PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 91


__ADS_3

Bawahan Beno diam-diam menelpon Tuan Ebara. Berakting dan berbohong, seolah Tuan Ebara lah yang menelpon dirinya. Guna menanyakan keberhasilan tugas mereka.


"Boss, Tuan Ebara menghubungi." ucapnya sambil menyerahkan ponselnya pada pimpinannya tersebut.


Meskipun jantungnya berdetak kencang karena berani berbohong, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap tenang. Tentu saja dia tidak ingin ketahuan karena berbohong pada pimpinannya.


Amarah Beno yang masih membara, seakan langsung menghambar terbawa angin. Mendengar nama majikannya di sebut oleh bawahannya.


Di ambilnya ponsel milik sang bawahan dengan kasar. Beno sedikit menjauh untuk berbincang dengan Tuan Ebara.


"Baik Tuan." ucap Beno, di akhir kalimatnya.


Setelah mematikan panggilan teleponnya, dia kembali ke tempat Lily berada. Mengembalikan ponsel pada si empunya.


"Bawa dia." ucap Beno, memandang sinis pada Lily.


"Beruntung Tuan Ebara menelpon. Jika tidak, pasti nyawamu sudah tidak berada pada tubuhmu." desis Beno.


Lily dan Mauren yang mendengar, langsung merasa cemas. "Egi akan segera datang. Lihat saja, sebentar lagi, nyawa kamu yang akan melayang." ucap Lily dalam rasa khawatir.


Beno tersenyum sinis dan remeh akan perkataan Lily. Tempat ini, merupakan tempat terpencil. Dan Beno sudah menyebar bawahannya mulai jalan kecil yang mengarah ke restoran ini.


"Tidak semudah itu. Mungkin Egi akan datang. Tapi terlambat." ucap Beno tertawa.


"Lepas....!!!" berontak Lily, saat dua orang memegang kedua tangan Lily. Namun sayang, kekuatannya tidak seberapa.


"Lepaskan dia." Mauren mencoba untuk membantu Lily. Tapi dirinya malah di dorong oleh bawahan Beno. Menjadikannya terdorong ke samping, dan menabrak meja.


Dengan di seret, Lily di bawa ke pintu keluar. Belum sempat mereka keluar dari restoran, pintu di buka paksa dari luar. Membuat semuanya terkejut.


Brakkkk.... Tepat di depan pintu, menampakkan sosok lelaki dengan wajah tampan, namun tak kenal ampun.


Dari arah belakang Egi, masuk beberapa lelaki dengan pakaian rapi dan badan kekar. Mereka juga menyeret beberapa lelaki dengan tangan terikat, dan wajah babak belur.


Mungkin merekalah mereka yang di maksud Beno, anak buahnya yang berjaga di setiap jalan masuk restoran.


"Egi." lirih Lily, merasa senang. Akhirnya sang kekasih datang menolong. Pandangan Egi langsung berubah, melihat keadaan sang kekasih.


Vincen dengan wajah sudah tak berbentuk, menatap ke arah Egi. Begitu juga dengan Mauren. Mereka seolah merasakan daru nafas mereka kembali dengan lancar.

__ADS_1


"Dari mana Egi bisa mengetahuinya dengan cepat." ucap Beno dalam hati. Lily melirik ke arah Beno dengan tatapan remeh.


Merasa terpedaya dengan Lily, Beno segera menoleh ke arah Lily yang sedang tersenyum remeh ke arahnya.


"Lepaskan dia." perintah Egi.


"Jangan harap." kekeh Beno.


Dorr,,,, dor,,,, Tanpa berkata apapun lagi, Egi langsung menembak kedua orang yang memegang lengan Lily tepat di dahi mereka.


Sejenak, suasana menjadi hening. Tidak di pungkiri, mereka seolah sedang membangunkan singa yang sudah bertahun-tahun tidur.


Lily juga merasakan gemetar di sekujur tubuhnya, apalagi wajahnya juga terkena cipratan darah dari kedua orang yang berada di kakak kirinya. Tidak menyangka, Egi akan melakukan hal tersebut.


Mauren yang juga syok, segera menyeimbangkan tubuhnya agar tetap berdiri dengan memegang meja di belakangnya.


Beno memandang tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Egi. Baru masuk, langsung menembakkan pistol ke bawahannya.


Beno hendak mengambil sesuatu di dalam saku jaketnya. Tapi sayang,,, Dorr,,,, "Aaa....!!" jerit Beno, kecepatan tangannya tidak bisa mengelabuhi penglihatan tajam dari seorang Egi.


Segera Beni menggerakkan tangannya. Bawahannya segera menyerang anak buah Beno. Dan Egi, segera berjalan ke depan. "Semua baik-baik saja." Egi langsung memeluk tubuh Lily.


Egi menggendong Lily dengan membopongnya di depan. Mencari tempat duduk yang sekiranya aman dan nyaman. Karena sekarang kedua kubu sedang terlibat adu jotos.


Mauren segera berlari kecil menyusul ke tempat Lily dan Egi. Tentu saja dirinya tidak ingin menjadi sasaran dari perkelahian tersebut.


Dengan pelan, Egi menghapus cipratan darah bercampur air mata dan keringat di wajah sang kekasih. "Sakit?!" tanya Egi dengan tatapan sedih. Melihat wajah Lily.


Lily mengangguk pelan, dan tersenyum tipis. Egi berulang kali mencium belakang telapak tangan Lily. "Ini....?!" tangan Egi terulur ke leher Lily yang memerah.


Bukannya menjawab, Lily malah menangis terisak. Padahal, sebelum Egi datang. Lily bagaikan perempuan kuat yang tidak takut apapun.


"Lily di cekik oleh Beno." cicit Mauren.


"Beno?" tanya Egi, karena jujur saja. Egi tidak mengenal siapa itu Beno.


"Dia." Mauren memandang kerumunan orang yang bertarung. "Yang bertarung dengan Beni. Dia Beno." lanjut Mauren.


Tanpa berkata apapun, Egi berdiri dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke arah Beno. "Benooo...!!" teriak Egi. Saat Beni hendak melayangkan pukulan ke Beno, Egi mencekalnya.

__ADS_1


"Beno." ucap Beni dalam hati berkedip lucu. Lalu memejamkan mata dan menggeram. "Kenapa nama bajingan itu hampir sama denganku. Brengsek." umpat Beni dalam hati.


Semua mata terhenti, melihat pemandangan tersebut. Mereka mengira Egi mengalah. Sehingga menghalangi Beni memukul Beno.


"Dia bagianku." ucap Egi datar.


Seolah tahu apa yang di inginkan atasannya, Beni mundur dari depan Beno. Tersenyum sinis menatap ke arah Beno. "Kali ini, aku tidak akan menolongmu. Salah sendiri namamu mirip denganku." kesal Beni lucu.


Dan Egi, mulai melepas jas yang masih melekat di tubuhnya. Hingga dasi yang melingkar di lehernya. Membuangnya dengan sembarang ke arah samping. Segera bawahan Egi mengambil dan menyimpannya.


Egi menggulung kedua lengannya sampai ke siku. Sedari tadi, tatapan mata Egi tetap mengarah dan fokus pada Beno.


Melihat atasannya ikut turun tangan, bawahan Egi mundur dan bersiap di belakang Egi. Mereka melihat jika Egi sedang dalam ekspresi membunuh.


Bugh,,,, bugh,,,, Egi langsung menghajar Beno tanpa ampun. Terlebih telapak tangan Beno terluka akibat tembakan dari Egi.


Beberapa kali Beno melayangkan pukulan dan serangan ke arah Egi. Namun dengan mudah, Egi menghindarinya. Dan malah menyerang balik Beno.


Wajah dan tubuh Beno, dijadikan samsak tinju oleh Egi. "Benooo!!! Beraninya menyentuh wanitaku..!!!" geram Egi, memegang rambut Beno dan mendongakkan wajah Beno ke atas.


Nampak memprihatinkan. Kini wajah Beno sudah berwarna merah, karena darah.


Dor,,,, Beni menembakkan satu peluru ke samping. Saat ada pergerakan dari anak buah Beno, dengan target Egi. Membuat satu bawahan Beno sekarat.


"Diam, atau kalian akan aku antarkan ke neraka." ancam Beni tidak main-main. Beni tidak ingin mereka mengganggu Egi.


Egi melepaskan tangannya di rambut Beno, memukul dagu Beno menggunakan lututnya, mengarah ke atas. Membuat Beno terkapar tak bergerak, meski masih bernafas dan sedikit membuka kedua matanya.


Lily memandang tak berkedip ada yang di lakukan Egi pada lawannya. "Lily, Egi seperti monster." bisik Mauren, mendapat pelototan dari Lily.


Tatapan mata Egi beralih ke beberapa orang yang menjadi bawahan Beno. Berjalan ke arah mereka, dan tersenyum bagai iblis.


Dan yang di pikirkan Beni terjadi. Tidak membutuhkan waktu satu menit, Egi dengan mudah mengalahkan mereka semua. "Aaaaa....!!!" teriak Egi dengan siku menjepit salah satu leher mereka hingga mengeluarkan bunyi.


Egi melepaskannya, setelah memastikan dia tidak bernyawa. Dengan kesadaran masih bertahan, Beno melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Bagaimana iblis yang ada di dalam tubuh Egi telah kembali. "Ampun Tuan... Kami hanya mengikuti perintah." ucap bawahan Beno, menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon pada sosok iblis yang terbangun.


Lily menggelengkan kepala. Segera berlari ke arah Egi. Dan memeluknya dari belakang. Beni yang melihatnya, hendak menghentikan Lily. Namun Lily lebih dulu sampai di tempat Egi.

__ADS_1


"Semoga Nona dapat menenangkan Tuan." gumam Beni sedikit khawatir.


__ADS_2