
"Pelan-pelan." ucap Nyonya Tiwi lirih, beliau tidak ingin membangunkan seseorang yang saat ini sedang berada dalam gendongan sang putra. Segera Nyonya Tiwi melangkahkan kaki mendahului Egi.
Membukakan pintu salah satu kamar di rumah mewahnya. "Sudah di bersihkan. Kamu bisa membiarkan Lily tidur di kamar ini, selama kalian berada di sini." ujar Nyonya Tiwi lirih, takut membangunkan calon menantunya.
Egi segera keluar, begitu selesai meletakkan Lily di ranjang empuk dan besar. Namun sebelumnya, Egi menarik selimut untuk menutupi tubuh sang kekasih, dan mengecup pelan serta lembut dahi Lily.
Egi masuk ke dalam kamarnya sendiri, yang berada di samping kamar yang saat ini di huni oleh Lily. Meski di negara Lily, mereka pernah tidur berdua. Namun Egi tidak melakukan saat keduanya berada di rumah sang mama.
Egi hanya ingin menjaga nama baik calon istrinya di hadapan sang mama. Meskipun sebenarnya Nyonya Tiwi juga pasti tidak akan mempermasalahkan hal tersebut, namun Egi tetap akan menjaga nama baik Lily di hadapan sang mama.
Egi segera membersihkan badannya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Senyum di bibir Egi nampak merekah sempurna. Membayangkan sesuatu yang pastinya membuat dirinya senang.
Matahari sudah menampakkan cahayanya. Terlihat seorang perempuan dengan gerakan malas di balik selimut tebal. Nyenyak. Semalam dia menikmati tidurnya yang sangat nyenyak.
Bukannya bangun, dia malah menenggelamkan seluruh bagian tubuhnya ke dalam selimut. Bahkan kepalanya pun juga tidak terlihat.
"Tumben Lila nggak teriak-teriak." gumamnya di dalam selimut.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, Lily segera menyibak selimut yang saat ini menutupi seluruh tubuhnya, dan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
Matanya berkedip lucu. Seolah otaknya sedang berpikir sesuatu. Kini, Lily menampakkan raut wajah lucu. "Aaaa...." Lily membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suaranya.
Sedetik kemudian Lily membungkam mulutnya menggunakan telapak tangannya. "Tidak mungkin." gumamnya dengan mulut masih dalam keadaan terbungkam telapak tangannya.
Segera Lily mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang semalam dia tempati. "Ini bukan hotel." ucapnya, mulai menapakkan kaki di lantai kamar.
Pandangan Lily mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan keberadaannya. Namun mustahil, dia tetap tidak tahu sekarang berada di mana.
"Ponselku. Iya, Egi. Aku harus segera menghubunginya." cicit Lily dengan mengedarkan pandangan mencari keberadaan tasnya.
Lily melihat jika tas miliknya di letakkan di atas nakas. Segera Lily melangkahkan kaki menuju ke tempat tasnya berada. Namun sayang, langkah kakinya terhenti setelah indera pendengarannya mendengar suara pintu terbuka dari luar.
__ADS_1
Seorang perempuan masuk ke tempat Lily, dengan pakaian seorang pelayan. Lily menebak jika usianya masih belum terlalu tua. Kisaran kepala tiga.
"Nona Lily." sapanya sembari sedikit menundukkan badan.
"Eh,,,," Lily terkejut, bagaimana bisa dia mengenali dirinya.
Lily masih berdiri dan diam seraya memandang pada sang perempuan tersebut. Di benaknya masih diliputi banyak pertanyaan.
"Maafkan saya Nona, sudah lancang masuk ke kamar Nona tanpa permisi." ucapnya seperti menyesal.
"Sungguh, saya tidak tahu jika Nona Lily sudah bangun. Tuan muda Egi mengatakan jika Nona belum bangun. Makanya saya berani masuk tanpa mengetuk pintu." imbuhnya.
"Tuan Muda Egi." ucap Lily dalam hati.
Kaki Lily melangkah ke belakang, seperti orang linglung. Untuk saja pelayan di rumah Nyonya Tiwi segera menggerakkan badannya dan berdiri di belakang Lily. Sehingga tubuh Lily tidak sempat terjatuh.
Lily memandang pelayan tersebut. Memegang kedua pundaknya. "Apa ini rumah Tante Tiwi?" tanya Lily memastikan.
Lily terduduk di pinggir ranjang, dengan ekspresi sendu. "Ada apa Nona?" tanya sang pembantu, melihat ekspresi wajah Lily.
Lily menatap sang pelayan. "Bagaimana aku menghadapi tante Tiwi?" tanya Lily lirih, mengusap wajahnya dengan kasar.
Sang pembantu tersenyum simpul melihat kegelisahan di wajah Lily. Dia sepertinya tahu apa yang ada di benak calon Nona mudanya tersebut.
"Lucu sekali Nona Lily. Semoga Tuan muda berjodoh dengan Nona Lily." ucapnya dalam hati. Sang pembantu menilai jika sosok Lily adalah perempuan yang baik.
"Tenang saja Nona, Nyonya Tiwi perempuan baik. Pasti beliau mengerti kenapa Nona telat bangun. Lagi pula, pasti Nyonya sengaja tidak membangunkan Nona." tuturnya, menenangkan perasaan Lily.
"Huhhhhfftt,,,, tetap saja. Aku merasa tidak enak hati." cicit Lily, menampilkan ekspresi imutnya.
Pintu kamar Lily kembali terbuka dari luar, saat Lily sedang berbicara dengan sang pembantu. Seorang lelaki dengan pakaian olah raga masuk ke dalam. Menampilkan senyum menawannya.
__ADS_1
"Kamu...!!" seru Lily berjalan ke arah Egi, dan memukul-mukul tubuh Egi, seolah sedang meluapkan rasa kesalnya.
Sontak Egi terkejut dengan kelakuan sang kekasih. "Hey,, ada apa...?" tanya Egi menangkap kedua tangan Lily.
Lily menghentakkan tangannya yang di cekal Egi. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku." ujar Lily cemberut.
"Astaga,,,!" Lily berjalan menjauh dari Egi dengan mulut mengomel. "Kamu tahu, aku malu. Masa iya, aku bangun kesiangan. Pasti mama kamu menilai aku calon istri yang tidak baik untuk kamu. Tuhan!!" seru Lily heboh.
Sang pembantu tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari calon istri majikannya tersebut. Segera dia pamit pada Egi dan keluar dari kamar Lily.
Tidak hanya sang pembantu, Egi pun merasa gemas dengan tingkah calon istrinya tersebut. "Tenang." Egi memeluk Lily dari belakang.
Mencium singkat pipi Lily. "Kamu tidak perlu cemas. Memang kamu mau apa, bangun pagi." ucap Egi menaruh dagunya di pundak Lily.
Lily bersedekap dada dengan wajah cemberut. "Kamu baru saja berolah raga?" tanya Lily tanpa memandang ke arah Egi.
"Hemmm..." Egi menikmati rasa nyamannya memeluk tubuh sang kekasih.
"Ehh,,," Egi terkejut, saat Lily melepaskan pelukannya. "Ada apa?" tanya Egi dengan heran.
"Kenapa peluk-peluk. Kamu kan berkeringat!" rajuk Lily menatap Egi dengan tatapan lucu.
Egi mengerutkan dahinya. Kemudian mencium badannya sendiri. "Bukankah kita sama." tutur Egi mengedipkan matanya dengan genit.
"Hah..." mulut Lily hanya membeo.
"Kamu juga belum mandi. Bahkan kamu masih ileran." Egi mencubit gemas pipi Lily sembari menariknya.
"Ileran..." cicit Lily.
"Iya, bau." Egi memencet hidungnya sendiri dan meninggalkan Lily di dalam kamar sendiri.
__ADS_1
Lily menepuk pelan keningnya. "Benar juga. Malah aku belum membasuh wajah." Lily tersenyum malu pada diri sendiri.