PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 14


__ADS_3

Ponsel Egi berbunyi, dilihatnya di layar ponsel. "Nomor siapa?" tanya Egi pada dirinya sendiri. Karena nomor tersebut tidak tersimpan di kontak Egi.


"Halo." ucap Egi menggeser tombol hijau. Menjawab panggilan telepon dari seseorang yang menurutnya tidak dia kenal.


"Tolong." ucap seorang perempuan dari balik ponsel. Membuat Egi menyipitkan mata.


"Siapa." batin Egi.


Egi mencoba kembali berbicara melalui ponselnya. "Halo." ucap Egi kembali hingga beberapa kali.


"Masih tersambung." Egi melihat ke layar ponselnya. Panggilan di ponsel masih dalam keadaan tersambung. Tapi tidak ada suara di ujung ponsel.


Hingga Egi mendengar suara jeritan seorang perempuan di ujung ponsel. Egi tetap menempelkan ponselnya di telinga kirinya.


Teriakan tersebut lama-lama menjauh dan menghilang. Namun panggilan ponselnya masih tersambung.


"Siapa." batin Egi.


"Suaranya, sangat familiar." imbuh Egi saat mendengar perempuan tersebut menjerit.


Tanpa banyak berkata dan berpikir, Egi menyambar kunci mobilnya. Berlari keluar apartemen.


"******,,,," geram lelaki yang telah Lily gigit tangannya.


Dengan rasa ketakutan yang sangat, Lily memundurkan badannya ke belakang sambil duduk. Rasa ketakutan yang luar biasa, membuat tubuh Lily lemas.


Air mata tidak berhenti keluar dari tempatnya. Membasahi seluruh wajah cantiknya. "Pergi..." ucap Lily lirih. Seperti sudah tidak bertenaga.


Lelaki tersebut menatap Lily dengan bengis dan menakutkan. "Tolong,,, haaaaa.." Lily mengeluarkan semua tenaganya untuk berteriak. Tapi tetap saja suaranya masih lirih untuk teriakan.


Dengan kasar. Lelaki tersebut memegang pergelangan kaki Lily sebelah kanan. Menyeret tubuh Lily. Mata Lily mulai buram. Antara rasa takut berlebihan, dan air mata yang memenuhi kedua bola matanya.


"Tuhan. Tolong." batin Lily dengan mata terpejam. Dengan badan masih di seret seperti binatang.


Bughhh... satu bogem mendarat di pipi lelaki tersebut. Menyebabkan kaki Lily terlepas dari genggaman tangannya.


Betapa terkejutnya saat Egi melihat Lily di seret seperti binatang oleh seorang lelaki di area parkir. Tanpa berpikir panjang, Egi langsung menghantam orang tersebut.


"Kamu, pergi!!" teriaknya.


"Jangan halangi kesenanganku." ucap lelaki tersebut.

__ADS_1


"Kesenangan." geram Egi dengan tangan terkepal sempurna.


Tanpa banyak bicara, Egi menghajar lelaki tersebut. Meskipun beberapa kali Egi juga mendapat pukulan di badan dan wajah.


Tapi setidaknya, Egi lebih banyak menghadiahi bogem dan pukulan pada lelaki brengsek tersebut.


Lily yang merasa tubuhnya tidak lagi bergerak. Sedikit membuka mata. Dia menangis melihat Egi baku hantam dengan lelaki tersebut.


Dengan tubuh gemetar, Lily duduk dan memeluk kedua kakinya. Pundaknya masih bergetar. Menandakan Lily masih terisak menangis.


Keamanan apartemen datang dan melerai keduanya. "Amankan dia. Bawa ke kantor polisi." ucap Egi.


"Jika polisi tanya, katakan aku yang menyuruh. Pengacaraku akan menyusul ke kantor polisi. Berikan dia rekaman CCTV sebagai bukti." ucap Egi.


"Baik Tuan."


"Jangan sampai terulang kembali. Nyawa kalian taruhannya." tegas Egi pada dua orang di depannya. Yang bertugas menjaga keamanan di kawasan apartemen.


"Maaf Tuan. Tidak akan terulang kembali." keduanya membawa lelaki psikopat tersebut ke kantor polisi.


"Sudah, aman." Egi berjongkok di depan Lily yang masih membenamkan wajahnya di antara kakinya. Dengan satu kali gerakan, Egi menggendong tubuh Lily. Lily membenamkan wajahnya di dada Egi.


Egi membaringkan badan Lily ke tempat tidurnya. "Aku takut. Jangan pergi." Lily memegang lengan Egi yang hendak turun dari ranjang.


Lily menjadikan paha Egi sebagai bantal, dan memeluk perut Egi. Seolah dia takut jika Egi akan pergi meninggalkannya.


Tangan Egi mengelus lembut rambut Lily. "Beruntung aku datang tepat waktu. Entah apa yang terjadi jika aku tidak datang." Egi memandang ke arah Lily dengan nafas mulai teratur.


Egi merogoh ponselnya di dalam saku. Menghubungi pengacaranya. Menceritakan semua yang terjadi. "Selesaikan, jangan sampai dia keluar dari penjara." ucap Egi.


Egi segera menghubungi Beni. Menyuruhnya untuk membatu pengacara meyelesaikan urusan lelaki tersebut.


Dirasa Lily sudah tertidur, Egi dengan pelan turun dari tempat tidur. Memindahkan kepala Lily di atas bantal. Menarik selimut, menutupi tubuh Lily.


"Seandainya kamu Ella. Pasti lelaki tersebut sudah mati." ucap Egi lirih dan tersenyum dengan mata memandang ke arah Lily.


Mata Lily terbuka saat Egi pergi keluar dari kamar. Lily terbangun saat Egi memindahkan kepalanya ke atas bantal. "Ella, sehebat itukah dia. Siapa dia?" batin Lily mendengar Egi memuji seseorang bernama Ella.


Tidak mau ambil pusing. Lily kembali memejamkan mata. Lily tersenyum, memeluk dengan erat guling di sampingnya. Dan mengendus harum tubun Egi uang tertempel di sana. Entah kenapa, Lily sangat nyaman berada di samping Egi.


"Bagaimana?" tanya Egi pada Beni dan asistennya yang sekarang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Dia tidak akan di penjara, hanya rehabilitas. Karena dia mengalami gangguan jiwa." ucap pengacara dengan pelan. Karena dia sudah tahu bagaimana nanti reaksi Egi.


"Gila. Dia gila. Perlu rehabilitas." ucap Egi memandang ke arah pengacaranya, tersenyum smirk.


"Dia salah satu penghuni apartemen ini." jelas Beni.


Beni menyodorkan ponselnya yang berisi rekaman CCTV kejadian pada Egi. Ternyata lelaki tersebut sudah melihat Lily sejak Lily menunggu Egi di mobil.


Mengamati gerak gerik Lily yang membuntuti Egi. Dan juga melihat Lily masuk ke dalam apartemen Egi.


"Akan aku beritahu nanti. Tetap awasi dia. Jangan sampai lalai." pinta Egi.


"Baik." Pengacara tersebut dan juga Beni meninggalkan apartemen Egi.


Egi masuk ke dalam ruang kerjanya. Mengambil laptop dan membawanya ke ruang tamu. "Ditya." geram Egi, mengetahui jika Ditya benar-benar mendirikan anak cabang di negara yang ditempati oleh Ella.


"Setidaknya gue sudah memperingatkan. Elo akan dapat masalah besar jika meneruskan rencana elo mendekati Ella."


"Tuan Danto dan Vano. Jika mereka bersatu, elo dengan mudah akan diinjak. Belum lagi Tuan Haris." desah Egi.


Lily merasa lebih baik setelah beristirahat. Dia bangun dan melihat sekeliling kamar Egi. Mungkin saja ada foto seseorang yang terpasang. Tapi tidak ada saru fotopun.


Lily masuk ke kamar mandi. Membasuh wajahnya. Dan merapikan penampilannya sebelum keluar dari kamar Egi


"Khemm..." suara deheman dari Lily membuat Egi menutup laptopnya. Lily duduk di samping Egi. "Terimakasih." ucap Lily pelan, dengan kepala menunduk.


"Akan aku antar pulang." ucap Egi melihat Lily sudah tenang.


Egi duduk di belakang kemudi, dengan Lily duduk di samping Egi. Sesekali Lily mencuri pandang ke arah Egi.


"Apa kamu menyimpan nomor ponselku?" tanya Lily. Dan di jawab gelengan oleh Egi.


"Lantas, bagaimana kamu tahu?" tanya Lily, karena Egi yang telah menolongnya.


"Tidak sengaja lewat." jawab Egi berbohong.


"Tapi tetap saja, terimakasih." ucap Lily tersenyum.


"Kamu akan mampirkan?" tanya Lily saat mobil mereka mendekati kediaman Tuan Ardes.


"Iya." jawab Egi.

__ADS_1


Gerbang pintu kediaman Tuan Ardes terbuka. Egi membawa mobilnya masuk dan menghentikannya tepat di depan teras rumah.


__ADS_2