PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 83


__ADS_3

"Sebentar lagi Amanda akan bertemu kalian." gumam Amanda memandang dirinya dari pantulan cermin di depannya.


Rasanya Amanda sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


Gaun berwarna navy bertabur mutiara, berlengan pendek dengan panjang hingga tumit membalut sempurna tubuh Amanda.


Terlebih dengan belahan yang berada di depan hingga lutut, sanggup memamerkan betapa indah betis sang empunya.


Amanda menyanggul asal rambutnya, menyisakan sedikit anak rambut yang di biarkan menjuntai di sisi-sisi wajahnya.


"Huffttt,,,," Amanda menghembuskan nafas panjang. Mengambil tas pesta yang sudah dia persiapkan dari rumah.


"Maaf lama." ucap Amanda, setelah sampai di lobi hotel. Di mana dirinya bersama Zea dan Zeo juga tidur di hotel tersebut.


"Kalian..." ucap Amanda menggantung. Melihat penampilan Zea dan Zeo.


Ini pertama kalinya Amanda melihat Zea memakai gaun. Memang gaun yang di pakai Zea adalah gaun sederhana. Namun gaun tersebut mampu membuat Zea semakin cantik.


Apalagi selama ini Zea lebih banyak memakai baju kerja yang berjas dengan bawahan celana panjang. Dan untuk Zeo, Amanda benar-benar merasa pangling.


Zeo memakai setelan jaz berwarna navy dengan bawahan senada. Tak ketinggalan dasi kupu-kupu terpasang di lehernya. Di tambah rambut Zeo yang di tata dengan sangat rapi.


"Perfect." Amanda mengangkat tangannya. Menyatukan jempol tangan dengan jari telunjuk.


"Terimakasih Nona, anda juga sangat cantik malam ini." puji Zea.


"Bisa kita berangkat sekarang." ajak Zeo.


Malam ini, Amanda akan masuk di temani oleh keduanya. Amanda akan mengenalkan Zeo sebagai sahabat dekatnya. Sementara untuk Zea, Amanda akan mengakui jika dia adalah asisten pribadinya.


Amanda dan Zeo masuk ke dalam pesta dengan bergandengan tangan. Dan Zea, dia berada di sebelah Amanda. "Jangan gugup Nona." ucap Zeo, menepuk telapak tangan Amanda yang melingkar di lengannya.


"Oke." Amanda menarik dan menghembuskan nafas dengan perlahan. Amanda dan Zeo, tampak seperti pasangan pada umumnya. Keduanya tampak serasi, terlebih baju yang mereka gunakan mempunyai warna yang sama.


Amanda membawa Zea dan Zeo untuk menemui pemilik acara. Di acara tersebut, Amanda pamit untuk pulang terlebih dahulu, meski acara belum selesai. Dia beralasan sedang tidak enak badan.

__ADS_1


"Sepertinya kita sedang di ikuti." papar Amanda menghadap ke belakang. Karena saat ini, mereka sudah berada di dalam mobil. Dengan Amanda duduk di kursi belakang.


Amanda merasa jika Zeo membawa mereka ke tempat yang sedikit gelap. Seperti terowongan. "Kita harus segera turun, Nona." ajak Zea.


Amanda hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Zea. Dan mereka masuk ke dalam mobil lain yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka di terowongan tersebut.


"Siapa mereka? apa mungkin orangnya Revan?" tanya Amanda, melihat mobil yang mengikuti mereka melaju lurus, mengikuti mobil yang sempat di naiki oleh Amanda.


Meski dalam keadaan gelap, Amanda dapat melihat jika ada tiga orang yang masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Zeo sebelumnya.


Berganti peran. Itulah yang Amanda tangkap dalam otaknya. "Pasti mereka mengira jika kita masih berada di dalam mobil itu." ucap Amanda dalam hati.


Mereka memakai pakaian yang mirip, bahkan sama dengan pakaian yang mereka kenakan. Amanda tersenyum. "Aku banyak belajar dari semua kejadian yang menimpaku selama ini." ucap Amanda dalam hati.


"Tidak boleh terlalu percaya pada semua orang. Siapapun itu. Kewaspadaan kita harus selalu di tingkatkan setiap waktu. Ketepatan waktu di setiap pergerakan. Dan juga ketenangan saat menghadapi masalah." lanjut Amanda dalam hati.


Amanda tersenyum getir. "Tapi kenapa sangat sulit. Bahkan sepertinya mustahil untuk aku bisa melakukan semua itu." ucap Amanda selanjutnya.


Amanda merasa dirinya mengalami ketergantungan pada Egi. Meski dirinya dan Egi bahkan sangat jarang bertemu, namun Egi mampu membuat Amanda bisa merasakan kenyamanan. Hanya dengan mengirimkan dua bawahannya di samping Amanda.


"Belum Nona, kita harus ganti pakaian terlebih dahulu." ucap Zea menyerahkan paper bag pada Amanda.


Amanda segera mengambil paper bag di tangan Zea. "Terimakasih."


"Nona, silahkan masuk dengan Zea. Saya akan berjaga di sini. Kita bisa bergantian." ucap Zeo.


Selesai mereka mengganti pakaian, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke tempat di mana kedua orang tua Amanda berada.


Mata Amanda selalu menoleh ke kanan kiri, dan juga ke depan. Karena jalan yang mereka lalui sangat gelap dan sepi. Hanya ada cahaya yang di hasilkan dari mobil mereka sendiri.


Amanda melihat Zea dan Zeo tampak tenang. Tak ada raut ketakutan sama sekali. Bahkan Zea saat ini sedang memainkan sebuah permainan di ponsel miliknya.


Kedua mata Amanda membulat sempurna dengan mulut menganga, saat mobilnya memasuki gedung di depannya. Bukan gedung. Tepatnya rumah yang sangat besar dan menyeramkan.


Rumah tersebut terlihat seperti rumah kosong yang tak berpenghuni. Bahkan hanya ada beberapa lampu berwarna kuning. Yang malah menambah kesan mistik.

__ADS_1


Amanda mencengkeram kursi di depannya. "Kalian kenapa membawa saya ke sini." ucap Amanda ketakutan.


Belum sempat Zea maupun Zeo menjawab pertanyaan Amanda. Amanda terlebih dulu menjerit karena ada yang mengetuk kaca jendela mobilnya.


"Zea...!!" seru Amanda memegang pundak Zea.


Dengan lembut, Zea mengusap telapak tangan Amanda. "Tenang Nona, mereka orang kita. Bawahan Tuan Egi yang menjaga tempat ini." papa Zea.


Zeo keluar terlebih dahulu. "Silahkan Nona." ucap Zeo, setelah membuka pintu mobil.


"Kalian yakin, papa dan mama ada di sini?" tanya Amanda memastikan. Amanda khawatir jika mereka berdua salah alamat.


Amanda memegang erat tangan Zea. Dan Zeo berjalan di depan keduanya. Sementara ada beberapa orang yang mengawasi mereka dari setiap arah tanpa Amanda ketahui. Mereka adalah bawahan Egi yang bertugas menjaga tempat tersebut.


Ceklek... Zeo membuat pintu. "Silahkan masuk Nona." Zeo mempersilahkan Amanda dengan sopan.


Amanda melepaskan cekalan tangannya di lengan Zea, saat dirinya masuk ke dalam rumah. Sangat berbeda. Itulah yang di tangkap oleh Amanda.


Penampilan luar dan dalam rumah ini sangat berbalik tiga ratus enam puluh derajat. "Indah." ucap Amanda memandang takjub isi dari rumah tersebut.


"Sayang." panggil seorang perempuan dari tangga paling atas. Marasa familiar dengan suara tersebut, Amanda langsung mendongakkan kepala.


Mulut Amanda menganga tak percaya dengan apa yang dilihat. Sepasang suami istri nampak sangat sehat dan bergandengan tangan menuruni tangga.


"Mama,,,, Papa..." Amanda berlari ke arah keduanya. Ketiganya saling berpelukan melepas rindu.


Air mata kebahagiaan tak dapat terbendung lagi. "Amanda kangen." cicit Amanda sesegukan.


"Putri mama papa. I miss you, baby." ucap Nyonya Lita.


Ketiganya mengurai pelukannya. Tuan Joshua menghapus air mata di pipi sang putri. "Maafkan papa." ucap Tuan Joshua lirih, merasa bersalah.


"Tidak, papa tidak pernah bersalah. Hanya saja, hati papa terlalu baik." tutur Amanda dengan bijak, dirinya tidak ingin menyalahkan sang papa atas apa yang menimpa keluarganya.


Tuan Joshua kembali memeluk sang putri. Nyonya Lita tersenyum dan mengelus punggung sang suami. "Papa berjanji, akan menjaga kamu dan mama kamu dengan baik." ujar Tuan Joshua.

__ADS_1


__ADS_2