
Tepuk tangan semua orang menyadarkan Lily, jika permainan piano dari Lila telah berakhir. Lagi-lagi Lily melihat ke arah Egi yang juga bertepuk tangan.
Ada rasa tidak rela dalam hati Lily, melihat Egi memberikan tepuk tangan untuk penampilan sang adik.
Lila turun dari panggung. Dilanjutkan acara utamanya, fashion show yang di bawakan oleh model yang sudah terbiasa berjalan di atas catwalk, yang memakai baju dari para desainer di seluruh penjuru dunia.
"Sayang." Nyonya Tya menyambut kedatangan Lila. Segera Lila duduk di samping mamanya.
"Bagaimana?" tanya Lila meminta nilai atas penampilannya. Nyonya Tya mengangkat kedua jempol tangannya.
"Kak." ucap Lila memandang ke arah kakaknya. "Sempurna." puji Lily terhadap adiknya. Sementara Tuan Ardes hanya tersenyum.
"Huft,,, rasanya lega." ucap Lila, seakan bebannya sudah benar-benar hilang.
"Kenapa mama tidak memakai Ella?" tanya Egi secara tiba-tiba, dengan mata mengarah ke depan. Dimana para model mulai berjalan lenggak lenggok memamerkan baju yang mereka kenakan.
"Dia tidak bisa. Entahlah, asistennya bilang jika Ella tidak akan mengambil pekerjaan beberapa bulan ke depan." jelas Nyonya Tiwi.
Egi hanya diam dan tidak menyahut perkataan dari sang mama. Ekor mata Nyonya Tiwi melirik ke arah Egi. "Apa kamu merindukannya. Semoga kamu cepat melupakannya. Dia memang bukan jodohmu sayang." batin Nyonya Tiwi.
Meski sebenarnya, Nyonya Tiwi juga pernah berharap jika Ella yang akan menjadi menantunya. Tapi semua berada di tangan Tuhan. Nyonya Tiwi tidak bisa memaksakan sesuatu.
"Beberapa bulan ke depan. Tidak mengambil pekerjaan. Ada apa dengan Ella." batin Egi.
"Jika memang tidak diperbolehkan oleh suaminya untuk menjalani profesinya sebagai model, seharusnya Ella berhenti total." batin Egi.
"Tapi kenapa asisten Ella mengatakan beberapa bulan ke depan." kata Egi dalam hatinya. Merasa penasaran. Dengan keadaan Ella. Antara khawatir dan juga penasaran.
Pertunjukan selesai. Pembawa acara memanggil satu persatu desainer yang sudah berpartisipasi untuk naik ke atas panggung. Yang berjumlah sembilan orang. Termasuk Nyonya Tiwi.
Waktunya Nyonya Tiwi mengucapkan sepatah dua patah kalimat untuk semua yang hadir di tempat berlangsungnya acara. Tak lupa Nyonya Tiwi menyebut nama putranya. Egi Yoga Pratama.
"Kak. Itu kak Egi?" tanya Lila terkejut mendengarnya.
"Iya, dia putra dari Nyonya Tiwi Hariningrum." jawab Nyonya Tya.
"Serius." kata Lila tidak percaya.
"Tiwi Hariningrum. Desainer terkenal. Bahkan aku juga mempunyai beberapa gaun rancangannya. Luar biasa." ucap Lila dengan wajah berbinar.
Lily memandang ke arah Lila dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Entah apa yang sekarang ada di dalam benak Lily.
Selesai. Keluarga Lily keluar dari ruangan. Dengan tidak sengaja, mereka bertemu dengan Egi dan mama Egi di sebuah lorong. Sebuah jalan keluar dari gedung.
__ADS_1
"Kak Egi." panggil Lila. Membuat Egi dan Nyonya Tiwi menghentikan langkahnya.
Egi memandang ke arah mereka dengan senyum. "Nyonya." sapa Nyonya Tya membuka suara.
"Tiwi. Panggil saja Tiwi." ucap Nyonya Tiwi.
"Tya." sahut Nyonya Tya memperkenalkan diri.
"Kamu." Nyonya Tiwi memandang ke arah Lila. "Yang tadi bermain piano kan?" tanya Nyonya Tiwi memastikan.
"Benar Nyonya." jawab Lila dengan senyum. Tampak Lila terlihat cantik dengan balutan dress berlengan pendek dengan panjang di bawah lutut.
"Putri anda sangat berbakat Tuan." puji Nyonya Tiwi pada Lila.
Tuan Ardes dan Nyonya Tya hanya tersenyum mendengar putrinya di sanjung oleh mama dari Egi.
Dan Lily, hanya diam dengan mata memandang ke arah Egi.
Egi tanpa sengaja menatap ke arah Lily. Egi mengernyitkan keningnya melihat Lily tampak menatapnya dengan tatapan marah dan kesal.
Dan yang lebih menjengkelkan, Egi malah menggoda Lily. Tersenyum dengan mata memandang remeh pada Lily.
Egi menunggu, apa yang akan dilakukan perempuan ini. Sikap dan sifat Lily yang berubah-ubah, membuat Egi lebih senang menggodanya.
"Tante." Lily bersalaman dengan Nyonya Tiwi. Tampak Nyonya Tiwi sedikit heran. Telapak tangan dari Lily sangat dingin.
Dan juga ada raut wajah sedikit cemas yang ditunjukkan. Meski ditutupi dengan senyum di bibirnya. Tapi Nyonya Tiwi dapat menangkapnya.
"Saya Lily, Nyonya." ucapnya mengenalkan diri, dengan menyebutkan namanya.
Tampak Egi menutup mulutnya. Pasti sekarang Egi sedang tersenyum melihat tingkah dari Lily yang gugup di hadapan mamanya.
Lily melirik ke arah Egi. Seketika senyumnya berubah menjadi tatapan tajam. Dan semua itu tak luput dari penglihatan mama Egi.
Apalagi Nyonya Tiwi melihat Egi, sepertinya sengaja mengelus rahangnya seraya menutup mulutnya.
Dan Tuan Ardes, mengepalkan tangannya. Dirinya kecewa dengan sikap Egi yang acuh. Bahkan tidak memperkenalkan Lily sebagai kekasihnya pada Nyonya Tiwi.
Nyonya Tya mengelus pelan lengan sang suami. Nyonya Tya sangat tahu apa yang sedang di rasakan oleh suaminya. Yang sebenarnya juga dirasakan oleh dirinya juga. Rasa kecewa.
Tapi Nyonya Tya tidak ingin membuat suasana menjadi ramai karena emosi dari Tuan Ardes.
"Khem..." Nyonya Tiwi berdehem, manakala dirinya merasa suasana yang berbeda. Terlihat lebih tegang dan juga sedikit tidak bersahabat.
__ADS_1
Egi mendekat ke arah Lily. Menaruh tangannya di pundak Lily. Membuat semua orang terkejut. Tidak terkecuali Lily.
"Dia teman Egi ma." ucap Egi. Membuat keluarga Lily menatap tajam ke arah Egi, mendengar Egi menyebut Lily sebagai temannya.
Lily hendak melepaskan tangan Egi di pundaknya. Tapi urung, karena Nyonya Tiwi mengeluarkan suara terlebih dahulu. "Benarkah?" tanya Nyonya Tiwi seperti tidak percaya.
"Iya." jawab Egi dengan lempeng.
"Sayang. Saya Tiwi. Mamanya Egi." ucap Nyonya Tiwi dengan antusias memegang telapak tangan Lily.
Lily beserta keluarganya merasa heran dengan sikap Nyonya Tiwi. Padahal, Egi hanya mengenalkan Lily sebagai temannya. Bukan kekasihnya.
"Iya Nyonya." ujar Lily sedikit terkejut. Apalagi mama Egi memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Panggil mama." ucap Nyonya Tiwi dengan senang. Lily membulatkan kedua matanya dengan permintaan dari mama Egi.
"Ma." tegur Egi dengan nada datar. Dengan menurunkan tangannya dari pundak Lily.
"Iya. Kamu itu." Nyonya Tiwi memandang ke arah Egi dengan kesal. "Panggil saja tante." imbuh Nyonya Tiwi.
"Baik. Tante." ucap Lily masih dengan keadaan bingung.
"Sekarang tante tinggal di apartemen Egi. Kamu bisa ke sana kalau kamu mau. Tante akan senang. Apalagi tante sendirian. Egi sibuk bekerja." keluh Nyonya Tiwi.
"Kamu tahukan alamat apartemen Egi?" tanya Nyonya Tiwi, yang sebenarnya beliau ingin memastikan sesuatu.
"Tahu tante." ucap Lily dengan sopan. Nyonya Tiwi tersenyum senang.
"Nyonya Tya, bolehkan jika Lily menemani saya saat berada di sini." izin Nyonya Tiwi.
"Lima hari lagi saya akan kembali ke negara saya." imbuh Nyonya Tiwi.
"Silahkan. Tapi jika Lily melakukan kesalahan, jangan sungkan menegurnya Nyonya." ucap Nyonya Tya tersenyum tulus.
"Mana mungkin. Lily terlihat begitu baik." puji Nyonya Tiwi.
"Belum tahu saja aslinya." gumam Egi masih terdengar yang lain.
"Aw.." seru Egi saat cubitan kecil dari Lily bersarang di lengannya. Egi hanya meringis dan mengusap pelan lengannya bekas di cubit Lily.
Dan Lila, merasa sedikit tidak suka melihat Nyonya Tiwi memperlakukan kakaknya dnegan spesial. "Lila, ini salah. Kamu tidak boleh memupuk rasa iri. Dia kakak kamu. Egi, kekasihnya. Sudah sepantasnya mereka memperlakukan kak Lily seperti itu." batin Lila.
"Egi." panggil seseorang. Seketika semuanya menoleh ke arah suara yang memanggil Egi.
__ADS_1