PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 40


__ADS_3

"Maafkan atas sikap putriku." ucap Tuan Ardes pada sahabatnya.


"Sudah aku bilang. Tidak masalah. Biarkan mereka tumbuh bersama dengan cinta. Mereka akan lebih dewasa dan bisa belajar banyak mengenai kehidupan." jelas Tuan Gio dengan bijak.


Tuan Ardes hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya. Beliau merasa lega, setidaknya sahabatnya tersebut bisa memaklumi sikap dari Lily.


Tuan Ardes sendiri tidak mempermasalahkan jika Lily pergi, dan malah menyusul Egi. Karena Tuan Ardes yakin, jika Egi sangat mampu menjaga putrinya.


Berbeda dengan Tuan Gio, tampak Nyonya Gio tidak menyukai sikap Lily. Apalagi setelah Lily membatalkan dan menolak perjodohan dengan putranya.


Padahal saat itu, baik Lily maupun Vincen belum pernah berkomunikasi atau bertemu. Nyonya Gio merasa Lily merendahkan putranya.


Semenjak masuk ke dalam rumah, Nyonya Gio sudah memasang wajah datar. Bahkan beliau tidak pernah tersenyum dengan sepenuh hati.


Hanya senyum palsu yang menghiasi bibirnya. Apalagi semenjak tadi, Nyonya Gio juga tidak pernah berbicara. Beliau hanya akan menjawab dengan senyum palsu, saat Nyonya Tya mengajaknya berbincang.


Dan Nyonya Tya, sudah menyadari hal itu sejak awal. Tapi sebagai tuan rumah, Nyonya Tya hanya ingin menjamu tamunya dengan baik.


Meskipun sang tamu masuk ke rumah dengan hati tidak berkenan. Namun setidaknya, beliau tidak membuat keributan di rumahnya.


Nyonya Gio tersenyum samar dan sinis. "Beruntung Vincen tidak menikah dengan dia. Tidak punya sopan santun dan etika." ucapnya dalam hati, saat melihat Lily lebih memilih untuk mengejar Egi. Padahal dirinya beserta keluarganya masih berada di sini.


Tuan Gio bersama keluarganya berpamitan, meninggalkan kediaman Tuan Ardes. "Aku menantikan undangan pernikahan putrimu." goda Tuan Gio, saat hendak pulang.


Tuan Ardes beserta yang lain mengantarkan keluarga Tuan Gio sampai di teras rumah. "Saya serahkan semuanya pada mereka. Bukankah kita sebagai orang tua hanya berperan untuk memberi nasihat. Saat melihat anak kita salah melangkah." sahut Tuan Ardes.


Tuan Gio terkekeh. "Benar katamu. Tapi aku titip pesan pada Lily. Katakan padanya, untuk bertahan dan sedikit bebal jika berada di samping Egi." Tuan Gio menepuk bahu Tuan Ardes.


"Pasti." jawab Tuan Ardes. "Dia putriku, pasti menuruni sifatku. Meski tidak semua." imbuh Tuan Ardes tertawa pelan.


"Om dan tante tidur di rumah Mauren kan?" tanya Mauren memastikan, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, dari pada harus tidur di hotel. Kenapa tidak menggunakan yang gratis." canda Tuan Gio, di sahut kekehan dari semua.


Sampai di rumah, kedua orang tua Vincen telah masuk ke dalam kamar. Tapi tidak untuk Mauren dan juga Vincen.


Keduanya kini berada di gezebo belakang. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Mauren dengan nada sinis.


Mauren memandang ke arah Vincen dengan tatapan tajam. Tapi Vincen terlihat biasa. "Kamu tidak bertanya." jawab Vincen dengan tenang.


Mauren melotot mendengar jawaban dari saudaranya tersebut. "Tanya. Memang kamu pikir.... iiihhh....." geram Mauren.

__ADS_1


Ingin sekali Mauren menjambak dan meremas dengan kuat rambut Vincen. Tapi dia urung melakukannya. "Mulai sekarang, jauhi Lily." tegas Mauren.


Vincen tersenyum sinis. "Ehhh,,, mau ke mana?" teriak Mauren. Saat Vincen malah meninggalkannya begitu saja, tanpa menyahuti perkataannya.


Mauren hanya memandang Vincen dari belakang. "Aku harus segera memberitahu Lily. Aku tidak ingin Lily salah paham." ucap Mauren lirih. "Ini semua karena Vincen." imbuh Mauren kesal.


Mauren menghentakkan kakinya ke lantai. "Kenapa bisa seperti ini. Bagaimana jika Vincen tidak mau menjauh dari Lily."


Mauren teringat sikap Egi dan juga Lily. Tampak keduanya sudah mulai menjalin kedekatan. "Lily benar-benar menyukai Egi." ucap Mauren menyimpulkan dari sikap dan tingkah yang ditunjukkan Lily pada saat bersama dengan Egi.


"Semoga Vincen tidak membuat hari-hari Lily semakin kacau karena kehadirannya." ujar Mauren.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tanpa menunggu perkataan dari Aldric, Egi mengambil alih tubuh Amanda. "Sebaiknya kita kembali." ucap Egi dengan menggendong Amanda, memandang ke arah Lily.


Lily hanya mengangguk dan mengikuti kemana arah langkah Egi.


"Boss." ucap bawahan Aldric. Meminta sang bos memberikan perintah.


"Diam. Dia bukan tandingan kita. Untuk saat ini." geram Aldric, menatap Egi yang membawa Amanda masuk ke dalam mobil dengan tatapan marah.


Egi meletakkan tubuh Amanda yang lemas di kursi belakang. Dan Lily segera ikut duduk di kursi belakang. Menjaga Amanda. Segera Egi meninggalkan area parkir restoran. Dan bergegas melajukan mobilnya ke apartemen.


Lily memeluk tubuh Amanda. Dia selalu teringat perkataan Egi APAPUN YANG TERJADI, TETAPLAH DI SAMPINGKU.


Dan Lily memilih untuk mempercayai semua perkataan Egi. Karena saat ini Lily tidak boleh egois dan mengedepankan amarah.


Lily akan menunggu sampai Egi sendiri yang menjelaskan semuanya pada dirinya. Hanya itu yang sekarang Lily bisa lakukan.


Apalagi melihat keadaan Amanda yang jauh dari kata baik. Beberapa kali Lily mengusap rambut Amanda. Dan semua itu tak luput dari penglihatan Egi melalui kaca spion mobil.


"Tuan." ucap beberapa bawahan Egi yang ternyata sudah bersiap di area parkir apartemen milik Egi.


"Bawa dia ke dalam." perintah Egi, segera salah satu dari mereka menggendong tubuh Amanda dan membawanya ke apartemen milik Egi.


"Saya sudah memanggilkan dokter." ucap Beni, memberitahu.


Tangan Egi memegang lengan Lily dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Lily tersenyum samar. Mengikuti apapun yang diinginkan oleh Egi. Karena itu yang hanya bisa dilakukan olehnya sekarang.


Lily teringat perkataan sang mama. Jika Egi adalah pengusaha muda dengan semua di tangannya. Bisa dibilang, jika Egi adalah sosok sempurna.

__ADS_1


Dan pasti banyak perempuan di samping Egi. Jika Lily ingin terus maju, memperjuangkan Egi. Lily harus kuat dengan segala konsekuensinya.


"Aku pasti bisa." ucap Lily dalam hati.


Lagi pula, Lily yakin jika Amanda dan Egi hanya berhubungan biasa. Terbukti saat Egi malah menyuruh bawahannya yang membawa Amanda untuk masuk ke dalam apartemen. Bukan Egi sendiri.


Itu semua sudah menunjukkan pada Lily, jika Egi tidak mempunyai perasaan lebih pada Amanda. Dan Lily yakin, jika Egi hanya menolong Amanda.


"Malam ini, kamu tidur di sini. Temani Amanda." ucap Egi setelah mereka sampai di dalam apartemen.


Lily tersenyum dan mengangguk. "Nanti aku yang akan menghubungi orang tua kamu." jelas Egi.


"Dia hidup sendiri, kedua orang tuanya berada di luar negeri." jelas Egi.


Lily tersenyum mendengar penjelasan singkat dari Egi. Ternyata benar perkiraan Lily, jika Egi dan Amanda tidak mempunyai hubungan spesial.


Dan Egi hanya sekedar membantu Amanda karena rasa kasihan. Lily dan Egi masuk ke dalam kamar. Dimana Amanda sedang diperiksa oleh dokter.


"Beruntung dia hanya diberi obat bius. Tapi obat bius tersebut termasuk dalam golongan langka. Dan pasti kamu tahu maksudku." jelas sang dokter, yang juga masih teman Egi.


Egi memandang ke Amanda yang terbaring lemas. Dengan mata tidak terpejam sempurna. Menandakan jika Amanda masih dalam keadaan setengah sadar.


"Dia pasti menginginkan Amanda mengetahui semua yang akan diperbuatnya. Benar-benar iblis." desis Egi.


"Huuuffttt. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah memberikan obatnya. Sebentar lagi dia akan tertidur." jelas sang dokter.


"Terimakasih."


"Gue pamit." ucap sang Dokter, menepuk bahu Egi. Beni mengantar dokter tersebut untuk keluar dari apartemen milik Egi.


Egi berjalan mendekat ke ranjang Amanda. "Sekarang kamu dalam keadaan aman. Tidurlah. Lily akan menemanimu malam ini." jelas Egi menatap ke arah Amanda dengan tersenyum.


Tak lama kemudian kedua mata Amanda mulai terpejam. "Boleh aku minta tolong?" tanya Egi.


Lily hanya memandang ke arah Egi. Menunggu Egi untuk membuka suara. "Tidurlah disini. Dengan Amanda. Temani dia." ucap Egi.


"Baik." sahut Lily.


"Sebentar lagi Beni akan datang, mengantar pakaian untukmu." jelas Egi.


Egi segera keluar dari kamar, membiarkan Lily menemani Amanda. "Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Lily, melihat ke arah Amanda yang tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2