PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 101


__ADS_3

"Nona Amanda, kita sudah sampai." ucap Zeo, menyadarkan Amanda dari lamunannya.


"Zeo, nanti tolong kamu gantikan saya saat di dalam. Katakan saja, saya sedang tidak enak badan." tukas Amanda.


"Baik Nona." ujar Zeo tanpa banyak bertanya.


Sesuai dengan keinginan Amanda. Zeo lebih aktif dalam pertemuan kali ini. Sementara Amanda hanya banyak terdiam, namun masih memperhatikan apa saja yang di bahas dalam pertemuan tersebut.


"Maafkan saya, jika saya kurang sopan." ujar Amanda dengan ramah.


"Tidak apa-apa Nona. Saya paham, jika anda sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Seharusnya saya yang mengucapkan permintaan maaf pada anda." sahutnya.


Selepas dari pertemuan, Amanda mengajak Zeo untuk pergi ke suatu tempat. Dan di sinilah mereka berada. Di cafe terbuka, yang terletak di tepi pantai.


"Bagaimana kabar Revan?" tanya Amanda, menyeruput minuman di depannya.


"Sekarang dia sedang bekerja di salah satu perusahaan. Apa perlu, saya mengingatkan perusahaan tersebut?" tanya Zeo, sebab pasti Revan mempunyai niat terselubung pada perusahaan di mana dia bekerja sekarang.


"Biarkan, kita jangan ikut campur. Jika nanti kecemasan kita terbukti, kita akan membantu mereka." ujar Amanda. "Sama seperti Egi membantu perusahaan papa tanpa meminta imbalan." imbuh Amanda dalam hati.


Wajah Amanda tiba-tiba berubah sendu, dengan pandangan mata mengarah ke pantai. "Zeo,,," panggil Amanda lirih.


"Iya Nona." sahut Zeo.


"Apakah kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya Amanda mampu membuat Zeo bungkam.


Amanda memandang Zeo, yang juga memandangnya. "Aku mencintai seseorang yang seharusnya tidak boleh aku cintai. Aku sadar, jika perasaan ini salah. Aku ingin membuang perasaan ini. Tapi entah kenapa begitu sulit." tutur Amanda.


Amanda terkekeh pelan. "Aku terlihat bodoh." Amanda menghela nafasnya. "Maaf, membuat kamu harus mendengarkan semua ini. Hanya kamu. Hanya kamu satu-satunya orang yang sekarang bisa aku percaya." papar Amanda.


Zeo masih terdiam dengan memandang Amanda. Zeo tahu, jika saat ini Amanda mempunyai perasaan pada atasannya. Egi.


"Nona,,," panggil Zeo.


Amanda tersenyum kecut memandang Zeo. "Aku perempuan yang tidak tahu terimakasih. Iyakan?" cicit Amanda tersenyum palsu.


"Izinkan saya untuk menghilangkan perasaan Nona terhadap Tuan Egi. Izinkan saya untuk mengganti nama Tuan Egi di dalam hati Nona." ucap Zeo, memandang Amanda dengan lamat-lamat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Benarkah?!" seru Lily, Egi mengangguk pelan.


"Kamu tidak berbohong?!" lanjut Lily dengan nada bahagia, Egi menggeleng pelan dan tersenyum melihat kehebohan yang di tampilkan oleh sang kekasih.


Lily langsung memeluk erat tubuh Egi. Lily merasa bahagia sekali, saat Egi mengatakan jika akan membawanya bertemu dengan sang mama. Nyonya Tiwi.


Lily melepas pelukannya dari tubuh Egi. "Kapan?" tanya Lily dengan antusias.


"Nanti malam." jawab Egi, mampu membuat Lily melongo dengan ekspresi lucu.


"Nanti malam." gumam Lily, masih terdengar jelas di telinga Egi.


Lily mengerjapkan kedua matanya dengan lucu. "Kenapa, nggak suka?" tanya Egi berpura-pura, padahal Egi sangat tahu, kenapa Lily bertingkah seperti itu.


"Sayang, kita belum pesan tiket. Aku juga belum mempersiapkan semuanya. Dan lagi, aku belum menghubungi papa mama." jelas Lily terperinci.


Sebab saat ini, matahari sudah mulai kembali menyembunyikan cahayanya. Yang berarti hari sudah mulai petang.


Egi terkekeh pelan, mendapati sang kekasih masih dengan tatapan bingung. "Soal baju, kita beli saja di sana. Uangku tak akan habis, hanya untuk membelikan kamu pakaian dan keperluan lainnya. Apa perlu, aku membeli dengan tokonya sekaligus." goda Egi.


Lily mencubit perut Egi. Meski pada kenyataannya, Lily tidak mendapati daging secuilpun yang di dapat oleh jarinya. Lantaran perut Egi yang keras dengan bentuk berkotak-kotak.


"Untuk Tuan Ardes dan Nyonya Tya, mana mungkin mereka berani menolak dengan tidak menginzinkan aku membawa putrinya." ucap Egi bercanda.


Lily cemberut, dengan tangan di lipat di depan dada. "Aku kan kuliah?" cicit Lily.


Egi mengecup singkat bibir Lily. "Tenang, kekasihmu ini sudah mengizinkan kamu untuk libur dalam beberapa kali pertemuan." jelas Egi.


Sontak mulut Lily menganga tak percaya. Semudah itu meminta izin. Padahal setahu Lily, tempatnya kuliah sangat memiliki peraturan yang ketat.


Lalu bagaimana bisa, Egi dengan mudah melakukannya. "Kami tidak percaya?" Egi mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


Menyerahkan ponselnya pada Lily. "Hubungi seseorang di sana. Mungkin kamu akan percaya." tukas Egi.


Lily menggeleng pelan. Lalu mengangguk. "Percaya." lirihnya. "Mana mungkin aku tidak percaya. Dia begitu berkuasa. Kekuasaan Papa saja masih berada di bawahnya." ucap Lily dalam hati.

__ADS_1


Lily teringat akan Vincen yang juga meninggalkan negara ini. Padahal, Mauren pernah berkata. Jika saudaranya tersebut kekeh akan tetap berada di sini. Lily dapat menebak, siapa pelaku di balik pulangnya Vincen ke negara asalnya.


Lily menghela nafas panjang. "Ehhh, bagaimana dengan Lila?" tanya Lily, karena tidak mungkin Lily meninggalkan sang adik di saat kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri.


Egi mengacak gemas rambut Lily. Egi hendak menjawab lontaran pertanyaan dari calon istrinya tersebut. Namun suaranya terhenti di tenggorokan, saat mendengar suara teriakan dari lantai di atasnya.


"Tenang kakak. Lila sudah besar. Biasanya juga kakak sering tinggalin Lila." teriak Lila dengan badan di balik pembatas besi di lantai atas. Tersenyum sempurna.


Egi hanya menggeleng melihat tingkah calon adik iparnya tersebut. Namun Egi sangat senang melihat bagaimana adik kakak tersebut saling menyayangi. "Baiklah." ucap Lily.


Waktu yang sudah di jadwalkanpun datang. Egi membawa Lily ke bandara. "Kenapa?" tanya Egi, lantaran langkah kaki Lily tidak segera melangkah setelah turun dari dalam mobil.


Lily memandang burung besi di depannya. Lalu mengalihkan pandangan pada Egi. "Ini,,, kita naik ini?" tanya Lily seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Egi tidak menjawab pertanyaan dari Lily, dia memasukkan jari jemarinya di telapak tangan sang kekasih. Membawa Lily menaiki tangga di depannya satu-persatu.


Mata Lily berbinar sempurna, dengan mulut menganga. Sekali lagi, Lily dibuat terpana dengan apa yang dilihatnya.


Lily melihat bagaimana mewahnya semua yang ada di dalam pesawat. "Kamu suka?" bisik Egi di samping telinga Lily.


"Heemmm..." gumam Lily, seakan lidahnya kelu untuk berucap. Matanya masih memandang dengan tidak percaya.


Egi membawa Lily ke dalam sebuah ruangan. Yang menurut Lily itu adalah seperti kamar mewah yang ada di rumahnya atau apartemen Egi.


"Pantas saja, tidak memerlukan persiapan apapun." gumam Lily, Egi tersenyum kecil mendengar perkataan dari sang kekasih.


Lily tidak begitu terkejut, mengetahui jika pesawat yang sekarang membawanya terbang di atas awan adalah milik dari sang kekasih.


Sebelum benar-benar menjalin hubungan dengan Egi, sang papa sudah memberitahu padanya siapa sosok Egi. Dan apa saja yang akan dia hadapi kedepannya. Jika Lily memutuskan untuk tetap berada di samping sang pengusaha yang berkuasa tersebut.


"Tidurlah. Ini sudah larut malam." ucap Egi berbaring dengan Lily berada di satu ranjang.


Lily tidak merasa khawatir tidur berdua dengan Egi dalam satu ranjang. Lily merasa, selama ini Egi hanya sekedar memeluknya saat mereka tidur bersama.


Egi bahkan tidak melakukan hal lebih yang di takutkannya jika dirinya dan Egi tidur bersama di atas ranjang. Egi benar-benar menjaganya dengan baik.


Perkataannya pada Lily benar-benar di buktikan. Jika Egi tidak akan menyentuh tubuh Lily secara lebih, sebelum mereka menikah secara sah di mata agama dan hukum.

__ADS_1


__ADS_2