PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 63


__ADS_3

Berbeda dengan Egi. Karena dapat dipastikan, jika semua mengenal siapa sosok dari seorang Egi. "Itu berarti, aku harus keluar dari sarang." ucap Egi pelan.


Lily mengerti kemana arah pembicaraan Egi. "Tidak apa. Kamukan berniat baik. Yakni menolong orang. Jadi jangan setengah-setengah." jelas Lily.


"Aaawww....!!" seru Lily, saat tangan jahil Egi beraksi mencubit gemas kedua pipinya.


"Makin cinta." ucap Egi, membuat kedua pipi Lily merona.


"Cie.... cie... salah tingkah." goda Egi, saat Lily menggelembungkan kedua pipinya. Menutupi rasa gugupnya. Meski pada akhirnya Egi mengetahuinya.


"Apa sih...." rajuk Lily dengan nada manja. Memukul-mukul tubuh Egi.


Di negara lain. Bob masih mencari keberadaan Tuan Joshua beserta sang istri. Beberapa kali Bob melampiaskan kemarahannya pada anak buahnya.


Bahkan beberapa anak buahnya meninggal karena di tembak oleh Bob sendiri. "Tidak becus. Mencari dua orang yang sakit tidka bisa bergerak saja tidak ada yang bisa!!!" teriak Bob di hadapan bawahannya yang menghadap tanpa memberikan kabar berita.


Tidak ada yang berani bersuara serta sekedar mengangkat kepala. Mereka masih menyayangi nyawa mereka. Membuat mereka lebih memilih untuk diam.


Bob kembali duduk dengan tangan memijat pangkal hidungnya. "Siapa orang di balik semua ini." gumamnya dengan kedua mata terpejam.


Bob merasa hilangnya kedua sanderanya di dalangi oleh orang yang berkuasa. Bagaimana tidak, karena biasanya Bob akan dengan mudah menemukan seseorang. Tapi kali ini, dia begitu kesulitan.


Kepala Bob bertambah pusing, manakala mendapat laporan dari bawahannya. Jika sekarang posisi Revan sedang terancam.


Karena Amanda sekarang sudah berani mengambil keputusan sendiri serta mengeluarkan taringnya. Bob langsung membuka kedua matanya.


"Joshua beserta istrinya menghilang. Setelah itu, Amanda menjadi pembangkang. Revan saja tidak bisa mengendalikannya lagi." Bob mulai mengait-ngaitkan semua kejadian yang kebetulan terjadi.

__ADS_1


"Tunggu. Ada dua orang di samping Amanda." lanjut Bob, memikirkan sesuatu.


"Suruh anak buahmu menyelidiki dengan segera. Siapa dua orang di samping Amanda saat ini." perintah Bob pada salah satu bawahannya yang di percaya.


"Keduanya adalah sahabat Amanda saat dia mengenyam pendidikan di bangku kuliah." ucapnya.


"Bodohhh!!!" hardik Bob. "Jangan menjadi seperti Revan. Atau, kamu ingin kepalamu terlepas dari tubuhnya." ancam Bob, membuatnya menundukkan kepala.


"Maaf, saya akan segera melakukannya." tidak ingin membuat Bob semakin murka, segera dia pergi meninggalkan ruangan.


Bob mempunyai firasat, jika keduanya adalah bawahan dari orang yang membuat atau membantu Amanda. "Bisa jadi, dia juga yang mengambil dan menyembunyikan Joshua dan istrinya." gumam Bob.


Seorang bawahan Bob masuk ke dalam ruangannya dengan wajah panik dan cemas. "Apa yang kamu dapatkan?!" tanya Bib dengan sorot mata membunuh.


"Boss, sekarang Revan sedang melakukan tindakan tanpa memberitahu kita." lapor bawahan tersebut.


Bob langsung berdiri dengan wajah memerah menahan amarah. "Revan bodoh, kenapa dia begitu gegabah. Bahkan aku belum mendapatkan secuil harta Joshua." geramnya.


"Maaf Boss, ada email dari seseorang yang tidak saya kenal masuk ke dalam laptop." lapornya lagi, dengan memberikan laptop pada Bob.


Kedua mata Bob melotot sempurna. "Revan...!!!!!" teriak Bob. Karena dilayar laptop tersebut tertera keterangan beberapa properti atas nama Revan.


Ada seseorang yang sengaja mengirimkannya pada bawahan Bob. Pastinya untuk membuat Bob dan Revan berselisih. Dan semuanya berjalan sesuai rencananya.


Praaanggg..... Bob melemparkan laptop tersebut ke arah tembok. Membuatnya pecah terbelah menjadi beberapa bagian.


"Selidiki..!!" teriak Bob memberi perintah. "Jika sampai Revan berani berbuat curang dan berani berkhianat aku tidak akan segan-segan memberi cedera mata padanya. Bahkan keluarganya." senyum iblis terpatri di bibir Bob.

__ADS_1


"Pantau terus Revan dan Amanda." perintah Bob selanjutnya.


Amanda di dampingi Zea dan Zeo berjalan dengan mengangkat dagunya ke arah lobi. Amanda berjalan dengan penuh wibawa. Di mana di sana terdapat beberapa karyawan yang berdemo bersama dengan Revan.


"Tinggalkan perusahaan..!!! Turunlah dari kursi...!!! teriak mereka berulang-ulang ditujukan untuk Amanda.


Tanpa rasa takut, Amanda berdiri di hadapan mereka. Di samping kanan kirinya berdiri Zea dan Zeo dengan setia.


Zea menyebar beberapa lembar kertas pada mereka. Dan pastinya atas perintah Amanda. "Baca dan lihat. Siapa pemilik perusahaan ini." ucap Amanda dengan lantang, pandangan matanya menyapu, menatap seluruh karyawan yang menjadi antek-antek Revan selama ini.


"Dan mulai sekarang. Kalian semua akan aku pecat secara tidak hormat dari perusahaan. Tanpa pesangon." imbuh Amanda dengan tatapan sengit.


Semuanya saling memandang. Dan beralih memandang Amanda. "Tidak bisa!!" teriak salah saru dari mereka.


Amanda bersedekap dada dan tersenyum remeh. "Siapa kamu. Sampai berani berkata seperti itu." ucap Amanda.


"Di dalam surat perjanjian antara pekerja dan perusahaan tertera keterangan, jika perusahaan akan mendapatkan uang pesangon setelah di berhentikan." imbuhnya.


Revan yang berdiri di antara mereka menatap Amanda dengan tatapan kesal. Kedua tangannya terkepal sempurna.


"Pesangon." kata Amanda di barengi tawa mengejek. "Dalam mimpi." cibir Amanda.


"Zea, berikan padanya." perintah Amanda. Dengan cepat, Zea memberikan sebuah kertas berisi tulisan pada seseorang di depannya. Yakni anak buah Revan.


Belum selesai dia membacanya, dengan gerakan cepat Revan mengambil kertas tersebut dati tangannya.


Revan menggenggam erat kertas tersebut hingga semuanya berada di dalam kepalan tangan. Revan tidak menyangka serta menduga, jika ternyata Amanda lebih licik darinya.

__ADS_1


Amanda tersenyum remeh pada Revan. "Tuan Revan, anda juga akan saya pe-cat" ujar Amanda dengan kalimat penekanan.


__ADS_2