
"Aaaa..... Bagusnya..." pekik Lila, melihat dekorasi di ruangan tersebut.
"Kamu suka?" tanya Beni ambigu.
Lila terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Pasti, sebentar lagi kak Lily akan bertunangan dengan kak Egi. Lalu mereka akan menikah." cicit Lila.
Lila mendapat telepon dari Beni. Mengatakan pada Lila, jika dia mendapat perintah dari Egi untuk membuat pesta kejutan untuk pertunangannya dengan Lily. Meskipun Egi sudah melamarnya di negara kelahirannya.
"Kapan kak Egi dan kak Lily akan kembali?" tanya Lila.
Bukannya segera menjawab pertanyaan Lila, Beni malah tersenyum sambil memandang dengan intens ke wajah Lila. "Hey." Lila menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Beni.
"Ehh,,, maaf. Apa?" tanya Beni, yang memang tidak konsentrasi dama sekali. Lantaran sedang mengangumi kecantikan calon adik ipar dari atasannya.
"Kapan mereka akan kembali?" tanya Lila dengan malas.
"Nanti malam." jawab Beni.
"Baiklah, semuanya sudah selesai. Jika begitu aku akan pulang dulu. Dan menghubungi kak Mauren, juga kak Amanda." ujar Lila dengan bibir terus tersungging.
"Emm,,, baiklah. Mari saya antar." tawar Beni.
"Terimakasih, tapi sepertinya tidak perlu." ucap Lila, memperlihatkan kunci mobil di tangannya.
Segera Lila pergi dari tempat tersebut. Lila tersenyum penuh makna di belakang kemudi. Dia bukan perempuan polos, yang tidak tahu. Jika sejak pertama bertemu, Beni memandangnya dengan tatapan memuja.
Tapi Lila masih waras untuk tidak menanggapi hal tersebut. "Tampan. Tapi maaf, aku bukan perempuan perusak rumah tangga orang." ucap Lila lirih, melajukan mobilnya ke tempat Mauren.
Di belahan negara lain, Egi dan Lily sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Egi. "Tidurlah." kata Egi, melihat Lily menahan rasa kantuknya.
"Ya, benar. Bangunkan aku jika sudah sampai." Lily memejamkan kedua matanya, memeluk lengan Egi dan menempatkan kepalanya di lengan sang kekasih. Sangat nyaman.
Sayangnya, tidak seperti yang diinginkan oleh Lily. Egi tidak membangunkan Lily setelah sampai bandara. Lelaki tersebut dengan pelan menggendong tubuh Lily ke dalam mobil.
__ADS_1
Membiarkan sang kekasih tetap tertidur lelap. "Kita langsung ke tempat." perintah Egi pada sang sopir, yang ternyata Beni.
Seperti sebelumnya, Lily masih tidur dengan nyenyaknya. Egi mengulum bibirnya melihat sang kekasih terlihat sangat nyaman tidur di dalam pelukannya.
Semua anggota keluarga telah berkumpul menyambut kedatangan Egi dan Lily. Tampak Nyonya Tiwi juga sudah berada di sana.
Saat Egi dan Lily berangkat, Nyonya Tiwi juga bergegas menyusul mereka. Namun menggunakan pesawat berbeda.
Tampak Amanda dan juga Zeo berada di antara mereka. Tak ketinggalan, Mauren juga ada di tempat tersebut.
Mata semua orang membulat, melihat Egi datang dengan menggendong seseorang. Dan mereka dapat menebak siapa yang berada dalam gendongan Egi.
"Kakak. Kenapa malah jadi putri tidur." ucap Lila kesal.
Nyonya Tiwi yang berada di dekat Lila, dengan lembut mengusap lengan Lila. "Tidak masalah, bukankah malah lebih bagus. Kakak kamu akan terkejut, begitu kedua matanya terbuka." ujar Nyonya Tiwi menenangkan Lila.
"Ampun,,,,, dasar Lily, ratu tidur." geram Mauren, tak kalah kesal dengan Lila.
Meski sang mama selalu meracuni pikirannya. Tapi Amanda bukanlah sosok perempuan yang tidak tahu terimakasih. Amanda bukanlah perempuan yang tega menyakiti perempuan lain, hanya karena menginginkan sesuatu.
Zeo, kini Amanda sedang berupaya membuka hatinya untuk lelaki yang saat ini berdiri di sampingnya. Dimana Zeo mengatakan jika dia mencintai Amanda.
"Pelan-pelan." ucap Nyonya Tya saat Egi menurunkan Lily di sebuah kursi. Dengan posisi duduk.
"Biar mama yang bangunkan. Kamu pegang saja." ucap Nyonya Tya pada calon menantunya. Tuan Ardes menarik nafas panjang dan menggelengkan kepala melihat tingkah dari putri sulungnya tersebut.
Nyonya Tya menepuk pelan pipi sang putri. "Sayang bangun. Sudah sampai. Buka mata kamu." tutur Nyonya Tya. Sementara Egi memegang tubuh Lily agar tidak terjatuh.
"Aduh,,, terlalu lama ma. Bukan begitu cara membangunkan kakak." cicit Lila dengan ekspresi sinis bercampur kesal.
"Lila." tegur Tuan Ardes dengan menaruh tangannya di pundak anak bungsunya tersebut.
"Eeeggghh,,,," terdengar lenguhan dari Lily. Dengan pelan, Lily mengucek-ngucek kedua matanya.
__ADS_1
"Mama..." ujar Lily masih mengumpulkan kesadarannya.
"Iya, ini mama." ucap Nyonya Tya yang masih duduk berjongkok di depan Lily.
Segera Mauren memberikan air minum pada Lily. "Minum dulu, biar seger." ketus Mauren. Membuat semuanya tertawa kecil.
"Kok kamu di sini." Lily menerima segelas air putih dari tangan Mauren dengan raut wajah bingung.
"Makanya minum dulu." ketus Mauren dengan mata sedikit melotot.
"Sudah, jangan di marahi." ujar Amanda menegur Mauren.
"Ckk,,, habisnya. Sumpah nyebelin." sahut Mauren.
"Loh, Amanda. Kamu juga ada di sini." cicit Lily yang masih belum meminum air di tangannya.
"Minum, itu minum. Ckkk." decak Mauren dongkol. Tuan Ardes hanya tersenyum melihat tingkah Mauren.
Sebab, memang Tuan Ardes dan Nyonya Tya sudah menganggap Mauren seperti Lily dan Lila.
Lily meminum airnya sampai tandas. "Ini...." Lily mengedarkan pandangannya. Melihat semua orang di sekitarnya.
"Mama." ucap Lily saat melihat Nyonya Tiwi. "Perasaan aki dan Egi tadi sudah naik pesawat." gumam Lily merasa bingung melihat keberadaan Nyonya Tiwi.
Sontak semuanya tertawa lepas melihat kebingungan dari Lily. "Kamu lihat itu." Egi merangkul pundak Lily, sedikit membungkukkan badan untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Lily yang masih dalam posisi duduk.
Mulut Lily melongo, melihat tulisan besar di depannya. Lily memandang wajah sang kekasih yang berada di sampingnya.
"Terimakasih semuanya." ucap Lily terharu.
Pesta pertunangan di mulai, meski hanya dengan beberapa orang. "Maaf, hanya pesta kecil. Tapi aku berjanji akan membuat pesta pernikahan kita sangat mewah dan megah." ucap Egi.
"Tidak masalah." Lily dengan erat memeluk calon suaminya tersebut.
__ADS_1