PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 87


__ADS_3

Semua orang yang menjadi saksi atas tindakan yang di lakukan Nando sedang melakukan pemeriksaan secara bergantian. Di sebabkan karena korban yang terlibat lumayan banyak.


"Apa belum ada surat panggilan dari pihak polisi untuk Nando?" tanya Egi.


"Belum Tuan. Tapi saya pastikan, jika besok surat itu akan segera keluar." jelas Beni.


"Kita harus secepatnya melakukan semua ini." ucap Egi, terlihat gusar.


Beni melihat jika Egi tidak seperti biasa. Jika biasanya Egi bersikap tenang dengan ekspresi dingin. Namun kali ini, Beni merasa jika atasannya tersebut menampilkan ekspresi gundah. "Ada apa Tuan?" tanya Beni, ikut khawatir.


"Aku merasa akan terjadi sesuatu. Semoga saja hanya pemikiran dariku saja." jawab Egi menatap Beni dengan ekspresi khawatir.


"Perketat keamanan untuk mama. Aku tidak ingin kecolongan, di saat mama jauh dari jangkauanku." perintah Egi. Dikarenakan keberadaan sang mama yang berbeda negara darinya.


"Sudah saya laksanakan Tuan." papar Beni. Egi tidak perlu meragukan kinerja dari Beni. Sang asisten melakukan apa yang ada dalam benak Egi, bahkan sebelum Egi mengatakannya.


Mungkin karena Beni sudah lama bekerja dengan Egi. Sehingga dirinya bisa menebak jalan pikiran atasannya tersebut.


"Ada lagi Tuan?" tanya Beni. Egi menggerakkan telapak tangannya. Beni sedikit menunduk dan segera meninggalkan ruangan Egi.


Ting,,,, terdengar suara ponsel milik Egi yang berbunyi. Dengan lambat dan terasa enggan, Egi mengambilnya.


Melihat dan membaca isi pesan tertulis yang masuk ke dalam ponsel miliknya. Zeo. Dia memberitahu pada Egi, jika kedua orang tua Amanda beserta dengan Amanda sendiri sudah sampai dengan selamat.


Egi hanya membacanya tanpa berniat membalas pesan tersebut. Tanpa Zeo memberitahu, Egi juga sudah tahu. Sebab, Egi sudah mendapat laporan dari bawahannya yang lain.


"Apa..!!!" teriak Revan dengan ekspresi tidak percaya. Saat bawahannya menyampaikan kembalinya keluarga Tuan Joshua.


"Amanda, jadi dia pergi ke acara tersebut hanya untuk mengakihkan alibi. Ternyata dia tidak bisa di anggap remeh." ujar Revan, mengira jika Amanda sudah tahu keberadaan kedua orang tuanya sejak dulu.


"Apa mungkin, Amanda yang menyembunyikan mereka selama ini. Tapi, tidak mungkin. Dia hanya perempuan lemah." ucap Revan, mencoba menduga masalah yang sedang dia hadapi.


"Dari pada aku menduga-duga hal yang tidak pasti, lebih baik aku kembali menyusun rencana yang sudah berantakan ini." ucap Revan dalam hati.


"Pantau terus keluarga Tuan Joshua. Segera laporkan apa yang kamu lihat sesegera mungkin padaku." ucap Revan, sembari menyuruh bawahannya meninggalkan dirinya dengan mengibaskan tangannya.


"Bob sudah tidak bisa di andalkan. Aku harus mencari partner lain." gumam Revan, sebab Bob kini di sibukkan dengan Ditya.


Revan dapat menebak akhir dari perseteruan Bob dan Ditya. "Aku harus melepaskan diri dari Bob, sebelum Boba malah akan menyusahkan diriku." ucap Revan.

__ADS_1


Ponsel milik Lily terus berdering. Sementara sang empunya sedang berada di dalam kamar mandi. Dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya, Lily keluar dari kamar mandi.


Langsung menuju ke tempat ponselnya berada. "Siapa sih." gumam Lily, sebab hanya tertera nomor pada layar ponsel Lily. Menandakan jika Lily belum menyimpan nomor orang yang menghubunginya.


Tak ada niat dari Lily untuk menelpon balik ke nomor tersebut. Lily malah menaruh kembali ponsel miliknya ke atas meja.


Baru saja membalikkan badan, ponselnya kembali berbunyi. Membuat Lily kembali fokus pada layar di ponselnya.


Karena rasa penasaran, akhirnya Lily mengangkat panggilan telepon tersebut. "Halo." ucap Lily, setelah menggeser icon berwarna hijau di ponselnya.


"Lily." panggil seorang lelaki di seberang ponsel.


Lily menjauhkan ponsel dari telinganya, melihat ke layar ponselnya lagi. "Iya, ini dengan saya. Lily." ucap Lily kemudian.


"Bisa kita bertemu." ajak si penelpon.


Lily mengernyitkan keningnya. Menebak kiranya siapa yang menelpon dirinya. Dari suaranya, Lily sepertinya pernah mendengar.


"Halo Lily, apa kamu masih di sana?" tanyanya, karena dia tak lagi mendengar suara Lily.


"Vincen." ucap Lily dalam hati. Menebak si penelpon.


"Benarkan." ucap Lily dalam hati.


"Iya, ada apa?" tanya Lily dengan malas. Lily menebak jika Vincen mendapatkan nomornya dari Mauren.


"Mauren, awas nanti jika ketemu." ucap Lily dalam hati, merasa kesal.


"Aku ingin bertemu dengan kamu. Ada yang ingin aku bicarakan. Mengenai Egi dan Tuan Ebara. Lily..." panggil Vincen kembali.


"Iya." sahut Lily dengan nada malas.


"Ada yang harus kamu ketahui. Dan aku mempunyai beberapa bukti tersebut." papar Vincen di seberang telepon.


Lily masih terdiam tidak menyahuti perkataan dari Vincen di seberang ponselnya. Lily berpikir, apa yang akan di tunjukkan oleh Vincen. Dengan membawa nama sang kekasih dan juga papa dari Nando.


"Apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanya Lily dengan nada dingin.


"Aku tidak bisa memberitahukan lewat telepon. Kita harus bertemu langsung. Ini sangat penting." desak Vincen.

__ADS_1


"Apa mungkin Vincen mempunyai bukti baru, mengenai kejahatan yang di lakukan oleh Nando." ucap Lily dalam hati.


"Baiklah, tapi aku akan mengajak Mauren untuk pergi bersama denganku." tawar Lily.


"Silahkan. Tidak masalah. Yang terpenting kita bisa bertemu." jelas Vincen.


"Hemm." kata Lily.


"Nanti akan aku kirimkan alamatnya padamu." ujar Vincen.


Lily langsung mematikan panggilan telepon dari Vincen begitu daja, tanpa mendengarkan lagi perkataan Vincen.


Lily berpikir jika Vincen pasti akan memberikan informasi penting dan tidak berniat buruk. Apalagi saat dirinya menawarkan untuk mengajak Mauren. Vincen langsung mengizinkannya.


"Sebaiknya bertemu Vincen dahulu, baru pergi ke berbelanja bersama Mauren." gumam Lily.


Hari ini, Lily dan Mauren sudah berjanji akan berbelanja bersama. Awalnya Lila hendak ikut. Namun, karena Lila masuk pagi, dia tidak jadi mengikuti sang kakak dan Mauren berbelanja.


Lily memandang penampilannya di cermin. Lalu berselfie. "Cantik." puji Lily pada dirinya sendiri, tersenyum malu-malu.


Lily memakai dress yang di belinya lewat online. Tampak sederhana, namun malah membuat Lily bertambah anggun dan cantik.


Terlebih Lily mengurai rambutnya, dan hanya sedikit mengikat bagian kedua pinggir di jadikan satu kebelakang. Lily juga mengoleskan lipstik tipis di bibirnya.


Lily tersenyum memandang ke arah ponselnya. Mengirimkan foto selfienya yang hanya nampak wajahnya, pada Egi dengan caption.


AKU BERANGKAT BELANJA DULU SAYANG 😘😘.


"Selesai." ucap Lily, menyentuh tanda panah di ponselnya.


Lily terus memandang ke arah ponselnya yang masih centang dua hitam. Menandakan sang kekasih belum membuka pesannya, meski pesan tersebut sudah masuk ke dalam ponsel Egi.


"Ah,, dasar pikun." Lily menepuk pelan keningnya sendiri. Padahal semalam dirinya dan Egi melakukan VC. Egi mengatakan jika hari ini dia akan mengadakan rapat tahunan bersama para staf di perusahaannya.


Kembali Lily berdiri di depan cermin full body. Memotret dirinya yang sedang berdiri dari pantulan cermin tersebut.


Lagi-lagi dia mengirimkannya pada Egi, meski tahu jika pesannya tidak akan di lihat oleh Egi dalam waktu dekat. "Tidak masalah, jika sayangku melihatnya nanti. Setelah rapat selesai." ucapnya, dengan jari sibuk di layar ponsel.


SEMANGAT BEKERJANYA 😘😘❤️❤️,,,, itulah kalimat yang di ketik Lily untuk melengkapi fotonya yang di kirim pada pujaan hati.

__ADS_1


__ADS_2