PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 39


__ADS_3

Amanda meneguk air minum berwarna merah yang berada di depannya. "Revan, bisa kita pulang." ucap Amanda setelahnya.


Revan memandang ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baik, sebentar lagi." ucap Revan, memasukkan makanan penutup ke dalam mulutnya.


"Kenapa terburu-buru Nona Amanda. Ini masih sore." ucap Aldric.


"Maaf Tuan Aldric, Nona saya memang tidak terbiasa keluar hingga larut malam." jawab Revan.


Amanda menatap pada Revan. Amanda merasa heran, karena Revan berbicara seperti itu pada Aldric. Dan juga, Amanda sedikit terkejut. Saat Revan dengan mudah di ajak pulang oleh Amanda.


Amanda melihat ke arah meja makan. Tiba-tiba ada perasaan takut dan juga cemas menyeruak ke dalam hatinya. "Apa yang ingin kalian lakukan." ucap Amanda dalam hati.


"Tentu saja. Kita akan segera meninggalkan tempat ini." ujar Aldric tersenyum pada Amanda.


"Maaf, saya ingin ke toilet sebentar." izin Amanda.


"Silahkan." ucap Aldric.


Amanda menuju ke toilet dengan dua bawahan Revan mengikutinya dari belakang. Hingga di depan pintu, mereka berhenti. Dan membiarkan Amanda masuk sendiri. Karena memang tidak mungkin mereka ikut masuk ke dalam. Karena gender mereka berbeda.


Sementara Revan dan Aldric memandang gelas yang sudah kosong. Karena isinya telah masuk ke dalam perut Amanda. Semuanya. Keduanya saling pandang dan tersenyum.


"Setelah ini, saya berjanji. Akan memberikan yang anda minta Tuan Revan." ucap Aldric tersenyum licik.


"Terimakasih, senang bekerjasama dengan anda. Tuan Aldric." balas Revan, tersenyum penuh kepalsuan.


Di dalam toilet, Amanda segera membasuh wajahnya. Mengeluarkan ponsel miliknya. "Syukurlah, GPS sudah aktif." ucap Amanda.


"Pasti mereka merencanakan sesuatu." gumam Amanda, melihat dirinya sendiri di depan cermin.


"Semoga Nanny sudah menghubungi Egi. Hanya dia, harapan terakhirku." ucap Amanda dalam hati.


Tanpa terasa, air mata Amanda menetes di pipi. Teringat bagaimana kehidupannya yang dulu. Saat sang papa dan juga sang mama masih berada di rumah. Bersama dengannya.


Amanda memang tidak mempunyai banyak teman. Bahkan teman yang paling dipercaya, menusuknya daei belakang. Berkhianat dengan menjalin hubungan gelap bersama kekasih Amanda.


Sejak saat itu, Amanda tidak lagi pernah dekat dengan siapapun. Kecuali kedua orang tuanya, dan Nanny. Bahkan, setelah selesai kuliah, Amanda tidak langsung membantu sang papa di perusahaan.


Dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah, bersama sang mama untuk belajar memasak. Tapi Tuan Joshua sama sekali tidak keberatan. Beliau membebaskan putrinya memilih sendiri jalan hidupnya. Asalkan itu adalah sesuatu yang positif.


"Jika sudah seperti ini, Amanda menyesal pa. Amanda menyesal." gumam Amanda.


Jika tahu akan terjadi hal seperti ini, pasti Amanda memilih untuk membantu sang papa mengelola perusahannya. Sehingga dia bisa berdiri dengan tegak. Dan merawat kedua orang tuanya.


"Amanda kangen kalian." gumam Amanda.


Teringat jika sudah satu minggu lebih dirinya tidka berkomunikasi dengan sang papa maupun sang mama. Amanda tidak dapat menghubungi keduanya. Bahkan ponsel milik keduanya tidak aktif.


Amanda bertanya pada Revan. Namun jelas, Revan menjawab jika keduanya sekarang tengah dalam keadaan sibuk. Tuan Joshua sedang dalam pemulihan. Dan Nyonya Joshua sedang sibuk menemani sang suami.


"Apa yang terjadi dengan kalian. Semoga kalian berdua dalam keadaan baik-baik saja." batin Amanda, berharap yang terbaik untuk kedua orang tuanya.


Amanda menatap dirinya dari pantulan cermin dengan jijik. Sungguh dia tidak pernah memakai pakaian seperti ini. Hanya dengan sekali tarik, pasti pakaian yang melekat di badan Amanda akan terlepas.


"Revan...!!!" geram Amanda, teringat Revan lah yang memaksanya untuk memakai pakaian ini untuk makan malam bersama Aldric.


"Astaga,,,, ini. Jangan-jangan..." ucap Amanda lirih, saat dirinya mulai merasa sedikit mengantuk dan juga merasa ada yang aneh dalam tubuhnya.


"Amanda, tenang. Kamu harus tenang. Cari jalan keluar." ucap Amanda.


Karena tidak mungkin Amanda keluar dari depan. Itu sama saja Amanda menyerahkan dirinya lagi. Apalagi Amanda merasa, tubuhnya semakin merasa tidak enak.


Tok,,,, tok,,, "Nona Amanda, apa anda sudah selesai." teriak seseorang dari luar. Dan dia bawahan Revan yang mengantarnya.


"Belummm. Perutku sedikit mulas." sahut Amanda, meninggikan suaranya. Mendengar suara Amanda, mereka berhenti mengetuk pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Halo." ucap Egi pertama kali saat mengangkat panggilan telepon dari seseorang yang belum dikenalnya.


……………


"Apa maksud kamu?" tanya Egi dengan raut wajah dingin.


……………

__ADS_1


"Bicara yang jelas." tegas Egi.


……………


Egi segera mematikan ponselnya. Dan menghubungi Ditya. Dirinya acuh pada semua orang yang tengah memandang ke arah dirinya.


"Dimana kamu, dia sedang dalam bahaya." ucap Egi, saat Ditya mengangkat panggilan telepon darinya.


"Maaf sobat, aku tidak bisa pulang. Tempatku terlalu jauh darinya. Lagi pula, tugasku sudah aku selesaikan sesuai permintaanmu. Jadi sekarang, biarkanlah aku menikmati waktuku. Sebentaaaar." ucap Ditya di seberang telepon.


"Ditya....!!!" geram Egi meremas ponselnya. "Akan aku berikan kamu pelajaran setelah pulang." imbuh Egi. Karena terdengar jelas, suaran desssahan dari seorang perempuan.


Dan pasti sekarang, Ditya sedang melakukannya olah raga dengan seorang perempuan. "Maaf, saya harus pergi. Ada sesuatu yang penting dan mendadak." pamit Egi.


"Aku ikut." Lily mengejar Egi yang berjalan dengan tergesa keluar dari rumahnya.


"Lily...!" teriak Tuan Ardes menghentikan sang putri. Bahkan Nyonya Tya terlihat tampak khawatir.


"Biarkan ma. Biarkan kak Lily ikut. Lagi pula, siapa yang berani menyentuhnya. Jika kakak berada di dekat kak Egi." ucap Lila menenangkan kedua orang tuanya. Sekaligus menyindir Vincen.


"Iya benar kata putrimu Ardes. Hanya dia yang tidak takut dengan ajal, yang berani mengusik harimau tidur." ucap Tuan Gio.


Karena beliau juga pasti tahu, karena sudah sangat lama Egi bersikap tenang, sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.


Dimana Egi menyuruh bawahannya menghabisi satu keluarga hingga tak tersisa. Dan Egi melakukannya secara terang-terangan. Bahkan pihak polisi hanya diam. Tidak berani bertindak.


Dan pemicunya, adalah rival Egi menculik Nyonya Tiwi, mama dari Egi. Hingga Nyonya Tiwi tidak sadarkan diri beberapa hari di rumah sakit.


Dan setelah itu, tidak ada yang berani menantang Egi secara terang-terangan. Mereka hanya akan melemparkan sedikit kotoran pada Egi.


Tapi sayangnya. Beni, asisten Egi tidak perlu diragukan lagi kepintaran dan juga keahliannya dalam berbagai hal. Dia dapat menanganinya, hingga kotoran tersebut bahkan terjatuh sebelum mengenai atasannya.


"Ikuti GPS ini." Egi menyerahkan ponselnya pada Beni, yang berada di balik kemudi.


Dan Lily hanya diam di samping Egi. Dia tidka berani bertanya, karena Egi terlihat sedikit tegang. Dari kaca spion, Beni melihat Lily yang terdiam.


"Kenapa Tuan membawa Nona Lily?" batin Beni dalam hati.


"Suruh beberapa bawahanmu untuk menuju ke sana. Pastikan semua aman." perintah Egi.


Egi sadar jika sedari tadi, Lily yang duduk di sampingnya sedang memperhatikannya. "Apapun yang terjadi, tetaplah di sampingku." ucap Egi, tanpa melihat ke arah Lily.


Dan Lily tahu betul, jika kalimat tersebut di tujukan untuk dirinya. "Pasti." balas Lily.


Selama di mobil, tidak ada percakapan. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi tidak dengan Beni, dirinya sibuk dan fokus memperhatikan jalan yang mereka lalui. Karena harus mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Di dalam ruangan, Revan berpamitan pada Aldric. "Saya tunggu kabar selanjutnya." ucap Revan, berjabat tangan dengan Aldric.


"Tenang saja." sahut Aldric.


Revan meninggalkan restoran seorang diri. Sementara Aldric memandang bahu Revan yang semakin menjauh darinya.


Dengan senyum di bibir, Revan masuk ke dalam mobilnya. "Yes." seru Revan dengan semangat.


"Amanda. Perempuan secantik kamu, harus di manfaatkan, sebaik mungkin. Sayangnya, aku tidak bisa menikmati tubuhmu." ucap Revan menyeringai.


Revan memilih untuk menjual tubuh Amanda pada para pengusaha kaya, dari pada menikmati tubuh Amanda. "Sekarang uang lebih penting." ucap Revan. Melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restoran.


Revan berniat membenarkan perusahan yang baru saja dia bangun dari uang Tuan Joshua. "Jika aku kaya dan sukses, perempuan manapun pasti bisa aku dapatkan. Sabar Revan." ucap Revan pada dirinya sendiri.


"Woowww...." teriak Revan dengan senang, menyalakan musik di mobil. Meluapkan kesenangannya.


Revan dan Aldric mempunyai kesepakatan. Revan menawarkan Amanda sebagai bonusnya. Tentu saja, keperawanan Amanda dijadikan Revan sebagai alat untuk memuluskan rencananya.


Dengan senang hati, Aldric menyetujuinya. Dia akan menanam saham pada perusahaan milik Revan yang baru saja di bangun satu bulan terakhir dengan bonus tubuh Amanda di atas ranjangnya.


"Setelah ini, aku akan mencari mangsa baru. Dan kamu Amanda, akan kujadikan alat. Aku harus menjaga Amanda dengan baik. Dia tidak boleh terluka sedikitpun." seringai licik terlihat dari wajah Revan.


Revan memang sangat menjaga Amanda. Mulai dari pakaian yang menempel di badannya. Perawatan wajib yang harus Amanda lakukan setiap dua hari sekali. Karena Revan akan memanggil karyawan salon ternama untuk datang langsung ke rumah Amanda.


Dan pastinya makanan. Revan tidak mau jika sampai badan Amanda terlihat kurus. Atau malah terlihat gemuk. Semua Revan lakukan karena Amanda adalah salah satu aset terbaiknya.


"Setelah aku menguasai semua harta kamu. Mana mungkin aku melepaskan kamu. Amanda, Amanda. Kamu terlalu berharga baby." kekeh Revan menjijikkan.


"Dobrak pintunya." perintah Aldric pada bawahannya. Karena Amanda masih berada dalam toilet.

__ADS_1


"Baik."


Brakk.....


Di dalam, Amanda merasa terkejut. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Badannya sudah lemas. Bahkan, Amanda hanya bisa duduk di lantai, dan menyandarkan tubuhnya di tembok.


Aldric menyeringai melihat keadaan Amanda. "Bawa dia ke dalam mobil." perintah Aldric.


"Baik Tuan."


Di dalam mobil, Beni mendapat laporan dari bawahannya. Jika Revan meninggalkan restoran sendirian. Tanpa Amanda.


"Tuan, Revan sudah meninggalkan restoran.seorwng diri. Dan Nona Amanda, beliau belum terlihat keluar." ucap Beni.


"Percepat laju kendaraan." perintah Egi. Segera Beni menambah kecepatan mobilnya. Hingga Lily sempat terhuyung ke depan.


Tapi dengan sigap, Egi menangkan tubuh Lily dan membawanya ke dalam pelukannya. Hati Lily merasa menghangat dan juga senang.


Egi tetap mendekap tubuh Lily dalam pelukannya. Lantara Beni mengemudikan mobil seperti seorang pembalap.


"Amanda." ucap Lily dalam hati. "Siapa Amanda." imbuh Lily, merasa khawatir.


Lily berusaha untuk tenang. Tapi tetap saja, ada rasa takut di hatinya. Saat Beni menyebut nama seorang perempuan. "Amanda." seketika Lily teringat dengan rekan kerja Egi. Dimana mereka pernah bertemu saat peragaan busana. Dimana ada Nyonya Tiwi juga di sana.


"Apa hubungan mereka." imbuh Lily, semakin mengeratkan pelukannya pada Egi. Dan Egi hanya diam, tetap memperhatikan keselamatan Lily.


Egi menduga Lily merasa takut, karen Beni membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Maka dari itu, Lily semakin mengeratkan pelukannya.


Segera Egi mengajak Amanda keluar dari dalam mobil setelah sampai di depan restoran.


"Mereka masih di dalam Tuan." ucap bawahan Egi, segera bergegas mendatangi Egi.


Beberapa lelaki keluar dari dalam restoran. Dengan salah satu dari mereka menggendong seorang perempuan.


"Kalian, tetap berjaga di sini." ucap Egi, memberi perintah.


"Baik." ucap Beni dan yang lain.


Egi menggenggam telapak tangan Lily, dan membawanya berjalan menuju mereka. Lily yang tidak tahu apapun, hany diam dan mengikuti pergerakan dari Egi.


"Maaf." ucap Egi tetap menggenggam telapak tangan Lily. Saat sengaja menabrakkan badannya pada seorang lelaki yang berada di antara mereka. Aldric.


Terlihat, beberapa lelaki hendak maju mendekat ke arah Egi. Tapi pergerakan tangan dari Aldric menghentikan mereka.


Siapa yang tidak tahu dengan Egi. Dan Aldric pun juga mengenalnya. Karena mereka sesama pebisnis.


"Tidak apa-apa, Tuan Egi." ucap Aldric tersenyum.


"Saya sedikit terburu-buru, karena kekasih saya sedang menahan lapar." ucap Egi berbasa-basi, saat Aldric menatap ke arah Lily.


Ada senyum mengejek saat Aldric menatap ke arah Lily. "Seleranya sangat buruk." batin Aldric menatap ke arah Egi dan Lily bergantian.


Aldric mengejek Egi dalam hati. Karena penampilan Lily dan juga wajah Lily yang menurut Aldric sangat biasa. Padahal Egi adalah lelaki sempurna. Dan pastinya dengan mudah bisa mendapatkan perempuan dengan wajah cantik dan badan seksi.


"Eughhhhhh..." terdengar lenguhan dari Amanda.


Dan Egi, segera menoleh ke arah suar. Aldric yang menyadari tatapan mata Egi, segera membuka mulutnya.


"Dia kekasih saya. Biasa, terlalu banyak minum." ucap Aldric mencari alasan.


"Nona Amanda." panggil Egi, membuat tubuh Aldric seketika membeku. Bagaimana bisa Aldric tidak mengantisipasinya. Pasti Egi mengenali Amanda. Karena Amanda juga salah satu pengusaha.


Egi melepaskan tautan tangannya dari Lily. Dan berjalan mendekat ke arah Amanda. Aldric ingin menghentikan, namun Egi terlanjur mendekat dan melihat wajah Amanda.


"Setahu saya, Nona Amanda belum mempunyai kekasih. Karena kami mempunyai proyek bersama." ujar Egi menatap tajam ke arah Aldric.


"Itu... soal itu..." ucap Aldric terbata. Mengatakan yang sebenarnya, sama saja cari mati. Karena pasti Egi tidak akan menyukai caranya.


"Biarkan saya yang membawa Nona Amanda pulang. Saya sendiri yang akan memberitahu Tuan Revan, sebagai orang yang bertanggung jawab atas Nona Amanda." jelas Egi dengan tenang.


Tanpa menunggu perkataan dari Aldric, Egi mengambil alih tubuh Amanda. "Sebaiknya kita kembali." ucap Egi dengan menggendong Amanda, memandang ke arah Lily.


Lily hanya mengangguk dan mengikuti kemana arah langkah Egi.


"Boss." ucap bawahan Aldric. Meminta sang bos memberikan perintah.

__ADS_1


"Diam. Dia bukan tandingan kita. Untuk saat ini." geram Aldric, menatap Egi yang membawa Amanda masuk ke dalam mobil.


__ADS_2