PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 97


__ADS_3

"Egi...!!!!" teriak Tuan Ebara menggema di seluruh mansion mewahnya.


"Cepat cari di mana keberadaan Nando sekarang." perintah Tuan Ebara dengan urat terlihat di lehernya.


Ternyata Egi menyiapkan kamera di berbagai sudut, yang tersambung langsung pada laptop miliknya. Tak hanya sampai di situ, Egi bahkan juga melakukan panggilan secara langsung dengan Tuan Ebara.


Tentu saja, Tuan Ebara dapat melihat dengan langsung, saat putra tersayangnya menjadi mainan dari Egi. Meski Tuan Ebara melihatnya dari layar ponsel miliknya. Egi yakin, kemarahan Tuan Ebara akan sampai puncaknya.


Egi menghentikan pukulannya pada Nando. Egi tersenyum miring, melihat Nando terkapar dengan tak berdaya. Dengan wajah berlumuran darah.


Bahkan, jika pakaian yang menempel di badan Nando di buka. Sudah dapat di pastikan, sekujur tubuhnya kini berwarna merah campur biru.


"Tenang saja, untuk saat ini. Aku belum ingin membunuhmu." lirih Egi menyeringai.


Pandangan Egi mengarah ke bawahannya, yang sedang berada di depan laptop. Seakan mengerti dengan isyarat yang di berikan sang majikan, segera dia mematikan sambungan kameranya.


Sebelumnya, Egi menyuruh Beni untuk mencabut tuntutan mereka atas Nando. Meski awalnya para korban tidak terima dengan keputusan Egi.


Mereka merasa kecewa. Pasalnya, mereka sudah menggantungkan harapan besar pada Egi. Mereka berharap Nando akan menerima hukuman yang sesuai dengan kejahatan yang dia lakukan.


Tapi dengan sedikit pengertian dari Beni, akhirnya mereka menyetujui Egi mencabut tuntutan atas nama Lily.


Beni mengatakan pada para keluarga korban, jika hukuman yang akan di terima Nando hanya berupa hukuman ringan seperti sebelumnya. Beni memberitahu siapa orang tua dari Nando, sehingga kenapa Nando hanya akan mendapatkan hukuman ringan.


Sehingga Beni harus berbohong pada mereka dan mengatakan, jika Egi dan Tuan Ebara melakukan perjanjian. Yakni membawa Nando jauh dari negara ini.


Padahal, meski Nando di masukkan ke dalam penjara. Egi dapat memastikan, jika Nando tidak akan bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup.


Namun semua rencana Egi berubah, manakala Tuan Ebara berani menyuruh bawahannya untuk menculik bahkan membuat Lily babak belur.


"Biarkan dia di sana." ucap Egi, melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya. Tentunya untuk membersihkan diri.


Di depan markas, Beni memandang ke arah jalan. Menunggu kedatangan Lila. Padahal Egi menyuruh Beni supaya memerintahkan tugas tersebut pada anak buahnya. Sehingga Beni dapat melakukan pekerjaan lain.

__ADS_1


Tapi entah kenapa, Beni malah tak memberi perintah pada anak buahnya. Dan malah menunggu kedatangan calon adik ipar dari atasannya sendiri.


Tak ayal, sikap dan tingkah Beni mendapat perhatian dari anak buahnya. "Sebenarnya boss sedang menunggu siapa?" bisik anak buah Beni pada rekan di sampingnya.


Dia hanya mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tahu." ujarnya, tanda dia sendiri juga tidak mengetahui jawabannya.


Senyum Beni mereka di bibir, melihat sebuah mobil masuk ke dalam pelataran markas mereka. "Tunggu, ada apa denganku." senyum Beni seketika hilang, menyadari jika dirinya bertingkah konyol.


Sebelum mobil milik Lila terlihat, Beni merasa cemas. Tapi, setelah mobil yang di kendarai Lila terlihat oleh pandangannya, kecemasan Beni langsung menguap.


Beni segera mengembalikan ekspresi wajahnya seperti sebelumya, saat pintu mobil yang Lili kendarai terbuka dari dalam. Tak hanya Beni yang menunggu sosok yang akan muncul dari dalam mobil.


Melainkan beberapa anak buah Beni yang saat ini juga berada di sekitar Beni, yang memang bertugas menjaga keamanan di depan markas.


"Siapa dia?" gumam bawahan Egi, melihat sosok Lila.


"Sepertinya aku pernah melihatnya." celetuk yang lain menimpali.


"Asisten Beni, di mana kak Egi?" tanya Lila, saat dirinya berdiri di depan Beni.


Lila menggerakkan telapak tangannya di depan Beni. "Asisten Beni...!" panggil Lila dengan menaikkan nada suaranya.


"Eh,, iya." Beni sedikit terkejut, dan kembali ke sadar.


"Ada di mana kak Egi?" tanya Lila, mengulang kembali pertanyaannya.


"Silahkan. Tuan Egi menunggu di dalam." sahut Beni, memberikan jalan masuk pada Lila.


"Kak...!!!" teriak Lila saat pandangannya melihat Egi sedang berjalan tanpa menggunakan pakaian.


Semua bawahan Egi memandang ke arah Lila. Namun sepertinya Lila hanya acuh, dan terus mengayunkan kakinya dengan cepat ke tempat Egi.


Lila menghela nafas panjang melihat Egi yang saat ini tanpa menggunakan pakaian. "Beruntung otak ku masih bekerja dengan waras." ucap Lila dalam hati.

__ADS_1


Egi menaikkan sebelah alisnya, saat Lila memandangnya dengan tatapan marah, namun terlihat lucu. "Kenapa kakak tidak memakai baju. Apa mau pamer tubuh. Astaga... kakak..!! di sini ada perempuan. Mau tebar pesona." cecar Lila dengan kedua tangan berada di pinggang.


"Asisten Beni, ambilkan baju. Aku tidak ingin ada yang melihat tubuh calon kakak ipar ku. Selain kak Lily..!!" seru Lila masih dalam mode marah.


Egi tersenyum samar. "Tunggu sebentar, kakak akan membersihkan badan dulu." Egi mengacak rambut calon adik iparnya tersebut.


"Apa..?!" ucap Beni heran, saat Lila memandangnya dengan tajam.


"Lila ingatkan, asisten Beni. Jangan pernah membiarkan kak Egi dalam keadaan seperti tadi." seru Lila, dengan pandangan mengarah ke beberapa tempat. Dimana ada bawahan Egi yang berjenis kelamin perempuan. Termasuk Zea.


"Hanya kak Lily yang boleh melihat hal seperti itu. Paham..!!" lanjut Lila.


"Bukankah kamu tadi juga melihatnya. Mungkin juga menikmatinya." gumam Beni, terdengar Lila. Seakan sedang menyindir Lila.


"Astaga...!!! Kamu pikir aku perempuan gila. Menginginkan calon kakak iparku sendiri. Lelaki yang sangat di cintai kakakku. Aku bukan perempuan seperti itu. Paham..!!" jelas Lila dengan nada sedikit marah.


Beni tersenyum. Entah kenapa, perkataan dari Lila membuatnya merasa senang. Seakan Lila menegaskan, jika dirinya hanya ingin melindungi milik sang kakak. Tidak lebih.


Lila bergidik melihat Beni tersenyum sambil memandangnya. "Tuhan, apa jangan-jangan asisten Beni gila." celetuk Lila.


"Gila karena kamu." sahut Beni spontan, tetap menatap Lila dengan senyumnya.


"Hah...!!!" seru Lila, memundurkan kakinya.


"Ehh.." Beni seolah kembali tersadar. Beni ingin kembali membuka mulutnya dan menjelaskan perkataannya pada Lila. Namun Egi sudah membuka pintu ruangannya dari dalam.


"Ikuti aku." perintah Egi berjalan mendahului keduanya. Beni dan Lila hanya saling lirik dan mengikuti langkah kaki Egi.


"Sumpah. Itu tadi beneran boss Beni." ucap anak buah Beni lirih.


"Ternyata dia juga bisa merayu. Padahal sudah punya istri." celetuk yang lain.


"Ku kira orangnya beneran cuek. Ternyata sama saja jika ada wanita cantik. Mata nggak bisa di ajak kompromi." sahut yang lain, membicarakan Beni.

__ADS_1


"Ohhhh,,, astaga.." kedua mata Lila melotot sempurna dengan mulut menganga, melihat apa yang ada di depannya.


__ADS_2