Lilaaaa,,,,, sayang,,, mau ke mana?" goda Nyonya Tya saat Lila berlari meninggalkan dirinya.


Nyonya Tya menyadari saat pertama kali putri bungsunya memandang Vincen. Nyonya Tya bisa langsung menebak jika Lila menyukai Vincen.


Tapi di sini, Nyonya Tya juga merasa sedikit gamang. Bagaimana tidak, terjadi banyak masalah sekarang antara keluarganya dan keluarga Vincen.


Mulai dari mama Vincen yang sakit hati. Karena penolakan sepihak dari Lily. Meski papa Vincen mengatakan sudah tidak mempermasalahkan.


Tapi Nyonya Tya, dapat menangkap jika mama Vincen tidak menyukai keluarganya. Sekarang.


Dan masalah kedua. Terlihat jika Vincen sepertinya menginginkan Lily. Entah karena Vincen menyukai Lily, atau karena alasan lain. Yang Nyonya Tya lihat, Vincen menginginkan Lily untuk kembali menerima perjodohan tersebut.

__ADS_1


Dan sebagai mama dari Lila, Nyonya Tya harus melangkah secara hati-hati. Dirinya tidak ingin Lila, sang putri menderita karana rasa sukanya.


__ADS_2