PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 77


__ADS_3

Egi memandang sosok perempuan yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyum menawan. Bahkan, kedua Egi tidak berkedip saat memandang Lily.


Seolah Egi terbius dengan pesona putri sulung pasangan Tuan Ardes dan Nyonya Tya. Bagaimana tidak. Egi yang biasanya melihat Lily hanya menggunakan kaos atau kemeja dengan celana panjang.


Kini Lily bagaikan seekor angsa putih. Sangat anggun, cantik, dan mempesona dengan balutan dress berwarna hitam membalut sempurna tubuh Lily. Memperlihatkan betapa sempurnanya lekuk tubuh sang kekasih.


Serta tatanan rambut yang di sanggul tidak terlalu rapi. Membiarkan sebagian rambut jatuh ke wajahnya. Malah menambah kesan seksi di mata Egi.


Tak lupa, high hell dengan warna senada yang tidak terlalu tinggi. Membuat sisi feminim Lily begitu kuat. Terlebih belahan di pinggi gaun Lily yang tidak begitu panjang.


Namun belahan tersebut tidak mampu menyembunyikan betis Lily yang sangat menggoda tangan, untuk di elus.


Lila yang berada di samping Egi, hanya bisa tersenyum sembari heboh sendiri. Senyum-senyum dan menutup wajahnya. Lila selalu melihat ke arah sang kakak dan calon kakak ipar secara bergantian.


"Kak Lily begitu cantik. Benarkan?" tanya Lila lirih. Karena saat ini, Lila sedang berdiri di samping Egi.


"Benar." jawab Egi tanpa mengalihkan pandangannya kepada Lily.


"Ulurkan tanganmu kak." suruh Lila. Entah karena apa, Egi malah mengikuti perkataan dari calon adik iparnya tersebut.


Lily dengan anggun menyambut ukuran tangan dari Egi. "Cium tangan kak Lily." suruh Lila lagi.


Dan lagi-lagi, Egi seperti terhipnotis. Dengan mudah mengikuti perintah dari Lila. Lily tersenyum melihat seorang Egi dengan mudah di perintah oleh seorang Lila.


Menyadari ada yang janggal. Egi segera menoleh ke arah samping. Tepat di mana Lila sedang tersenyum meringis, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Tidak ingin di marahi Egi, Lila segera mengecup pipi Lily. Dan berlari menaiki anak tangga. Lily hanya bisa tertawa melihat tingkah sang adik.


Tidak dengan Egi. Seolah pandangannya tak bisa lepas dari sosok perempuan cantik di depannya. "Khemmm..." dehem Lily, menetralkan rasa gugupnya.


Egi terus memandangnya dengan tatapan mendamba. Membuat Lily menjadi salah tingkah dengan irama degup jantung yang semakin kian tidak teratur.


Egi menarik lengan Lily. Membuat tubuhnya dengan Egi tak berjarak. "Egi.." ucap Lily pelan, bermaksud menjauh dari tubuh Egi.


Bukannya meluluskan permintaan sang kekasih, Egi malah menaruh kedua tangannya di pinggang ramping milk Lily.


Dengan spontan. Lily meletakkan kedua telapak tangannya di dada Egi. Berharap tetap menjaga jarak. Lily tidak ingin Egi merasakan dan mendengar detak jantungnya yang kian tak terkendali.

__ADS_1


"Kenapa malam ini, kamu cantik sekali." bisik Egi, dengan sengaja menempelkan bibirnya di daun telinga Lily.


Lily mengulum bibirnya sendiri. Astaga, padahal Egi hanya membisikkan perkataan yang masih normal. Tapi Lily sudah merasakan gelenyar aneh yang sekarang menjalar di sekujur tubuhnya.


"Kamu tahu." imbuh Egi berbisik di telinga Lily. Egi memegang dagu Lily, membawa kedua mata Lily untuk menatap ke wajahnya.


"Ingin sekali aku membawamu ke dalam kamar." Egi memandang seluruh wajah cantik Lily dengan teliti.


Dengan pelan, Egi mendekatkan bibirnya pada bibir Lily yang sejak tadi sangat menggoda di mata Egi. Tapi sialnya, suara cempreng dari Lila membuyarkan semuanya.


"Kak,,,, cepat berangkat. Mau sampai kapan kalian akan terus berada di sana!!" teriak Lila dari atas, tersenyum jahil pada sepasang kekasih tersebut.


"Aaa...!!!" seru Lila segera kabur dan masuk ke dalam kamarnya. Saat tatapan tajam dari Egi langsung menghunus tepat padanya.


Berbeda dengan Egi, Lily mengeratkan cengkeramannya di kerah baju Egi dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kekasih.


Malu. Sungguh betapa malunya sekarang Lily. Saat Lila malah memergoki keduanya tengah bermesraan. Pasti setelah ini, Lily akan di bully oleh sang adik tercinta.


"Hama." gumam Egi kesal.


Egi tersenyum miring. Dirinya menyadari jika ada sepasang mata yang saat ini sedang memperhatikan dirinya dan juga Lily.


"Sesuatu yang sudah menjadi milik seorang Egi. Selamanya akan menjadi miliknya. Jangan pernah berharap untuk memilikinya. Bahkan dalam mimpi sekalipun." pandangan mata Egi tajam menembus jarak, Egi tahu dengan pasti di mana keberadaan orang tersebut.


Mengetahui jika arah pandangan Egi tertuju untuknya, Vincen mengepalkan tangannya. "Aku akan merebut Lily dari sisimu. Lihat saja. Lily sendiri yang akan menjauh darimu. Dan berlari dalam pelukanku." gerak Vincen.


Darah Vincen mendidih terbakar cemburu. Dengan mata kepalanya sendiri, Vincen melihat penampilan Lily yang sangat menggoda dan seksi.


Memang pernah Vincen melihat Lily memakai dress sewaktu di rumah Mauren. Tapi saat itu Lily memakai dress sederhana. Yang menampilkan kesan feminim dan wajah polos Lily.


Berbeda dengan malam ini. Lily tampak sangat menawan dan seksi. "Bangsat." geram Vincen memukul stir mobilnya. Meluapkan emosinya, saat mobil milik Egi meninggalkan kediaman Tuan Ardes.


"Egi, lepas. Berbahaya." tegur Lily, sajak masuk ke dalam mobil. Tangan Egi menggenggam erat telapak tangan Lily. Sementara yang satunya berada di stir mobil.


Bukannya melepaskan tangan Lily, Egi malah mencium telapak tangan Lily berkali-kali. "Egi...!!" tegur Lily.


Egi malah tersenyum dan menggoda Lily dengan mengerlingkan sebelah matanya. Membuat Lily sontak langsung membuang wajah ke samping.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" tanya Lily, saat Egi menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Ehhh..." Lily terkejut, Egi menarik tubuhnya dan ******* bibirnya dengan lembut.


Ingin sekali Lily menolak dengan mendorong tubuh kekar sang kekasih. Tapi tangan Egi yang berada di tengkuk Lily, membuat Lily tak bisa bergerak.


Dan yang lebih membingungkan untuk Lily. Saat ini pikiran dan hatinya sedang bertengkar. Pikirannya menolak sentuhan dari Egi, lantaran Lily merasa jika tidak seharusnya mereka melakukan hal tersebut.


Namun hati Lily mendorongnya untuk menikmati setiap sentuhan dan perlakuan yang di berikan oleh Egi. Dapat di pastikan.


Setelah ini, apa yang di lakukan Egi pada Lily. Akan menjadi candu tersendiri bagi Lily. Begitupun dengan Egi. Bibir manis milik Lily adalah obat paling mujarab untuk dirinya.


Dengan pelan Egi melepas pangutan bibirnya, menatap wajah sang kekasih yang masih terpejam dengan penuh cinta. "Love you." ucap Egi lirih.


Dalam seketika Lily membuat kedua matanya. Mendengar perkataan tersebut. Egi tersenyum melihat Lily berkedip lucu.


"Kenapa kamu begitu menggemaskan. Hemm.." Egi membersihkan sisa ludahnya di sekitar bibir Lily. Serta menghapus lipstik Lily yang keluar dari tempatnya. Karena ulahnya.


"Pasti sekarang lipstikku belepotan." ucap Lily dengan lucu.


"Kenapa? Mau sekalian aku hilangkan." tantang Egi, dengan jari masih membersihkan warna merah yang berada di sekitar bibir Lily.


"Jangan. Aku cukup lama untuk berdandan seperti ini." rajuk Lily cemberut.


Cup...."Egi..!!" seru Lily, berpura-pura marah. Kenyataannya, Lily merasa sangat amat bahagia malam ini.


"Masih aman." kata Egi dengan nada cuek dan tersenyum.


"Jangan pernah menampilkan wajah seperti ini pada lelaki lain." pinta Egi. Lily hanya diam dan menatap wajah tampan Egi.


Egi memandang tubuh Lily yang berbalut gaun seksi. "Dan ini. Jangan pernah memakai pakaian seperti ini. Selain bersamaku." lanjut Egi.


Lily menangkup kedua pipi Egi. "Tenang saja. Semua yang ada dalam diriku adalah milikmu. Begitu juga denganmu." ingat Lily memandang tajam ke arah Egi.


Lily melepaskan tangannya di pipi Egi. "Jangan pernah tersenyum untuk perempuan lain." imbuh Lily.


Egi mencium pipi Lily dengan singkat.

__ADS_1


__ADS_2