
"Sayang, bangun." Nyonya Tya menggedor pintu kamar anaknya.
"Kakak belum bangun ma?" tanya Lila yang memang melewati kamar Lily. Karena memang kamar Lila berada di sebelah kamar Lily.
Nampak Lila sudah memakai baju rapi. Menandakan jika gadis cantik tersebut sudah siap menghadapi kegiatan hari ini.
Nyonya Tya memandang ke arah Lila, menggeleng pelan. "Tumben dikunci." gumam Lila saat tangannya hendak membuka pintu kamar sang kakak.
Karena biasanya, Lily tidak pernah sekalipun mengunci pintu kamar. "Bikkk....!" teriak Nyonya Tya.
"Ambilkan kunci cadangan untuk kamar Lily." perintah Nyonya Tya pada pembantu di rumahnya. Ada raut kekhawatiran di wajah Nyonya Tya.
Segera pembantu tersebut membalikkan badan. Pergi ke tempat di mana kunci cadangan untuk kamar Lily di simpan.
"Sebaiknya kamu ke ruang makan dulu. Kemungkinan papa sudah berada di sana." pinta Nyonya Tya.
"Katakan pada papamu, jika mama masih membangunkan kakak." imbuh Nyonya Tya.
Dirinya sengaja menyuruh Lila mengatakan pada Tuan Ardes, jadi Tuan Ardes tidak perlu menunggu keduanya untuk sarapan bersama.
Dan juga, Tuan Ardes akan mengambil makanan untuk di santap, tanpa harus menunggu sang istri. Yang selalu setia meladeninya setiap mereka makan bersama.
Untuk alasan tertentu, Tuan Ardes tidak akan marah saat sang istri tidak berada di sampingnya saat dia memerlukan perhatian sang istri saat di rumah.
Karena Tuan Ardes sadar, jika bukan hanya dirinya yang memerlukan sang istri. Masih ada dua anak perempuannya, yang sangat masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari Nyonya Tya.
Lila mendaratkan pantatnya di kursi samping Tuan Ardes. "Mama menyuruh kita untuk sarapan terlebih dulu, pa." ucap Lila.
"Mama masih membangunkan kakak." imbuh Lila, dengan tangan mengambilkan makanan untuk di taruh di atas piring sang papa.
"Terimakasih." ucap Tuan Ardes pada Lila.
"Selamat makan papa." ucap Lila dengan nada bahagia.
__ADS_1
Tuan Ardes masih menatap makanan di atas piringnya. Seolah masih enggan untuk mengambilnya, dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Lila menghentikan makannya. Seolah dirinya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sang papa. "Papa tenang saja. Kakak dalam keadaan baik-baik saja." ucap Lila, disambut anggukan di serta senyuman dari sang papa.
"Buktinya mama tidak berteriak." imbuh Lila. Membuat Tuan Ardes terkekeh pelan.
Benar kata Lila. Pasti sang mama akan berteriak kencang jika terjadi sesuatu dengan Lily.
Nyonya Tya berhasil membuka pintu kamar Lily menggunakan kunci cadangan. Rasa khawatir yang mengusiknya sedari tadi, seketika lenyap.
Saat melihat Lily tertidur pulas di atas ranjang empuk dan besar miliknya. Nyonya Tya bernafas lega. Menutup pintu kamar Lily dengan pelan.
Melangkahkan kaki, mendekati ke tempat Lily tertidur. Tampak mata Lily sedikit bengkak. Meskipun dalam keadaan terpejam, tapi Nyonya Tya masih bisa melihatnya dengan jelas.
Pasti semalam Lily menangis. Menumpahkan segala rasa kesal dan kecewa di hatinya. "Semoga perasaanmu lekas membaik." gumam Nyonya Tya.
Dengan pelan, Nyonya Tya duduk di tepi ranjang. "Jam berapa kamu semalam tidur sayang." gumam Nyonya Tya.
Meskipun Lily selalu bangun kesiangan, tapi dia tidak pernah sulit untuk di bangunkan. Saru gedoran di pintu, sudah cukup untuk membangunkan Lily.
"Maaf, mama menggangu kamu tidur. Sudah, kamu tidur lagi. Mama tidak akan menggangu. Tapi jangan bangun terlalu siang, kamu harus sarapan." Nyonya Tya mengelus lembut rambut Lily.
"Nggak ma, Lily sudah tidak mengantuk." ucap Lily, bangun dari duduknya.
"Ada apa. Hemmm." Nyonya Tya menaruh rambut Lily ke belakang telinga Lily.
Lily tiba-tiba memeluk sang mama. "Ma, ada yang mau Lily ceritakan sama mama." ucap Lily masih memeluk sang mama, seakan enggan untuk melepaskannya.
"Katakan." ucap Nyonya Tya, membelai punggung sang anak.
"Sebenarnya, Lily dan Egi tidak pernah berpacaran." ucap Lily pelan, tapi masih bisa terdengar jelas di telinga Nyonya Tya.
Nyonya Tya merasa terkejut dengan penuturan sang anak. Tapi dia hanya diam. Membiarkan Lily berbicara. Dirinya tidak bisa langsung menghakimi Lily, sebelum mendengar semuanya dari Lily.
__ADS_1
Nyonya Tya mengurai pelukannya pada Lily. "Katakan sayang, jangan takut." pinta Nyonya Tya, memandang sang anak dengan tatapan mata yang teduh. Seakan berkata pada Lily, jika sang mama akan melindungi dia.
"Lily semalam kecewa pada Egi. Saat dia tidak mengenalkan Lily sebagai kekasihnya pada mama Egi. Sampai rumah, Lily marah. Emosi dan kesal dengan perlakuan Egi."
"Tapi Lily diam sejenak. Merenungkan semuanya, ternyata Egi sama sekali tidak bersalah. Karena memang kita hanya saling kenal. Bahkan, sebelumnya kita tidak berteman." jelas Lily.
"Lily bertemu dengan Egi sebanyak dua kali. Saat itu, Lily sedang dalam pelarian. Karena perjodohan yang dilakukan oleh papa. Pertama, kami bertemu di club malam. Dan Egi menolongku dari anak buah papa."
Lily menarik nafasnya, melanjutkan kalimatnya. "Kedua, di tengah jalan. Tapi Egi tidak membantuku. Lalu aku menjadi kesal. Aku menganggap, anak buah papa dapat menangkapku karena Egi." ucap Lily, menjeda perkataannya.
"Siapa sangka, kita bertemu lagi. Ternyata Egi adalah rekan kerja papa. Dan di sanalah, aku memeluk Egi. Di hadapan banyak orang. Termasuk papa. Mengenalkan dia sebagai kekasihku." Lily tertunduk.
Nyonya Tya menghela nafas panjang. Bukan saatnya menyalahkan Lily. Karena saat ini, Lily sedang dalam perasaan yang bingung.
Nyonya Tya dapat menangkap dari setiap ekspresi Lily. Saat dirinya bertemu dengan Egi, atau saat dirinya menceritakan tentang Egi.
Ada rasa senang, takut, dan juga khawatir yang bercampur menjadi satu. Nyonya Tya menggenggam telapak tangan sang anak.
Lily mengangkat kepalanya. Melihat ke arah sang mama yang sedang tersenyum tulus memandang dirinya. "Mama tidak marah?" tanya Lily polos.
Karena justru sang mama malah tersenyum, alih-alih mengomelinya seperti biasa. Bahkan Lily awalnya menebak jika sang mama akan marah, dan menyalahkan dirinya.
"Untuk apa mama marah. Hemmm." Nyonya Tya menepuk dan mengelus pelan punggung telapak tangan dari Lily.
"Karena Lily sudah berbohong. Lily bahkan menggunakan dan melibatkan orang lain dalam kebohongan yang Lily rancang sendiri." cicit Lily.
"Mama hanya kecewa, kenapa kamu membohongi mama."
"Maaf." ucap Lily lirih. "Lily hanya tidak ingin menikah dengan lelaki yang bahkan Lily tidak kenal." lanjutnya.
Nyonya Tya tersenyum samar. "Lalu, apakah kamu mengenal Egi?" tanya Nyonya Tya, mulai memancing Lily. Ingin mengetahui perasaan sang anak pada sosok Egi.
"Kenal." jawab Lily singkat dan spontan.
__ADS_1
Tapi seketika Lily tersadar, jika dia salah menjawab. "Ehhh,,, maksudnya. Lily dan Egi hanya saling kenal. Dan Lily yakin, Egi dan Lily akan mengakhiri semua dengan baik." ucap Lily. Seolah dirinya bingung untuk merangkai kata atau menjelaskan pada sang mama.